Faqih

18.3K posts

Faqih banner
Faqih

Faqih

@faqihaab

Mahasiswa Magister Media dan Komunikasi @Unair_Official

Kota Surabaya, Jawa Timur Katılım Ağustos 2018
5.7K Takip Edilen382 Takipçiler
Faqih retweetledi
Mikaaa
Mikaaa@tercyidukk·
Awal kehancuran laki-laki ( menurut islam ) 1. AI Maidah ayat 90-91 2. Al Baqarah ayat 219 3. AI Isra ayat 32 Buka Al-Quran dan cari maknanya.
Indonesia
69
911
6.6K
448.7K
Faqih
Faqih@faqihaab·
menang psg 2-1
Indonesia
1
0
0
19
Faqih retweetledi
HUMAN
HUMAN@Ulul_Ami·
dulu aku menyebutnya kesepian, sekarang aku menyebutnya ketenangan.
Indonesia
29
4
77
827
Faqih retweetledi
Catholic 𐕣
Catholic 𐕣@myshawti·
Dulu orang flex mobil bar, sekarang orang flex “gue baru selesai baca buku Yuval Noah Harari.” Sesuatu lagi bergeser dan pergeserannya lebih dalam dari yang lo kira. Tahun 2015–2019 itu puncaknya era flexing material. Outfit branded, liburan Eropa, motor gede, apartemen view kota. Semua naik ke story, semua minta dilihat. Yang punya uang, pamer uang. Tapi sekarang coba perhatiin siapa yang paling banyak dapat engagement. Bukan yang pamer jam tangan, tapi yang bisa jelasin kenapa ekonomi lagi amburadul dalam tiga menit. Bukan yang foto di Santorini, tapi yang nulis “unpopular opinion tentang hustle culture” terus di-repost ribuan kali. Ini bukan kebetulan. Generasi sekarang udah capek sama flexing kosong. Lo bisa punya segalanya di foto, tapi kalau lo ngomong keliatan gak ada isinya orang langsung skip. Ada satu shift besar yang terjadi: aspirasi berubah. Dulu orang mau keliatan kaya, sekarang orang mau keliatan tau sesuatu yang orang lain gak tau. Makanya podcast meledak, newsletter berbayar laris, akun yang ngejelasin geopolitik, psikologi, atau sejarah dalam format IG carousel tumbuh lebih cepat dari akun lifestyle manapun. Orang sekarang subscribe ke otak, bukan ke gaya hidup. Dan yang bikin menarik flexing knowledge ini jauh lebih susah dipalsuin. Lo bisa sewa Ferrari buat konten, tapi lo gak bisa sewa pemahaman. Kalau lo gak ngerti, audience lo yang pertama nyadar. Ini juga yang bikin “intellectual aesthetic” naik daun. Foto di perpustakaan, caption kutipan filsuf, rekomendasi buku di bio. Bukan karena semua orang tiba-tiba jadi intelektual, tapi karena itulah bentuk status yang sekarang lagi dikejar. Tapi ada sisi gelapnya juga. Sama kayak flexing barang bisa jadi performatif dan kosong, flexing knowledge juga bisa. Orang yang cuma hafal judul buku tanpa baca isinya, orang yang quote Nietzsche padahal gak ngerti konteksnya. Nama baru, penyakit lama. Bedanya cuma satu: flexing barang mentok di tampilan. Flexing knowledge, kalau lo lakuin dengan jujur lo terpaksa beneran belajar dan itu yang bikin pergeseran ini, meskipun berisik dan penuh posturing, tetap lebih sehat dari sebelumnya. Jadi kalau lo sekarang lagi invest waktu buat baca, belajar, ngerti sesuatu yang lebih dalam lo bukan kurang gaul, lo cuma lagi naik kelas di momen yang tepat. Era yang dihargai bukan lagi siapa yang paling punya, tapi siapa yang paling ngerti dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, itu kabar baik.
