
@RadicalFalk People should make more talking videos like this on X. Easy way to get millions of impressions with basically no followers.
Elfan MDI
7.3K posts

@elfanmdi
MPP Candidate at Unpad. Bridging Public Administration with Policy Analysis. An academic repository for adaptive governance and evidence-based policy solutions.

@RadicalFalk People should make more talking videos like this on X. Easy way to get millions of impressions with basically no followers.


Pemula centang biru nih. Kuy mutualan, saya berbagi analisa tentang kebijakan publik dengan berbagai studi kasus. Ini laboratorium pembelajaran saya dalam perkuliahan. S2 Kebijakan Publik di Unpad. Kadang sy jg ngetwit bola. Let's go!

X Bukan TikTok, Tapi Algoritmanya Bisa Lebih Gila dari TikTok Bayangin kamu upload video di platform ratusan juta pengguna. Video kamu dapat jutaan tayangan. Padahal followers kamu nol. Bukan TikTok. Bukan YouTube. Tapi X. Banyak yang langsung panik waktu dengar ini. "X mau jadi TikTok? Mau hapus budaya teks?" Wajar. Karena kita udah terbiasa: Twitter itu tempatnya cuitan, thread panjang, debat 280 karakter. Tapi sebelum panik, baca dulu lebih teliti apa yang sebenarnya terjadi. Nikita Bier, salah satu orang paling berpengaruh di dunia produk teknologi, nulis sesuatu yang menarik. Dia bilang: video pendek di X sekarang di-boost oleh algoritma, bahkan kalau kamu belum punya satu pun followers. Ini bukan soal X yang mau ganti identitas. Yang berubah adalah satu hal kecil tapi penting: cara konten menyebar. Video punya jalur distribusi ekstra yang teks biasa tidak punya. Dari kacamata kebijakan publik, ini bukan cuma soal fitur baru. Ini soal siapa yang dikasih akses ke ruang publik digital. Selama ini, distribusi informasi di media sosial sangat bergantung pada modal sosial, berapa followers kamu, seberapa lama kamu aktif, seberapa besar jaringanmu. Orang baru, akademisi, aktivis, mahasiswa, yang punya ide bagus tapi belum punya audiens, selalu kalah start. Pergeseran algoritma kayak ini secara tidak langsung menurunkan barrier masuk ke ruang diskursus publik. Artinya, kalau kamu bisa memanfaatkan ini lebih awal, kamu bisa ikut membentuk narasi, bukan sekadar mengikutinya. Di TikTok dan Reels, persaingan sudah brutal. Di X, mayoritas pengguna masih main teks. Belum banyak yang bikin video ngobrol soal isu serius: kebijakan, riset, analisis. Ruangnya masih sepi. Kompetisinya masih rendah. Window kayak gini biasanya cuma terbuka beberapa bulan. Setelah itu semua orang ikut, dan keuntungan awal sudah diambil duluan. Jadi sebelum kamu ikut ribut soal "Twitter mati" atau "X makin aneh", coba tanya satu pertanyaan berbeda. Gimana caranya gue manfaatin ini? Jadi jangan takut payout jadi kecil juga. Nikita gak bilang ngurangin boost dari teks biasa, tapi dia kasih berkali-kali lipat buat video. Ini opportunity baru yang keren banget.

@RadicalFalk People should make more talking videos like this on X. Easy way to get millions of impressions with basically no followers.





The worst part about solo traveling is having nobody to take pictures of you.