Gerakan sosial besar pasca-kemerdekaan selalu lahir dari pertemuan antara aktor, ideologi, medium, dan kebudayaan. Dari pamflet dan spanduk hingga hashtag dan AI generatif, cara rakyat berorganisasi terus berevolusi.
eseinosa.com/2025/09/02/ger…
Lihat postingan soal seorang public figure yang fotonya dibuat pake AI untuk keuntungan konten orang lain tuh agak sedih. Seenaknya aja pake muka orang.
Setelah 🇺🇸, 🇬🇧, dan 🇨🇳 memberikan peringatan bagi warganya di Qatar 🇶🇦, sekarang ruang udara 🇶🇦 ditutup.
Semua penerbangan Qatar Airways yang menuju Doha diverting.
😭😭😭
Dunia sudah gak seadem kemarin²...
Rekomendasi acara buat sinefil di akhir pekan.
Sambil ngomongin Tubuh, kita bisa berjejaring bersama filmmaker muda
Sabtu, 10 Mei 2025
17.30 – 18.45: Networking
18.45 – 21.30: Screening, Performance, Diskusi
MondiBlanc HQ
Tiket: Rp50.000
bit.ly/MondiBodyPolit…
Kekhawatiran massal ini bukan kelemahan pribadi.
Ia adalah alarm bahwa struktur sosial kita rusak.
Dan cara menghadapinya bukan dengan berpura-pura kuat—tapi dengan membangun ulang makna hidup dan ilmu secara kolektif.
Lalu kita menyalahkan diri sendiri.
Padahal, seperti kata Sahlins, masyarakat tradisional bisa hidup lebih tenang karena mereka tidak terobsesi pada akumulasi.
Mereka bekerja untuk cukup. Kita bekerja untuk validasi.
Slavoj Žižek menyebut ini kegagalan simbolik.
Simbol-simbol kesuksesan (gelar, seminar, CV keren) tidak punya makna ketika realitas material tetap menyakitkan.
Kita lapar, tapi punya sertifikat.
Kita cemas, tapi punya IPK.
Dan ironisnya, kita para elit terdidik malah nyinyir:
"Kenapa sih orang dukung Prabowo/Trump?"
Padahal kita yang gagal menjembatani ilmu ke realitas. Kita sibuk merasa paling tahu.
Lupa bahwa pendidikan seharusnya membebaskan, bukan memisahkan.
Banyak orang hari ini cemas. Bahkan yang katanya "berhasil": lulusan kampus top, kerja mapan, tinggal di kota.
Mereka tetap takut miskin. Tetap gelisah. Tetap merasa "gagal."
Kenapa? Ini bukan soal mental. Ini sistemik.
(thread)
DIRECTOR'S NOTE
Pengepungan di Bukit Duri jelas menceritakan kelompok masyarakat (termasuk pelajar) yang memiliki nilai hidup yang rusak termasuk menjadi pelaku kekerasan dan rasisme. Perilaku seperti ini tidak mungkin terjadi di ruang hampa. Ini adalah produk dari SISTEM YANG GAGAL. Dengan menggambarkan kerusuhan sebagai siklus, film ini justru mengkritik pembiaran struktural—yang tentu saja mencakup negara sebagai aktor besar. Ini adalah pilihan kami ketika memutuskan untuk bersuara lewat Pengepungan di Bukit Duri. Kami tidak ingin membuat film ini menjadi panflet politik (walaupun kalau ada filmmaker lain yang melakukannya ya nggak apa-apa). Tapi setiap ruang kosong yang dibiarkan oleh negara—dalam pendidikan, keadilan, dan keamanan—diisi oleh kekacauan. Dan itulah bentuk kritik kami. Perhatikan di awal film ketika ada demonstrasi dan peserta demonstran dilempari, polisi hanya diam dan membiarkannya terjadi)
Ini adalah film tentang akibat. Tapi semua akibat punya sebab—dan itulah yang kami sisipkan dalam lapisan narasi. (Termasuk di berita-berita, bahkan public annnouncement di stasiun kereta).
Film ini nunjukin anak-anak yang brutal, tapi perilaku mereka bukan lahir begitu saja. Perilaku itu lahir dari masyarakat yang sudah terbiasa menyakiti. Dan masyarakat itu dibentuk oleh arah kebijakan, nilai-nilai negara, dan cara bangsa ini menyikapi luka.
Tipe film yang menunjukkan 'akibat' seperti film Pengepungan di Bukit Duri ini bukan baru. Malah biasanya film yang 'mengkritik vertikal' biasanya menunjukkan keabsenan penguasa dalam hidup karakter-karakter rakyatnya. Seperti film Parasite (2019). Film ini tidak menyebut pemerintah Korea Selatan secara langsung. Tidak ada menteri, presiden, atau polisi yang dikritik secara verbal. Tapi kita diperlihatkan ada keluarga miskin yang rumahnya setengah di permukaan setengah di basement yang toiletnya aja hampir setinggi langit-langit. Di sisi lain, keluarga kaya hidup di rumah beraksitektur keceh, yang bahkan nggak terbiasa dengan “bau” orang miskin.
Atau Shoplifters (2018), di mana satu Keluarga miskin dalam film ini mencuri bukan karena ingin jahat, tapi karena sistem ekonomi tidak memberi ruang hidup yang layak. Tidak ada menteri sosial dalam cerita. Tidak ada poster kampanye pemerintah. Tapi ketimpangan hidup kerasa banget.
Atau, nah ini salah satu film favorit saya, Bully (2001) bikinan Larry Clark yang juga nunjukin sekelompok remaja yang nilai hidupnya kacau. Tidak ditunjukkan secara eksplisit dalam film bahwa mereka adalah produk dari sistem yang gagal, dari pemerintah yang gagal melindungi mereka. Tapi jelas bisa ditarik kesimpulan.
Penonton kita nggak bodoh. Dan kita seharusnya berhenti bilang bahwa kalau bikin film harus dijelas-jelaskan sejelas-jelasnya, severbal-verbalnya biar penonton paham dan nggak salah paham seolah-olah cuman kita yang bisa paham dan orang lain nggak punya kemampuan untuk memahami. Betapa arogannya kita kalau begitu. Rasisme tidak pernah dilahirkan. Nggak ada anak terlahir rasis. (Ini kami tunjukkan secara gamblang lewat karakter Anak Pembuka Pintu). Tapi anak diajarkan untuk jadi rasis, oleh orang-orang dewasa yang terbentuk jadi rasis karena dibiarkan (bahkan dibentuk) oleh penguasa. Sejarahnya panjang di negeri kita, yang akan membuat penonton mau mendalaminya setelah menonton film ini. Sebuah film genre. Film yang penyajiannya dibuat agar aksesibel untuk siapa saja, bahkan mereka yang hanya hadir untuk menikmati filmnya sebagai hiburan. Dan dengan cara inilah kami percaya pesannya akan sampai ke lebih banyak orang. Karena film adalah pengalaman manusia dan bukan hanya slogan.
Terima kasih dan selamat menyaksikan.