dr. Gia Pratama

15.6K posts

dr. Gia Pratama banner
dr. Gia Pratama

dr. Gia Pratama

@GiaPratamaMD

Pengabdi kemanusiaan. Penulis Cerita #GiaStory

Earth Katılım Haziran 2012
1.2K Takip Edilen302.9K Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
dr. Gia Pratama
dr. Gia Pratama@GiaPratamaMD·
Teman-teman, untuk pertama kalinya, akhirnya kita berjumpa di Podcast nya Bang Radit. 😄 @tirta_cipeng
dr. Gia Pratama tweet mediadr. Gia Pratama tweet mediadr. Gia Pratama tweet mediadr. Gia Pratama tweet media
Indonesia
204
784
5.2K
133.6K
dr. Gia Pratama
dr. Gia Pratama@GiaPratamaMD·
Ke arah toilet yang pintunya masih tertutup. Saya tahu satu hal. Ketakutan seorang anak tidak boleh dibiarkan menyebar dan mengganggu pasien lain. Malam itu, entah masuk akal atau tidak, saya merasa harus melakukan sesuatu, di depan semua anak yang dirawat. Saya menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah pelan ke arah toilet, disaksikan beberapa pasien dan keluarga yang belum tidur. Mereka memandang saya tanpa berkedip, seperti menunggu sebuah adegan penting dalam pertunjukan yang tidak pernah mereka pesan. Saya membaca Ayat Kursi. “Allahu laa ilaaha illaa huwal-hayyul-qayyuum...” Saya memegang gagang pintu itu. Telapak tangan saya dingin. Jantung saya berdegup terlalu keras untuk ukuran seorang calon dokter yang sedang berusaha tampak tenang. Lalu saya buka pintu itu selebar-lebarnya. Kosong. Bersih. Bak air penuh. Tidak ada siapa-siapa. Saya berdiri sesaat, menatap ke dalam, lalu berbisik pelan, “Siapa pun engkau yang ada di ruangan ini, izinkanlah hamba-hamba Tuhanmu menggunakan toilet ini dengan tenang. Jangan engkau ganggu. Mengerti?!” Setelah itu saya berbalik, menghadap orang-orang yang sejak tadi menunggu. “Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, Adik-Adik, toiletnya aman, ya. Sudah saya bacakan Ayat Kursi. Silakan digunakan, jangan takut.” Kalimat itu keluar dari mulut saya dengan nada setenang orang yang sedang memberi penyuluhan kesehatan. “Hatur nuhun, Pak Dokter,” jawab mereka serempak. Saya mengangguk, lalu berjalan kembali ke ruang koas. Besok paginya, desas-desus mulai beredar. Katanya ada dokter koas yang juga orang pintar, yang semalam berhasil mengusir setan toilet. Saya cuma bisa menepuk jidat. Saya jelas bukan dukun, bukan pula orang pintar. Saya hanya berpegang pada firman Allah dalam Surah Al-Dzariyat ayat 56, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
Indonesia
1
1
33
1.4K
dr. Gia Pratama
dr. Gia Pratama@GiaPratamaMD·
Suatu hari saat stase anak, guru saya memberi instruksi, “Gia, ada tugas buat kamu.” “Siap, Dok.” “Ada pasien ranap,” lalu beliau menyebut nama, “anak enam tahun, diare dan dehidrasi. Tolong catat input dan output cairannya, pastikan balans cairannya pas.” “Oke, Dok.” Saya menuju bangsal. Ada empat kasur di sana, semuanya terisi anak-anak. Saat saya memanggil nama pasien, ibunya langsung mengangkat tangan. “Halo, salim dulu sama Om Dokter.” Anaknya menurut. Tangannya kecil, hangat, lalu segera bersembunyi lagi di balik tubuh ibunya. “Susah banget tadi diinfus, Dok,” kata ibunya. “Katanya pembuluh darahnya sudah susah. Baru berhasil setelah minum oralit beberapa kali.” “Iya, Bu,” jawab saya pelan. “Matanya masih cekung, kulitnya kering, denyut jantungnya juga cepat. Dia masih dehidrasi. Hari ini saya pantau, ya.” Memantau cairan yang masuk itu mudah. Tinggal lihat tetesan infus, jumlah gelas air minum, hitung, lalu catat. Yang sering merepotkan justru cairan yang keluar, apalagi kalau pasiennya anak kecil dan sedang rewel. “Dok, dia nahan pipis,” kata ibunya. “Pasang selang