Emak Give Away 🇮🇩🌾
39.8K posts

Emak Give Away 🇮🇩🌾
@eedhazz______99
just give away
apart. Essense Dhrmawangsa,Jkt Katılım Ocak 2018
4.6K Takip Edilen10.9K Takipçiler

@AldhitamaR Kl mertua kaya tapi pelit,gimana dong @AldhitamaR ?
Indonesia


@KakekHalal Makasih @KakekHalal buat ulasan nya yg menarik😇
Indonesia

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Pada hari Rabu Pekan Suci ini kita semakin dekat dengan misteri sengsara Tuhan. Injil hari ini memperlihatkan kepada kita suasana menjelang pengkhianatan. Yesus mengetahui dengan jelas apa yang akan terjadi. Ia tahu bahwa salah seorang murid-Nya akan menyerahkan Dia. Ia tahu bahwa jalan yang ada di hadapan-Nya adalah jalan penderitaan dan salib. Namun Yesus tidak mundur. Ia tetap teguh melaksanakan kehendak Bapa. Apa yang Ia katakan kepada para murid sungguh terjadi seperti yang Ia nyatakan. Bahkan ketika Ia berkata bahwa salah seorang dari mereka akan menyerahkan Dia, peristiwa itu benar-benar terjadi. Yesus menghadapi semuanya dengan keteguhan hati dan ketaatan kepada Bapa-Nya.
Matius 26:14-25 membawa kita pada negosiasi paling tragis dalam sejarah peradaban. Yudas mendatangi para imam kepala dan melontarkan pertanyaan yang sangat bernuansa kapitalistik: "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?" Kesepakatan jatuh pada angka 30 keping perak. Secara historis dan hukum Taurat (Keluaran 21:32), ini adalah harga kompensasi standar untuk seorang budak yang mati diseruduk lembu.
Adegan ini adalah sebuah absurditas tingkat tinggi. Sang Sabda yang menciptakan alam semesta, yang nilainya tak terhingga, direduksi secara sosiologis menjadi komoditas pasar yang sangat murahan. Yudas mengidap patologi psikologis yang sering kita temui di zaman modern: ia tahu harga dari segala sesuatu, tetapi tidak memahami nilai dari apa pun. Iman diubah menjadi proposal bisnis. Ketika Yesus di ruang perjamuan menelanjangi rencana ini, respons Yudas adalah manipulasi psikologis klasik: "Bukan aku, ya Rabi?" Sebuah penyangkalan defensif demi menyelamatkan citra diri di depan publik, sekaligus bukti kebusukan batin yang tersembunyi rapat di balik jubah kesalehan.
Sikap ini selaras dengan nubuat dari Nabi Yesaya. Di sana kita mendengar kata-kata yang sangat kuat: “Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.” Hamba Tuhan itu tetap setia walaupun harus menghadapi penghinaan, penderitaan, dan penolakan. Gereja melihat nubuat ini digenapi dalam diri Yesus. Ia tahu bahwa jalan yang akan ditempuh adalah jalan salib, tetapi Ia tidak menghindarinya. Ia menghadapi semuanya dengan ketaatan penuh kepada kehendak Bapa.
Karena itu kisah Yudas bukan hanya kisah tentang pengkhianatan seorang murid. Kisah ini juga memaksa kita berdiri di depan cermin realitas yang memalukan. Kita sering kali memosisikan diri sebagai hakim atas Yudas, seolah-olah pengkhianatan adalah hak paten eksklusif miliknya pada dua ribu tahun yang lalu. Namun, jika kita membedah keseharian kita dengan pisau kejujuran, maka mungkin kita tidak jauh beda dari Yudas, karena sering kita melakukan "transaksi gelap" yang serupa.
Setiap kali kita mengompromikan kebenaran demi promosi jabatan, (ingat ada begitu banyak orang Kristen meninggalkan imannya demi jabatan & harta duniawi) setiap kali kita memanipulasi sesama demi keuntungan finansial sesaat, atau setiap kali kita mengabaikan suara hati nurani demi sekadar penerimaan sosial (social acceptance), kita sesungguhnya sedang mengantongi 30 keping perak kita sendiri.
Saudara-saudari terkasih,
Rabu Pekan Suci ini mengajak kita untuk memeriksa kembali hati kita sendiri. Apakah hati kita tetap tinggal dalam terang Tuhan, ataukah perlahan-lahan menjauh dari-Nya? Jika kita pernah jatuh, jangan pernah kehilangan harapan. Jangan biarkan keputusasaan menutup hati kita dari belas kasih Tuhan.
Yesus tetap setia melaksanakan kehendak Bapa sampai akhir, walaupun Ia tahu bahwa jalan itu akan membawa-Nya kepada salib. Kesetiaan itulah yang membuka jalan keselamatan bagi dunia. Semoga kita pun belajar berjalan dalam terang Tuhan, dan selalu percaya bahwa kasih dan belas kasih-Nya lebih besar daripada dosa manusia. Amin.

