Tukang Suruh

49K posts

Tukang Suruh banner
Tukang Suruh

Tukang Suruh

@f4t_man

Milenial gendut yang punya rekening. Penikmat Islam, Arsenal, film, sejarah, rima, wanita, dan linimasa

Medan, Indonesia Katılım Haziran 2009
981 Takip Edilen440 Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
Tukang Suruh
Tukang Suruh@f4t_man·
Btw, nyaris 5 tahun maen twitter followerku seputaran 400 doank 😔 Kebayang gmn susahnya Muhammad Saw dulu cari pengikut.
Indonesia
4
1
8
0
Tukang Suruh
Tukang Suruh@f4t_man·
Tripod 😄
Budi Windekind@Windekind_Budi

Ada selentingan di kamar ganti Real Madrid kalau Claude Makelele selalu bawa tali tiap mau main. Konon, talinya dipake ngiket p*nisnya ke paha. Dengan gitu, dia bisa gerak leluasa di lapangan. Dari situ juga julukan Tripod dari rekan setimnya di @SeputarMadrid muncul 😂😂 Pada era Los Galacticos bikinan Florentino Perez, Makelele tuh penting banget presensinya di lini tengah. Sebagai gelandang bertahan, dia siap nutup tiap jengkal ruang yang ditinggalin Luis Figo, Guti Hernandez, Steve McManaman & Zinedine Zidane karena asik nyerang. Segala kerjaan kotor di lapangan sanggup dia lakukan walau aksinya gak bikin mata terkesima. Terbukti, pas Makelele dilego ke Chelsea, Real Madrid hilang keseimbangan & gak bisa nyaingi Barcelona di pertengahan 2000-an.

English
0
0
0
2
Tukang Suruh retweetledi
Football Fandom
Football Fandom@Fandom_ID·
Mengapa Diego Forlan bisa menjinakkan Jabulani? Tiga bulan sebelum turnamen dimulai, Forlan secara khusus meminta Adidas untuk mengirimkan bola Jabulani ke Madrid. Ia menjadi satu-satunya pemain yang rutin berlatih dan menendang bola tersebut setelah sesi latihan klub usai. Jabulani dirancang lebih bulat dan minim jahitan, sehingga menghasilkan pantulan dan arah terbang yang liar. Untuk mengatasinya, Forlan beradaptasi dengan teknik tendangan tanpa putaran (knuckleball), yang memungkinkannya mencetak gol jarak jauh secara akurat dan membingungkan kiper lawan. Forlan berhasil memahami titik kontak yang tepat pada bola berkat ketekunannya berlatih. Hal ini menjadikannya penembak jitu paling efektif di Afrika Selatan, yang berujung pada perolehan gelar Sepatu Emas (Golden Boot). Kalian masih inget ga, di level klub, Forlan main untuk klub mana saja?
Football Fandom tweet mediaFootball Fandom tweet mediaFootball Fandom tweet mediaFootball Fandom tweet media
Football Fandom@Fandom_ID

Bola yang pada 2010 dipuji karena desainnya yang futuristik, tapi dicaci habis-habisan oleh para kiper karena arah terbangnya yang ngga bisa diprediksi kayak bola plastik wkw Apa nama bola ini?

