ET🕊️

14.4K posts

ET🕊️ banner
ET🕊️

ET🕊️

@endoftaufik

-

Katılım Ocak 2012
476 Takip Edilen310 Takipçiler
ET🕊️ retweetledi
VERYDARKMAN
VERYDARKMAN@vdmempire·
Rejected $500M 😳🚨🚨🚨 “I was offered a huge deal worth 500 million dollars to promote alcohol but I said no because I'm Muslim and don't want to destroy young people who follow me by promoting alcohol”—Khaby Lame Khaby Lame reveals that he has LOST billions Of dollars just because he refused to promote Alcohol. Khaby said he has so many young people who follow him and he will be destroying their lives by making them think Alcohol is great. He also said he is a MUSLIM and can’t promote that. Khaby added that even b£tting is NOT his thing. He has lost so much money by rejecting those deals. He cares about his followers and he knows the effects these things have. Most of your celebs don’t care. They’ll promote anything and everything even the ones harmful to you. Big Respect to Khaby lame🙏❤️ Repost please! Let's celebrate him.
VERYDARKMAN tweet media
English
109
532
2.3K
70.8K
ET🕊️ retweetledi
dr. Adam Prabata
dr. Adam Prabata@AdamPrabata·
Gua Baru Tahu Sering Nonton Short Video Bisa Bikin Fungsi Otak Menurun Awalnya gua kira nonton short video di HP itu cuma buang-buang waktu. Tapi setelah baca jurnal ini, gua baru tau efeknya bisa berbahaya untuk otak. Penelitian dari Tiongkok ini meneliti 48 orang, terus dilihat kebiasaan mereka nonton short video, lalu dicek fungsi atensi & kontrol diri, didukung juga dengan pemeriksaan EEG. Hasilnya bikin gua cukup bikin kaget antara lain: -Semakin sering nonton short video, semakin turun kemampuan otak buat kontrol diri -Fungsi eksekutif otak, terutama atensi, juga menurun Short video itu juga berasosiasi dengan overstimulasi dengan karakteristik cepat, singkat, dan penuh reward instan. Lama-lama otak jadi kebiasaan butuh stimulus cepat, sehingga bikin fokus jangka panjang makin susah. Yang menarik dari studi ini adalah: Semakin tinggi tingkat kecanduan (adiksi) untuk menonton short video di smartphone, berasosiasi dengan semakin rendah tingkat pengendalian diri (self control) KESIMPULAN: Kebiasaan nonton short video ternyata berkaitan dengan penurunan self-control dan turunnya fungsi eksekutif otak, terutama kemampuan atensi.
dr. Adam Prabata tweet mediadr. Adam Prabata tweet mediadr. Adam Prabata tweet mediadr. Adam Prabata tweet media
Indonesia
91
2.6K
6.6K
181K
ET🕊️ retweetledi
Knowledge Bank
Knowledge Bank@xKnowledgeBANK·
You belong to which Generation?
English
68
3.1K
9.6K
1.1M
ET🕊️ retweetledi
Ismail Fahmi
Ismail Fahmi@ismailfahmi·
Mens Rea: Ketika Komedi Menjadi Cermin Politik, dan Publik Terbelah oleh Etika Drone Emprit Notes Keberhasilan Mens Rea memuncaki daftar tontonan Netflix Indonesia bukan sekadar pencapaian industri hiburan. Ia adalah penanda penting bahwa kritik politik—yang disampaikan secara terbuka, satir, dan tanpa sensor—masih memiliki tempat besar di ruang publik Indonesia. Namun, data percakapan digital menunjukkan bahwa penerimaan itu tidak datang tanpa friksi. Dalam rentang sebelas hari, Mens Rea memicu hampir 20 ribu percakapan lintas media sosial dan hampir 1.000 pemberitaan media online, dengan total interaksi mencapai lebih dari 117 juta. Skala ini menempatkan Mens Rea bukan sekadar sebagai tontonan, tetapi sebagai peristiwa sosial-politik. Dua Dunia yang Berbeda “Media Sosial vs Media Berita” Data menunjukkan kontras yang tajam antara cara publik dan media arus utama merespons Mens Rea. Di media sosial, sentimen positif mendominasi—sekitar dua pertiga percakapan bernada dukungan. Publik memuji keberanian Pandji menyebut pejabat, institusi hukum, dan praktik kekuasaan secara gamblang. Banyak yang menyebut materinya “kena”, relevan, dan mewakili keresahan kolektif rakyat kecil: soal pajak, gaji pejabat, aparat bersenjata, hingga relasi rakyat–presiden. Sebaliknya, media online cenderung lebih negatif. Lebih dari separuh pemberitaan bernada kritik, dengan fokus pada kontroversi: isu body shaming, etika komedi, dan potensi pelanggaran hukum. Alih-alih membedah substansi kritik politiknya, framing