Indonesia

KASIH YANG NYATA
Memasuki malam Kamis Putih, kita melangkah menuju sebuah ruang perjamuan yang sangat intim namun sekaligus dibayangi oleh kisah penderitaan yang akan segera tiba. Malam ini adalah gerbang pembuka Tri Hari Suci.
Malam ini, kita diajak hadir di ruang perjamuan terakhir bersama Kristus tepat sebelum Ia ditangkap. Kita diajak duduk di meja yang sama, menerima roti yang baru saja Ia pecah-pecahkan dari tangan-Nya sendiri malam ini, yang menjadi tanda dimulainya penyerahan diri Yesus secara total demi keselamatan kita.
Perayaan Kamis Putih pada intinya adalah perayaan cinta kasih Tuhan yang sering kali melampaui akal sehat manusia. Bacaan pertama dari Kitab Keluaran (12:1-8, 11-14) mengingatkan kita pada sejarah awalnya, yaitu Paskah bangsa Yahudi. Di Mesir dahulu, darah anak domba yang dioleskan di ambang pintu menjadi tanda pembebasan bangsa Israel dari perbudakan dan kematian.
Namun, Rasul Paulus dalam bacaan kedua dari Surat Pertama kepada umat di Korintus (11:23-26) memperbarui makna upacara lama ini menjadi sesuatu yang luar biasa agung. Ia menegaskan bahwa pada malam Ia diserahkan, Anak Domba yang dikorbankan itu adalah Kristus sendiri. Yesus mengambil roti dan anggur, lalu mengubah sebuah acara makan malam perpisahan biasa menjadi awal mula Sakramen Ekaristi dan Sakramen Imamat.
Ketika Ia berkata, "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu," Yesus menghancurkan mentalitas hitung-hitungan untung rugi duniawi. Tuhan tidak memberikan kasih-Nya setengah-setengah, Ia memberikan diri-Nya seutuhnya, Tubuh dan Darah-Nya, untuk menjadi makanan jiwa kita agar kita hidup selamanya.
Namun, makna agung Ekaristi ini tidak dibiarkan berhenti pada kekhusyukan kita menyantap roti suci di dalam gedung gereja saja. Bacaan Injil Yohanes (13:1-15) mencatat sebuah kejadian yang sangat mengejutkan bagi siapa pun yang hadir saat itu. Di tengah acara makan, Yesus tiba-tiba bangun, melepaskan jubah-Nya, mengikatkan handuk di pinggang, dan mulai membasuh kaki para murid-Nya. Di Timur Tengah masa lalu, jalanan sangat berdebu dan penuh kotoran.
Mencuci kaki tamu adalah tugas paling menjijikkan yang hanya pantas dikerjakan oleh pelayan atau budak rendahan. Tindakan Yesus ini jelas meruntuhkan harga diri dan kedudukan-Nya sebagai Guru. Tidak heran jika Petrus langsung kaget dan menolak keras: "Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya!" Penolakan Petrus ini sebenarnya adalah bentuk kesombongan yang dibungkus dengan sikap seolah-olah ia rendah hati. Ia belum siap melihat Tuhannya rela turun pangkat menjadi pelayan yang kotor.
Namun Yesus dengan tegas menegurnya, "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku." Makna dari pembasuhan kaki ini sangat keras sekaligus indah: menyambut Ekaristi dan melayani sesama adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Siapa pun dia sama sekali tidak pantas menerima Tubuh Kristus di altar jika di luar gereja ia merasa terlalu suci, terlalu kaya, atau terlalu terhormat untuk turun tangan membantu orang-orang yang menderita.
Kamis Putih menantang cara hidup kita sehari-hari dengan sangat radikal. Sering kali kita merasa sudah cukup menjadi orang Katolik yang baik hanya dengan rajin datang ke gereja, duduk manis, dan menyambut Komuni. Padahal, pada malam ini Yesus memberikan perintah yang wajib kita lakukan: "Sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu, demikian jugalah kamu harus perbuat."
Jika Tuhan semesta alam saja bersedia merendahkan diri menjadi pelayan bagi manusia-manusia rapuh, alasan apa lagi yang berani kita pakai untuk menyombongkan segala yang melekat pada diri kita: jabatan, harta, atau status sosial kita di hadapan sesama? Malam ini, terimalah roti yang baru dipecahkan itu dengan hati yang penuh syukur, dan bersiaplah melepaskan keegoisan diri. Pintu perjamuan kasih telah dibuka lebar, dan panggilan untuk melayani menuntut siapa pun dari kita untuk segera bertindak nyata.
Ubi Caritas et Amor, Deus ibi est

Indonesia
Emak Give Away 🇮🇩🌾 retweetledi

@Aerio_Id Ada pesan mahal dari Kotaro Minami: "Banyakin jalan kaki."
Belalang Tempur dia sering ditinggal di pinggir jalan.
GIF
Indonesia


@eedhazz______99 Disini dibilang bunga sedap malam
Wangi banget kalau malam sampai subuh
Betul Mak sekarang aku sedang di Bali
Indonesia

Tadi kuantar istriku ke tempat oleh-oleh. Parkiran penuh dgn mobil orang-orang yg sedang menjalankan peran sbg suami taat istri.
Aku pun balik ke penginapan.
Main air di kolam renang sambil melamun jadi Aquaman. Alhasil, aku lupa ngejemput.
Entah mukjizat apa, aku kali ini tak diomeli sama sekali. Tak lagi jadi sasaran senapan serbu.
Tentu saja aku merasa ini tanda-tanda istriku sdh mencintaiku spt semula. Ya, seperti ketika dia belum pernah menghirup aroma karbondioksida dr tubuhku.
Kepalaku seketika dipenuhi lagu-lagu romantis mulai dari lagu Dealova, All of Me-nya John Legend, A Thousand Years-nya Christina Perri, Until I Found You-nya Stephen Sanchez, hingga lagu Syahdu-nya Rhoma Irama.
Menjelang Magrib, ia balik ke penginapan dengan senyum yang terasa secantik Angelina Jolie. Pelan-pelan ia serahkan bon belanja, diiringin dengan kalimat pendek saja, "Nanti langsung transfer sejumlah ini."
Suara Rhoma Irama pun tak lagi merdu sama sekali. Christina Perri jadi tak ada bedanya dengan Mimi Peri.
Indonesia

@eedhazz______99 @dyah_pan Hai mbk.. kabar nya baik dan sehat. Gimana sampyn? Lama gak ketemu
Indonesia