Indonesia
25
23
202
44.1K
Tukang Suruh retweetledi
Txt dari Saham
Txt dari Saham@txtpersahaman·
Mengapa banyak pedagang kaki lima ngaku omset mereka perbulan jauh lebih tinggi dari gaji karyawan, akan tetapi tetap hidup dalam kemiskinan? pernah denger ga? 1/ Sering gak sih denger pedagang kaki lima atau pasar pamer kalau omzet mereka puluhan juta sebulan, jauh di atas gaji kantoran? Tapi anehnya, gaya hidup mereka tetep segitu-gitu aja, bahkan cenderung pas-pasan. Kenapa bisa begitu? Mari kita bedah kenyataan pahit di balik "ilusi omzet". 2/ Jebakan Batman Omzet ≠ Profit Banyak orang (bahkan pedagangnya sendiri) sering tertipu melihat uang masuk. Mau omzet lo Rp1 miliar sebulan pun, kalau margin keuntungannya tipis, jatuhnya zonk. Misal jual gorengan Rp500 sebiji, tapi untung bersihnya cuma Rp50. Itu artinya margin profitnya cuma 10% Sisa uangnya? Habis lagi buat muter modal belanja besok pagi. 3/ Terjebak di Lingkaran Setan "Main Kuantitas" Karena margin keuntungan per produk kecil, satu-satunya cara biar dapet penghasilan layak adalah dengan jualan sebanyak-banyaknya. Main kuantitas = menguras tenaga berkali-kali lipat. Alhasil, fisik dan pikiran sudah habis terkuras habis buat kulakan, masak, dan jaga lapak dari subuh sampai malam. 4/ Gak Ada Waktu Buat Berkembang Gimana seorang pedagang mau mikirin strategi ekspansi bisnis, bikin sistem, atau investasi, kalau kesehariannya aja udah bikin lelah pulang malem/dini hari? Energi otaknya habis cuma buat mikirin cara bertahan hidup hari ini. Akhirnya, bisnis mereka mandek dan jalan di tempat bertahun-tahun. 5/ Ilusi "Perasaan Berkuasa" (Self-Employee) Satu hal yang bikin pedagang sering merasa di atas angin adalah perasaan bebas gak punya bos. Mereka ngerasa "berkuasa" atas waktu dan usahanya sendiri. Tapi hati-hati, perasaan berkuasa ini sering bikin cepet puas, padahal gak ada yang abadi di dunia usaha. Kalau pola pikirnya gak diasah buat berkembang, status self-employed ini sebenernya cuma kedok dari "kurang kerjaan" alih-alih cerdas nan mandiri. 6/ Gak Usah Nyinyir Sama Pegawai Kantor Jadi, stop lah kebiasaan ngejek atau nyinyirin mereka yang milih jadi pegawai kantoran. Pegawai punya kepastian pendapatan, asuransi, dan jam kerja yang terukur. Realitanya, penghasilan bersih pedagang yang kerja rodi 15 jam sehari belum tentu lebih layak dari gaji bulanan pegawai yang kerjanya 9-to-5. Kalian milih omzet gede tapi ga pasti atau gaji kecil tapi rutin?
Txt dari Saham tweet media
Indonesia
54
198
795
99.1K
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
setelah memprediksi dollar di 17.500 rupiah prof ferry memprediksi lagi purbaya akan jadi gubernur BI karna menyalahkan BI atas rupiah yang terus melemah, purbaya mengaku dapat membuat rupiah kembali ke 15.000 jika dia gubernur BI padahal menurut ferry ini semua salahnya purbaya yang mendukung program prabowo padahal: - bakar duit dengan MBG - bakar duit dengan kopdes - bakar duit dengan kebijakan ngawur - sampe bikin BUMN baru ekspor
Lambe Saham tweet media