Indonesia
4
13
40
2.9K
Faqih retweetledi
txt onlineshop
txt onlineshop@txtdarionlshop·
Kenapa banyak wanita yang akhirnya menyesal setelah menikah? Dari podcast ini gue belajar Jangan menikah dengan orang yang tidak bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Apalagi kalau sampai menjadikan pasangan sebagai tempat pelampiasan emosi. Jangan juga memaksa orang untuk selalu mengerti kamu. Karena setiap orang punya latar belakang yang berbeda, dengan kapasitas penerimaan yang berbeda juga. Lebih baik belajar untuk improve diri, memperbaiki ketidakcocokan yang ada. Menikahlah ketika kamu sudah benar-benar “siap” dari sisi psikologis, spiritual, dan emosional. kunci hubungan itu adalah saling pengertian, baru kemudian komunikasi. Respect dan memahami sudut pandang satu sama lain itu penting. Perempuan juga perlu punya kekuatan untuk berkata “TIDAK” dan berdaulat atas dirinya sendiri. Ternyata usia 30++ itu bukan tua. Justru itu awal dari kehidupan yang sebenarnya dimulai. Menikah atau tidak menikah bukan jaminan seseorang akan bahagia. Karena menikah itu adalah pilihan hidup. Dan pernikahan bukan sesuatu yang cocok untuk semua orang.
txt onlineshop tweet media
Indonesia
18
874
2.4K
68.7K
sosmed keras
sosmed keras@sosmedkeras·
Jam kerja impian gen z 🥰
sosmed keras tweet media
Indonesia
435
4.3K
26.2K
907.2K
Faqih
Faqih@faqihaab·
Paling males lek kenek long text wkwk
Indonesia
0
0
0
5
Faqih retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, di tengah semua berita rupiah Rp17.700, PHK mengintai, dan MBG yang menghabiskan Rp335 triliun ada satu hal yang tidak bisa kita tunggu dari pemerintah untuk lakukan buat kita. Membangun kebebasan finansial kita sendiri. Ninda Fer 16 tahun kerja di korporat, belasan tahun di luar negeri, baru share 9 kebiasaan yang menurut gue paling praktis dan paling jujur yang pernah gue dengar soal uang. Bukan teori. Bukan seminar motivasi. Ini dari orang yang sudah melakukannya sendiri dan melihat sendiri apa yang berhasil dan apa yang tidak. Kebiasaan 1 — Tahu tujuanmu. Uangmu mau dibawa ke mana? Kebanyakan orang kerja keras setiap hari tapi tidak pernah menjawab satu pertanyaan fundamental: ini semua untuk apa? Gaji naik senang sebentar lalu ngejar angka berikutnya. Terus berulang. Tidak pernah terasa cukup. Ninda bilang tujuannya sederhana: kebebasan. Kebebasan untuk bilang tidak. Kebebasan untuk berhenti. Kebebasan untuk hidup sesuai pilihan sendiri bukan karena terpaksa kejar tagihan. Kalau tujuannya belum jelas delapan kebiasaan berikutnya tidak akan bekerja. Kebiasaan 2 — Uang bukan finish line. Hidup seperti main Candy Crush gaji Rp5 juta kejar Rp10 juta, sampai Rp10 juta kejar Rp20 juta tidak pernah berhenti, tidak pernah terasa cukup. Ganti pertanyaannya: bukan "gimana caranya uang makin banyak" tapi "uang ini mau aku pakai untuk apa?" Begitu tahu jawabannya kamu bisa hitung mundur. Mau punya rumah dalam 10 tahun? Hitung berapa yang harus masuk investasi setiap bulan. Angkanya jadi jelas. Rencananya jadi konkret. Kebiasaan 3 — Invest duluan sebelum sempat dibelanjain. Kebanyakan orang: gaji masuk → bayar kebutuhan → belanja → kalau ada sisa baru nabung. Masalahnya: sisanya hampir tidak pernah ada. Yang benar: gaji masuk → invest duluan → baru sisanya untuk hidup. Tapi sebelum invest dua