Fransiskus Pascaries
2.5K posts

Fransiskus Pascaries
@fpascaries
English-Tetun-Spanish-Indonesian translator Author of Enggan Jadi Keluarga Fasis
Madrid, Spain Katılım Mayıs 2013
453 Takip Edilen184 Takipçiler
Fransiskus Pascaries retweetledi

@indepenSumatera Ga kebayang malunya jadi diplomat RI di luar negeri, punya atasan spek KW begini.
Indonesia

@Pupufafa1 Ia masih hilang, sementara sebagian rekannya jadi penjilat kekuasaan.
Indonesia

Tmn2nya pd jd wamen, komisaris bumn & kepala badan
Gara2 ikut melawan bersama thukul, mrk skrg bs sekolahkan anak2nya ke luar negeri, 1 urusan yg blm tentu bs diperoleh klo gk jualan kisah brsama thukul
Skrg mrk sdh asik dgn jabatan & fasilitasnya
Thukul? Sptnya mrk gk ingat lg
𝐎 𝐦 𝐉_𝙹³ռɢɢօtȶ@OmJ_J3Nggott
Widji Thukul dia adalah Penyair dan Aktivis Hak Asasi Manusia yang tidak ditemukan sejak 1998 sampai sekarang masih misterius dia dimana atau kemana... Ngumpet atau diumpetin... di sel Atau sudah Mati... dia menghilang atau dihilangkan... ...entahlah
Indonesia

@Dospemz Pasti banyak diplomat yg jauh lebih bermutu di Kemlu. Miris, mereka harus jadi bawahan Sugiono. Entah bagaimana suasana hati para pejabat di Kemlu sana.
Indonesia

Kata diplomat selalu membawa imaji tentang sosok yang elegan, berkelas, terukur, dan piawai berbicara di depan publik.
Dari seluruh diplomat yang ada, yang akhirnya dipercaya menjadi Menteri Luar Negeri tentu diasumsikan sebagai yang terbaik di antara yang terbaik.
Sudah dapat dipastikan jabatan seperti itu menuntut standar yang sangat tinggi, karena yang dibawa adalah wajah negara sendiri.
Lalu kemudian ada Menlu Sugiono.
Rima Purwasih@rimapurwasih
apes bener punya menlu keq gini. lemah!
Indonesia

@Big83717Dude @INJVRYTIME @ObiWan_Catnobi Sementara,yg bikin UU adalah pemerintah dan DPR yang ... (isi sendiri).
Indonesia

@fpascaries @INJVRYTIME @ObiWan_Catnobi Sebetulnya ini celah oligarki buat melakukan kaderisasi tepatnya. Saat ini ngasih cuma-cuma, nagih nya 10 atau 20 tahun lagi
Undang-undangnya yang harus diubah
Indonesia

Panglima Perintahkan Prajurit TNI di Lebanon Masuk Bunker, Hentikan Aktivitas Luar
~LL
Klik untuk baca: nasional.kompas.com/read/2026/04/0…
Indonesia

@INJVRYTIME @Big83717Dude @ObiWan_Catnobi Celah yg selalu dimanfaatkan pejabat dulu, kini, dan entah sampai kapan.
Indonesia

@Big83717Dude @ObiWan_Catnobi ((( hibah )))
Semua pejabat yg kekayaannya gak wajar, selalu ini sumbernya. Tapi justru inilah yg mencurigakan.
Indonesia
Fransiskus Pascaries retweetledi
Fransiskus Pascaries retweetledi

