jenna
719 posts



Kita melihat angka itu 712 Tewas, 507 Hilang dan kita tahu, itu bukan sekadar statistik. Itu adalah ratusan jiwa yang terenggut oleh lumpur busuk, ribuan keluarga yang hancur, dikubur oleh kegagalan sistematis yang tak pernah mau belajar. Bayangkan kesunyian yang mencekik itu: lumpur tebal menelan rumah, meninggalkan hanya sisa atap yang menyembul . Di balik angka 507, ada ratusan orang yang masih ditunggu di pinggir sungai yang kini hanya berisi puing. Mereka hilang, tapi kita tahu ke mana mereka pergi: mereka diambil oleh nafsu serakah para pembalak yang dilindungi. Mereka yang berwenang akan mengumumkan "masa berkabung," mengeluarkan pernyataan belasungkawa resmi yang dingin. Mereka akan berbicara tentang "takdir" dan "bantuan logistik." Ironisnya, mereka menangisi korban tewas, sementara mereka menolak menyebut nama pembunuhnya yaitu para pengusaha yang mengantongi izin palsu dan pejabat yang menutup mata. Duka ini adalah kontrak mati yang ditandatangani oleh pemangku kebijakan di balik meja mewah. Kita, sebagai rakyat, hanya bisa berduka dan merangkul sisa-sisa yang tertinggal. Kita terpaksa menerima kenyataan pahit ini: negara hadir dalam wujud upacara pemakaman, tapi absen saat hutan dibabat. Kita sedih, tapi juga marah tak berdaya. Karena kita tahu, duka ini akan terulang lagi, selama impunitas bagi perusak hutan tetap dilestarikan. Kami berduka atas nyawa yang hilang, dan kami mengutuk sistem yang merampas hak mereka untuk hidup.







Tiga Bupati di Aceh; Bupati Aceh Selatan, Bupati Aceh Tengah, dan Bupati Pidie Jaya, menyatakan tidak sanggup menangani banjir yang melanda wilayah mereka. Banjir Aceh 2025 akibat 🌀 Cyclone Senyar adalah banjir terparah dalam sejarah Aceh. @Prabowo @DPR_RI











