🔕

132 posts

🔕

🔕

@dwi_ardys

Kebun Bambu

Katılım Aralık 2025
6 Takip Edilen0 Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
🔕
🔕@dwi_ardys·
aku menulis di sini bukan untuk terlihat benar, tapi untuk tetap jujur pada diriku sendiri. jika kamu merasa ditemani, semoga itu cukup.
Indonesia
0
0
0
867
🔕
🔕@dwi_ardys·
Manisnya dunia memang amat menggoda, bikin mulut ingin terus menikmatinya. Tapi kita sadar bahwa terlalu banyak kandungan gula jg bs bikin celaka. Makanya, kita perlu tau batasannya sejauh mana.
Indonesia
0
0
0
4
🔕
🔕@dwi_ardys·
Minggu ini Insya Allah salah satu rangkaian Titik Nol mulai dijalankan: pelatihan pengolahan ikan utk ibu-ibu sekitar rumah. Bagiku ini bukan sekadar proyek sosial pribadi, tp investasi, hilirisasi, diversifikasi, dan berdikari.
Indonesia
0
0
0
63
🔕
🔕@dwi_ardys·
Target tahun ini ndak muluk-muluk: Ibu umroh ke Mekkah-Madinah, aku plesiran ke Banda Neira
Indonesia
0
0
0
30
🔕
🔕@dwi_ardys·
Kata Mahmoud Darwish: bulan indah karena jauh, tak tersentuh, tak tergenggam. Seperti rindu: ia tumbuh dari sesuatu yang tak sampai, namun tetap terasa hangat.
Indonesia
0
0
0
33
🔕
🔕@dwi_ardys·
Yang terlewat, kita paksa jadi ikhlas. Yang di depan mata, itulah kenyataan.
Indonesia
0
0
0
16
🔕
🔕@dwi_ardys·
Pesan moral hari ini: “Jika sudah pulih, jangan (lagi) salah pilih.”
Indonesia
0
0
0
16
🔕
🔕@dwi_ardys·
Tidak selalu sama cara, tapi cukup untuk membangun. Ini ambisi—dalam arti cita-cita, bukan ambisius yang serakah. Belum selesai, belum utuh. Tapi sudah cukup untuk terus berjalan dan diwujudkan. Semoga istiqomah menjadi kunci.
Indonesia
0
0
0
14
🔕
🔕@dwi_ardys·
Peranku sebagai konsultan kebijakan justru membuka berbagai cakrawala: pengetahuan, jaringan, dan peluang pembiayaan. Dan di tengah itu, aku dipertemukan dengan yang sejalan. Alhamdulillah, biidznillah.
Indonesia
1
0
0
18
🔕
🔕@dwi_ardys·
Tahun ini rasanya tenagaku seperti tidak habis, berlari ke arah swasembada: dari tanah, kandang, kolam, sampai olahan. Belum tergenggam semua, tapi selalu ada jalan terbuka.
Indonesia
1
0
0
20
🔕
🔕@dwi_ardys·
Hari ini terasa jelas: nilai kita tidak berubah, hanya perlu tempat yang tepat.
Indonesia
0
0
0
24
🔕
🔕@dwi_ardys·
Aku berhenti berharap lebih. Belajar nyaman di sini saja. Tak ada pelarian. Hanya ada penerimaan. Cinta, akhirnya sederhana: tinggal, dan menjaga. Termasuk mencintai diri sendiri. Aku tak pergi. Bukan karna tak mampu, hanya tak punya ke mana lagi.
Indonesia
0
0
0
14
🔕
🔕@dwi_ardys·
Kini aku sadar, tak ada tempat lain untuk bermanja. Maka kupilih, merasa cukup. Tak lagi mencari pulang. Aku menetap pada yang ada. Bukan karena sempurna, tapi karena ini satu-satunya yang kupunya.
Indonesia
1
0
0
36
🔕
🔕@dwi_ardys·
Seharian ditelponin orang dinas, partai, koperasi, himbara, sampe kelompok usaha. Ngobrolin ngalor-ngidul. Sibuk banget dunia. Padahal aku pengen fokus jadi pengangguran berpenghasilan tinggi 😅
Indonesia
0
0
0
27
🔕
🔕@dwi_ardys·
Jika pada maps saja kita bisa percaya, bahwa setiap salah jalan tetap diarahkan menuju tujuan, kenapa pada hidup kita ragu untuk terus berprasangka baik?
Indonesia
0
0
0
17
🔕
🔕@dwi_ardys·
Mungkin “kegagalan” itu hanya versi lain dari reroute. Bukan akhir, tapi cara semesta menggeser arah ke jalan yang lebih tepat.
Indonesia
1
0
0
17
🔕
🔕@dwi_ardys·
Setelah lama bergulat dengan diri sendiri, aku sadar, yang kubutuhkan bukan sekadar sabar, tapi sadar. Seperti navigasi maps: saat kita salah jalan atau menemui kemacetan, ia tidak menyalahkan, ia justru mengarahkan ulang.
Indonesia
1
0
0
26
🔕
🔕@dwi_ardys·
Rendra benar, rindu itu sederhana. Yang bikin rumit: harapan yang kita titipkan diam-diam di dalamnya. Aku kira rindu itu ingin bertemu. Ternyata… cuma ingin mengulang perasaan yang dulu pernah ada. Setelahnya… kembali ke setelan biasanya.
Indonesia
0
0
0
11
🔕
🔕@dwi_ardys·
WS. Rendra ngajarin kalau rindu gak harus ribut. Kadang cukup diakui, tanpa harus dimiliki. “Kangen” itu bukan soal ingin bertemu. Kadang cuma soal berani jujur: ada yang belum selesai di dalam diri.
Indonesia
1
0
0
20