fondasi wajib: dana darurat minimal 3-6 bulan pengeluaran, dan asuransi kesehatan minimal BPJS. Karena satu kejadian medis yang tidak tercover bisa menghapus semua yang sudah dibangun. Untuk investasi Ninda rekomendasikan ETF saham luar negeri seperti S&P 500 sebagai titik awal. Rata-rata return historis 10% per tahun dalam jangka panjang. Bisa dimulai dari jumlah kecil. Dan efek compounding-nya nyata. Kebiasaan 4 — Hidup di bawah kemampuan. Kekayaan dibangun di celah antara yang dihasilkan dan yang dikeluarkan. Semakin besar celahnya semakin cepat kamu membangun. Musuh terbesarnya: lifestyle inflation. Setiap gaji naik 20% gaya hidup langsung naik 20% juga. Net worth tidak kemana-mana. Kebiasaan 5 — Jangan ukur hidup dari media sosial. Yang ditampilkan di Instagram dan TikTok bukan net worth orang tapi spending-nya. Bukan kekayaannya tapi pengeluarannya. Di balik foto liburan ke Eropa ada cicilan kartu kredit. Di balik mobil baru ada leasing 5 tahun. Kamu tidak melihat full story-nya. Kamu sedang membangun hidupmu sendiri. Di jalurmu sendiri. Itu yang penting. Kebiasaan 6 — Track ke mana uang kamu pergi. Kebanyakan orang merasa sudah tahu pengeluarannya sampai duduk dan benar-benar hitung. Hasilnya selalu sama: "kok bisa habis segini?" Catat setiap pengeluaran. Bisa di notes HP, aplikasi budgeting apapun yang konsisten. Karena dari situ kamu bisa bedakan mana kebutuhan nyata, mana yang worth it, dan mana yang impulsif. Kebiasaan 7 — Rutinin hitung net worth. Banyak orang tahu gajinya berapa tapi tidak tahu net worth-nya berapa. Net worth = semua yang kamu punya (tabungan, investasi, properti, kendaraan) minus semua yang kamu hutang (KPR, cicilan, pinjaman). Rumah harga Rp500 juta tapi KPR masih Rp300 juta net worth dari rumah itu bukan Rp500 juta. Hanya Rp200 juta. Hitung sekarang. Update setiap 3 bulan. Ketika angkanya naik konsisten itu lebih memotivasi dari apapun yang ada di feed media sosial kamu. Kebiasaan 8 — Diversifikasi penghasilan. Investasi sudah tapi kalau penghasilan masih dari satu sumber saja fondasinya masih rapuh. PHK massal sedang terjadi. AI mulai mengambil pekerjaan yang dulu terlihat aman. Perusahaan besar pun bisa dalam semalam mem-PHK ratusan orang. Solusinya bukan langsung resign dan bikin bisnis. Tapi bangun skill yang bisa dimonetisasi di luar pekerjaan utama. Ngajar online, freelance, konten, apapun yang sesuai kemampuan yang sudah dimiliki. Karena di dunia yang tidak pasti ini punya skill yang bisa dimonetisasi adalah safety net terbaik. Kebiasaan 9 — Berpikir dalam dekade, bukan harian. Kita hidup di era yang semuanya instan. Dan tanpa sadar kita mulai mengharapkan kekayaan pun bisa secepat itu. Makanya banyak yang tergoda kripto yang katanya 10 kali lipat dalam seminggu, saham gorengan yang lagi hype, atau bisnis yang janjinya passive income dari hari pertama. Itu bukan investasi. Itu judi. Kekayaan yang nyata dibangun pelan-pelan. Konsisten. Diam-diam. Bertahun-tahun. Seperti menanam pohon hari ini tidak perlu digali besok untuk cek akarnya tumbuh atau belum. Siram terus. Tunggu 10 tahun. Pohon itu yang kemudian memberi buah terus tanpa perlu kerja lagi. Dan ini yang paling relevan dengan kondisi sekarang: Rupiah Rp17.700. Kelas menengah menyusut dari 57 juta ke 46 juta. Tabungan rata-rata turun dari Rp3 juta ke Rp1,5 juta. KPR 40 tahun diluncurkan sebagai solusi untuk yang bergaji Rp2 juta. Negara tidak akan membangun kebebasan finansial kita. Itu sudah terbukti. Yang bisa melakukannya hanya kita sendiri. Dengan keputusan yang kita buat hari ini. Dengan uang yang kita arahkan bukan yang kita habiskan. Yang membuatnya bebas adalah kebiasaan yang dia bangun diam-diam selama bertahun-tahun. Dan itu bisa dimulai dari sekarang. Dari berapapun yang ada di tangan kita hari ini.