Indonesia
39
91
608
100.5K
Tukang Suruh retweetledi
Mohamad Fuad
Mohamad Fuad@_BangFu·
Piala Dunia Mati Suri Disclaimer : Sebagian besar dibuat berdasar daya ingat. Piala Dunia 2026 adalah Piala Dunia ke 23 setelah yg pertama diadakan pertama kali di Montevideo tahun 1930. Sempat vakum selama 12 tahun (setelah 1938 dan baru ada lagi di tahun 1950) karena perang dunia, yg kemudian rutin diselenggarakan setiap 4 tahun sekali. Beberapa fakta terkait Piala Dunia adalah saat itu tidak ada satupun tim dari benua Eropa yg bisa menjadi juara saat Piala Dunia diselenggarakan di benua Amerika pun sebaliknya sampai kemudian Brazil meruntuhkan mitos itu di tahun 1958 saat Piala Dunia diselenggarakan di Swedia. Salah satu yg gue inget adalah saat final 1990 antara Jerman Barat v Argentina, ada selentingan bahwa Eropa saat itu gamau Argentina yg menjadi juara karena akan membuat tim tim dari Amerika Selatan semakin superior atas tim tim Eropa, tidak saja mereka akan sukses 2x menjadi juara di Benua Biru tapi juga akan membuat rekor menjadi 8-6 buat Amerika Selatan, sehingga muncul lah penalti kontroversial Andreas Brehme. Tapi tentu menjadi sebuah kisah yg hanya menjadi kasak kusuk. Di final 1994 yg memanggungkan Brazil v Italy muncul kembali sentimen Eropa v Amerika Selatan, dan kali ini tim tim Amerika Selatan menaruh harapannya di Brazil dan akhirnya terwujud bahkan bonus bagi Brazil, mereka menjadi negara pertama yg 4x menjuarai Piala Dunia. Dan bahkan final Piala Dunia saat itu disebut sebagai pemilik rekor penonton final terbanyak, yg bahkan itu diselenggarakan di sebuah Negara yg tidak mempunyai tradisi sepakbola. Ajaib? Mungkin. Saat pertama muncul berita bahwa Piala Dunia ke 15 tersebut akan diselenggarakan di Negeri Paman Sam, yg saat itu gue inget banyak yg mempertanyakannya. Emang bisa AS jadi tuan rumah Olahraga yg mereka aja nyebutnya soccer? Tapi Final tersebut menjawab semuanya, bahkan bisa dibilang penyelenggaraannya berlangsung cukup bagus walau ada tragedi Andreas Escobar. Hypenya saat itu seingat gue sangat meriah, khas Piala Dunia. Ramai koran dan tabloid membahasnya, membahas kota kota penyelenggara dengan trivia trivianya, yg membuat gue menikmatinya. Dulu setiap Piala Dunia mau berlangsung kita bisa tau keunikan kota kota penyelenggara, misal di Roma ada air mancur di mana orang orang melempar koin dan berdoa, atau keindahan Hollywood dll. Belum lagi segala jenis souvenir dan logo Piala Dunia yg ada di mana bisa dibilang. Nah, apa kabar Piala Dunia sekarang? Yg hanya dalam hitungan hari akan dimulai? Gue merasa hypenya sangat sangat sedikit klo tidak mau dibilang gak ada. Atau mungkin karena gue yg tidak tertarik ya? Bahkan Piala Dunia Qatar aja, yg menyalahi pakem bahwa Piala Dunia yg biasanya dilakukan di musim panas, ini dilakukan di musim dingin di negara dan benua yg tidak ada tradisi sepakbolanya. Tapi tetap aja menurut gue hypenya ada. Souvenirnya banyak juga ditemuin. Beda sama yg sekarang. Mungkin ini terjadi karena situasi AS yg terlibat