Sabitlenmiş Tweet
laura🦋
4.6K posts

laura🦋
@farfalaura
enfp 4w3
Kuala Lumpur, Wilayah Persekut Katılım Eylül 2020
142 Takip Edilen40 Takipçiler
laura🦋 retweetledi

Sebenarnya, GAK SEMUA APA-APA HARUS KE PSIKOLOG.
Idealnya, ke Psikolog itu untuk masalah yang sudah sangat berat dan butuh bantuan profesional. Untuk kasus-kasus yang sudah di spektrum gangguan, bukan lagi normal-bermasalah.
Tapi, di sini semua jadi apa-apa harus ke Psikolog karena sistem layanan kesehatan mental kita masih bapuk. Piramida Psychological First Aid/pertolongan pertama kesehatan mentalnya gak berjalan.
Konselor sebaya gak terlalu jalan, lingkungan yang menunjang kesehatan mental seperti tempat tinggal, layanan/fasilitas penitipan anak/daycare yang terstandar untuk orangtua bekerja, ruang publik ramah anak gak memadai, dll. Padahal ini semua penting biar apa-apa gak harus sampai ke Psikolog.
Ini bikin bebannya semua di Psikolog sementara Psikolog sendiri masih kurang dibandingkan populasi penduduknya. Rasionya menurutku gak masuk akal.
Padahal ketika nanganin klien, 1 sesi itu Psikolog harus FULL MINDFUL. Bukan cuma ngedengerin tapi di waktu bersamaan harus analisis, prediksi, merancang solusi alternatif, termasuk berempati, dll. Intinya, tugasnya ada di level kognitif yang tinggi (lihat taksonomi bloom).
Di sisi lainnya lagi, layanan jasa seperti ini seringkali masih disamakan/diekspektasikan seperti pegawai kantoran yang perlu kerja 8 jam/hari. Padahal beban mental dan emosionalnya berbeda apalagi kalau menangani tanpa jeda.
Coba bayangin aja sebagai orang biasa harus ngedengerin, nganalisis masalah orang lain 8 jam tanpa jeda. Gak bisa ngelamun sama sekali. Gak bisa pura-pura ke toilet buat rehat sebentar padahal nangis.


ARES@RestuAwalliddin
Unpopular opinion about Indonesian Healthcare System
Indonesia
laura🦋 retweetledi

@roblox_fess Sewh, evade, violence district, intinya cari game yg match nya udh diatur
Indonesia
laura🦋 retweetledi
laura🦋 retweetledi

Secara logika aja ya orng yg umur 20 keatas aja ditampar realita udh burnout & stress tapi dgn umur segitu mereka masih bisa handle krn secara otak udah bisa solve problem. Kalau orng yg dibawah itu umurnya blm bisa ngasih solusi yg ada cuma kebayang beban hidup doang
M. Ridha Intifadha@RidhaIntifadha
Kemarin hingga hari ini, saya berdiskusi cukup intens dg sahabat yg alumnus psikologi Tanggapannya sederhana “itulah kenapa, pantang bahas kesusahan (terutama ekonomi) ke anak.” Kok bisa? Hmmm. Sepertinya saya akan buat tulisan terkait ini dg perspektif psikologi+kriminologi
Indonesia





















