🍊 retweetledi
🍊
44.4K posts

🍊 retweetledi
🍊 retweetledi
🍊 retweetledi
🍊 retweetledi
🍊 retweetledi
🍊 retweetledi
🍊 retweetledi
🍊 retweetledi
🍊 retweetledi
🍊 retweetledi
🍊 retweetledi
🍊 retweetledi

Anak-anak yang hidup di keluarga yang tidak stabil, seperti sering bertengkar, kasar, abusive, atau diabaikan, ternyata memiliki pola aktivitas otak yang mirip dengan prajurit tempur setelah bertugas di medan perang.
Jadi ada penelitian yang memeriksa otak anak-anak yang mengalami kekerasan atau konflik keluarga menggunakan fMRI (functional Magnetic Resonance Imaging).
Nah hasilnya menunjukkan adanya aktivitas yang jauh lebih tinggi di dua area otak yang penting untuk deteksi ancaman dan respon stress. Nama area otaknya adalah anterior insula dan amigdala.
Perubahan aktivitas ini bersifat adaptif di lingkungan penuh ancaman, seperti jadi “siap siaga” terus-menerus), mirip dengan yang terjadi pada tentara setelah pengalaman tempur.
Nah risikonya adalah dalam jangka panjang, hal ini dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan, regulasi emosi, dan masalah kesehatan mental lainnya, meskipun anak tersebut belum menunjukkan gejala psikiatri saat itu.
Yang perlu diperhatikan adalah temuan pada otak anak ini bukan berarti semua anak dari keluarga bermasalah pasti mengalami kerusakan otak permanen.
Otak anak sangat plastis dan bisa pulih dengan lingkungan yang aman, stabil, serta dukungan yang tepat.
Penelitian ini justru menekankan pentingnya lingkungan keluarga yang aman untuk perkembangan otak anak.
Semoga bermanfaat!
All day Astronomy@forallcurious
🚨: Brain scans have revealed children living with unstable families (excessive, arguing, abusive and neglectful) have brain changes similar to combat soldiers after active duty
Indonesia
🍊 retweetledi
🍊 retweetledi