perang sehingga mungkin banyak yg memboikot pemberitaannya. Tapi kan ada Mexico dan Kanada? Iya, mereka terkena imbasnya, menurut gue. Kanada, bukan negara sepakbola dan satu satunya hal dari Kanada yg cukup terkenal menurut gue ya Robin Scherbatsky. Atau mungkin juga semakin tidak adanya tabloid berpengaruh ke pemberitaan dan hype Pial Dunia? Ntahlah. Tapi yg jelas dulu, jelang piala dunia bahkan jauh jauh hari, tabloid seperti Bola udah ramai memberi ulasan tim tim yg akan bertanding, kota kota penyelenggaraan, bahkan tulisan dari para pesohor seperti alm Gus Dur, Si Doel bahkan seingat gue juga ada tulisan dari Franz Beckebauer atau siapakah ada juga orang Jerman yg rutin nulis saat Piala Dunia. Jadi, apakah Piala Dunia nanti akan bangkit dari mati suri tepat saat kejuaraan berlangsung? Sepertinya iya, tapi yg jelas saat ini bisa dibilang Piala Dunia kehilangan magisnya.
Indonesia
68
72
296
192.3K
Tukang Suruh retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, ada momen di rapat DPR yang menurut gue paling jujur dan paling mewakili kondisi keuangan daerah yang sedang kritis tapi paling sedikit disorot media. Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda bicara langsung di hadapan Mendagri, Menpan RB, dan seluruh kepala daerah. Dan apa yang dia sampaikan sangat sederhana tapi sangat berat. Daerahnya tidak punya uang untuk bayar gaji PPPK sampai akhir tahun. Ini kondisinya yang paling mengejutkan: DAU Dana Alokasi Umum Maluku Utara hanya sekitar Rp960 miliar. Tapi belanja pegawai daerahnya sudah mencapai Rp1,1 triliun. Artinya: sebelum satu rupiah pun dipakai untuk bangun jalan, perbaiki sekolah, bayar tagihan rumah sakit, atau program apapun uang dari pusat sudah habis hanya untuk bayar gaji pegawai. Bahkan masih kurang Rp140 miliar lebih. Dan ini bukan anomali Maluku Utara saja. Gubernur Sulawesi Tengah dan kepala daerah lain menyampaikan keluhan yang sama. Ini adalah kondisi yang merata di banyak daerah seluruh Indonesia. Dan ini tentang solusi yang ditawarkan pusat yang tidak menyelesaikan masalah: Pemerintah pusat memberikan relaksasi melongggarkan aturan penggunaan anggaran supaya daerah bisa lebih fleksibel menggeser pos untuk bayar gaji PPPK. Sherly menerima relaksasi itu dengan apresiasi. Tapi dia langsung menyampaikan masalah yang lebih mendasar: Relaksasi itu berarti daerah harus memotong belanja infrastruktur untuk bayar gaji. Jalan yang harusnya dibangun tidak jadi dibangun. Jembatan yang harusnya diperbaiki tidak jadi diperbaiki. Fasilitas publik yang harusnya ditingkatkan tidak jadi ditingkatkan. "Relaksasi yang diberikan ini adalah hal yang baik tapi akan mengorbankan belanja infrastruktur. Dan infrastruktur itu diperlukan untuk pondasi percepatan pertumbuhan ekonomi di daerah. Dan pertumbuhan ekonomi di daerah adalah pondasi pertumbuhan ekonomi nasional." Artinya: solusi jangka pendek ini sedang menciptakan masalah jangka panjang yang jauh lebih besar. Dan ini tentang DBH yang paling menyesakkan: Sherly tidak meminta APBN membayar