Baru dapet insight dari senior di kantor :
"Jangan overvalue yourself seberapa pun background pendidikan mu background keluargamu, atau pun kemampuanmu. Be humble untuk terus jadi the most stupid person in the room supaya kamu bisa terus belajar."
today’s lesson :
yang tidak sampai di kita, jangan dicari tau.
yang sampai dari mulut orang lain, jangan dipercaya.
yang sampai dari mulut orangnya langsung, dimaafkan.
Gua bilang mah negara daripada ngajarin tepuk sakinah ke calon pasutri mendingan ngajarin:
- basic accounting dan finance dalam rumah tangga
- pertolongan pertama bagi bayi dan anak
- pengetahuan obat-obatan dasar untuk demam, diare, etc
- pengetahuan gizi keluarga
Jelas kepake.
cong, semakin banyak lo toleransi ke pasangan lo, semakin pendek juga hubungan. relationship itu titik tumpunya bukan di toleransi, tp kompromi. sebanyak apapun lo maafkan dia tp kalo dia gabisa ngimbangin komprominya lo yaa tinggal nunggu dia ngulangin hal yg sama
“kamu nanti akan hidup bersama karakternya dan juga segala kurangnya.”
itulah kenapa menurut keyakinan saya; mengenal stress language pasangan itu lebih urgent ketimbang love language-nya!
ternyata kalo nggak bantuin orang lain itu gapapa, bukan karena gak peduli, tapi kita juga harus tau batasan. biarin mereka bertanggung jawab atas kesulitannya sendiri. nggak perlu mikirin orang lain terlalu jauh, kadang pas kamu lagi sulit pun cuma diri sendiri yang bisa bantu.