Dede
24 posts


Saran kolam renang yang tidak terlalu rame di bandung, buat besok pagiii!!!
#gaybandung
Indonesia
Dede retweetledi

- Bandung itu bukan "Paris van Java," tapi "Lembang van Macet."
Estetika kolonialnya cuma sisa dikit, sisanya cuma aspal yang penuh sama plat B tiap weekend sampai lu mau ke minimarket depan komplek aja butuh waktu 30 menit.
- SebeIum jadi "Kota Kreatif," benerin dulu itu transportasi publik.
Capek denger narasi kota modern tapi kalau mau kemana-mana pilihannya cuma antara angkot yang ngetemnya seumur hidup atau ojol yang harganya makin pricey.
- Kuliner legendarisnya banyak yang udah overrated.
Kadang orang cuma beli "nama" dan sejarahnya doang, padahal rasa dan pelayanannya udah kalah jauh sama kedai-kedai baru yang lebih niat.
- Trotoar di Bandung itu cuma pajangan buat konten Instagram.
Kelihatannya aja bagus di beberapa titik kayak Braga atau Asia Afrika, tapi coba jalan kaki agak jauhan dikit, langsung ketemu lubang maut atau berubah jadi lahan parkir liar.
- Braga itu tempat paling melelahkan se-Bandung.
Isinya cuma orang catwalking demi konten, fotografer dadakan yang maksa, dan harga kopi yang nggak masuk akal buat ukuran rasa yang biasa aja.
ØTöNGKØiL@0tk0il
tell me yor opinion about bandung yang membuatmu berada di ujung goresan belati tajam
Indonesia
Dede retweetledi
Dede retweetledi
Dede retweetledi

Pornografi adalah narkoba paling berbahaya untuk laki-laki.
Tapi bukan karena dosa. Bukan juga soal moralitas. Ini soal kehilangan kendali pelan-pelan, tapi pasti.
Awalnya cuma iseng. Scroll malam-malam, buka akun yang lagi rame. Ada satu video lokal. Judulnya “cowok kampus”, katanya asli Indonesia. Thumbnail-nya biasa aja, tapi ada sesuatu yang bikin lo penasaran.
Lo klik.
Satu kali.
Dua kali.
Sampai lupa waktu.
Akun-akun di X banyak yang menampilkan video-video seperti rotisobek, fourdixus, rifaiju makin sering muncul di timeline. Mereka ngasih potongan-potongan video, blur sedikit, kasih caption yang bikin panas. Dan makin sering lo lihat, makin kebal juga lo sama rasa bersalah.
Justifikasi pun muncul,
“Kan mereka keliatan nikmatin…”
“Kalau nggak mau viral, jangan rekam dong…”
“Ini cuma buat fantasi, gak merugikan siapa-siapa…”
Tapi pernah gak lo mikir,
Apa mereka tahu videonya disebar?
Apa mereka setuju wajahnya dijual jadi bahan coli orang-orang yang bahkan gak tahu nama mereka?
Lo gak pernah tahu.
Dan di titik itu, lo udah gak peduli.
Sementara lo nikmati sensasi lima menit itu, otak lo kerja keras ngelepas dopamin.
Hormon senang.
Hormon candu.
Menurut psikolog Norman Doidge dalam The Brain That Changes Itself, otak lo bakal membentuk jalur baru—rute cepat menuju kepuasan instan. Sama kayak pecandu narkoba. Dan lama-lama, yang biasa gak cukup lagi. Yang manis, yang lembut, jadi hambar. Lo cari yang lebih kasar, lebih ekstrem, lebih brutal.
Gary Wilson di Your Brain on Porn bilang, “Kecanduan pornografi bukan soal seks. Ini soal kehilangan kepekaan. Kehilangan kemampuan buat benar-benar terhubung.”
Dan buat banyak laki-laki gay, ini jebakan batman yang sunyi. Karena dari kecil, gak pernah ada ruang aman buat ngomongin seks. Yang ada cuma rasa penasaran dan Google.
Pornografi jadi guru pertama. Tapi guru ini ngajarnya pakai naskah yang salah.
Dia bilang,
“Kalau lo bottom, harus pasrah.”
“Kalau lo top, harus brutal.”
“Consent? Gak seksi.”
“Aftercare? Apa tuh?”
Akhirnya, banyak yang tumbuh bukan untuk mencintai, tapi untuk perform.
Bukan untuk disentuh, tapi untuk direkam.
Bukan untuk disayangi, tapi untuk dikonsumsi.
Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi soal boleh atau gak.
Tapi, lo masih bisa jatuh cinta?
Atau sekarang cuma bisa ngejar orgasme?
Kalau lo bingung jawabnya,
mungkin udah saatnya berhenti scroll dan mulai dengerin hati lo sendiri.

Indonesia

@RahmatEgy2 Belom pernah punya partner tapi kalo ada aku pengen nya yang bisa tinggal bareng
Indonesia














