Yudik
16.8K posts

Yudik
@dwdyudi
Freelancer - Graphic Designer
Klungkung - Bali - Indonesia Katılım Ağustos 2011
770 Takip Edilen290 Takipçiler
Yudik retweetledi

@youngicul @shandimugiwara 20 udah banyak sih kak, biasanya gak sampai 10 🥲🥲
Indonesia

@shandimugiwara Kak aku dri svideo yg nonton paling banyak 20 wkwk apakah aku harus nyerah tapi liat ini jadi gamauuuuu nyerrrraaaah tapi gimana wkwk
Indonesia
Yudik retweetledi

Semua orang ada limitnya.
Ada yang mau dipaksain gimana juga, bakal cm punya 3juta/bulan. Ada yang mati2an jg cm bs nabung 100jt seumur hidupnya. Ada yang kerja pulih taun cm utk nutupin utang keluarganya.
Gak semua org bs di-stretch keberuntungannya untuk mencapai 1M apalagi 10M dalam hidupnya.
Яizal do@afrkml
Drop a brutal truth about life so real it would make anyone react like this.
Indonesia
Yudik retweetledi

Guys, gua punya paman sebut aja Om Rudi yang sudah menikah 15 tahun dan pernah bilang sesuatu ke gua yang waktu itu gua anggap lebay tapi sekarang gua ngerti betul maksudnya.
Dia bilang
Hubungan yang sehat itu bukan yang tidak pernah berantem.
Tapi ketika ada masalah tidak pernah biarkan berlarut.
Dan gua ingat waktu itu gua cuma manggut-manggut tidak terlalu paham.
Sekarang setelah gua lihat tweet itu pesan WhatsApp sederhana dari seseorang ke pasangannya jam 20.35, ngajak selesaikan masalah sebelum tidur gua baru beneran ngerti apa yang Om Rudi maksud.
Tapi gua mau kasih satu sudut pandang yang jarang dibahas soal konsep ini.
Kita hidup di era di mana komunikasi dalam hubungan dikemas jadi konten yang sangat estetik dan sangat viral.
Screenshot chat yang manis, pasangan yang minta maaf duluan, yang ngajak damai sebelum tidur semua itu di-repost ribuan kali dengan caption
this is the standard"
atau date men who communicate.
Dan gua tidak bilang itu salah.
Komunikasi itu memang fundamental.
Tapi Om Rudi pernah kasih gua perspektif lain yang lebih jujur dan lebih tidak nyaman untuk didengar.
Dia bilang ada bedanya antara pasangan yang genuinely mau menyelesaikan masalah sebelum tidur dengan pasangan yang tidak tahan ketidaknyamanan dan butuh resolusi segera bukan karena peduli sama hubungannya tapi karena tidak bisa tidur kalau ada yang mengganjal.
Yang pertama itu kedewasaan emosional.
Yang kedua itu kecemasan yang dibungkus dengan kata-kata yang kedengarannya romantis.
Dan di Indonesia sekarang kata Om Rudi banyak hubungan yang keliatannya komunikatif di permukaan tapi sebenernya salah satu pihak selalu yang mengalah, selalu yang ngajak damai duluan, selalu yang menanggung beban emosional lebih besar supaya tidak ada konflik berkepanjangan.
Bukan karena dia lebih dewasa.
Tapi karena dia lebih takut kehilangan.
Menyelesaikan masalah sebelum tidur itu bagus.
Tapi yang perlu ditanya lebih dalam adalah siapa yang selalu jadi pihak yang ngajak duluan?
Apakah masalahnya benar-benar diselesaikan atau hanya dibekukan sementara supaya malam itu bisa tidur tenang?
Dan apakah kedua pihak benar-benar aman untuk jujur atau salah satunya selalu menelan sebagian kebenaran supaya suasana tidak semakin memburuk?
Om Rudi bilang rahasia pernikahannya yang 15 tahun bukan karena dia dan istrinya selalu berhasil damai sebelum tidur.
Ada malam-malam di mana mereka tidur dengan punggung saling membelakangi dan hati yang masih berat.
Ada masalah yang butuh beberapa hari untuk benar-benar selesai karena memang kompleks dan tidak bisa dipaksa tuntas dalam satu malam.
Yang membuat mereka bertahan bukan kecepatan resolusinya.
Tapi kepastian bahwa apapun yang terjadi keduanya tidak akan pergi.
Keduanya akan tetap ada di sana besok pagi untuk melanjutkan percakapan yang semalam belum selesai.
Jadi kata om rudi date someone who communicates itu benar.
Tapi lebih dari itu, cari seseorang yang komunikasinya genuine.
Yang mau damai bukan karena tidak tahan ketidaknyamanan tapi karena benar-benar menghargai hubungannya lebih dari egonya.
sera.@forevermoere
dia selalu ngajak buat nyelesaiin masalah sebelum tidur
Indonesia
Yudik retweetledi

