kepo lu
2.3K posts


x.com/mungseogi/stat… — chapt. 21 (1/3) hwan gagal melakukan perlawanan. dari banyaknya alasan kegagalannya, kesalahan fatal terbesar adalah dia mempercayai yoon seongwon, ayah yirang. berdasarkan hukum kerajaan khusus yang melarang publikasi catatan medis putra mahkota tanpa izin, hwan butuh bantuan dari seongwon, yg menjabat sebagai pimpinan royal hospital. “bukankah kau juga berharap putrimu bahagia?” hwan menganggap itu adalah pemikiran yang masuk akal menurut akal sehat. lagipula, ayah mertua mana yang akan menyambut bahagia menantu laki-laki yang menderita gangguan mental akibat depresi dan kecemasan yang berkepanjangan. “jangan khawatir, yang mulia. saya akan melindungi yang mulia.” sekilas terlihat seperti sekutu yang dapat diandalkan, yang akan muncul kapanpun, di manapun, untuk menenangkan kecemasan hwan, tetapi justru menolak memberikan sesuatu yang paling diinginkan hwan, mengatakan kalau dia akan mencari cara sebagai dalih untuk mengulur waktu. bukan menantu hebat, seongwon hanya butuh menantu yang merupakan seorang putra mahkota. kalau saja pernikahan kerajaan belum diumumkan, seongwon mungkin setidaknya akan berpura-pura berusaha, tapi karena seluruh negeri terlanjur percaya bahwa yirang adalah jodoh hwan, seongwon sama sekali nggak punya niat untuk membantu. karena kalau pertunangannya dibatalkan bersamaan dengan pelengseran hwan, yirang juga harus menanggung semua aib itu seolah-olah itu adalah aibnya sendiri. yang lebih terpenting, seongwon nggak rela kalau sampe ian naik takhta jadi putra mahkota. berkaca dari huru-hara cincin peninggalan ibunya, meski raja sudah memberi perintah & putra mahkota sudah memintanya, ian tetap nggak bergeming. keluarga kerajaan dan kabinet sampe turun tangan untuk menyelesaikan masalah itu, tetapi masih gagal. justru mereka malah marah, mengaggap raja telah mengabaikan wasiat terakhir ratu uihyeon. kalau orang seperti ian jadi raja, seongwon merasa akan menghadapi hal-hal yang tidak sepele secara terus menerus. yang lebih penting, monarki saat ini sedang menghadapi krisis terbesar dalam sejarah. meski rakyat memperlakukan keluarga kerajaan—yang telah menyatakan diri sebagai monarki konstitusional—dengan hormat dan penuh dukungan, nggak ada yang bisa ngasih jawaban memuaskan atas pertanyaan tentang apa makna keberadaan keluarga kerajaan di abad ke-21. meski nggak bisa disangkal kalau itu adalah sistem yang harus dipertahankan, keluarga kerajaan yang nggak pernah runtuh selama lebih dari 600 tahun. tradisi dan sejarah dari keluarga kerajaan itulah yang menjadi kebanggaan bangsa, dan pilar yang menjadi pendukungnya adalah para bangsawan. selama keluarga kerajaan masih ada, gagasan bahwa semua orang adalah setara nggak mungkin berlaku. untuk membuktikan kebangsawanan keluarga kerajaan, nggak ada pilihan selain mengakui perbedaan status. sekalipun hanya sekedar nama, selama ada nama yang melekat, hal itu pasti akan menjadi keberadaan yang nggak bisa dibantah. makanya seongwon berharap keluarga kerajaan bertahan selamanya. karena hanya keabadian dari keluarga kerajaan yang bisa melindungi tembok status sosial yang makin memudar. saat mengunjungi kediaman hwan, seongwon berpikir dalam hati kalau pelengseran putra mahkota bukan hal yang masuk akal. “aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” ucap hwan, tampak seperti binatang buas yang hampir mati kelaparan. seongwon menghela napas pelan dan menundukkan kepalanya, “apakah akhirnya yang mulia bertekad… untuk membangkang yang mulia raja?” “apa katamu?” “yang mulia raja adalah seorang pangeran agung (daegun), bukan putra mahkota.” “lalu?” “jika mendiang raja gwangjong memiliki pewaris… yang mulia raja hanya akan hidup sebagai anggota keluarga kerajaan.”


tonight's episode is just this man being so evil, about to face his downfall, and still serving face







