Sabitlenmiş Tweet
Diendha Febrian
76K posts

Diendha Febrian
@dindasays
.:: Mrs.@WVLV | Mom of Symphony @NawaLOISa | everything 'bout the blue::.
ÜT: -7.797903,110.378822 Katılım Haziran 2009
665 Takip Edilen1.9K Takipçiler

@FSTVLST utk FSTVLST III.I
barusan aja kelar...The Secret of Secret - Dan Brown... kongslet ak kongslet membacanya...

Indonesia
Diendha Febrian retweetledi
Diendha Febrian retweetledi
Diendha Febrian retweetledi
Diendha Febrian retweetledi

Kolaborasi 2 band yang diawali di Jogja ini selama 2025 kemarin telah berbagi panggung di beberapa kota. Di 2026 ini mereka mengawali peristiwanya kembali di acara @senang2festival.
OODK, dari @FSTVLST bersama @theadamsband, selamat menyaksikan.
youtu.be/YtPrvEJao08?si…

YouTube
Indonesia
Diendha Febrian retweetledi
Diendha Febrian retweetledi
Diendha Febrian retweetledi
Diendha Febrian retweetledi
Diendha Febrian retweetledi

Diendha Febrian retweetledi

sampai jumpa sore nanti ya. wes tho, enak enak~
festivalist =@FSTVLST
sleman, besok mari berjumpa–berakhir pekan bersama di origin fest! 🙌🏼 gimana jadwal tampil, aman ya? oke, sip~
Indonesia
Diendha Febrian retweetledi

Tulisan ini mengambil perspektif yang berbeda dari kejadian di Ngada...
Kami diajarkan bahwa Gereja berdiri di pihak yang miskin,
bahwa para suster, frater, dan romo meninggalkan kenyamanan dunia
demi melayani manusia, terutama mereka yang kecil dan tersisih.
Namun hari ini, iman terasa semakin mahal,
dan pendidikan justru menjadi barang mewah.
Sekolah-sekolah Katolik yang dibangun di bawah naungan susteran dan frater
berlomba berdiri megah,
namun uang SPP-nya menjulang tinggi,
tak terjangkau oleh anak-anak dari keluarga miskin.
Di mana letak keberpihakan itu?
Di mana suara Injil yang berkata:
“Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku”?
Kami bertanya dengan sedih, bukan dengan kebencian:
apakah para biarawan sungguh masih peduli pada kemiskinan
yang nyata di depan mata?
Ataukah misi kemanusiaan kini kalah oleh kebutuhan lembaga
dan kenyamanan hidup?
Ada anak di Ngada yang memilih mengakhiri hidupnya
karena orang tuanya tak sanggup membeli buku tulis dan pulpen.
Setiap hari ia makan umbi dan pisang,
sementara sekolah—yang seharusnya menjadi jalan harapan—
justru menjadi tembok yang tak bisa ia lewati.
Peristiwa ini bukan sekadar angka,
ini adalah luka kemanusiaan yang dalam.
Di saat yang sama,
kami melihat sebagian suster, romo, dan frater hidup berkecukupan:
makan enak, tidur nyaman, bepergian dengan mobil.
Kami tahu mereka juga manusia,
mereka juga butuh hidup.
Namun apakah wajar bila kenyamanan itu dibayar
dengan tertutupnya pintu pendidikan bagi yang miskin?
BAHKAN ADA DRAMA YG LAGI TREND... REAL BENAR TERJADI DI SD/SMP KATOLIK FAFORIT
KALAU TIDAK LUNASI UANG Sekolah TIDAK BOLEH IKUT UJIAN....!!! ANAK YG TDK LUNAS TERPAKSA GIGIT JARI !!KASIHAN......😭😭
Kritik ini lahir dari cinta,
dari harapan agar Gereja kembali pada wajah aslinya:
wajah yang sederhana,
wajah yang berpihak,
wajah yang berani menggratiskan pendidikan
demi masa depan anak-anak kecil.
Jika Gereja kehilangan kepekaan pada tangisan orang miskin,
maka bangunan sekolah semegah apa pun
akan terasa kosong.
Karena iman tanpa kemanusiaan
hanyalah simbol tanpa jiwa.
Miris, sungguh miris.
RIP (Yohanes Bastian Roja)
Bahagia bersama para kudus di Surga

Indonesia

pengalaman pertama nungguin lahiran...tidur samping kandang... #MilkyTheToypoodle
Indonesia
Diendha Febrian retweetledi

kalau ini di tanganku bisa jadi...jadi emosi...
Tawadotcom@Tawadotcom
Beginner's crochet tutorial.
Indonesia












