Erwin Abdillah

11.1K posts

Erwin Abdillah banner
Erwin Abdillah

Erwin Abdillah

@erwinabcd_

Penulis Buku: Empat Abad Wonosobo Narasi Sejarah dari Dokumen Hindia Belanda, Serat, dan Babad. (Cetakan 2: Okt 2025)

Pemesanan: 085741887178 Katılım Nisan 2011
310 Takip Edilen451 Takipçiler
Erwin Abdillah
Erwin Abdillah@erwinabcd_·
Sangat tidak apa-apa loh beli kopi yg enak 100 gram misal 40-50 ribu bisa diseduh 10-12 kali, di rumah atau dibawa pergi. Sama spt beli di cafe atau di jalan2 itu.
Indonesia
0
0
0
12
Erwin Abdillah
Erwin Abdillah@erwinabcd_·
Di level kabupaten, kamu akan melihat banyak sekali org2 tidak kompeten menempati jabatan yg bahkan skill/ilmunya tidak mereka pelajari saat kuliah. Lalu bagaimana di Provinsi dan pusat?
Indonesia
0
0
1
13
Erwin Abdillah
Erwin Abdillah@erwinabcd_·
Aan said: Atau senyummu, dinding di antara aku dan ketidakwarasan. Persis segelas kopi tanpa gula menjauhkan mimpi dari tidur.
Indonesia
0
0
0
11
Erwin Abdillah
Erwin Abdillah@erwinabcd_·
Oplas itu seram, menghapus wajah leluhurmu yg jumlahnya miliaran itu dan mereka menitip garis-garis halus di sana.
Indonesia
0
0
0
18
Erwin Abdillah
Erwin Abdillah@erwinabcd_·
Selama relasinya adalah Raja dan Rakyat, ya belum akan ada demokrasi.
Indonesia
0
0
0
11
Erwin Abdillah
Erwin Abdillah@erwinabcd_·
Saya kenal BANYAK org pintar yg jauh lbh dri saya dan mereka kelamaan menunggu kondisi ideal. Lalu menyerah pada sistem. Tau2 sudah berumur, merasa sudah terlambat.
Lambe Saham@LambeSahamjja

