Sabitlenmiş Tweet
Tia ִֶָ ִ
20.4K posts

Tia ִֶָ ִ
@eftychiapandora
Vivamus, moriendum est.
PLUTO Katılım Aralık 2019
458 Takip Edilen468 Takipçiler
Tia ִֶָ ִ retweetledi

Akhirnya ketemu juga ini instrumen.. namanya kemanak
Pertama kali denger buat ngiringin bedhaya ketawang dari kraton Surakarta, eh ternyata di Kraton Jogja juga adaaa
Kemanak itu salah satu alat musik tradisional khas Jawa yang biasanya dipakai di lingkungan Keraton gitu buat ngiringin tari-tarian sakral kek misalnya Tari Bedhaya dan Tari Srimpi. Bentuknya unik asli, bentuknya mirip pisang atau kelapa dibelah dua gitu, bahannya dari perunggu. Cara mainnya dipukul sampai keluar suara “tong-teng” gitu.
Sumber: Kraton Jogja
Indonesia

@mandarinfess Rank 1 in acting department ❤️
Btw yg suka ngikutin rui mutualan yuk, susahnya nyari yg ngikutin dia ini
Indonesia
Tia ִֶָ ִ retweetledi
Tia ִֶָ ִ retweetledi
Tia ִֶָ ִ retweetledi

Tia ִֶָ ִ retweetledi
Tia ִֶָ ִ retweetledi
Tia ִֶָ ִ retweetledi

Yang tertarik karya sastra lama Indonesia coba cek Kacabenggala Editions. Di sini ada arsip Kisah Perdjalanan si Apin (Siti Rukiah Kertapati), On Free Labor (Multatuli), Irian Barat, sekali lagi Irian Barat (Pramoedya Ananta Toer), dan masih banyak lagi.
kabe.drepram.com


Indonesia
Tia ִֶָ ִ retweetledi

Nareswari Ken Dedes: Ibu Wangsa Rajasa
Gayatri Rajapatni: Otak stabilisasi Majapahit pasca Jayanegara
Tribhuwana Wijayatunggadewi: Penguasa perempuan terbesar Kepulauan Nusantara sebelum Megawati Sukarnoputri
Prabhustri Suhita: Maharani Majapahit pasca Paregreg x.com/boy_7776/statu…
Indonesia
Tia ִֶָ ִ retweetledi