Guys, ada obrolan antara Ahok dan Mahfud MD yang gue pikir jarang banget kedengarannya dari pejabat atau mantan pejabat Indonesia.
Dan yang bikin gue diem bukan karena dramatis. Tapi karena jujurnya.
Ahok bilang satu hal soal Mahfud yang langsung gue catat.
Pak Mahfud ini walaupun orangnya keras
kalau kita kasih data yang masuk akal, dia terima kok.
Dan di kalimat berikutnya dia langsung kasih kontrasnya
Paling repot sama orang berkuasa yang udah salah tapi ngeyel.
Lu ngomongin dia enggak mau dengar.
Lu mau apa?
Dua kalimat.
Tapi nggak perlu dijelasin panjang-panjang siapa yang dia maksud.
Dan dari situ obrolan mereka masuk ke satu pertanyaan yang lebih besar.
Kenapa hukum di Indonesia tidak pernah benar-benar jalan?
Mahfud jawab dengan satu angka yang gue rasa banyak orang belum tahu.
Kekayaan alam yang selama ini kita bangga-banggain itu cuma 23% dari aset kemajuan suatu bangsa.
Yang 44%? Hukum.
Anda sekaya apapun kalau hukumnya tidak jalan Anda akan ambruk.
Negara di mana pun hanya begitu.
Dan kalau lo lihat negara-negara yang maju
New Zealand, Taiwan, negara-negara Nordik
bukan karena mereka lebih kaya sumber daya.
Tapi karena indeks korupsi mereka bagus dan hukumnya ditegakkan serius.
Lalu Ahok cerita soal enaknya jadi pejabat dan ini yang bikin gue pikir.
Bukan enaknya dalam artian korup.
Tapi enaknya dalam artian bisa beneran bantu orang.
Dia cerita waktu jadi Gubernur DKI.
Ada laporan orang sakit diangkut pakai gerobak.
Dia forward ke grup kesehatan. Langsung ditangani.
Ada yang meninggal dia suruh antar jenazahnya pulang ke Jawa gratis pakai ambulans provinsi.
Ada orang lapor ijazah ditahan karena utang Rp3 juta dia bayarin dari kantong sendiri.
Bahkan waktu di tahanan pun orang masih lapor ke dia. Janda yang kerja ojek, motornya rusak, nggak bisa bayar kos. Dia masih coba bantu.
Paling repot sekarang orang minta bantuan tapi saya udah nggak punya dana taktis.
Dan ini yang paling gue inget dari seluruh obrolannya.
Ahok bilang waktu jadi pejabat, dia pernah dapat untung bisnis 140.000 dolar dalam sebulan.
Tapi senangnya kalah sama waktu dia bisa bantu orang.
Ada nenek-nenek bilang ke gue lu miskin, lu jadi pejabat, enggak mau korupsi, gaji kecil. Gue bilang gue pasti lebih kaya.
Karena gue bantu orang miskin tanpa pakai duit gue sendiri.
Dan gue ke mana-mana dibayarin negara.
Soal Danantara Ahok dan Mahfud juga kasih pandangan yang tidak banyak disuarakan.
Ahok bilang dari awal dia udah usul ke Jokowi: bubarkan Kementerian BUMN.
Buat dia negara nggak perlu BUMN.
Yang perlu adalah sistem royalti yang benar.
Contohnya Freeport.
Dia nggak setuju beli saham 51% karena artinya Indonesia ikut nanggung kerusakan lingkungan puluhan tahun yang sudah terjadi sebelumnya.
Mending duduk anteng, dapat royalti, dan biarkan yang ngerjain yang memang ahlinya.
Dan soal Danantara dia bilang nggak perlu debat panjang. Faktanya sudah bicara sendiri.
Kalau Danantara berhasil kenapa rating kita turun?"
Dan yang paling gue appreciate dari obrolan ini:
Dua orang ini Ahok dan Mahfud sama-sama datang dari latar belakang yang nggak mewah.
Sama-sama besar di lingkungan yang bikin mereka ngerti rasanya jadi orang yang enggak punya pilihan.
Dan keduanya sepakat soal satu hal kalau lu punya kekuasaan, gunakan untuk yang benar.
Kalau nggak punya kekuasaan berteriak.
Kalau nggak bisa berteriak lagi berdoa.
Itu selemah-lemahnya iman.