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
10
199
604
39K
Faqih
Faqih@faqihaab·
@Fhasby3 Aman cyag, py maneh wkwkwk
Indonesia
1
0
0
15
Faqih
Faqih@faqihaab·
Baru kali iki nyidek i arek wedok, ket awal sak grg e tak cidek i wes ngomong lek tujuan e iku nang jenjang serius. Lha kok pas tak serius e balik malah mundur. Unik ae seh😅
Indonesia
1
1
0
20
Faqih retweetledi
Hanif | AI For Productivity
Hanif | AI For Productivity@hanifproduktif·
Robert Sapolsky, neurosaintis Stanford, ngebuktiin satu hal yang dokter lo ga pernah bilang: stress kronis itu silent killer. Dia kasih bocoran 10 kebiasaan harian yang diem-diem motong umur lo. 1) Muter ulang percakapan di kepala
Indonesia
5
212
775
49.8K
Faqih retweetledi
Tahilalats
Tahilalats@tahilalats·
Sebuah evolusi
Tahilalats tweet media
Indonesia
11
240
636
18.3K
Faqih retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, ada profesor di Beijing baru saja analisis soal kunjungan Trump ke China dan cara dia menjelaskannya menurut gue paling jujur dan paling tidak bisa dibantah dari semua analisis yang beredar. Dan intinya satu kalimat yang langsung bikin gue terdiam: Ini semua teater. Amerika dan China tidak benar-benar berperang. Mereka bekerja sama. Kenapa Trump bawa 20 CEO senilai 12 triliun dolar dan apa artinya: Profesor Jiang bilang sesuatu yang sangat penting dari pengalamannya di negosiasi bisnis: kamu tidak mengumpulkan orang-orang sepenting Elon Musk, Tim Cook, Larry Fink dari BlackRock, CEO Goldman Sachs, Blackstone, Mastercard, dan Visa dalam satu ruangan kecuali ada mega deal yang mau diumumkan ke dunia. Ini bukan kunjungan diplomatik biasa. Ini adalah penutupan transaksi terbesar dalam sejarah hubungan Amerika-China. Kenapa Jensen Huang dari Nvidia tiba-tiba ikut di menit terakhir: Ini detail yang sangat menarik. Sebelumnya diumumkan Jensen Huang tidak akan ikut ke Beijing. Tapi saat Trump transit di Alaska Jensen naik pesawat. Last minute. Menurut profesor: itu bukan kebetulan. Itu sinyal negosiasi. Scott Bessant dan timnya sedang negosiasi di Korea Selatan sebelum kunjungan ini. Ada jalan buntu. China mau chip Nvidia, Amerika mau akses pasar keuangan China. Begitu ada breakthrough Jensen langsung diizinkan ikut sebagai tanda itikad baik. Begini cara negosiasi bisnis besar bekerja. Bukan dengan pernyataan resmi. Tapi dengan sinyal siapa yang diizinkan hadir. Apa yang masing-masing mau dan ini intinya: China mau tiga hal: akses energi murah dari belahan bumi barat, chip Nvidia untuk AI-nya, dan akses pasar Amerika. Amerika mau tiga hal juga: akses ke pasar keuangan China khususnya 40% tabungan rakyat China yang selama ini tidak kemana-mana kontrol atas pengembangan AI China, dan manufaktur China yang masuk ke Amerika dan Venezuela. Soal Taiwan dan ini yang paling mengejutkan: Profesor berani