Gue punya tetangga. Sebut aja Pak Hendra.
Dua tahun lalu dia masih naik motor beat butut ke warung.
Belinya eceran kopi sachet, rokok sebatang, mie instan satu bungkus.
Sekarang?
Alphard putih parkir di depan rumah.
Renovasi total.
Pagar besi custom.
Kamera CCTV empat titik.
Usahanya?
Katanya bisnis properti.
Yang gue tahu dia jual tanah warisan bapaknya di pinggir kota yang tiba-tiba nilainya meledak karena ada tol baru lewat sana.
Satu malam kaya.
Bukan proses panjang.
Bukan kerja keras bertahun-tahun.
Rejeki nomplok yang nyata.
Dan yang berubah bukan cuma mobilnya.
Cara dia nyapa orang berubah.
Dulu kalau papasan di gang senyum duluan, tanya kabar, kadang nawarin kopi.
Sekarang?
Jalan lurus.
Tatapan ke depan.
Senyum tipis yang terasa seperti basa-basi yang tidak dia nikmati.
Anaknya yang dulu main bareng anak-anak kampung sekarang sekolah di tempat lain.
Istrinya yang dulu arisan bareng ibu-ibu kompleks sekarang jarang kelihatan katanya sibuk
Bukan jahat.
Bukan sombong yang ngomong kasar.
Tapi ada jarak yang tumbuh perlahan, tanpa drama, tapi nyata.
Dan ini yang bikin gue mikir.
Komentar orang kaya lebih sopan dari orang miskin itu tidak sepenuhnya salah.
Tapi juga tidak sepenuhnya benar.
Yang lebih akurat mungkin ini:
Orang kaya punya lebih banyak ruang untuk terlihat sopan.
Mereka tidak dalam kondisi terdesak.
Tidak rebutan antrian.
Tidak stres soal tagihan yang jatuh tempo besok.
Tidak capek setelah 12 jam kerja berdiri.
Ketika kebutuhan dasar sudah terpenuhi otak punya lebih banyak kapasitas untuk berpikir tentang cara bicara, cara bersikap, cara memilih kata.
Itu bukan moral superiority.
Itu privilege dari rasa aman.
Dan yang terjadi pada Pak Hendra adalah pola yang gue lihat berulang pada OKB Orang Kaya Baru di Indonesia.
Kekayaan datang lebih cepat dari kesiapan mental untuk menghadapinya.
Tiba-tiba ada gap antara dia dan lingkungan lamanya. Dan gap itu tidak nyaman untuk kedua belah pihak. Tetangga lama mulai hitung-hitungan dulu dia biasa aja, sekarang sok.
Pak Hendra sendiri mungkin bingung mau tetap akrab tapi takut dimanfaatkan, mau jaga jarak tapi takut dibilang sombong.
Tidak ada pilihan yang benar.
Apapun yang dia lakukan akan disalahkan oleh satu pihak.
Dan ini yang paling jarang dibahas:
Sopan santun itu bukan produk dari kekayaan.
Tapi kekayaan memberikan kondisi yang lebih kondusif untuk menampilkan sopan santun itu.
Orang yang kelelahan, tertekan, dan tidak punya ruang bernafas secara psikologis memang lebih mudah tersulut.
Bukan karena karakternya buruk. Tapi karena resources mentalnya sudah habis sebelum hari berakhir.
Dan orang kaya yang kelihatan lebih sopan belum tentu lebih baik karakternya.
Mereka hanya punya lebih banyak energi sisa untuk menjaga penampilan sosial mereka.
Jadi kalau ada yang bilang orang kaya lebih sopan:
Mungkin. Tapi tanya dulu sopan karena memang baik karakternya?
Atau sopan karena hidupnya tidak sedang dalam mode survival?
Dua hal yang sangat berbeda.
Dan Pak Hendra?
Gue tidak judge dia.
Gue hanya berharap suatu hari dia sadar bahwa Alphard putih itu tidak akan pernah bisa menggantikan rasa nyaman yang dia punya waktu masih bisa senyum duluan di gang sempit itu.
sosmed keras@sosmedkeras
Indonesia
Yudik retweetledi

Ah mungkin perasaanku aja..
Victoria Cheng (ChubbyNinja)@victoriacheng
My favorite VCT Pacific season in Korea 🌸🌸🌸
Indonesia
Yudik retweetledi
Yudik retweetledi

@dwdyudi gunting sama gunting kuku, dari 15k di alfamart, di online cuman 3rb, beli lah banyak lalalulu~
Indonesia

tapi kalau pas stok tissue abis dan belum gajian, terpaksa beli yang 5 pack walaupun jadinya lebih mahal dikit dari yang 10 pack 😆😆
s.shopee.co.id/166xzuwCG
Indonesia
Yudik retweetledi

ga pernah iri sm kekayaan orang, setelah gw tau cara mereka nyari duit. ternyata nyari duit itu gampang, yang susah itu nyari duit yang bener
Normie@normieaja
Unpopular opinion about Money
Indonesia