aja, Dok,” usul perawat. Saya menggeleng. “Enggak bisa. Dia pasti merapatkan pahanya. Kita coba cara normal dulu.” Saya mendekat ke sisi tempat tidurnya. “Dek, kenapa nahan pipis? Enggak enak lho kalau ditahan,” kata saya sambil mengusap-usap kepalanya. Anak itu cemberut. Bibirnya mengatup rapat. Tidak ada jawaban. “Om pakaikan pampers, ya? Biar nanti pipisnya di situ saja.” Ia tetap diam. Anak itu menunduk, lalu menjawab lirih, “Maunya pipis normal, tapi takut.” “Takut kenapa?” Tangannya yang kecil terangkat, menunjuk ke arah toilet di ujung ruangan. “Di sana ada orang rambut panjang nongkrong di dalam bak mandi.” Saya terdiam. Ruangan mendadak ikut diam. Sunyi menyebar pelan. Saya bisa merasakan mata beberapa orang mulai menatap ke arah toilet yang pintunya tertutup itu. Saya menarik napas, lalu berusaha tetap tenang. “Oke,” kata saya. “Kalau begitu, kamu pipis normal aja di tempat tidur, ya?” “Iya.” Belum sempat saya memikirkan langkah berikutnya, perawat di samping saya berbisik, “Dok, pispotnya rusak.” Saya menoleh. “Rusak?” Perawat itu mengangguk. Ampun, batin saya. Ini kurang apa lagi. Saya keluar cepat menuju nurse station, membongkar apa saja yang ada di sana sampai akhirnya menemukan plastik bekas gula ukuran satu liter. Bukan alat yang ideal, jelas, tapi malam itu kami tidak sedang hidup di dunia yang ideal. Saya kembali ke ruangan. “Ayo berdiri, jongkok sedikit, ya.” Ibunya membantu memegangi tubuh anak itu. Saya jongkok di bawah, memegang plastik dengan dua tangan. Jas putih saya yang tadi masih tampak rapi kini berubah fungsi. Seorang koas, tengah malam, di bangsal anak, bersiap menampung pipis seorang pasien kecil. Lalu terdengarlah suara yang saya tunggu. Cuuurrr... Akhirnya mengalir juga. Belum sempat saya merasa menang, tiba-tiba posisi kaki si anak berubah. Aliran urinenya meleset. Tangan saya hangat seketika. “Yaaah, Om Dokter kena pipis kamu.” Begitu mendengar kalimat itu, anak itu malah tertawa geli. Tawa kecilnya pecah, lalu setiap letupan tawanya membuat arah pipisnya ikut berubah. Muncrat ke sana, muncrat ke sini, liar seperti air mancur yang kehilangan akal. “Uwwooou!” Saya panik setengah mati, menggeser tangan ke kanan dan ke kiri, berusaha menangkap setiap tetes yang meleset. Rasanya seperti sedang mengejar puluhan rambutan yang tiba-tiba rontok bersamaan dari pohon, jatuh ke segala arah, dan menolak ditangkap. Semakin saya tampak kerepotan, semakin keras ia tertawa. Akhirnya, setelah perjuangan yang absurd itu, terkumpullah ratusan cc urin di kantong plastik, puluhan cc di sprei, dan entah berapa cc lagi menempel di tangan saya. Saya membawa hasil tangkapan malam itu ke nurse station, lalu mencatat jumlahnya di rekam medis dan buku pemantauan, menyesuaikannya dengan cairan infus yang masuk. Setengah jam kemudian, saya kembali ke kamar. Lalu pandangan saya bergeser ke kanan.
Indonesia
6
9
121
4.6K
dr. Gia Pratama retweetledi
TIRTA
TIRTA@tirta_cipeng·
Konten part 2 bareng dr @giapratamamd akan lebh fokus di materi komunikasi kesehatan Soon ya kali ini giliran di youtubeku. 👌
TIRTA tweet media
Indonesia
477
1.9K
19.1K
250.1K
dr. Gia Pratama
dr. Gia Pratama@GiaPratamaMD·
Senang sekali bisa satu meja dengan teman-teman hebat di Lapor Pak. Yang kebetulan syuting hari pertama setelah libur panjang. Cerita di Episode ini akan seru dan lucu. Cluenya, "Rigen-Teman Sejawatku" Selipan edukasi kesehatan bisa lewat mana saja, lewat obrolan, lewat tawa, yang penting sampai ke lebih banyak hati. Terima kasih Trans 7 sudah mengundang. Semoga setiap langkah kecil ini membawa manfaat yang besar. Tunggu tayangnya ya teman-teman.
