Guntara

46.2K posts

Guntara banner
Guntara

Guntara

@diantaranusa

I can smell word, lie, and betrayal | just cat and cinema

Yogyakarta, Indonesia Katılım Mayıs 2012
774 Takip Edilen1.4K Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
Guntara
Guntara@diantaranusa·
Ibuku pernah nolong PSK lahiran dan saat ibu butuh banget pertolongan, tetangga sekitar gak ada yang mau nolong karena ada anggapan: kalo nolong pezina, 40 rumah ikut berdosa. Aku bikin film ini supaya di masa depan, gak ada lagi ketidakadilan seperti ini.
Guntara tweet media
GHOST IN THE CELL - 16 APRIL 2026 DI BIOSKOP@jokoanwar

DIRECTOR'S NOTE Pengepungan di Bukit Duri jelas menceritakan kelompok masyarakat (termasuk pelajar) yang memiliki nilai hidup yang rusak termasuk menjadi pelaku kekerasan dan rasisme. Perilaku seperti ini tidak mungkin terjadi di ruang hampa. Ini adalah produk dari SISTEM YANG GAGAL. Dengan menggambarkan kerusuhan sebagai siklus, film ini justru mengkritik pembiaran struktural—yang tentu saja mencakup negara sebagai aktor besar. Ini adalah pilihan kami ketika memutuskan untuk bersuara lewat Pengepungan di Bukit Duri. Kami tidak ingin membuat film ini menjadi panflet politik (walaupun kalau ada filmmaker lain yang melakukannya ya nggak apa-apa). Tapi setiap ruang kosong yang dibiarkan oleh negara—dalam pendidikan, keadilan, dan keamanan—diisi oleh kekacauan. Dan itulah bentuk kritik kami. Perhatikan di awal film ketika ada demonstrasi dan peserta demonstran dilempari, polisi hanya diam dan membiarkannya terjadi) Ini adalah film tentang akibat. Tapi semua akibat punya sebab—dan itulah yang kami sisipkan dalam lapisan narasi. (Termasuk di berita-berita, bahkan public annnouncement di stasiun kereta). Film ini nunjukin anak-anak yang brutal, tapi perilaku mereka bukan lahir begitu saja. Perilaku itu lahir dari masyarakat yang sudah terbiasa menyakiti. Dan masyarakat itu dibentuk oleh arah kebijakan, nilai-nilai negara, dan cara bangsa ini menyikapi luka. Tipe film yang menunjukkan 'akibat' seperti film Pengepungan di Bukit Duri ini bukan baru. Malah biasanya film yang 'mengkritik vertikal' biasanya menunjukkan keabsenan penguasa dalam hidup karakter-karakter rakyatnya. Seperti film Parasite (2019). Film ini tidak menyebut pemerintah Korea Selatan secara langsung. Tidak ada menteri, presiden, atau polisi yang dikritik secara verbal. Tapi kita diperlihatkan ada keluarga miskin yang rumahnya setengah di permukaan setengah di basement yang toiletnya aja hampir setinggi langit-langit. Di sisi lain, keluarga kaya hidup di rumah beraksitektur keceh, yang bahkan nggak terbiasa dengan “bau” orang miskin. Atau Shoplifters (2018), di mana satu Keluarga miskin dalam film ini mencuri bukan karena ingin jahat, tapi karena sistem ekonomi tidak memberi ruang hidup yang layak. Tidak ada menteri sosial dalam cerita. Tidak ada poster kampanye pemerintah. Tapi ketimpangan hidup kerasa banget. Atau, nah ini salah satu film favorit saya, Bully (2001) bikinan Larry Clark yang juga nunjukin sekelompok remaja yang nilai hidupnya kacau. Tidak ditunjukkan secara eksplisit dalam film bahwa mereka adalah produk dari sistem yang gagal, dari pemerintah yang gagal melindungi mereka. Tapi jelas bisa ditarik kesimpulan. Penonton kita nggak bodoh. Dan kita seharusnya berhenti bilang bahwa kalau bikin film harus dijelas-jelaskan sejelas-jelasnya, severbal-verbalnya biar penonton paham dan nggak salah paham seolah-olah cuman kita yang bisa paham dan orang lain nggak punya kemampuan untuk memahami. Betapa arogannya kita kalau begitu. Rasisme tidak pernah dilahirkan. Nggak ada anak terlahir rasis. (Ini kami tunjukkan secara gamblang lewat karakter Anak Pembuka Pintu). Tapi anak diajarkan untuk jadi rasis, oleh orang-orang dewasa yang terbentuk jadi rasis karena dibiarkan (bahkan dibentuk) oleh penguasa. Sejarahnya panjang di negeri kita, yang akan membuat penonton mau mendalaminya setelah menonton film ini. Sebuah film genre. Film yang penyajiannya dibuat agar aksesibel untuk siapa saja, bahkan mereka yang hanya hadir untuk menikmati filmnya sebagai hiburan. Dan dengan cara inilah kami percaya pesannya akan sampai ke lebih banyak orang. Karena film adalah pengalaman manusia dan bukan hanya slogan. Terima kasih dan selamat menyaksikan.