Kartini dipermasalahkan karena menjadi istri keempat.
Kartini dipermasalahkan karena Jawa.
Kartini dipermasalahkan karena hanya menulis surat-surat kepada seorang perempuan Belanda.
Kartini dipermasalahkan karena tidak berjuang memegang pedang seperti Cut Nyak Dien dan Kristina Martatiahahu, atau membuat sekolah seperti Dewi Sartika, atau menerbitkan koran seperti Roehana Koedoes.
Apakah kita pernah berdebat tentang Pangeran Diponegoro dan Teuku Umar terutama siapa yang paling pantas disebut pahlawan? Apakah kita pernah memperdebatkan mereka karena suku atau tipe perjuangan yang melekat pada mereka?
Sejarah dipenuhi berbagai tokoh laki-laki. Pahlawan bangsa dikerubuti oleh laki-laki. Foto-foto pahlawan kita di sekolah-sekolah dipenuhi oleh foto laki-laki. Tetapi kita tak pernah memperdebatkan tokoh-tokoh itu satu dengan lainnya.
Apa yang terjadi pada tokoh-tokoh perjuangan perempuan, pada setiap Hari Kartini: dipermasalahkan, diperdebatkan.
Apakah kita tahu bahwa Kartini adalah anak perempuan yang dinikahi di usia belia, yang reproduksinya belum sempurna, dan mengalami kematian saat melahirkan? Tahukah bahwa masa itu menjadi seorang perempuan Jawa itu lebih mengerikan daripada menjadi seorang perempuan Minangkabau?
Atau tahukah bahwa menjadi seorang perempuan bangsawan Jawa di masa feodal-konial abad ke-19 adalah tidak lebih baik daripada menjadi perempuan rakyat jelata ketika bicara soal kebebasan diri? Tahukah bahwa menjadi seorang kutu buku seperti Kartini, dengan wawasannya yang mendunia itu, dia tak bisa berbuat apa-apa karena posisinya waktu itu?
Kartini ibarat hidup dalam penjara. Sebagaimana tahanan penjara politik macam Pramoedya Ananta Toer, Kartini hanya bisa melawan dengan menulis. Menulis surat adalah salah satu cara supaya pemikiran-pemikirannya tentang pembebasan didengar. Kartini bersuara lewat surat-surat, sebagaimana orang-orang tahanan politik yang dipenjara.
Penyiksaan yang dialaminya adalah bagaimana kebahagiaan intelektualnya dipenggal. Bagaimana kecerdasannya dikerdilkan, karena dia seorang anak perempuan Jawa yang bangsawan, yang dipelihara di penjara bertembok keraton dan diharuskan berjalan dengan sangat pelan atau berjongkok-jongkok kepada yang lebih tua, atau bahkan kepada saudara laki-lakinya sendiri. Kartini sedemikian dibatasi karena dia seorang perempuan Jawa. Kartini demikian karena ia ingin menjaga Bapaknya. Bapaknya adalah pengantar kebebasannya pada apa yang disebut buku atau bacaan, wawasan, dan pendidikan.
Kartini mengungkapkan ketakutannya yang amat sangat dalam hal poligami, dimana Hukum Islam mengijinkan laki-laki kawin dengan empat perempuan. Dan masa menikah inilah yang paling dibencinya. Apa yang dibencinya adalah ketika tradisi Islam bercampur dengan Jawa, bahwa Jawa mengharuskan anak gadis menikah dengan laki-laki yang dipilihkan ayahnya, dan Islam membolehkan laki-laki berpoligami. Kartini tidak punya pilihan apa-apa dan merasa perkawinan akan membunuh dia sedalam-dalamnya dan memang masa itu pun terjadi.
“Aku tidak akan pernah, tidak akan pernah bisa mencintai. Bagiku, untuk mencitai, pertama kali kita harus bisa menghargai pasangan kita. Dan itu tidak kudapatkan dari seorang pemuda Jawa. Bagaimana aku bisa menghargai seorang laki-laki yang sudah menikah dan sudah menjadi seorang Ayah hanya karena dia sudah bosan dengan yang lama, dapat membawa perempuan lain ke rumah dan mengawininya? Ini sah menurut hukum Islam. Kalau seperti ini, siapa yang tidak mau melakukannya? Mengapa tidak? Ini bukan kesalahan, tindak kejahatan ataupun skandal; Hukum Islam mengizinkan laki-laki beristri empat sekaligus.
Meski banyak orang mengatakan ini bukan dosa, tetapi aku, selama-lamanya akan tetap menganggap ini sebagai sebuah dosa. Bagiku semua benih perbuatan yang menyakitkan orang lain (termasuk menyakiti hewan) adalah dosa. Bisa kau bayangkan derita seorang istri yang melihat suaminya pulang membawa perempuan lain yang kemudan harus diakuinya sebagai istri sah suaminya? Sebagai saingannya? Jika demikian, suami itu bisa ‘membunuh’ istrinya... Mustahil rasanya sang suami memberi kebebasan padanya!”
Kartini lahir sebagai feminis bukan dilahirkan dari teori-teori feminisme, karena seorang feminis adalah dilahirkan, bukan diciptakan. Kartini dan pikirannya bukan sesuatu yang terpisah, atau tidak memisahkan antara pengalaman dengan persepsi, pengalaman dengan diskursus.
---
Tulisan di atas adalah cuplikan dari artikel yang sangat bagus & kuat dari mbak @marianamiruddin yang versi lengkapnya bisa dibaca di web @jurnalperempuan.
Selamat Hari Kartini
21 April 1879–17 September 1904
Damai di surga, Perempuan yang mendahului zaman 🙏💜

Indonesia
Tia ִֶָ ִ retweetledi

อร๊ากกกก ท่านเทพมังกรเรียกเจี่ยเจีย
มีความสลับบทการพูดด้วย เรียกท่านเทพมังกรให้ฟังหน่อยสิ
น่ารักกันมากกกพี่น้องตระกูลกงตลอดไป
#เถียนเจียรุ่ย #田嘉瑞 #TianJiarui
#บันทึกเกล็ดจันทร์ #月鳞绮纪 #VeilOfShadows
ไทย
Tia ִֶָ ִ retweetledi
Tia ִֶָ ִ retweetledi

"He said he didn't follow the teleprompter exactly today because he feels that everyone has a tough job, earning money isn't easy, so if you like something, you should think it through carefully. There's no need to say, "I have to buy it today!"
Oh may 🥹 #HouMinghao
English
Tia ִֶָ ִ retweetledi
Tia ִֶָ ִ retweetledi

"We were fated to be entangled long ago. I will protect you no matter what and never fail this vow sealed by our bound hair."
Awhhh, I love my WuWu cp so much 😭🥺❤️
#VeilOfShadows
English
Tia ִֶָ ִ retweetledi

This reminds me of Gong Shangjue asking Gong Yuanzhi.
"Do you think a new one will always be better than the old one?"
The answer is clearly, no. The new was never meant to replace the old. And the old can never truly be replaced.
Jaja🍀@jhas0033
I couldn't save your bother. How about I give you another brother. From now on, I'll be your younger brother. I think this is the reason too why he always finds him no matter what happens. From that day he became his younger brother. 😭 #VeilofShadows
English
Tia ִֶָ ִ retweetledi
