Guys, ada pertanyaan yang menurut gue sudah terlalu lama dijawab dengan cara yang salah. Kenapa orang pintar sering gagal? Dan Feri Irwandi orang yang masuk STAN karena iseng, kerja 10 tahun di Kementerian Keuangan, sekarang S2 di Monash Melbourne punya jawaban yang sangat tidak klise. Kecerdasan tanpa kemampuan berpikir mandiri adalah racun: Feri punya pengalaman langsung dengan ini waktu di STAN. Teman-teman sekelasnya? Orang-orang yang sebelumnya keterima FTTM ITB, Kedokteran UI, Kriminologi UI. Otak-otak terbaik Indonesia yang memilih masuk STAN. Dan mereka semua belajar dari kisi-kisi. Menghapal jawaban persis dengan yang diminta dosen. Feri tidak mau melakukan itu. Bukan sombong tapi karena dia punya satu pertanyaan mendasar: Kalau lo belajar dari kisi-kisi sebelum ujian apa yang sebenarnya diuji? Bukan kemampuanmu. Kisi-kisinya. Hasilnya: ketika soal ujian sama persis dengan kisi-kisi — nilai Feri di bawah rata-rata. Mereka yang hapal jawaban punya nilai sempurna. Tapi ketika soal berbeda dari kisi-kisi Feri langsung top. Mereka yang hapal jawaban bingung karena tidak ada template untuk dijawab. Inilah paradoks orang pintar yang sering gagal. Mereka sangat terampil mengoptimalkan sistem yang sudah ada tapi ketika sistemnya berubah atau tidak ada panduan, mereka tidak tahu harus berbuat apa. Karena selama ini yang dilatih bukan kemampuan berpikir tapi kemampuan mengikuti instruksi dengan sangat presisi. Sekolah mengajarkan kita untuk mendapat nilai bagus. Bukan untuk berpikir. Dan orang yang paling mahir di sistem itu justru paling rentan ketika sistemnya tidak ada. Perfeksionisme adalah bentuk lain dari ketakutan: Orang pintar cenderung perfeksionis. Dan perfeksionisme terdengar seperti sesuatu yang bagus standar tinggi, detail-oriented, tidak mau sembarangan. Tapi Feri dan Jerome sepakat: perfeksionisme dalam konteks action adalah musuh kemajuan. Perfeksionis menunggu kondisi sempurna sebelum bertindak. Menunggu ide yang benar-benar matang. Menunggu momen yang tepat. Menunggu skill yang cukup. Dan selama menunggu orang lain yang mau mulai duluan meskipun hasilnya tidak sempurna sudah jauh di depan. Kalau lu nunggu bagus baru mulai lu bakal kalah sama orang yang mulai dulu meskipun enggak bagus. Dan ini bukan hanya soal kecepatan. Yang mau memulai duluan belajar dari kesalahan nyata bukan dari simulasi sempurna di kepala. Mereka mengembangkan kemampuan beradaptasi. Sementara perfeksionis terus menyempurnakan rencana yang belum pernah dieksekusi. Feri menyebutnya dengan konsep matematika sederhana: frekuensi harapan. Semakin banyak percobaan, semakin besar probabilitas menemukan sesuatu yang bekerja. Orang pintar yang perfeksionis membuat sedikit percobaan tapi masing-masing sangat terencana. Orang yang mau terus mencoba membuat banyak percobaan dengan kualitas yang bervariasi dan dari volume itu, sesuatu yang besar hampir pasti akan muncul. Orang pintar terlalu peduli dengan persepsi orang lain: Ini yang paling menohok dan paling sering terjadi tapi paling jarang diakui. Feri menyebutnya dengan sangat langsung: "Udah banyak banget gua ngelihat orang stres kehilangan dirinya. Karena standar moral dan ukuran normal mereka dipengaruhi oleh orang yang bahkan enggak peduli sama mereka sama sekali." Orang pintar yang tumbuh dengan selalu mendapat validasi juara kelas, pujian guru, pengakuan lingkungan menjadi sangat tergantung pada validasi eksternal. Ketika validasi itu berhenti atau lebih buruk, berubah menjadi kritik mereka tidak tahu harus bertumpu pada apa. Mereka mulai mengubah diri bukan karena keyakinan internal tapi karena ingin membuat yang tidak suka menjadi suka. Mereka membeli barang yang tidak dibutuhkan dengan uang yang tidak dimiliki untuk mengimpresi orang yang dari awal tidak pernah peduli. Dan ini adalah spiral yang sangat melelahkan karena tidak ada ujungnya. Karena: "No way. Mereka enggak akan melihat lu berbeda. Tidak peduli seberapa banyak lo berubah untuk memuaskan mereka orang yang tidak suka akan selalu menemukan alasan baru untuk tidak suka. Jerome menambahkan pengalamannya sendiri: ketika dia dukung timnas dan digoreng habis-habisan, instingnya adalah klarifikasi membuktikan bahwa dia memang suka sepak bola dari dulu, bukan ikut-ikutan. Karena dia tidak mau terlihat salah di mata orang lain. Tapi Feri dan Choki Pardede sama-sama bilang: "Udah, besok bilang aja minta maaf karena dukung timnas." Dan ketika Jerome melakukan itu dengan self-deprecating humor, mengakui dengan enteng — masalahnya langsung selesai. Karena tidak ada yang lebih mematikan serangan daripada tidak memberikan reaksi yang diinginkan penyerang. Paradoks terbesar: yang membenci justru yang membuat lo bertahan: Ini yang paling counterintuitive dan paling didukung oleh riset yang Feri lakukan untuk disertasinya. Untuk bertahan lama dan relevan yang perlu dibina bukan hanya yang suka. Tapi justru yang tidak suka. Logikanya: orang yang tidak suka sama lo memperhatikan lo dengan intensitas yang jauh lebih tinggi dari orang yang suka. Mereka yang menggerakkan percakapan tentang lo. Mereka yang membuat nama lo terus disebut. Dan ketika mereka menunjukkan ketidaksukaannya dengan cara yang impulsif dan emosional justru orang yang suka menjadi semakin yakin untuk mendukung lo. Feri bahkan dengan sengaja mengetes ini: di periode paling banyak diserang, justru ketika serangan mulai mereda dia memancing lagi supaya tetap ramai. Dan hasilnya? Di saat yang bersamaan konversi penjualannya naik lebih dari dua kali lipat. "Justru bukan memuaskan yang sudah suka. Justru membuat orang yang enggak suka itu apinya enggak padam. Karena dialah yang membuat lu terus terbakar." Orang pintar yang gagal biasanya melakukan sebaliknya: mereka panik ketika ada yang tidak suka, berusaha menyenangkan semua pihak, dan akhirnya tidak punya positioning yang kuat di mana pun. Semua orang suka mereka tapi tidak ada yang benar-benar peduli. Konversinya rendah. Massanya tidak militan. Dan ketika mereka ingin menggerakkan sesuatu tidak ada yang bergerak. Tentang kebencian dan ini wisdom terpenting Feri: "Membenci adalah hal yang lumrah. Kita pun akan membenci sesuatu. Tapi kalau manusia tidak bisa mengendalikan kebenciannya dia akan dimakan oleh kebencian itu sendiri." Kebencian butuh energi yang sangat besar. Dan energi itu dikeluarkan untuk seseorang yang bahkan tidak tahu lo ada. Tapi yang lebih berbahaya dari membenci orang lain adalah membiarkan kebencian orang lain mengontrol hidup lo. Ketika lo membuat keputusan hidup berdasarkan siapa yang tidak menyukai lo dan bagaimana cara membuat mereka berubah pikiran lo sudah menyerahkan kendali hidup lo ke orang yang paling tidak layak memegangnya. "Kendalikanlah kebencianmu lebih besar daripada kecintaanmu. Karena kalau lu dikendalikan sama cinta efeknya akan berbeda. Tapi ketika lu dikendalikan sama benci ya enggak bakal jadi apa-apa. Beneran." Orang pintar sering gagal bukan karena kurang kecerdasan. Tapi karena kecerdasan itu justru menciptakan jebakan-jebakan yang spesifik: terlalu mengandalkan sistem dan template, terlalu perfeksionis untuk mulai, terlalu bergantung pada validasi eksternal, dan terlalu takut pada ketidaksukaan orang lain. Yang benar-benar membuat seseorang bertahan dan berkembang bukan seberapa pintar mereka tapi seberapa baik mereka bisa berpikir mandiri ketika tidak ada panduan, seberapa cepat mereka mau memulai meskipun belum sempurna, seberapa kuat mereka bisa bertumpu pada standar internal mereka sendiri, dan seberapa tenang mereka bisa menghadapi ketidaksukaan tanpa kehilangan diri. Dan ironisnya semua itu justru tidak diajarkan di sekolah. Yang diajarkan sekolah adalah cara mendapat nilai bagus di sistem yang sudah ada. Bukan cara bertahan ketika sistemnya tidak ada.