media lebih banyak menyorot konflik antartokoh—Pandji versus Tompi, Pandji versus Deolipa, atau Pandji versus “etika publik”. Kesenjangan ini penting: ia menunjukkan bahwa apa yang dianggap relevan oleh netizen tidak selalu sama dengan apa yang dianggap “layak diberitakan” oleh media. Lanskap Percakapan Lintas Platform Meski membahas objek yang sama—Mens Rea dan Pandji Pragiwaksono—setiap platform media sosial menunjukkan karakter emosi, fokus isu, dan dinamika konflik yang berbeda. Ini penting, karena publik Indonesia hari ini tidak lagi membentuk opini di satu ruang tunggal, melainkan di banyak “ruang gema” dengan logika yang berbeda. Twitter / X: Arena Politik, Polarisasi, dan Perang Narasi Twitter/X menjadi ruang paling politis dan paling terpolarisasi. Sentimen positif memang dominan—sekitar 63%—namun X juga menjadi tempat utama lahirnya narasi tandingan dan serangan langsung. Topik utama di X berputar pada: · Kritik terhadap negara, aparat, dan politik dinasti. · Isu kebebasan berekspresi dan kekhawatiran kriminalisasi. · Tuduhan body shaming terhadap fisik Gibran. · Narasi seragam seperti “Pandji Darurat Ide”dan “Pandji Rusak Komedi”. X juga menjadi platform pertama di mana publik mendeteksi pola mobilisasi akun, yang kemudian justru dibaca sebagai bukti bahwa materi Pandji “mengganggu kenyamanan kekuasaan”. Di sini, Mens Rea diposisikan bukan sekadar komedi, melainkan tindakan politik simbolik. Facebook: Dukungan Emosional dan Validasi Kolektif Facebook menampilkan wajah publik yang lebih afirmatif dan emosional, dengan sentimen positif mencapai lebih dari 70% dan sentimen negatif relatif kecil. Topik yang dominan di Facebook antara lain: · Apresiasi keberanian Pandji menyebut pejabat secara terbuka. · Kebanggaan atas capaian Mens Rea sebagai tayangan nomor satu Netflix. · Persepsi bahwa materi Pandji “mewakili suara rakyat biasa”. · Komedi sebagai pendidikan politik informal. Isu body shaming memang muncul, tetapi tidak menjadi pusat percakapan. Facebook lebih berfungsi sebagai ruang validasi kolektif, tempat publik saling menguatkan bahwa kritik seperti ini “wajar dan perlu” dalam demokrasi. Instagram: Popularitas, Visual, dan Simbol Keberhasilan Di Instagram, sentimen positif juga berada di kisaran 70%, namun nuansanya berbeda. Percakapan lebih berfokus pada simbol keberhasilan dan popularitas, bukan konflik argumentatif. Topik utama di Instagram meliputi: · Mens Rea sebagai TV Show No.1 Netflix Indonesia. · Potongan video stand-up yang dianggap “kena” dan mudah dibagikan. · Pandji sebagai figur publik yang “berani dan konsisten”. · Kesadaran politik ringan, terutama di kalangan penonton muda. Isu kontroversi muncul, tetapi cenderung sekilas dan kalah oleh narasi keberhasilan. Instagram memperkuat Mens Rea sebagai fenomena budaya populer, bukan sekadar polemik politik. YouTube: Ruang Penjelasan, Narasi Panjang, dan Konteks YouTube menjadi ruang penalaran yang lebih panjang dan reflektif, dengan sentimen positif sekitar 68%. Di sini, publik tidak hanya bereaksi, tetapi mencoba memahami konteks. Topik yang menonjol di YouTube: · Penjelasan ulang materi Mens Rea dan konteks kritik politiknya. · Diskusi soal klaim “intel” dan potensi intimidasi aparat. · Respons tokoh publik seperti Dedi Mulyadi yang dinilai sportif. · Perdebatan etika komedi, namun dengan argumen yang lebih panjang. YouTube berfungsi sebagai ruang rekonstruksi makna, tempat publik mencoba memilah mana satire, mana fakta, dan mana provokasi. TikTok: Viralitas, Potongan Konten, dan Emosi Instan TikTok menunjukkan sentimen positif paling rendah dibanding platform lain—sekitar 57%—namun tetap dominan. Negativitas di TikTok relatif lebih tinggi karena logika platform yang mengutamakan konten singkat dan sensasional. Topik yang paling sering muncul di TikTok: · Potongan cerita soal “intel” yang menyusup. · Roasting terhadap Gibran sebagai hookrasa ingin tahu. · Klip-klip sindiran terhadap figur publik lain. · Amplifikasi kritik dr. Tompi secara masif. Di TikTok, konteks sering tereduksi. Akibatnya, isu body shaming dan kontroversi