Sabitlenmiş Tweet
tera
3.8K posts


gw kalo jadi auditor (sooner amen) gak begini karena gue paham #pernahDDD #bergaul
conscientização@prajnamu
Daftar tarif yang harusnya bernilai 0 menurut auditor dan jaksa 🤦♂️
Indonesia

peserta utbk 2025 ada 860.976 orang. biar ga nanggung, langsung dianggep jadi 1 juta orang aja
1 juta peserta x biaya utbk 200k = 200 miliar = biaya 0.167 hari mbg
artinya? yap, mbg libur 1 hari, camaba seindonesia utbk gratis. dalam kata lain, @prabowo program lu ga guna blok

rai otw ui@unregnik
gua mewek bgt ajg ngeliat anak studytwt pada saling bantu buat bayar pendaftaran utbk
Indonesia
tera retweetledi

somethings new is cominggg😆
check this out guyss:
lynk.id/warungaal
lynk.id/warungaal
lynk.id/warungaal

English
tera retweetledi

Pasal 188 KUHP melarang penyebaran komunisme, Marxisme-Leninisme, serta “paham lain yang bertentangan dengan Pancasila”.
Frasa terakhir ini yang paling absurd menurut saya, karena membuka ruang penafsiran yang sangat subjektif, tanpa batas yang jelas dan kepastian makna.
Kalau kita kulik lebih dalam lagi terkait potensi praktiknya, ada beberapa kelompok yang paling rentan, diantaranya:
1. Akademisi dan mahasiswa kritis
Mereka bekerja dengan teori dan rujukan yang mudah dipotong dari konteks akademik.
2. Aktivis buruh, tani, dan isu ketimpangan
Menghadapi risiko ketika kritik ekonomi yang bersifat sistemik dilabeli sebagai persoalan ideologis.
3. Jurnalis investigatif dan penulis opini
Rentan saat membongkar relasi kuasa dan kepentingan besar yang sensitif.
4. Seniman dan komunitas budaya
Berhadapan dengan tafsir tunggal atas simbol, metafora, dan satire.
5. Aktivis lingkungan
Tertekan ketika kritik terhadap pembangunan bersinggungan langsung dengan kepentingan ekonomi, yang bisa saja dimaknai dengan dalih menghambat pembangunan berkelanjutan.
6. Warga biasa di ruang digital
Berada dalam posisi paling rapuh karena ekspresi spontan dan jejak digital yang bersifat permanen.
Yang jelas, dampaknya tidak berhenti pada risiko pidana, tetapi meluas menjadi pembatasan diri secara kolektif. Ruang bernalar publik semakin menyempit ketika hukum digunakan untuk menimbulkan rasa takut terhadap pikiran dan ekspresi.

Indonesia