memprediksi: Trump kemungkinan akan mengubah posisi Amerika soal Taiwan secara dramatis. Dari "tidak mendukung kemerdekaan Taiwan" menjadi "mendukung reunifikasi China dan Taiwan." Kenapa ini strategis untuk Amerika bukan hanya untuk China? Kalau Taiwan kembali ke China masalah Taiwan tidak lagi jadi tanggung jawab Amerika. Masalah itu sekarang jadi tanggung jawab Jepang dan Korea Selatan, karena merekalah yang paling terdampak secara geografis. Amerika berhasil mengalihkan beban geopolitik ke sekutunya sendiri. Itu bukan konsesi. Itu manuver. Teori besar yang menjelaskan segalanya mengapa China dan Amerika tidak bisa benar-benar berpisah: Di sinilah profesor masuk ke penjelasan yang paling dalam dan paling tidak biasa. Dia bilang: China adalah halusinasi dari halusinasi. Maksudnya: ketika Nixon ke China tahun 1972, itu bukan soal diplomasi atau mengimbangi Soviet. Alasan sesungguhnya adalah Nixon Shock 1971 ketika dolar dilepas dari standar emas dan tiba-tiba tidak bernilai apa-apa. Solusinya: ciptakan permintaan baru untuk dolar. Pertama lewat petrodolar minyak Timur Tengah hanya dijual dalam dolar. Kedua lewat China jadikan China mesin manufaktur global yang semuanya bertransaksi dalam dolar. China tidak tumbuh karena kehebatannya sendiri. China tumbuh karena Amerika butuh tempat untuk memompa permintaan dolar. China adalah alat dari sistem yang diciptakan Amerika. Dan itulah kenapa ketika China mencoba mandiri perang dagang pecah. Karena kalau China keluar dari sistem, sistem itu runtuh. Dan kalau sistem runtuh, China runtuh lebih dulu karena China adalah bagian yang paling tidak mandiri dari sistem itu. Grand bargain yang akan terjadi dan bagaimana Indonesia relevan: Amerika butuh China untuk membeli utangnya — senilai 39 triliun dolar dengan bunga 5% per tahun yang harus dibayar 2 triliun per tahun. Caranya: China membuka sektor keuangannya, rakyat China bisa beli stablecoin yang didukung obligasi Amerika, dan secara efektif China membiayai utang Amerika melalui konsumennya sendiri. Dan kenapa China setuju? Karena pilihannya lebih buruk. Energi dari Timur Tengah diblokir oleh perang Iran. Energi dari Amerika Selatan dikontrol Trump yang baru mengumumkan Venezuela sebagai zona kepentingan Amerika. China butuh meja negosiasi dengan Amerika untuk memastikan pasokan energinya stabil dan terjangkau. Ini bukan persahabatan. Ini adalah dua orang yang saling mencekik dan sama-sama tidak mau jatuh duluan. Kunjungan Trump ke Beijing bukan tentang perdamaian. Bukan tentang persahabatan. Ini adalah dua ekonomi terbesar di dunia yang sama-sama tersandera oleh sistem yang mereka ciptakan bersama dan sekarang mereka perlu duduk bersama untuk memastikan sistem itu tidak runtuh sebelum salah satu dari mereka siap untuk menggantinya. Yang perlu diperhatikan Indonesia: kita adalah salah satu pion di papan catur ini. Selat Malaka ada di wilayah kita. Nikel dan mineral kritis kita adalah bagian dari rantai pasok yang diperebutkan keduanya. Dan posisi kita di antara dua superpowers ini bukan hanya soal diplomasi tapi soal apakah kita punya strategi yang cukup cerdas untuk tidak sekadar jadi penonton dari permainan yang hasilnya akan sangat mempengaruhi kita.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
32
255
1K
67.1K