Indonesia
14
36
355
11.2K
dr. Gia Pratama
dr. Gia Pratama@GiaPratamaMD·
Teman-teman, untuk pertama kalinya, akhirnya kita berjumpa di Podcast nya Bang Radit. 😄 @tirta_cipeng
dr. Gia Pratama tweet mediadr. Gia Pratama tweet mediadr. Gia Pratama tweet mediadr. Gia Pratama tweet media
Indonesia
204
784
5.2K
133.6K
dr. Gia Pratama
dr. Gia Pratama@GiaPratamaMD·
Kecepatan tangan toddler memang mengalahkan kecepatan cahaya. Jadi untuk teman-teman para orang tua yang memiliki balita. Ayo jangan lupa singkirkan benda-benda kecil di sekitarnya. Bagaimanapun wujudnya dan bentuknya. Magnet, plastik, atau apapun. Pada kasus ini akhirnya harus tindakan endoskopi lambung, ditemukan 30 magnet kecil berkelompok menekan dinding lambung, lalu diangkat dengan Roth net dalam dua kali pengambilan.
dr. Gia Pratama tweet mediadr. Gia Pratama tweet media
Indonesia
28
88
587
40.4K
Bayu Ajianto
Bayu Ajianto@bayuajianto·
@FPL_sieltam Kata dokter @GiaPratamaMD gaboleh kita benci sama yg lain. Semua nya yg normal2 aja. Semuanya kita suka. Tp tetep ada yg lebih kita sukai kan, itulah tim favorit kita. Ga anti sama arsenal juga, malah pakai jerseynya. Tapi kalo sukaan mana? Ya sukaaan MU 🙏😅
Bayu Ajianto tweet media
Indonesia
1
0
1
349
FPL Si Elang Hitam 🇮🇩 🇪🇸
Sebenarnya bingung jika soal bola-bolaan sampai ada kebencian. Sebenarnya apa untungnya benci suatu tim? Apa jadi merasa “GUE ARSENAL BANGET INI”. Padahal Arsenal pusat respect sama Manutd dan tim lain. Respect adalah koentji dlm bola bukan? Siapa yg ngajarin kebencian? 🤔
Satria@satriaooo

@FPL_sieltam @JalanArsenal Lah wajib hukumnya benci Emyu 😂

Indonesia
11
1
19
3K
dr. Gia Pratama
dr. Gia Pratama@GiaPratamaMD·
Ini adalah separuh Otak Manusia. Otak manusia dewasa rata-rata punya sekitar 86 miliar neuron. Pada anak, jumlah neuronnya tidak beda jauh. Pada awal kehidupan, otak bayi membentuk koneksi baru dengan kecepatan luar biasa, bahkan diperkirakan lebih dari 1 juta koneksi baru tiap detik. Di usia sekitar 2 tahun, seorang anak bisa punya kira-kira dua kali lebih banyak. Otak anak itu otak yang sedang tumbuh liar, cepat, haus makna. Jadi saat balita bertanya terus, jangan buru-buru kesal. Di depan kita sedang berdiri seorang manusia kecil, dengan miliaran neuron dan lautan koneksi yang sedang belajar memahami semesta. Rasa ingin tahu merekalah yang mengingatkan kita untuk kembali takjub, kembali belajar, dan kembali kagum pada dunia. ------------------------------- PR : berapa berat otak balita?
Indonesia
5
31
253
36.5K
dr. Gia Pratama
dr. Gia Pratama@GiaPratamaMD·
Beberapa waktu kemudian, saya bertemu lagi dengannya. Wajahnya sudah jauh lebih segar dan tenang. Saat itulah ia berkata kalau suatu hari saya punya kesempatan, ia ingin pesannya sampai kepada banyak perempuan muda. "Jangan jadi ani-ani." Katanya, "tidak ada hal yang baik yang menunggu di usia senja bila hidup dibangun dari merampas milik orang lain. Ujungnya sepi. Ujungnya luka. Ujungnya hidup sendiri, sebatang kara, ditemani penyesalan dan banyak hal buruk lain." Saya pun setuju.
