Gowhann retweetledi
Gowhann
180 posts

Gowhann retweetledi

BI vs Fed batas moneter fiskal.
Teman-teman, izinkan saya berdiskusi dan mendapat pandangan soal relasi kebijakan BI sebagai pemegang otoritas moneter dan Kemenkeu sebagai pemegang otoritas fiskal.
Kita sedang berada di titik di mana POLITICAL WILL untuk mengelola moneter fiskal secara prudent jadi taruhan besar buat kepercayaan pasar terhadap ekonomi kita.
Sebagai benchmark, The Fed punya dual mandate memaksimalkan lapangan kerja dan menjaga inflasi. Instrumen utamanya suku bunga jangka pendek dimana suku bunga naik saat inflasi naik, dan turun saat inflasi mereda agar ekonomi kembali jalan.
Tapi ada kondisi di mana mekanisme ini lumpuh, saat suku bunga sudah mendekati zero lower bound (suku bunga sudah mentok untuk US 0,25 tidak bisa lebih rendah lagi) tapi ekonomi masih macet, pengangguran naik, daya beli lemah. Di titik itu The Fed masuk ke instrumen suku bunga jangka panjang lewat QE, membeli obligasi, menambah base money ke sistem perbankan, mendorong likuiditas dan kredit mengalir lagi.
Begitu kontraksi teratasi, The Fed melakukan QT, menarik kembali likuiditas itu. QE yang baik sifatnya sementara, terukur, dan bisa direverse.
Di Indonesia, polanya agak berbeda dan ini bagian yang menurut saya perlu dicermati dengan hati-hati, karena kalau ditelusuri lebih dalam, datanya nggak sesederhana narasi yang sering beredar.
BI memang agresif membeli SBN sepanjang 2025-2026 yaitu Rp332,14 triliun sepanjang 2025, lalu Rp156,98 triliun lagi sampai 17 Juni 2026 semuanya tercatat di pasar sekunder (BI sendiri menegaskan tidak lagi membeli SBN tenor panjang di pasar primer sejak skema burden sharing baru disepakati dengan Kemenkeu, September 2025).
Yang lebih relevan untuk didiskusikan adalah kepemilikan BI atas SBN domestik yang diperdagangkan sudah mencapai 27,41% per 10 Juli 2026 (naik dari 22,61% di akhir 2025 secara nominal dari Rp1.641 triliun menjadi sekitar Rp1.725 triliun), plus skema burden sharing bunga untuk program prioritas (3 Juta Rumah, Kopdes Merah Putih) yang disepakati BI-Kemenkeu. Ini yang jadi titik kabur antara ruang moneter dan fiskal.
Uang primer (M0) memang tumbuh double digit 12,8% yoy per akhir Juni 2026 (sempat 14,1% di April, turun ke 12,8% di Juni) sejalan dengan komitmen BI menjaga likuiditas sistem di atas 10% yoy. Pertumbuhan ini didorong ekspansi lewat pembelian SBN sekunder dan insentif likuiditas ke perbankan, bukan pelonggaran M0 lewat pembelian obligasi di primer.
Soal transparansi exit strategy, ini fair jadi concern saya pribadi. BI sejauh ini belum secara eksplisit memaparkan roadmap kapan dan bagaimana ekspansi SBN sekunder serta insentif likuiditas ini akan di-unwind, berbeda dengan komunikasi The Fed soal dot plot dan balance sheet runoff yang relatif terjadwal.
Sekarang soal selisih suku bunga. BI rate saat ini 5,75% (RDG 18 Juni 2026), Fed Funds Rate 3,50-3,75% (ditahan sejak 17 Juni 2026).
Selisihnya:
- Pakai batas atas Fed (3,75%): 200 bps
- Pakai titik tengah Fed (~3,63%): ~212 bps
Tapi penting dicatat selisih BI rate vs Fed Funds ini bukan gambaran lengkap carry yang ditawarkan ke investor asing. Instrumen yang mereka beli langsung SRBI yieldnya jauh lebih tinggi 7,36-7,70% tergantung tenor (lelang 26 Juni 2026). Jadi real carry yang ditawarkan ke investor asing sebenarnya jauh di atas 200bps dengan konsekuensi beban bunga yang makin besar buat BI/pemerintah.
Soal capital flight, ini pandangan awal saya. Rupiah memang masih dalam tren pelemahan, ke kisaran Rp18.000-18.150/USD di pertengahan Juli 2026 (rupiah ditutup Rp18.068/USD pada 15 Juli 2026). Tapi data arus modal justru menunjukkan net inflow BI melaporkan inflow ke SRBI+SBN sebesar US$9 miliar ytd per 26 Juni 2026, dan net inflow Q2 2026 sebesar US$5,5 miliar. Cadangan devisa juga naik ke US$145,6 miliar di akhir Juni 2026, kenaikan pertama dalam 6 bulan terakhir.
Jadi ini kombinasi yang agak paradoks modal asing net masuk ke instrumen rupiah, cadev naik, tapi rupiah tetap melemah. Pelemahan ini lebih tepat dibaca sebagai fungsi dari penguatan dolar AS secara global (DXY menguat ke level 100-101 dan ekspektasi pasar bahwa The Fed akan menahan suku bunga tinggi lebih lama). Ini bukan sinyal capital flight yang sudah terjadi justru yield SRBI yang tinggi berhasil menahan modal asing masuk, dengan cost yang harus ditanggung ke depan.
Kalau The Fed jadi menaikkan suku bunga tahun ini maka selisih nya akan menipis dan menambah tekanan ke BI untuk kembali menaikkan BI rate atau menaikkan yield SRBI lebih jauh dengan trade off biaya bunga yang makin besar buat neraca BI dan APBN.
Saya sadar ekonomi kompleks tidak bisa dilihat dari satu variabel saja. Tapi metrik-metrik ini kepemilikan BI atas SBN, pertumbuhan M0, yield SRBI vs Fed Funds, dan transparansi exit strategy layak jadi radar bersama untuk menilai seberapa besar ruang gerak kebijakan moneter fiskal kita ke depan, dan seberapa besar POLITICAL WILL yang dibutuhkan untuk menjaga trust pasar.
Terbuka untuk didiskusikan, koreksi kalau ada data yang saya lewatkan.
Indonesia