Faqih retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, ada pernyataan Prabowo yang menurut gue paling berbahaya yang pernah gue dengar dari seorang presiden soal mata uang negaranya sendiri. Dan dia ngomong ini bukan di forum terbatas. Bukan slip of the tongue. Tapi di depan ribuan rakyat dengan penuh keyakinan: Mau dolar berapa ribu kek kalian di desa-desa kan enggak pakai dolar. Yang pusing yang suka ke luar negeri. Ini bukan candaan. Ini adalah cara berpikir yang sangat berbahaya. Gue mau kasih lo contoh nyata negara yang pemimpinnya pernah berpikir persis seperti ini. Dan apa yang terjadi setelahnya. Zimbabwe ketika presiden bilang rakyat desa tidak butuh mata uang yang kuat: Robert Mugabe selama bertahun-tahun bilang kepada rakyatnya bahwa pelemahan nilai mata uang adalah konspirasi Barat. Bahwa rakyat desa yang tidak bertransaksi dalam dolar tidak perlu khawatir. Hasilnya? Inflasi Zimbabwe mencapai 89,7 sextillion persen per tahun di 2008. Orang membawa uang keranjang penuh hanya untuk beli roti. Petani di desa yang "tidak pakai dolar" mendapati hasil panennya tidak bisa dibeli siapapun karena harga berubah setiap jam. Tabungan seumur hidup hilang dalam semalam. Mereka akhirnya menyerah dan menggunakan dolar Amerika sebagai mata uang resmi. Mata uang mereka sendiri sudah tidak ada nilainya sama sekali. Venezuela ketika pemerintah melarang rakyat khawatir soal kurs: Hugo Chavez dan Maduro selama bertahun-tahun meyakinkan rakyat bahwa kurs tidak relevan bagi rakyat kecil. Yang penting ada subsidi. Yang penting ada program sosial. Hasilnya? Inflasi Venezuela mencapai 1.000.000% di 2018. Dokter, guru, insinyur semua yang punya pendidikan dan bisa pergi pergi. Lebih dari 7 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya. Rakyat desa yang "tidak pakai dolar" itu akhirnya mengantri berhari-hari untuk dapat sekarung tepung. Mereka juga akhirnya terpaksa bertransaksi dalam dolar di pasar gelap karena mata uang mereka sendiri tidak dipercaya siapapun. Dan sekarang kembali ke Indonesia yang ternyata sangat relevan: Prabowo bilang rakyat desa tidak pakai dolar. Tapi benarkah demikian? Kedelai bahan baku tempe dan tahu yang dimakan rakyat desa setiap hari 90% diimpor dari Amerika Serikat. Harganya ditentukan dalam dolar. Ketika rupiah melemah dari Rp13.000 ke Rp17.000 — harga kedelai naik. Harga tempe naik. Harga tahu naik. Penjual tahu dan tempe di desa yang "tidak pakai dolar" itu langsung merasakan dampaknya di meja makan mereka. Gandum bahan baku roti, mie instan, biskuit yang dikonsumsi rakyat desa 100% diimpor. Harganya dalam dolar. Pupuk yang dipakai petani desa untuk bercocok tanam sebagian besar bahan bakunya diimpor. Harganya dalam dolar. Obat-obatan generik bahan bakunya sebagian besar diimpor dari China dan India. Harganya? Dalam dolar. Rakyat desa tidak pegang dolar secara fisik. Tapi seluruh kehidupan mereka dari makan pagi sampai obat yang mereka minum harganya ditentukan oleh kurs dolar. Dan inilah yang paling miris: Presiden yang seharusnya menjaga kepercayaan pasar terhadap mata uang negaranya justru dengan entengnya bilang kurs dolar tidak relevan bagi rakyat. Padahal kepercayaan itulah yang membuat rupiah bisa stabil. Kepercayaan itulah yang membuat investor mau masuk. Kepercayaan itulah yang membuat rakyat tidak lari ke dolar dan