Indonesia
4
55
322
25.8K
dr. Gia Pratama
dr. Gia Pratama@GiaPratamaMD·
Suatu pagi di IGD, seorang ibu usia lima puluhan datang dengan wajah pucat dan tubuh yang basah oleh keringat dingin. Keringatnya sampai sebesar biji-biji jagung. Tangannya beberapa kali menekan dada, lalu bergerak ke sisi kiri tubuhnya. Nyeri dadanya menjalar ke lengan kiri. Napasnya pendek. Wajahnya tegang. Gelisah. Saya sudah sangat hafal gejala dan tanda ini. Serangan jantung. Saya mendekat, “Bu, saya mau periksa rekam jantung ibu, ya.” Belum sempat perawat menyiapkan semuanya, ibu itu langsung menggeleng keras. Ia membuang muka “Enggak, Dok. Enggak.” Saya berkata pelan, “Bu, maaf, kemungkinan besar ini serangan jantung.” Tiba-tiba ia teriak. Suaranya pecah, nyaris histeris. “Enggak, Dok, enggak!! Saya tidak mungkin serangan jantung, Dok. Saya enggak merokok.” Saya terdiam sesaat. “Udah tolongin saya, kasih obat nyeri aja, Dok. Saya mau pulang.” Di dalam hati, aku langsung menghitung waktu. Dalam kasus seperti ini, aku tahu aku tidak sedang berhadapan dengan jam yang longgar. Aku hanya punya sekitar sembilan puluh menit untuk segera bertindak. Perbedaan hasil antara cepat dan terlambat bisa terasa sangat kontras. Terlalu kontras untuk diabaikan. Saya menarik napas dalam. “Ibu ada apa?” tanya saya pelan. “Kok langsung menolak diagnosis saya? Belum saya periksa kok.” Ia diam. Matanya bergerak sebentar ke kanan dan ke kiri, menatap perawat-perawat yang berdiri di dekatku. Saya peka. Saya menoleh kepada perawat2 saya. “Tolong bantu pasien lain dulu, ya.” Ibu itu menunduk. Lama sekali. Lalu dengan suara pelan yang nyaris seperti bisikan, ia berkata, “Ini akibat karma saya, Dok.” Saya terhenyak. “Karma?” Ia mengangguk kecil. “Entah sudah berapa wanita yang telah saya sakiti, Dok.” Saya menatapnya lebih dalam. “Ibu sakiti siapa?” Ia menelan ludah. Suaranya gemetar ketika melanjutkan. “Dok, sebenarnya saya sudah memasukkan beberapa alat ke dada dan ke dua payudara saya, Dok. Gara-gara alat ini, saya berhasil merebut banyak lelaki, suami-suami orang. Alat ini membuat saya tidak bisa ditolak oleh seluruh lelaki yang saya dekati, dan membuat lelaki manapun tertarik terhadap saya dan payudara saya.” Saya menahan senyum. Jujur saja, saya jarang bertemu laki-laki yang tidak tertarik pada payudara. Ia melanjutkan, makin tenggelam dalam ceritanya sendiri. “Saya lakukan ritual memasang alat ke dalam dada bersama seorang laki-laki Orang Pintar dua puluhan tahun yang lalu, Dok.” Saya kembali menahan senyum. Apakah ibu ini Ironman? Ibu itu melanjutkan, “Orang pintar bilang, kamu akan berhasil, tapi kamu akan menerima karma dari alat itu saat usia lima puluhan. Jadi ini karena alat, Dok!” “Ibu,” jawab saya lembut, “bolehkah saya rontgen? Saya ingin melihat seberapa berbahaya karma dari alat ibu ini.” Ia menatapku, ragu-ragu, lalu akhirnya mengangguk. Kami lakukan rontgen. Dan setelah hasilnya keluar, saya benar-benar takjub. Ternyata memang ada. Dua di payudara kiri. Dua di payudara kanan. Dua di bahu kanan dan kiri. Dalam hati aku berpikir, Orang Pintar itu memang benar-benar pintar. Ia bisa menipu meyakinkan seorang perempuan usia dua puluhan untuk membuka bajunya dan memasang semua ini. Saya kembali menghadap ibu itu. “Ibu percaya sama saya, apa pun yang orang pintar itu bilang ke ibu tentang karma alat ini.” Saya meletakkan tangan di dada sendiri. “Orang pintar kedua ini akan bilang, ini bukan karena alat itu. Izinkan orang pintar kedua ini bantuin ibu. Saya mau nolongin ibu. boleh enggak?” Ia diam. Ada jeda panjang sebelum akhirnya ia menjawab dengan suara yang jauh lebih kecil daripada teriakannya tadi. “Boleh, Dok.” Begitu kata itu keluar, aku tidak menunda lagi. Langsung kami lakukan rekam jantung. Kami periksa enzim jantung, troponin I. Kami mulai loading obat. Semua yang harus dikerjakan, kami kerjakan secepat dan setepat mungkin. Ibu itu akhirnya dirawat beberapa hari. Dan syukurlah, akhirnya ia sembuh.