JCI stocks kan maksudnya?
Commentary Donald J. Trump Posts from Truth Social@DonaldTrumpNat
Great day to BUY stocks!!
Indonesia
Gowhann retweetledi

$DEWA DIRIKAN 3 ANAK USAHA BARU
Hari ini, 17 Juli 2026, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) dirikan 3 anak usaha baru:
1⃣ PT DH Listrik, 99,90% dimiliki lewat PT DH Investindo (sisanya 0,10% PT Cipta Multi Prima).
Kegiatan usaha: pembangkitan tenaga listrik, penyediaan tenaga listrik dalam satu kesatuan, dan aktivitas penunjang tenaga listrik lainnya.
2⃣ PT DH Infrastruktur, struktur kepemilikan sama: 99,90% lewat PT DH Investindo, 0,10% PT Cipta Multi Prima.
Kegiatan usaha: pelayanan kepelabuhan laut, pergudangan dan penyimpanan, angkutan laut dalam negeri, serta jasa terkait transportasi perairan dan darat.
3⃣ PT DH Arunika Hospitality, kali ini 99,90% langsung dimiliki DEWA (sisanya 0,10% PT Cipta Multi Prima).
Kegiatan usaha: manajemen akomodasi, hotel, penyediaan makanan, kebersihan umum, konsultasi manajemen dan bisnis pariwisata, sampai penyediaan tenaga kerja.
Tujuannya: perluas lini bisnis kelistrikan, infrastruktur, dan hospitality, sekaligus dukung going concern Perseroan jangka panjang lewat sumber pendapatan dan proyek baru.
#RangkumKeterbukaanInformasi

Indonesia
Gowhann retweetledi

Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Self-Regulatory Organization (SRO) perbarui metodologi dalam mendeteksi saham yang kepemilikannya kepusat di segelintir pihak (HSC/High Shareholding Concentration), per Selasa (14/7/2026).
Sekarang ada indikator tambahan namanya price impact ratio, dan ini berlaku buat semua saham yang market cap-nya di atas Rp10 triliun. Rasio ini ngeliat seberapa besar perubahan harga dibanding velocity saham itu.
Velocity sendiri adalah rata-rata volume transaksi dibagi jumlah saham yang beredar bebas di publik alias free float.
Efeknya, saham yang volume transaksinya sepi dan velocity-nya rendah bakal jadi sorotan untuk dicek lebih lanjut.
Evaluasinya dilakukan berkala ngikutin siklus evaluasi indeks utama BEI, di luar itu tetap ada pengawasan rutin ke semua saham yang tercatat.
Tujuan besarnya, agar transaksi di bursa makin teratur dan wajar, sekaligus jaga kepercayaan investor termasuk penyedia indeks global ke pasar modal Indonesia.
Source: Bloomberg Technoz
#RangkumMarketNews

Cheytax Management LLC@Cheytax_1
Mantab..
Indonesia

Dari sekian banyak data dan penglihatan.
- Asal usul lahir
- Tempat membuat video
- Dan proses hilangnya beliau
Terlihat bahwa kecocokan gambar pada video tersebut sesuai dengan foto yang ada di bawah ini.
Mudah2an yang bersangkutan bisa kooperatif menghadapi pelanggannya.




Ivan Suganda@ivan5386
AS real dari Purbalingga dan memang ada sidejob konveksi. Urusan kaos jadi manuk akal. Chat berikutnya, AS belum komunikasi terkait pembuatan buku ini ke gurunya. Istilah kata sowan gitu lah.
Indonesia
Gowhann retweetledi
Gowhann retweetledi