gaji PPPK mereka. Dia tidak minta bailout dari pusat. Yang dia minta jauh lebih sederhana: kembalikan sebagian dari 60% Dana Bagi Hasil yang selama ini ditahan oleh pusat. DBH adalah uang hasil sumber daya alam daerahnikel, tambang, hasil laut yang seharusnya kembali ke daerah penghasil. Tapi 60%-nya ditahan di pusat. "Kami tidak meminta dari DAU. Kami tidak meminta dibayar oleh APBN. Kami hanya minta sebagian dari 60% DBH dikembalikan. Jika itu dikembalikan kita akan mengambil jalan tengah." Maluku Utara adalah provinsi penghasil nikel terbesar di Indonesia. Nikel yang jadi tulang punggung hilirisasi yang dibanggakan pemerintah pusat. Tapi provinsinya tidak bisa bayar gaji pegawai. Dan ini tentang ruang inovasi yang sudah dipersempit: Sherly menyampaikan poin yang menurut gue paling fundamental dan paling jarang diakui secara terbuka oleh pemerintah pusat. Ketika kepala daerah disuruh berinovasi mencari sumber pendapatan baru kenyataannya banyak kewenangan dan otoritas daerah sudah ditarik ke pusat. Ruang untuk bergerak sudah dipersempit oleh aturan yang tidak fleksibel. Daerah disuruh mandiri tapi alatnya sudah diambil. Daerah disuruh inovatif tapi kewenangannya sudah dipangkas. Dan sekarang daerah disuruh cari solusi sendiri untuk masalah yang sebagian besar diciptakan oleh kebijakan pusat sendiri. Ini bukan sekadar masalah Maluku Utara. Ini adalah potret dari sistem fiskal yang sedang tidak sehat di seluruh Indonesia. APBN dipotong Rp306 triliun atas nama efisiensi. Transfer ke daerah menjadi yang terkecil dalam 10 tahun terakhir. DBH ditahan 60%. Tapi PPPK yang diangkat atas kebijakan pusat gajinya harus dibayar oleh daerah yang tidak punya uang. Dan di ujung rantai yang paling panjang dan paling tidak terlihat ada guru honorer, tenaga kesehatan, dan pegawai pemerintah daerah yang sudah bekerja berbulan-bulan dan belum menerima gaji. Mereka bukan angka dalam spreadsheet keuangan negara. Mereka adalah orang-orang nyata yang masih harus makan, masih punya cicilan, dan masih harus menghidupi keluarga sementara di Jakarta orang-orang berdebat tentang relaksasi anggaran.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
211
1.4K
4.5K
276.4K
Tukang Suruh retweetledi
Dimar
Dimar@dimarsasongko98·
Argumen yang menarik dari seseorang yang S1nya Ilmu Politik, S2nya Demografi, karir politiknya di PSI , trus gagal nyaleg 2019, lalu PSI merapat ke Prabowo , lalu dapat kursi Jubir Istana. Kalau memang soal skillset, bukan kedekatan kekuasaan: skillset spesifik apa yang lo miliki sebagai demograf gagal nyaleg yang bikin lo lebih layak jadi jubir presiden dibanding ribuan komunikolog, jurnalis, atau akademisi komunikasi yang ada di negeri ini? Atau jangan2 "skillset" yang lo maksud itu namanya: berada di partai yang benar, pindah haluan di waktu yang tepat, dan tahu cara menjawab pertanyaan wartawan tanpa menjawab pertanyaannya? Teori soal "proxy variable" memang bagus, Mas. Sayang teorinya berlaku buat semua orang , kecuali diri sendiri.
Dedek Prayudi - Uki@Uki23