Indonesia
86
3.6K
24.5K
583.4K
Guntara retweetledi
monshu
monshu@simonchouchou·
『ブルーを笑えるその日まで』 till the day i can laugh about my blues 〈karin takeda, 2023〉
monshu tweet mediamonshu tweet mediamonshu tweet mediamonshu tweet media
日本語
0
22
251
5.2K
Guntara retweetledi
Aaron Dylan Kearns 🌹
Aaron Dylan Kearns 🌹@TheEyeOdyssey·
Cult film has unfortunately suffered another major loss. Shozin Fukui's filmography was filled with kinetic experimentation and a wonderfully sharp sense of black humor amidst its industrial grime. Give Pinocchio and Rubber's Lover some love to honor the man. May he rest in peace
Aaron Dylan Kearns 🌹 tweet media
English
0
83
668
6.2K
Guntara retweetledi
cindy_klp48
cindy_klp48@cindy_klp48·
Sudah lama tak jumpa cindy alexandria, where is her??🤧🤧
cindy_klp48 tweet mediacindy_klp48 tweet mediacindy_klp48 tweet mediacindy_klp48 tweet media
Indonesia
11
25
211
1.1K
Guntara retweetledi
Punch Cat
Punch Cat@PunchingCat·
ZXX
4
666
6K
131.8K
Guntara retweetledi
koreanoli
koreanoli@koreanoli·
They don't make films like this anymore...
koreanoli tweet media
English
7
141
1.2K
46.3K
Guntara
Guntara@diantaranusa·
Filem barunya aja baru rilisssss mau nonton pocong cantengannnnnn 😭😭😭😭😭😭
Indonesia
0
0
0
24
Guntara retweetledi
Analyst - Gaming V2
Analyst - Gaming V2@Analyst_V2·
-Do nothing - Wins - Do something - Wins even more
Analyst - Gaming V2 tweet media
English
218
4.5K
25K
462K
Guntara retweetledi
Yurei.
Yurei.@saanshines·
Kata si Abang journaling apa aja yang penting tulis dulu, gak harus bagus. Orang journaling: Dear Diary, today my mood was not really great Gue journaling: Semua orang bajingan, aku bajingan, kau pun bajingan, dunia mau hancur, idup cuma sekali malah WNI
Indonesia
75
6.2K
22.8K
235.3K
Guntara retweetledi
Azzam X Amer Bersaudara
Azzam X Amer Bersaudara@azzamkalakazam·
Gmn kalo kita bikin film fantasi mandul middle class horor esek-esek tentang cewe gen z yang harus banting tulang menghidupi orgy house milik keluarganya yang terancam berubah sex dungeon nekrofil karena satu per satu anggota keluarganya tewas dan mayat mereka dijadikan sex toys?
Boycott World Cup 2026@keboyoranbaru

Banyak orang blo'on asal nuduh horror esek-esek sebagai bukti jeleknya perfilman indon. Padahal yang lebih mewakili seberapa membosankan dan busuknya perfilman indon tuh justru film fantasi mandul middle class macam Home Sweet Loan, Sore, dan NKCHTI.

Indonesia
76
289
2K
54.7K