dr. Gia Pratama tweet media
Indonesia
51
183
1.4K
94.1K
dr. Gia Pratama
dr. Gia Pratama@GiaPratamaMD·
Stress berkepanjangan memang tidak terlihat seperti darah yang mengalir atau tulang yang patah. Wajahnya bisa biasa saja, masih bekerja, masih tersenyum, masih menjawab, “aku gapapa.” Padahal tubuhnya melepas hormon kortisol dan adrenalin berulang kali. Dalam jangka panjang, jam tidur rusak, konsentrasi menurun, daya menahan emosi makin rapuh, daya tahan tubuh ikut turun, tekanan darah bisa naik, keluhan lambung muncul, nyeri kepala datang lebih sering, dan pikiran gelap lebih mudah masuk. Yang saya perhatikan lagi, untuk banyak suami, istri adalah sahabatnya satu-satunya, sehingga Laki-laki sering tampak lebih kesulitan saat harus menjalani hidup tanpa pasangan, sedangkan perempuan cenderung lebih mampu menata hidupnya kembali secara mandiri setelah terjadi perpisahan. (Baik meninggal ataupun perceraian) Salah satu alasannya, perempuan biasanya lebih cepat menyusun ulang lingkar dukungan emosionalnya. Mereka cenderung punya hubungan yang lebih terjaga dan lebih dalam dengan teman, keluarga, dan orang-orang terdekat. Buat teman-teman laki-laki berceritalah, tidak perlu ke orang lain, bisa cukup ikuti saya. Salurkan dengan tulisan, Tulis semuanya. Kalau saya, saya tujukan kepada Allah S.W.T atau Rasulullah S.A.W.
Indonesia
1
23
110
14.1K
dr. Gia Pratama
dr. Gia Pratama@GiaPratamaMD·
"Dok, jika seorang lelaki meninggal tanpa luka ditubuhnya, padahal di dalam kepalanya ada peperangan yang tak kunjung reda, apakah artinya dia meninggal oleh tangannya sendiri atau ia dibunuh oleh semua hal yang tak pernah ia ungkapkan?" Pertanyaan dari pasien yang sampai sekarang belum bisa saya jawab.
Indonesia
24
161
551
40.6K
dr. Gia Pratama retweetledi
TIRTA
TIRTA@tirta_cipeng·
Sekalinya ketemu, begini dah @GiaPratamaMD 🗿
TIRTA tweet media
Indonesia
1.3K
3.3K
34.6K
950.7K
dr. Gia Pratama
dr. Gia Pratama@GiaPratamaMD·
Saya sungguh ikhlas. Saya sudah lapor SPT dan sudah bayar. Uang yang menurut saya dan istri jumlahnya tidak kecil ini saya anggap patungan saya untuk membayarkan iuran bulanan BPJS kesehatan Peserta Bantuan Iuran (PBI) terutama pasien pasidn yang membutuhkan cuci darah rutin seminggu dua kali. Bukan untuk membeli mobil dinas yang mewah-mewah, kalau itu pakai uang pajaknya dr.Tirta. 😄 Di Negara yang kita cintai ini, uang pajakmu ikhlas untuk dibayarkan apa teman-teman?
dr. Gia Pratama tweet mediadr. Gia Pratama tweet media
Indonesia
32
70
590
50.8K
dr. Gia Pratama
dr. Gia Pratama@GiaPratamaMD·
Ini adalah paru-paru normal, dan paru-paru perokok. Lalu ada pasien perokok yang berkata, “Paru-paru saya normal kok, Dok.” Saya,"iya pak normalnya paru-paru perokok.😊" --------------------------------- PR : Berapa mililiter volume udara yang normalnya masuk ke paru-parumu setiap satu kali tarikan napas? #giaceritaanatomi #paruperokok
Indonesia
9
45
148
14K
dr. Gia Pratama
dr. Gia Pratama@GiaPratamaMD·
Part 6 bersama bang Radit. Tunggu tayangnya ya teman-teman, insyaallah hari ini atau besok.
