Assalimi, Faiz
7K posts

Assalimi, Faiz
@faiz_arwi
Peminat studi agama, sosial, politik


Pernyataan Menteri ESDM @bahlillahadalia soal mematikan kompor saat masakan sudah matang mungkin terdengar sederhana. Bahkan bagi sebagian netizen, dianggap “nyeleneh” dan jadi bahan bullyan. Padahal kalau kita tarik sedikit ke konteks yg lebih luas, justru di situlah letak masalahnya: kita sering meremehkan hal kecil yg berdampak besar. Faktanya, konsumsi LPG di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Sebagian besar digunakan oleh rumah tangga, dan mayoritas masih disubsidi negara. Artinya, setiap pemborosan kecil di dapur sebenarnya ikut membebani anggaran negara yg seharusnya bisa dialokasikan ke sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, atau bantuan sosial. Di sisi global, dunia sedang menghadapi tekanan energi akibat konflik geopolitik, termasuk di kawasan Timur Tengah. Ketika suplai energi terganggu, harga bisa melonjak dan negara-negara harus melakukan penyesuaian. Dalam kondisi seperti ini, efisiensi bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan. Jadi ketika pemerintah mengajak masyarakat untuk hemat energi, bahkan lewat cara yg sangat sederhana seperti mematikan kompor setelah masakan matang, itu bukan sekadar himbauan receh. Itu bagian dari strategi menjaga ketahanan energi nasional. Sayangnya, di media sosial, narasi sering dibalik. Yang sederhana dianggap konyol, yg logis dianggap bahan ejekan. Padahal negara-negara maju justru menekankan efisiensi energi dari level paling kecil: rumah tangga. Kalau mau jujur, ini bukan soal siapa yg bicara. Ini soal apakah kita mau jadi bagian dari solusi atau justru ikut memperbesar masalah. Kadang, langkah besar memang dimulai dari kebiasaan kecil. Dan dalam konteks krisis energi global, mematikan kompor tepat waktu bukan hal sepele—itu bentuk kesadaran.









Selamat Idul fitri bagi yang merayakannya. 😄















