Sabitlenmiş Tweet
v i r a
146K posts

v i r a retweetledi
v i r a retweetledi
v i r a retweetledi
v i r a retweetledi

Guys, lu pada tau gak… ini bukan sekadar cerita cewek sukses lagi curhat.
Ini tamparan keras buat cara kita memperlakukan orang terutama perempuan yang kelihatan kuat di luar, tapi diam-diam hancur di dalam.
Jadi, Prilly Latuconsina baru aja buka-bukaan… dan jujur, ini bukan cerita manis.
Ini pahit, relate, dan agak nyesek kalau lu dengerin bener-bener.
Dia bilang, kadang orang terdekat itu bukan tempat pulang malah jadi tempat tuntutan.
Lu disuruh kuat
disuruh dengerin
disuruh jadi rumah buat semua orang…
tapi pas lu butuh didengerin?
Sepi.
Kosong.
Gak ada siapa-siapa.
Dan kalimat paling nusuk itu:
Aku adalah rumah… tapi siapa rumahku?”
Gila gak sih?
Ini realita yang sering banget kejadian, terutama ke perempuan:
Harus kuat
Harus ngerti semua orang
Harus jadi penenang
Tapi gak boleh rapuh
Begitu lu capek? Dibilang lemah.
Begitu lu nangis? Dibilang kurang bersyukur.
Padahal… manusia ya manusia.
Bukan mesin.
Yang lebih parah lagi, dia juga nyentil soal fake life di sosial media.
Banyak orang kelihatan baik,
sempurna
peduli tapi cuma pas ada kamera.
Dia bedain jelas:
Personal branding → emang lu begitu aslinya
Pencitraan → depan kamera doang, aslinya beda
Dan jujur aja… kebanyakan orang sekarang ada di sisi kedua.
Makanya dia bilang, kalau lu punya teman yang:
cuma baik pas dilihat orang
cuma datang pas butuh
gak pernah dengerin lu
bikin lu ngerasa sendirian padahal lagi bareng
Tinggalin.
Serius.
Karena kesepian itu bukan soal gak punya orang…
tapi punya orang, tapi gak ada yang benar-benar hadir
Dan ini juga jadi tamparan:
Kadang kita sibuk cari teman seru
keren
berkelas
padahal yang kita butuh cuma satu:
orang yang tetap baik bahkan saat gak ada yang lihat.
Jadi sekarang pertanyaannya bukan lagi:
Siapa teman lu?
Tapi:
Siapa yang benar-benar ada buat lu… tanpa perlu dimintain?