emas seperti yang sekarang terjadi dan dikhawatirkan oleh ekonom-ekonom kita. Ketika presiden sendiri tidak menganggap serius pelemahan mata uangnya sinyal apa yang dikirim ke pasar? Sinyal apa yang dikirim ke investor asing? Sinyal apa yang dikirim ke rakyat yang tabungannya dalam rupiah? Bandingkan dengan pemimpin yang serius: Lee Kuan Yew dari Singapura negara tanpa sumber daya alam apapun menjadikan kestabilan mata uang sebagai prioritas utama pemerintahannya. Dia tahu bahwa kepercayaan terhadap mata uang adalah kepercayaan terhadap negaranya secara keseluruhan. Hasilnya? Singapura hari ini punya GDP per kapita lebih dari 80.000 dolar. Rakyat Singapura yang "cuma pedagang kecil" pun hidupnya jauh lebih sejahtera dari rakyat kita yang punya sumber daya alam berlimpah. Bukan karena Singapura kaya alam. Tapi karena pemimpinnya tidak pernah menganggap remeh nilai mata uangnya. Pernyataan "mau dolar berapa ribu kek, di desa kan tidak pakai dolar" bukan pernyataan yang menunjukkan ketenangan seorang pemimpin. Itu adalah pernyataan yang menunjukkan ketidakpahaman atau lebih buruk lagi, ketidakpedulian terhadap bagaimana ekonomi nyata bekerja di tingkat paling bawah. Rakyat desa tidak pegang dolar. Tapi rakyat desa makan tempe dari kedelai impor yang harganya dalam dolar. Rakyat desa bertani dengan pupuk yang bahan bakunya dalam dolar. Rakyat desa berobat dengan obat yang bahan bakunya dalam dolar. Ketika presiden tidak peduli dengan kurs yang tidak peduli bukan hanya presidennya. Tapi seluruh sistem di bawahnya ikut tidak peduli. Dan ketika seluruh sistem tidak peduli dengan nilai mata uangnya sendiri kita tinggal menunggu giliran menjadi Zimbabwe atau Venezuela berikutnya. Semoga kita tidak sampai di sana. Tapi pernyataan seperti ini tidak membuat gue yakin bahwa kita sedang bergerak menjauhi arah itu.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
838
16.9K
28.1K
1M
Faqih retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, Ahok baru ngomong sesuatu soal Chromebook dan MBG yang menurut gue paling jujur dan paling berani dari siapapun yang gue dengar dalam beberapa bulan terakhir. Dan dia ngomongnya bukan sebagai pembela Nadiem. Dia ngomong sebagai orang yang paham betul bagaimana sistem pendidikan dan teknologi seharusnya bekerja. Soal Chromebook dan kenapa Ahok marah: Ahok bilang dengan sangat tegas: pengadaan Chromebook itu sebenarnya adalah kebijakan yang sangat masuk akal secara logika. Chromebook itu bukan laptop biasa. Operating system-nya berbasis cloud sekali beli langsung include semuanya, tidak perlu diperbarui terus-menerus. Harganya jauh lebih terjangkau dari laptop konvensional. Dan yang paling penting sistemnya dirancang agar anak tidak bisa nonton video porno, tidak bisa judi online, dan seluruh aktivitas belajar bisa dipantau. Ahok kasih contoh nyata. Ada guru di Jawa Barat yang punya empat sertifikat internasional bisa mengajar di level dunia. Ujiannya hanya 10 dolar. Bayangkan kalau semua guru Indonesia bisa akses sertifikasi seperti itu lewat Chromebook yang terhubung Starlink di daerah terpencil anak di kampung tiba-tiba bisa belajar setara dengan anak di Kanada atau Australia. Itu bukan mimpi. Itu sudah bisa dilakukan sekarang dengan teknologi yang ada. "Bayangin kalau semua anak kita di kampung ada