lebih mudah membesar. Platform ini menjadi ruang eskalasi emosi, bukan pendalaman argumen. Satu Kesimpulan Penting dari Lintas Platform Jika dilihat secara keseluruhan, data lintas platform menunjukkan satu pola konsisten. Dukungan publik terhadap kritik politik Pandji tetap dominan, tetapi bentuk, kedalaman, dan titik konflik sangat dipengaruhi oleh karakter platform. · X adalah arena konflik ideologis. · Facebook ruang dukungan emosional. · Instagram panggung legitimasi popularitas. · YouTube tempat pencarian makna. · TikTok mesin viral yang mempercepat polarisasi. Perbedaan ini penting untuk dibaca, karena ia menjelaskan mengapa satu karya yang sama bisa sekaligus dianggap berani, melanggar etika, mendidik, dan berbahaya—tergantung di ruang mana ia diperdebatkan. Narasi Seragam dan Dugaan Mobilisasi Salah satu temuan menarik adalah munculnya narasi yang relatif seragam di media sosial, seperti “Pandji Darurat Ide” atau “Pandji Rusak Komedi”. Pola bahasa, timing, dan akun penyebarnya memunculkan kecurigaan sebagian netizen akan adanya mobilisasi narasi tandingan—fenomena yang justru memperkuat persepsi bahwa materi Mens Rea menyentuh titik sensitif kekuasaan. Alih-alih meredam diskusi, narasi ini memicu respons sarkastis: bahwa Mens Rea “membuka lapangan kerja baru” bagi buzzer politik. Dalam konteks ini, serangan balik justru dibaca sebagai validasi relevansi kritik, bukan pelemahannya. Emosi Publik “Antara Tawa, Cemas, dan Harapan” Analisis emosi menunjukkan spektrum yang kompleks. Ada joy dan surprise—tawa, kekagetan karena materi tayang utuh tanpa sensor, serta kebanggaan melihat karya lokal memimpin Netflix. Namun ada pula anticipation dan kecemasan: doa agar Pandji aman, kekhawatiran soal kriminalisasi, hingga cerita tentang dugaan intel di lokasi pertunjukan yang memperluas diskusi ke isu kebebasan berekspresi. Di sini, Mens Rea berhenti menjadi soal lucu atau tidak lucu. Ia berubah menjadi ujian publik: sejauh mana kritik terhadap negara boleh disampaikan, dan risiko apa yang harus ditanggung oleh penyampainya. Apa yang Sebenarnya Diharapkan Publik? Jika dirangkum, harapan publik yang muncul bukanlah komedi yang “aman” atau steril dari konflik. Data justru menunjukkan publik menginginkan: · Kritik yang jujur dan berani, meski tidak selalu nyaman. · Komedi yang mendidik secara politik, bukan sekadar hiburan kosong. · Ruang ekspresi yang tidak langsung dikriminalisasi saat menyentuh kekuasaan. Namun publik juga memberi sinyal batas: kritik kebijakan dan kekuasaan dianggap sah, tetapi wilayah tubuh, identitas, dan kondisi medis tetap menjadi medan sensitif yang bisa menggeser simpati. Komedi sebagai Indikator Demokrasi Mens Rea memperlihatkan bahwa di Indonesia hari ini, komedi bisa menjadi indikator kesehatan demokrasi. Bukan karena semua orang setuju, melainkan karena publik masih mau berdebat—tentang etika, tentang kekuasaan, tentang batas kebebasan. Perbedaan sentimen antara media sosial dan media berita, polarisasi narasi, hingga munculnya dugaan mobilisasi kontra-narasi, semuanya menunjukkan satu hal: yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar selera humor, tetapi ruang kritik itu sendiri. Dan mungkin pertanyaan paling thought-provoking dari seluruh data ini bukanlah “apakah Pandji melanggar etika?”, melainkan: mengapa sebuah pertunjukan komedi bisa membuat begitu banyak pihak merasa perlu bereaksi, membantah, bahkan mengingatkan soal hukum?
Ismail Fahmi tweet mediaIsmail Fahmi tweet mediaIsmail Fahmi tweet media
Indonesia
76
994
2.4K
249.7K
ET🕊️
ET🕊️@endoftaufik·
Musik dj lagunya shalawat volume kenceng jam 11 malam...
Indonesia
0
0
0
19
ET🕊️
ET🕊️@endoftaufik·
Tidak ada waktu untuk mengeluh dan tak ada gunanya pula... Waktuku habis untuk bertahan hidup.
Indonesia
0
0
0
13
ET🕊️
ET🕊️@endoftaufik·
Jadi Rokok yang bercukai juga termasuk Ilegal, tjakep negeri ku..
Indonesia
0
0
0
15
ET🕊️
ET🕊️@endoftaufik·
Dear @Grok kenapa skrng2 pertalite di spbu habis terus?
Indonesia
1
0
1
48
ET🕊️
ET🕊️@endoftaufik·
Dlu ada agenda pemakzulan tp skrng MPR DPR nya ricuh ... Lantas.....
Indonesia
0
0
0
27