Indonesia
v i r a retweetledi

Gue punya temen cewek namanya Amel.
Pintar, mandiri, dan waktu nikah semua orang bilang dia beruntung banget.
Suaminya kerja bagus
penghasilan oke,
sayang banget sama dia.
Dan karena semua itu Amel berhenti kerja.
Ngapain capek-capek, suami gue udah cukupin semua.
Gue nggak bilang apa-apa waktu itu.
Karena secara logika masuk akal.
Tahun pertama sampai ketiga
semua baik-baik aja.
Amel ngurusin rumah.
Suami cari duit.
Hidup terasa lengkap.
Tapi pelan-pelan gue mulai notice sesuatu.
Amel yang dulu berani berpendapat mulai jarang ngomong kalau beda pendapat sama suaminya.
Amel yang dulu spontan mau nongkrong sekarang selalu nanti tanya suami dulu.
Dan waktu gue tanya "Mel, lo nggak kangen kerja?"
Dia jawab "Kangen sih.
Tapi nanti suami gue ngerasa nggak dibutuhkan."
Tahun kelima semuanya berubah.
Kantor suaminya kena efisiensi besar-besaran.
Di-PHK tanpa pesangon yang cukup.
Dan tiba-tiba satu penghasilan yang selama ini jadi satu-satunya sumber kehidupan mereka, hilang.
Amel mau balik kerja.
Tapi gap-nya udah 5 tahun. Industri udah berubah. Koneksinya udah banyak yang putus.
CV-nya terasa ketinggalan zaman.
Dan yang paling berat bukan soal keuangannya tapi soal dynamic yang berubah di dalam rumah tangga mereka.
Suaminya yang tadinya provider tiba-tiba merasa kehilangan identitas.
Dan Amel yang tadinya dependent tiba-tiba harus jadi tulang punggung tanpa persiapan apapun.
Dua orang yang saling sayang tapi nggak siap untuk skenario yang seharusnya mereka antisipasi dari awal.
Dan ini yang gue pelajarin dari cerita Amel.
Punya penghasilan sendiri bukan soal nggak percaya sama suami.
Bukan soal "gue harus mandiri karena suami gue pasti selingkuh."
Bukan soal emansipasi yang dipaksain.
Tapi soal satu hal sederhana yang sering kita lupa
Dunia ini nggak berjalan sesuai rencana.
Dan lo nggak bisa mendelegasikan seluruh ketahanan hidup lo ke satu orang.
Suami yang baik bisa kena PHK.
Suami yang sehat bisa tiba-tiba sakit.
Suami yang setia bisa burnout dan berubah.
Dan kalau di titik itu lo nggak punya apa-apa atas nama lo sendiri bukan rekening, bukan skill, bukan network lo nggak punya pilihan.
Dan ketiadaan pilihan itu yang paling berbahaya bukan karena lo miskin, tapi karena lo jadi terpaksa bertahan di situasi yang harusnya bisa lo tinggalkan.
Amel sekarang udah balik kerja.
Prosesnya nggak mudah dan nggak cepat.
Tapi dia bilang satu hal ke gue yang gue inget sampai sekarang
Gue bukan nggak percaya sama suami gue.
Gue cuma nggak mau jadi orang yang nggak punya pilihan kalau hal yang nggak gue inginkan terjadi.
Punya penghasilan sendiri bukan ancaman buat rumah tangga.
Itu justru salah satu fondasi yang bikin rumah tangga bisa bertahan karena dua orang yang saling backup jauh lebih kuat dari satu orang yang nanggung semuanya.
R.A. Kartini udah bilang ini lebih dari 100 tahun yang lalu.
Dan kita masih debatin hal yang sama.
YAPPINGFESS@yappingfess
yap! apa cuma aku yang apa apa selalu dibeliin cowo aku 🥹🥹 ternyata cewe ga harus punya pengasilan sendiri kalo cowonya bener 🥰
Indonesia
v i r a retweetledi
v i r a retweetledi

Susah tau isi exclusive Rachel Vennya? Tapi mungkin kamu belum tauuu…
1. kasus Andrie Yunus dialihkan ke Puspom TNI;
2. prajurit tni gugur di Lebanon
3. berbagai daerah terancam tidak bisa melanjutkan kontrak ribuan pegawai PPPK dampak pemangkasan TKD
4. harga kertas & plastik naik drastis
5. Prabowo dan rombongannya menghabiskan 20 miliar rupiah dalam satu kali kunjungan kenegaraan
6. ACEH BELUM PULIH!!!!
Indonesia
v i r a retweetledi

School bus driver swears he only drank water… but all 15 kids are unconscious 😭
Prince Jdot@PrinceJdott
Wife paid $3,000 to have another woman seduce her husband… see what happened next ! 10/10
English
v i r a retweetledi

Tiap ada bayi lahir, doanya selalu "Semoga jadi anak yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama."
Jarang banget dengar orang tua yang doanya begini: "Semoga aku bisa jadi rumah yang nyaman buat dia, bisa menjamin pendidikannya, dan memastikan dia tumbuh di lingkungan yang sehat."
Harusnya kita dulu yang berjanji ke dia, bukan dia yang dituntut buat dunia.
Ken Kesey@berhomonim
Unpopuler opinion tentang menjadi orang tua.
Indonesia




