Manisnya dunia memang amat menggoda, bikin mulut ingin terus menikmatinya.
Tapi kita sadar bahwa terlalu banyak kandungan gula jg bs bikin celaka.
Makanya, kita perlu tau batasannya sejauh mana.
Minggu ini Insya Allah salah satu rangkaian Titik Nol mulai dijalankan:
pelatihan pengolahan ikan utk ibu-ibu sekitar rumah.
Bagiku ini bukan sekadar proyek sosial pribadi, tp investasi, hilirisasi, diversifikasi, dan berdikari.
Kata Mahmoud Darwish:
bulan indah karena jauh,
tak tersentuh, tak tergenggam.
Seperti rindu:
ia tumbuh dari sesuatu yang tak sampai,
namun tetap terasa hangat.
Tidak selalu sama cara, tapi cukup untuk membangun. Ini ambisi—dalam arti cita-cita, bukan ambisius yang serakah.
Belum selesai, belum utuh. Tapi sudah cukup untuk terus berjalan dan diwujudkan.
Semoga istiqomah menjadi kunci.
Peranku sebagai konsultan kebijakan justru membuka berbagai cakrawala: pengetahuan, jaringan, dan peluang pembiayaan.
Dan di tengah itu, aku dipertemukan dengan yang sejalan.
Alhamdulillah, biidznillah.
Tahun ini rasanya tenagaku seperti tidak habis, berlari ke arah swasembada: dari tanah, kandang, kolam, sampai olahan.
Belum tergenggam semua, tapi selalu ada jalan terbuka.
Aku berhenti berharap lebih.
Belajar nyaman di sini saja.
Tak ada pelarian.
Hanya ada penerimaan.
Cinta, akhirnya sederhana:
tinggal, dan menjaga.
Termasuk mencintai diri sendiri.
Aku tak pergi.
Bukan karna tak mampu,
hanya tak punya ke mana lagi.
Kini aku sadar,
tak ada tempat lain untuk bermanja.
Maka kupilih, merasa cukup.
Tak lagi mencari pulang.
Aku menetap pada yang ada.
Bukan karena sempurna,
tapi karena ini satu-satunya yang kupunya.
Seharian ditelponin orang dinas, partai, koperasi, himbara, sampe kelompok usaha.
Ngobrolin ngalor-ngidul.
Sibuk banget dunia.
Padahal aku pengen fokus jadi pengangguran berpenghasilan tinggi 😅
Jika pada maps saja kita bisa percaya,
bahwa setiap salah jalan tetap diarahkan menuju tujuan,
kenapa pada hidup kita ragu
untuk terus berprasangka baik?
Setelah lama bergulat dengan diri sendiri,
aku sadar,
yang kubutuhkan bukan sekadar sabar,
tapi sadar.
Seperti navigasi maps:
saat kita salah jalan atau menemui kemacetan,
ia tidak menyalahkan,
ia justru mengarahkan ulang.
Rendra benar, rindu itu sederhana.
Yang bikin rumit: harapan yang kita titipkan diam-diam di dalamnya.
Aku kira rindu itu ingin bertemu.
Ternyata… cuma ingin mengulang perasaan yang dulu pernah ada.
Setelahnya… kembali ke setelan biasanya.
WS. Rendra ngajarin kalau rindu gak harus ribut.
Kadang cukup diakui, tanpa harus dimiliki.
“Kangen” itu bukan soal ingin bertemu.
Kadang cuma soal berani jujur: ada yang belum selesai di dalam diri.