Menyaksikan mas Tyo BEM UGM berdebat dengan dengan bro Astrio Gerindra. Saya pikir ada hal yang belum terjawab di acara Kompas TV itu. Waktu masih jadi "new entry" di dunia kerja, saya berpikir bahwa kompetensi seorang leader itu diukur dari seberapa dekat pekerjaan/pendidikan dia terdahulu dengan bidang/sektor yang dikerjakan sekarang. Tapi seiring saya bertumbuh, saya sadar bahwa bukan soal pekerjaannya, tapi spesifik skillsetnya, apakah skillsetnya cocok dengan visi kepemimpinan saat ini. Pekerjaan terdahulu itu cuma proxy variable. Demikian.

Indonesia
7
72
248
21.3K
Tukang Suruh retweetledi
Dimar
Dimar@dimarsasongko98·
Ia adalah orang pertama yang menulis kata "Republik Indonesia." Bukan Soekarno. Bukan Hatta. Bukan Sjahrir. Soekarno bahkan memilihnya sebagai pengganti presiden jika republik tak bisa dipimpin lagi. Tapi hari ini namanya hampir tidak ada di buku sejarah sekolah. Dan ia mati ditembak , bukan oleh Belanda, tapi oleh tentara republik yang ia perjuangkan sendiri. Thread tentang Tan Malaka: Bapak Republik yang dibunuh bangsa sendiri. 📌 kompas.com/cekfakta/read/…
Dimar tweet media
Indonesia
12
196
569
21.3K
Tukang Suruh retweetledi
͔
͔@herculep638·
BEGITU JAHATNYA JOKOWI timeline kriminalisasi anies yang gagal
͔ tweet media
Indonesia
155
5.8K
25.5K
792K
Tukang Suruh retweetledi
arsenal.corner
arsenal.corner@arsenalcornerID·
2 minggu yang lalu... Masih terngiang ngiang sampai sekarang "After 22 years of gloom, it's about to go BOOM! The Arsenal canon fire again!" Forever in my core memory
Indonesia
2
38
186
3.1K
Tukang Suruh retweetledi
Bambang
Bambang@sibambaang·
Ingat dulu pas debat capres, ada sesi di mana para calon diminta untuk bicara di depan cermin? Ganjar dan Anies mau, tapi Prabowo tidak. Banyak yang menilai, Prabowo tidak mampu untuk mengevaluasi diri. Pemimpin yang tidak bisa atau tidak mau melakukan evaluasi diri biasanya memiliki ego yang sangat rapuh, meskipun dari luar terlihat tangguh atau otoriter. Menolak melihat cermin adalah cara fisik untuk "menutup mata" terhadap realitas. Jika mereka melihat cermin (atau melakukan muhasabah), mereka akan dipaksa melihat kekurangan, penuaan, kelelahan, atau kesalahan yang telah mereka perbuat. Untuk melindungi egonya dari rasa bersalah atau perasaan gagal, otak mereka menolak segala bentuk refleksi, baik refleksi visual di cermin maupun refleksi moral dalam pikiran. Muhasabah diri menuntut seseorang untuk jujur dan bertanggung jawab atas tindakan-tindakannya. Bagi seorang pemimpin yang anti-kritik atau tidak bisa mengevaluasi diri, kejujuran ini adalah ancaman. Menatap mata sendiri di cermin adalah salah satu tindakan psikologis yang paling intim. Saat seseorang menatap matanya sendiri, sulit untuk membohongi diri sendiri. Pemimpin yang menghindari cermin sering kali takut menghadapi "hakim" yang ada di dalam dirinya sendiri. Dalam psikologi kepemimpinan, ada yang disebut dengan Hubris Syndrome, kondisi di mana seorang pemimpin memiliki rasa percaya diri yang berlebihan, merasa selalu benar, dan memandang rendah pendapat orang lain. Sekilas, orang narsis dianggap suka melihat cermin. Namun, ada jenis narsisisme defensif di mana orang tersebut sebenarnya sangat rapuh. Mereka tidak mau mengevaluasi diri karena menganggap diri mereka sudah di atas angin. Menghindari cermin atau menghindari muhasabah adalah cara mereka mempertahankan ilusi kesempurnaan tersebut agar tidak runtuh. Ketika seorang pemimpin mengambil keputusan yang buruk atau merugikan orang lain, terjadi konflik batin antara tindakan mereka dengan nurani mereka. Jika mereka tidak mampu mengevaluasi diri secara sehat, mereka akan mengalami disonansi kognitif yang parah. Daripada memperbaiki diri (muhasabah), mereka memilih untuk memutus jalur komunikasi dengan diri mereka sendiri. Menghindari cermin adalah simbol dari putusnya hubungan antara ego (pencitraan luar) dengan alter-ego atau nurani mereka.
Indonesia
44
919
3.4K
134K
Tukang Suruh retweetledi