Indonesia
Fransiskus Pascaries retweetledi

Surat yang ditulis siswa SMK ini jernih dan kalem, tapi justru menghantam tepat sasaran.
Ia menulis kepada Presiden Prabowo Subianto bukan untuk mengeluh, melainkan untuk mengoreksi arah. Ia melihat sesuatu yang justru luput dilihat Prabowo: di tengah program besar seperti Makan Bergizi Gratis, guru, yang menjadi fondasi pendidikan, masih belum sejahtera. Dan ia berani mengatakan itu, dengan jernih.
Yang membuat surat ini kuat bukan hanya kritiknya, tetapi sikapnya. Ia bahkan rela menolak haknya sendiri demi dialihkan untuk guru. Ini posisi moral. Ia menunjukkan bahwa kebijakan publik seharusnya tidak berhenti pada “terlihat baik”, tapi benar-benar tepat sasaran.
Di sini, pertanyaan penting muncul: mengapa seorang siswa harus sampai mengorbankan haknya untuk menutup kekurangan sistem? Bukankah negara seharusnya mampu memastikan keduanya berjalan gizi siswa terpenuhi, dan guru hidup layak?
Surat ini membuka celah dalam logika pembangunan kita: banyak program, tapi sering salah prioritas. Karena itu, suara seperti ini perlu dijaga, bukan dicurigai. Ini adalah bentuk kewargaan yang sehat, kritik yang lahir dari pengalaman, bukan kepentingan.
Kita patut mengapresiasi keberanian pelajar ini. Dan lebih dari itu, kita perlu menyatakan dukungan: semoga ia tidak mengalami intimidasi dalam bentuk apa pun karena menyuarakan kebenaran. Ia juga menyampaikan sikap moralnya secara baik-baik.
Sebab ketika suara jujur seperti ini ditekan, yang hilang bukan sekadar kritik tetapi masa depan anak-anak yang berani berpikir.

Indonesia

@jokoprabowo88 @kompascom Harusnya Gibran jadi duta baca
Indonesia

@kompascom Sosok mas Gibran memang sangat cerdas, jenius dan visioner. Maka, sangat tepat jika Tedy berkonsultasi dengan mas gibran.
Kecerdasan beliau berkat budaya keluarga sejak kecil yang sangat gemar sekali membaca buku.
Pemikiran mas Gibrab selalu tajam dan visioner
Indonesia

Seskab Teddy Temui Wapres Gibran, Diskusi 1,5 Jam Bahas Perkembangan di Tanah Air dlvr.it/TRrl8Z

Indonesia

@LambeSahamjja @PicalG Reminder bahwa kita harus terus bekerja keras demi membiayai hidup para petinggi negeri, terutama pegawai dan pejabat Ditjen Pajak - Kemenkeu.
Indonesia