Indonesia
0
0
0
13
Erwin Abdillah
Erwin Abdillah@erwinabcd_·
Yg "model" begitu di level kabupaten/kota sebenarnya banyak. Contohnya org2 yg bahas soal upaya mengentaskan kemiskinan di hotel2 mewah tanpa ngundang org miskinnya yg mau dientaskan. he he he
Dosen Pembimbing@Dospemz

Hey @Harvard, One of your graduates (Stella Christie) is out here arguing against salary floors for lecturers, claiming “competition” and “quality-based pay” are essential for university progress and national scientific advancement. Yet under the very same regime she serves, she fails to explain why MBG staff can earn far more than the lecturers who actually teach, research, and carry the university’s core academic mission. For Harvard, having an alumna publicly defend this kind of selective and hypocritical logic is honestly embarrassing. Thank you for your attention to this matter!

Indonesia
0
0
0
41
Erwin Abdillah
Erwin Abdillah@erwinabcd_·
Kebetulan tema besar buku sy (2025) hampir sama, mencari dasar bukti teks dri kejadian/tokoh. Meskipun tdk sepenuhnya itu jd bukti wajib. Sy cuma ingin memisahkn narasi tutur dan teks. Itu pun dri 1600 akhir. Era setelah wali 9. Dlm bayanganku, dlu Jawa jg pynya sistem imamat.
Sam Ardi@Sam_Ardi

1. Manuskrip Manuskrip yang dimaksud adalah manuskrip wejangan Syaikh al Bahri (LOr. 1928). Manuskrip ini sering disebut Het Boek van Bonang; aslinya bukan. Itu judul disertasi. Sudah ada di perpus Leiden sebelum tahun 1600M. Di dalamnya menyebut sebuah nama, Pangeran Bonang

Indonesia
0
0
0
22
Erwin Abdillah
Erwin Abdillah@erwinabcd_·
Nulis buku 2 bulan keroyokan, jadi 300-an halaman. Dicetak warna. Dibayar "putus". Bukan yg pertama, tapi baru kali ini tidak puas. Lumayan dpt pelajaran berharga. 👍🏽
Indonesia
0
0
0
75
Erwin Abdillah
Erwin Abdillah@erwinabcd_·
Pas hari kartini ya ternyata.. huehehe Akun kedua sebenarnya.. yg pertama lupa emailnya apa 😅. Do you remember when you joined X? I do! #MyXAnniversary
Erwin Abdillah tweet media
Indonesia
0
0
0
48
Erwin Abdillah
Erwin Abdillah@erwinabcd_·
Seringnya, alasan susah dpt job berupah tinggi ya krn mmg tidak ada yg menuntun. Bisa krn ortu, keluarga, teman, pendidikan, sistem. Singkatnya privilese. Tapi itu semua bisa dikalahkan pengalaman alias banyak mencoba. Tapi semuanya 50:50. 😅 (Kata org yg prnah 12x ganti kerjaan)
Indonesia
0
0
0
24
Erwin Abdillah
Erwin Abdillah@erwinabcd_·
Aku tidak diprogram untuk sungkem "mundhuk2" pada selain orang tuaku. Cium tangan untuk kakak2ku. Selain itu mgkn kalau ketemu nabi Isa aja.
Indonesia
0
0
0
32