Wawat Kurniawan (WeKa) 🇲🇨
Prabowo sudah terlalu lama terobsesi, lebih dari 20 tahun berjuang untuk menjadi Presiden di Republik ini, habis-habisan (termasuk hartanya) Jebakan "Pemenang yang Tidak Siap Menang" Sehingga dia Lupa kalau dirinya baru 1 tahun 5 bulan berkuasa sebagai presiden... Kondisi ini kita bisa pahami, saat Begitu tujuan itu tercapai, terjadi apa yang disebut Cognitive Dissonance (disonansi kognitif)... Prabowo tidak lagi tahu Cara BERPERAN sebagai "PEMIMPIN" yang MELAYANI, KARENA satu-satunya PERAN yang IA KUASAI dengan sempurna adalah "PENANTANG" yang Menyerang. Pernyataan-pernyataan Prabowo yang Kita anggap "absurb" adalah hasil dari ALAM BAWAH SADAR yang masih merasa perlu "MELAWAN SISTEM", padahal IA SEKARANG adalah SISTEM itu sendiri. Punahnya Kecerdasan Strategis vs. Dominasi Emosional ​Kecerdasan yang dulu terlihat—yang saya lihat sebagai sikap kritis yang tajam—ternyata hanya kecerdasan negasi (menemukan kelemahan lawan). Bujan kecerdasan memahami tata kelolah negara. Namun, saat dia memimpin, Negara membutuhkan kecerdasan konstruktif (membangun sistem). ​Ketika berkuasa, kerentanan (vulnerabilitas) seorang pemimpin akan terekspos karena ia harus membuat kebijakan nyata. ​Emosionalitas dan temperamen yang dulunya "privat" hanya dirasakan oleh lingkungannya saja, kini menjadi konsumsi publik karena ketiadaan filter yang biasa disediakan oleh staf atau lingkungan tertutup. Ini menunjukkan bahwa ketika tekanan kekuasaan memuncak, Topeng "politisi cerdas" seringkali tidak mampu membendung karakter asli yang reaktif. The Trap of Perpetual Opposition ​Banyak pemimpin yang lahir dari rahim oposisi yang keras GAGAL bertransisi menjadi Negarawan karena mereka TERJEBAK dalam mentalitas "Kita vs. Mereka". ​Dulu, "Mereka" adalah PENGUASA, dan "Kita" adalah RAKYAT. ​Sekarang, ketika IA menjadi PENGUASA, ia masih memandang orang yang tidak setuju dengannya sebagai "MUSUH" atau "PEGANGGU", sehingga muncul pernyataan seperti "silakan keluar dari pemerintahnya, bahkan prabowo siap mengusir rakyatnya ke Yaman" Kesimpulan: Prabowo adalah sebuah TRAGEDI, dimana seorang pemimpin Kehilangan Legasi Seorang tokoh yang justru menjadi musuh bagi mitos yang ia bangun sendiri selama dua dekade. ​Seorang tokoh yang membangun narasi kepahlawanan selama 20 tahun, kini justru sedang melakukan dekonstruksi terhadap mitos kepahlawanannya sendiri melalui tindakan dan ucapannya selama 1,5 tahun menjabat. ​Secara politis, ini adalah proses memudarnya soft power (kewibawaan dan kekaguman) yang digantikan oleh hard power (pemaksaan kehendak). Ketika soft power hilang, seorang pemimpin menjadi lebih rentan karena ia hanya mengandalkan jabatan, bukan lagi rasa hormat dari publik. :: WeKa ::
Wawat Kurniawan (WeKa) 🇲🇨 tweet mediaWawat Kurniawan (WeKa) 🇲🇨 tweet mediaWawat Kurniawan (WeKa) 🇲🇨 tweet mediaWawat Kurniawan (WeKa) 🇲🇨 tweet media
Indonesia
0
43
104
9K
Tukang Suruh retweetledi
Daendels
Daendels@prayforID·
Bayangin aja sekarang kalau Vietnam kena banjir, bencana atau ada gangguan produksi, supply chain elektronik, furnitur, dan sepatu global langsung goyang. Vietnam nggak punya minyak. Nggak punya tambang besar. Pernah dihajar perang puluhan tahun. Tapi sekarang Samsung, Intel, sama Apple taruh pabrik di sana. Dan semaju ini mereka sekarang. Alasannya? Hanoi & Saigon nggak saling jegal, malah saling dorong. Utara: lebih industri, disiplin, kuat di manufaktur. Selatan: lebih dagang, kreatif, fleksibel. Pemerintah nggak pilih kasih salah satu. Dua karakter beda, tapi dijalanin bareng, hasilnya dua mesin yang nyambung. Vietnam nggak malu jadi pabrik dulu. Banyak negara ASEAN pengen langsung lompat ke high-tech. Vietnam malah peluk fase factory nya dalam-dalam. Hasilnya? Skill pekerja naik pelan-pelan, rantai pasok makin dalam, baru kemudian lahir brand sendiri kayak VinFast. Nggak ada yang skip fase susah dan langsung sukses. lanjut...
MinDos@dosenkesmas

Selamat Tinggal 🇮🇩

Indonesia
53
534
3K
208.8K