Guys, lu pada tau Gayus Tambunan?
Pegawai pajak.
Golongan 3A.
Gaji sekitar Rp12 juta sebulan.
Yang punya rekening Rp28 miliar.
Dan itu baru yang ketahuan.
Gayus Halomon Tambunan lahir 1979 di Jakarta. Kerja di Direktorat Jenderal Pajak tepatnya di subdirektorat banding pajak.
Posisinya bukan posisi strategis tingkat tinggi.
Dia bukan direktur.
Bukan pejabat eselon satu.
Tapi posisinya adalah posisi kunci.
Karena di situlah ditentukan nasib sengketa pajak antara perusahaan-perusahaan besar dan negara.
Di sinilah pajak miliaran bisa dikurangi.
Sanksi bisa dihapus.
Dan semua itu dengan imbalan tertentu.
Dan sistem pengawasannya?
Nyaris tidak ada.
Ini yang bikin gue diem lama.
Gayus bukan orang yang tiba-tiba jadi jahat.
Dia adalah produk dari sistem yang memberinya kekuasaan besar tanpa kontrol memadai.
Dalam kultur birokrasi yang sudah terlanjur permisif terhadap penyimpangan.
ICW bilang posisi Gayus adalah posisi kunci dalam ekosistem mafia pajak.
Dan hampir mustahil dia mengelola aliran dana miliaran sendirian tanpa bantuan atau perlindungan dari internal DJP, institusi perbankan, atau aparat penegak hukum.
Gayus bukan pelaku tunggal.
Dia simpul kecil dari jaringan yang jauh lebih besar.
Lalu kasusnya meledak.
Dan negara mulai bergerak.
Tapi geraknya aneh.
Dari rekening Rp28 miliar yang ditemukan penyidikan awal hanya menjerat Gayus dalam satu kasus penggelapan pajak senilai Rp395 juta.
Rp395 juta.
Dari rekening Rp28 miliar.
Ini bukan ketidakmampuan investigasi.
Ini pilihan.
Pilihan untuk melihat sesempit mungkin supaya yang di balik Gayus tidak perlu disentuh.
Dan hasilnya?
Maret 2010 Pengadilan Negeri Tangerang membebaskan Gayus.
Bebas.
Dengan rekening Rp28 miliar yang sumber uangnya tidak pernah dijelaskan secara memadai.
Publik marah.
Dan kemarahan itu masuk akal.
Tapi yang paling gila bukan vonisnya.
Yang paling gila adalah September 2010, ketika Gayus sudah berstatus tahanan, publik dikejutkan oleh foto yang beredar di media.
Gayus dengan rambut palsu dan identitas palsu ketahuan nonton turnamen tenis internasional di Bali.
Sebagai tahanan.
Yang seharusnya ada di balik jeruji.
Dan ini bukan kebetulan.
Ini bukan kelalaian.
Gayus sendiri mengaku dia membayar oknum petugas rutan dan aparat agar bisa bebas bergerak.
Dia tidak kabur lewat tembok.
Dia jalan keluar lewat pintu yang sengaja dibuka.
Dan dari sini semuanya mulai terbongkar bukan karena sistem bekerja.
Tapi karena media bekerja.
Foto-foto itu tersebar.
Investigasi jurnalistik masuk.
Publik menekan.
Dan baru setelah tekanan itu mencapai titik didih negara mulai bergerak serius.
Ini yang kemudian dikenal sebagai asal-usul istilah yang kita kenal sekarang no viral, no justice.
Tanpa foto itu mungkin Gayus selesai dengan dakwaan kecil dan hukuman ringan.
Dan dunia tidak pernah tahu.
Akhirnya Gayus masuk pengadilan serius.
Januari 2011 vonis 7 tahun.
Publik marah, jauh dari tuntutan jaksa yang 20 tahun.
Banding naik jadi 8 tahun.
Masih dianggap tidak sebanding.
Kasasi ditolak Mahkamah Agung.
Tapi kasus tidak berhenti di satu perkara.
Satu per satu kasus lain disidangkan terpisah pencucian uang, pemalsuan paspor, penyuapan pejabat rutan, suap aparat.
Total akumulasi hukuman dari semua perkara sekitar 30 tahun penjara.
Tapi ini yang paling penting dan paling jarang dibahas.
Di ruang sidang, Gayus mulai bicara.
Dia mengaku tidak bekerja sendirian.
Dia sebut nama-nama.
Dia klaim ada oknum polisi, oknum jaksa, oknum hakim yang terlibat dalam jaringannya.
KPK memeriksa.
Media meliput.
Publik berharap.
Dan kemudian sunyi.
Sebagian besar nama yang disebut Gayus tidak pernah benar-benar sampai ke meja pengadilan. Pengakuannya berhenti jadi wacana.
Tidak berkembang jadi tersangka baru dalam skala besar.
Dan ini adalah pola yang selalu berulang di Indonesia.
Individu dihukum.
Sistem diselamatkan.
Gayus dipenjara 30 tahun.
Tapi struktur yang memungkinkan mafia pajak dan mafia hukum tumbuh tidak pernah sepenuhnya dibongkar.
Pertanyaan yang paling jujur dari kasus ini bukan berapa tahun Gayus dipenjara.
Tapi apa yang benar-benar berubah setelah Gayus?
Apakah sistem perpajakan lebih bersih sekarang?
Apakah posisi-posisi kunci di DJP sekarang punya pengawasan yang memadai?
Apakah masih ada Gayus-gayus lain yang belum ketahuan kamera?
Kalau jawabannya tidak pasti maka kasus Gayus Tambunan bukan sejarah yang sudah selesai.

