

Até à morte. Until death = sampai mati. Lo notice banner gede yang dibentangin di tribun Stretford End kemarin? Sebuah banner tribute untuk Casemiro menggunakan bahasa Portugis, bahasa sehari-harinya, bahasa ibunya, bertuliskan "Até à morte" yang berarti "Sampai Mati" Tribun Stretford End memilih bahasa Portugis buat ngucapin perpisahan ke Casemiro. Dan kata yang mereka pilih bukan “thank you,” bukan “good luck,” bukan “we’ll miss you.” Tapi "sampai mati." Dan itu bukan ucapan selamat tinggal. Itu semacam ikatan. Stretford End lagi bilang dengan caranya sendiri, bahwa tempat ini akan selalu jadi rumah dia, mau dia disini atau nggak. Dia mungkin pergi, tapi dia gak pernah benar-benar ninggalin tempat ini. Dan gue mikir, Casemiro waktu ngeliat itu… dia ngerasain apa. Dia yang udah menang segalanya. Liga Champions, trofi, tepuk tangan di stadion-stadion terbesar di dunia. Tapi ada yang beda dari fans yang repot-repot bentangin banner dengan bahasa dia, milih kata yang paling berat, terus bentangin itu segede mungkin biar dia pasti ngeliat. Dan gue seneng Casemiro dapet ini. Serius. Karena gak semua legenda kita dapet hal yang sama. Gue masih inget De Gea pergi tanpa momen kayak gini. Kiper yang gendong kita bermusim-musim, yang nyelametin kita di malam-malam yang harusnya udah berakhir buruk, pergi begitu aja. Tanpa banner. Tanpa farewell yang layak. Diam-diam, seolah semua yang dia lakuin buat klub ini nggak cukup buat dapet satu momen perpisahan yang proper. Dan itu masih nyesek sampai sekarang. Jadi ya… seneng rasanya ngeliat Casemiro dapet yang dia layak dapetin. Mungkin dia gak akan ditulis sepanjang Cantona, Giggs atau Scholes di buku sejarah. Tapi buat generasi fans yang nonton dia di era yang berantakan ini, Casemiro bukan cuma nama di punggung jersey. Dia simbol rasa aman di tengah kekacauan. Até à morte, Case.🇧🇷❤️ #utdfocusid





