Starlink juga kan. Anak di kampung kita tiba-tiba belajar setara dengan orang di Kanada atau di Amerika atau di Australia." Lalu kenapa Ahok merasa ini sengaja dihambat: Ahok bilang dengan sangat hati-hati karena takut diproses hukum lagi tapi dia tetap bilang: "Saya pikir ini sengaja." Logikanya sederhana dan sangat keras. Kalau rakyat pintar, rakyat kritis, rakyat bisa akses informasi dari mana saja mereka lebih sulit dikuasai. Lebih sulit dibohongi. Lebih sulit dimanipulasi menjelang pemilu. Sistem yang membiarkan rakyat bodoh dan miskin adalah sistem yang menguntungkan mereka yang berkuasa. Karena rakyat yang bodoh dan miskin lebih mudah disuap dengan sembako, lebih mudah digiring dengan hoaks, lebih mudah dikontrol dengan ketergantungan pada program-program yang terkesan murah hati tapi tidak memberdayakan. MBG- makan bergizi gratis menurut Ahok adalah contoh dari cara berpikir yang sama. Daripada kasih rakyat laptop yang bisa membuka pintu dunia, lebih mudah kasih makanan yang habis dimakan dan orang tetap tergantung besok makannya dari mana. "Kalau saya tanya mau bikin sekolah bagus, kasih makan bergizi atau rakyat punya laptop yang bisa komunikasi ke mana-mana?" Yang paling menohok soal survei dan legitimasi: Ahok tidak berhenti di situ. Dia lanjutkan dengan sesuatu yang sangat pedas. Pemerintah melakukan survei. Rakyat bilang mereka suka makanan gratis. Lalu itu dijadikan legitimasi untuk program MBG. Seolah-olah karena rakyat minta ya sudah diberikan. Tapi Ahok membaliknya: kalau kamu memberikan sesuatu kepada orang yang tidak pernah tahu bahwa ada pilihan yang jauh lebih baik tentu mereka akan pilih yang ada di depan mata. Itu bukan preferensi yang genuine. Itu keterbatasan informasi yang dimanfaatkan sebagai justifikasi. "Mereka juga pintar. Dia survei, Pak. Rakyat suka makanan itu jadi legitimasi." Dan soal Nadiem yang sekarang dituntut 27 tahun: Ahok tidak membela Nadiem secara personal. Tapi dia bilang satu hal yang sangat logis dan sangat sulit dibantah: Menteri itu tidak pernah menyentuh anggaran secara langsung. Menteri membuat kebijakan. Yang mengeksekusi adalah birokrasi di bawahnya. Kalau ada yang salah dalam eksekusi pertanyaannya adalah: apakah menteri yang memerintahkan secara eksplisit? Apakah ada aliran dana yang bisa dibuktikan masuk ke kantong menteri? PPATK sudah menjawab: tidak ada. Nol aliran dana ke Nadiem dari siapapun. "Saya pikir ya ini soal profesionalisme. Menteri kan enggak pernah nyentuh anggaran perantaran kan, kecuali dia nyuruh ya atau terima ya." Ahok tidak sedang bicara soal Chromebook sebagai produk. Dia sedang bicara soal pilihan fundamental sebuah bangsa: apakah kita mau membangun rakyat yang pintar dan mandiri, atau kita mau mempertahankan sistem di mana rakyat tetap bergantung pada belas kasihan penguasa? MBG memberikan makan hari ini. Chromebook bisa mengubah nasib seumur hidup. Dan ketika kebijakan yang lebih transformatif justru dipersoalkan secara hukum sementara program yang lebih konsumtif dirayakan sebagai prestasi itu bukan kebetulan. Itu adalah pilihan yang sangat disengaja oleh mereka yang paling diuntungkan dari rakyat yang tetap tidak berdaya.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
318
11.2K
24.2K
981K
Faqih
Faqih@faqihaab·
Healthy, wealthy, wise.
English
0
0
0
3