Indonesia
Fransiskus Pascaries retweetledi
Fransiskus Pascaries retweetledi


@angga_fzn IPK 3.9 lulus empat tahun. Pernah jadi ketua Hima dan ketua BEM. Berkali-kali menang lomba menulis fiksi di Asia Pasifik.
Ini juga lagi nulis fiksi.
Indonesia

Coba kalian yang IPK-nya di atas 3.5, atau dulu Aktif Organisasi, pamerin dong sekarang udah jadi apa?
Miss Tweet |@Heraloebss
Di luar sana, banyak lulusan kampus top, yang dulu lolos UTBK dan tembus SNBT dengan bangga: IPK tinggi ✔️ Organisasi aktif ✔️ Tapi tetap: ❌ Kirim puluhan CV ❌ Berbulan-bulan belum dapat kerja Realita nggak selalu seindah jalur masuknya. #SarjanaNganggur #IkatanKerja
Indonesia

@LambeSahamjja Kalo ditanyain anggarannya gimana, tinggal dijawab: pokoknya ada...
Indonesia

Guys,Anggota DPR Safaruddin ngamuk di rapat karena kaget denger pengajar di Lemdiklat Polri cuma digaji Rp100 ribu per jam.
Yang bikin makin panas, ada jenderal yang malah ketawa pas hal ini dibahas.
Langsung disemprot: “Anda mendidik polisi loh!”
Masalahnya bukan cuma soal gaji kecil.
Tapi efeknya ke kualitas:
Polisi harusnya berantas narkoba, tapi ada yang malah jadi bandar
Kasus kekerasan di pendidikan masih ada
Bahkan ada taruni sampai stroke
Rekrutmen dipertanyakan:
ini masuk karena kualitas atau titipan?
Dan yang paling pedas…
Ada anggapan kalau polisi bermasalah malah dipindahin ke Lemdiklat.
Jadi bukan fokus ngajar, malah curhat ke murid.
Lebih parah lagi, muncul sindiran:
- Yang di lapangan bisa “main proyek”,
- yang di pendidikan?
Gajinya kecil, fasilitas minim.
Jadi wajar kalau muncul kecemburuan dan sistem jadi kacau.

Indonesia

@aqfiazfan Anggota DPR ga mungkin ngomong tanpa izin dari pimpinan fraksi dan ketum partainya.
Indonesia

Dia kalau tau siapa yg gerakin massa utk jarah rumahnya pasti dukung pembentukan TGPF sih.
tempo.co@tempodotco
Sahroni: TGPF Tak Perlu Dibentuk di Kasus Andrie Yunus
Indonesia

@bagindo_kopi @is_pelssy @denni_sauya Pada dasarnya, Orba ga pernah mati. Ibarat tim sepak bola, tim mereka cuma ganti sebagian pemain tua bangka. Tim sekarang paduan pemain lama dan baru. Tahun 1998 pake strategi catenaccio, sekarang pake total football.
Indonesia

@is_pelssy @denni_sauya Mulai kembali ke zaman orba kah?
Indonesia

Tragedi Alfin Maksalmina, Lapor Penipuan mobil ke Polisi militer 3 Hari Kemudian Hilang, Ditemukan T3was Terkubur di Cikeas
Sebuah kisah tragis dan penuh teka-teki mengakhiri hidup Alfin Maksalmina Windian (28). Pria asal Cibubur, Jakarta Timur ini dilaporkan hilang sejak 11 maret 2026. Dua pekan kemudian tepatnya Rabu (25/3), jasadnya ditemukan dalam kondisi mengemaskan terkubur sedalam tiga meter dilahan kosong kawasan Cikeas, Bogor.
Sebelum hilang, Alfin sempat membeli mobil dari TNI. Namun surat-surat kendaraan itu diduga palsu. Alfin merasa yang ditipu pun melapokan kasus ini ke Polisi Militer. tiga hari setelah laporan itu, alfin pun menghilang, Keluarga pun panik dan akhirnya melaporkan hilangnya Alfin ke Polres jakarta Timur. Selama 14 hari keluarga dan aparat mencari keberadaannya, melibatkan tim Resmob Polda Metro Jaya,upaya membuahkan hasil. Rabu 23/3 malam jenazah alfin ditemukan disebuah lubang sedalam 3 meter diwilayah Cikeas bogor jawa Barat

Indonesia











