Padahal, rasanya sudah lama telaga di netra ini mengering.
Tapi hari ini, baru saja, lepas dan lolos lebih deras dari hujan bulan juni.
Hanya karena, sebuah video tentang dua kakak beradik dengan masing" kadonya dan terlalu nyata untuk tidak ikut merasakannya..
Tiap dideketin cowo selalu pake alesan
"Sakjiw" dan nunjukin punya kriteria cowo setinggi langit biar pada mundur.
Padahal cuma trust issues dan takut dipermainkan lagi.
Padahal gak se gila itu dan semua kriteria bisa musnah kalo udah bener" nyaman.
Kenapa ya sebegininya?
Jujur kasian liatnya.
Semesta menegurmu dengan caranya, tapi sayangnya kamu masih tutup mata.
Tapi sekali lagi, empatiku gak berarti apa" kecuali kamu sendiri yang menyadari perbuatanmu, padaku.
My deepest condolences for ur loss🥀
Semoga teguran ini menjadi titik balikmu untuk lebih membuka pikiran dan jalanmu kedepannya.
Please be wise for the next..
Tidak adil rasanya,
Ketika kamu menjalani hari dengan bahagia dan baik-baik saja sedang aku di sini sendiri menyerap luka yang terus menggerus tubuh juga warasku dan amat tersiksa.
Tapi sejenak aku sadar kembali.
Bukankah "baikmu" adalah do'aku setiap hari?