dr. Gia Pratama tweet media
Indonesia
8
0
60
7.9K
dr. Gia Pratama
dr. Gia Pratama@GiaPratamaMD·
Suatu hari di IGD, saya kedatangan seorang pasien laki-laki usia dua puluhan. Ia datang ditemani adik laki-lakinya. Kondisinya cukup mengkhawatirkan. Tangan kanannya robek panjang, mulai dari punggung tangan sampai hampir ke siku, dengan darah yang keluar cukup banyak. Saya bertanya, “Kenapa ini?” Adiknya yang menjawab, “Berantem sama istrinya, Dok.” Saya mengernyit. “Kok bisa sampai begini?” Adiknya kembali menjawab, “Sok-sokan, Dok. Marah-marah, terus gebrak meja kaca. Kirain kacanya kuat. Eh, malah pecah berkeping-keping, terus tangannya kesobek begini.” Saya hanya tersenyum tipis mendengarnya. “Ya sudah, sini saya jahit.” Adiknya ke pendaftaran, Ia pun masuk ke ruang tindakan, lalu berbaring di tempat tidur periksa. Saya mulai menjahit lukanya perlahan, sentimeter demi sentimeter. Saat saya masih sibuk menjahit, tiba-tiba istrinya datang ke IGD dan liat ke ruang tindakan. Cemeberut diam seribu bahasa. Begitu melihat istrinya, si suami langsung membuang muka, lalu berkata kepada saya, “Hhhh, si Kunyuk datang lagi, Dok.” Saya menahan senyum sambil tetap melanjutkan jahitan. Setelah selesai, saya meninggalkannya di ruang tindakan dan kembali ke meja untuk menulis resep. Belum lama saya duduk, istrinya datang, lalu dengan wajah datar, ia bertanya, “Dok, itu si monyet gimana kabar?” Saya tersenyum kecil. Dalam hati, saya tertawa keras. Pantas saja berantem. Wong kawin beda spesies. “Suamimu baik-baik saja. Obatnya nanti jangan lupa diminum, ya.” Setelah resep saya berikan, mereka bertiga keluar menuju apotek dan kasir untuk bayar tapi Beberapa menit kemudian, mereka malah kembali lagi ke IGD dengan wajah yang jauh berbeda, si monyet dan si kunyuk ini benar-benar memelas. “Dok, maaf dok, uang kami nggak cukup buat bayar. Kami cuma pengamen, Dok." Saya kembali tersenyum. “emang Uang kalian sisa berapa?" Segini dok kata si monyet, sambil memberikan beberapa lembar uang lima ribuan. "Baik, sebentar saya telfon kasir." Saya tanya ke kasir, emang berapa kurangnya? Trus kasir sebutin angka. Dalam hati, ah, sudahlah. Anggap saja sedekah. Siapa tahu jadi jalan cepat punya anak. “Ya sudah, kurang bayarnya sama saya aja ya.” ucap saya ke kasir Trus mereka berdua kaget, "Sama dokter dibayarinnya??" "Iya sisa Uang kalian ini simpan saja Sisanya saya yang tanggung, tapi mulai sekarang. Ayo salam-salaman saling minta maaf." "Oiya dok oke dok" lalu si monyet dan si kunyuk pun saling salim minta maaf. Seketika wajah mereka berubah cerah. bahagia sekali saya melihatnya, saya berhasil mendamaikan dua spesies yang berbeda. Setelah itu mereka berdua salim sama saya."Sudah, jangan berantem lagi. Yang rukun-rukun saja.” "Siap dok." “Terima kasih, Pak Dokterrr.” Mereka berdua pulang meninggalkan IGD.
dr. Gia Pratama tweet media
Indonesia
23
38
434
48K
dr. Gia Pratama
dr. Gia Pratama@GiaPratamaMD·
Saya minta Chatgpt untuk jadi Topi Penyortir (Sorting Hat) untuk menentukan asrama Hogwarts terpantas untuk saya berdasarkan seluruh percakapan selama ini. Dia jawab, Ravenclaw. Jika saya jadi pengajar disana mungkin nama kelas saya, "Magical Anatomy & Adaptive Physiology : Understanding Life, Surviving Magic."
dr. Gia Pratama tweet media
Indonesia
4
0
48
9.9K