
EDD
76.2K posts

EDD
@eddesign_
political|economic issues • 🌳landscape • 🦸life reflection • ☢️movie analogy || ☕ just for fun, but seriously!







Raja Siak Aceh sumbang Jogja sumbang Uda d balikin Konoha?



'CHINESE WALL' ITU PUN RUNTUH Pengunduran diri Gubernur BI yg diumumkan hari ini —meski secara resmi dinyatakan karena alasan pribadi— hampir sulit dipisahkan dari pola friksi teknokrasi vs intervensi kebijakan yg terjadi di regulator pasar modal (BEI), OJK, hingga restrukturisasi di perbankan Himbara. Selama beberapa tahun terakhir, BI berada di bawah tekanan besar u/ menyeimbangkan 3 hal: menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, menahan inflasi, dan pro-growth sesuai agenda ekspansif pemerintah. Ketika kebijakan fiskal makin agresif dan berorientasi pada proyek² prioritas eksekutif, BI kerap diminta mjd 'co-pilot' melalui skema spt burden sharing (berbagi beban obligasi) atau penyediaan likuiditas murah. Erosi murni terhadap independensi BI terlihat kian 'telanjang' ketika revisi UU P2SK (UU No. 4 Tahun 2026) disahkan di Paripurna DPR pada 4 Juni 2026, dan diundangkan/diberlakukan 17 Juni 2026. Revisi terbaru ini sejatinya memperluas mandat BI —gak hanya mengurus stabilitas harga, tetapi jg mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Perubahan regulasi ini, terutama sejak 2023 (Omnibus Law sektor keuangan) dan dipertajam pada Juni 2026) itu menciptakan "pintu masuk legal" bagi ekspektasi eksekutif agar kebijakan moneter senantiasa inline dgn arah dan kebutuhan pembiayaan pertumbuhan ekonomi pemerintah. Pembatasan teknis ini ―regulasi ini memformalkan peran koordinasi BI dgn KSSK, OJK, LPS serta penyesuaian regulasi baru pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII)― sering kali berbenturan dgn prinsip prudential bank sentral. Sisi teknokrat BI melihat bahwa garis batas (Chinese wall) antara otoritas moneter dan kepentingan politik praktis/fiskal makin menipis. Kredibilitas kebijakan moneter di mata pasar internasional mjd pertaruhannya. Ketika ruang kompromi teknis sudah mencapai batas toleransi risiko, pengunduran diri sering mjd satu-satunya instrumen penyataan ketidaksetujuan (vote of no confidence) yg paling lugas dari kaum teknokrat sejati.


MEMBIDIK BI? Pengunduran diri massal di BEI & OJK bisa dibaca sbg benteng terakhir u/ menunjukkan "ketidaksetujuan" dgn arah kebijakan eksekutif yg terlalu dominan dlm teknis keuangan. Kini, muncul wacana pergantian direksi bank Himbara. Mungkinkah sinyal tekanan akan berlanjut ke BI? Program² populis pemerintah spt MBG yg sangat masif, penguatan Koperasi Merah-Putih, dan keberlanjutan IKN yg ambisius membutuhkan pendanaan yg besar. Sementara ruang fiskal pemerintah kian sempit. Pemerintah bahkan mulai mengandalkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sbg alternatif pembiayaan u/ menahan laju penambahan utang. Ada kekhawatiran eksekutif akan kembali mendorong BI u/ melakukan burden sharing: mencetak uang u/ membeli obligasi pemerintah secara permanen, bukan lagi sbg langkah darurat. Ini ancaman langsung terhadap independensi BI. Pemerintah juga ingin memperkuat Koperasi Merah-Putih dgn memaksakannya masuk ke sektor formal keuangan (ekonomi komando). Jika pemerintah mengalihkan fungsi perbankan ke koperasi demi basis massa politik tanpa standard regulasi yg sama, akan jd ancaman sistemik bagi stabilitas keuangan yg selama ini dijaga ketat oleh OJK. Obsesi pertumbuhan 8% yg dinilai sangat tinggi oleh para pengamat, berbenturan dgn mandat BI yg berfokus pada stabilitas nilai tukar & inflasi. Jika BI dipaksa menurunkan suku bunga secara prematur demi "memompa" pertumbuhan, inflasi melonjak dan Rupiah akan semakin tertekan. Jika Gubernur BI keukeuh, dikuatirkan akan ada tekanan pergantian Gubernur BI. Jika BI mulai menunjukkan tanda² "tunduk" pada keinginan eksekutif yg non-teknis, kita bisa menghadapi risiko capital outflow besar²an. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih saham senilai kurang lebih US$645 juta (sekitar Rp10,2 triliun) hanya dlm kurun waktu 2 hari berdasarkan data bursa. Trend negatif ini berlanjut dgn total penjualan asing mencapai US$1 miliar sepanjang 2025, menandakan tekanan jual yg signifikan di pasar modal.

















Tokoh muda dalam politik Indonesia sekaligus sebagai Wapres RI termuda yang bikin banyak orang lumayan mumet ✍️ Tapi tokoh muda ini kelihatannya ngga terlalu ambil pusing sama apa kata orang-orang mumet itu 👉 ia terus bergerak dan berjalan bersama rakyat karena ia sadar bahwa rakyatlah tempat terbaik untuk mengabdi. Sudah mirip dengan bapaknya yang saat jadi Presiden Republik dua periode kerjanya blusukan dan bertemu langsung dengan rakyat, makanya tidak heran sampai saat ini rakyat terus berbondong-bondong main ke rumah beliau saat pensiun. Itulah efek samping langsung kalau bekerja untuk rakyat, bukan untuk dinasti politik ✍️ Iyakan @KenSavitri35075 😎

