Sabitlenmiş Tweet
Lyn🦋.
4.3K posts


@tanyakanrl mual tiap lihat laptop nyala wkwk, deactivate ig dan nge-off-in wa seharian dalam rangka menghindari kontak dg temen-temen kampus🤪
Indonesia

@briankhrisna pohon asam jawa, pohonnya rimbun dan daunnya kecil-kecil, akarnya juga ga ngerusak trotoar
Indonesia
Lyn🦋. retweetledi


@roy1alien @LambeSahamjja sehematku ya kak, sppi/manajer koperasi itu di 2 tahun awal digaji oleh pt agrinas. baru setelahnya koperasi sendiri yg menggaji si manajer. sedangkan pengurus koperasi yg asli warlok upahnya cuma dari bagi hasil usaha yg dijalankan—yg itupun kami sendiri jg ga yakin bakal untung
Indonesia

@LambeSahamjja Berarti Purbaya gak tau gaji 30.000 manajer darimana, soale di bayarnya pake hasil bagi keuntungan koperasi gitu? Atau aku yg keliru?
Indonesia

Guys, ada berita dari Kepulauan Meranti, Riau yang menurut gue adalah salah satu cerminan paling jujur tentang kondisi program Koperasi Desa Merah Putih di lapangan.
13 dari 15 pengurus Koperasi Desa Merah Putih di Kepulauan Meranti mengundurkan diri.
Bukan dipecat.
Bukan dirotasi.
Mengundurkan diri.
Siapa yang mundur dan dari mana:
Yang mundur terdiri dari ketua pengawas, sekretaris, dan bendahara jabatan inti koperasi.
Tersebar di beberapa desa.
Dan yang paling mengejutkan: dalam satu desa, seluruh pengurus inti ketua, sekretaris, bendahara — mundur sekaligus secara bersamaan.
Bayangkan itu.
Satu desa.
Seluruh jajaran pengurus intinya angkat kaki di saat yang sama.
Alasan yang mereka berikan dan ini yang paling mengerikan:
Plt Kepala Dinas Koperasi Kepulauan Meranti, Eko Priyono, menyebut alasan pengunduran diri bervariasi:
Pertama — ada yang bekerja di luar daerah.
Artinya dari awal mereka menerima jabatan pengurus koperasi tapi tidak punya kapasitas waktu untuk menjalankannya.
Ini pertanyaan tentang proses seleksi yang perlu dijawab: siapa yang memilih pengurus-pengurus ini?
Kedua — ada yang tidak sanggup menjalankan tugas. Eko menjelaskan lebih jauh: mereka merasa terbeban dan takut harus mengganti uang. Padahal menurut Eko tidak ada ketentuan seperti itu.
Ketiga — soal gaji.
Para pengurus ternyata mengharapkan gaji tetap. Tapi dalam sistem koperasi tidak ada skema gaji tetap pengurus hanya mendapat bagian dari hasil usaha koperasi.
Dan ini yang paling kritis:
Eko berkata: "Saat pelatihan sudah dijelaskan.
Tapi, sepertinya ada yang tidak paham."
Kalimat itu adalah salah satu yang paling mengkhawatirkan dari seluruh berita ini.
Artinya: sudah ada pelatihan.
Sudah ada penjelasan.
Tapi pengurus tetap tidak paham sistem yang mereka masuki.
Dan ketidakpahaman itu baru ketahuan ketika mereka sudah dilantik dan sudah menjalankan program lalu memutuskan mundur.
Ini bukan masalah satu dua orang yang tidak baca buku panduan. Ini adalah kegagalan sistemik dalam proses onboarding program nasional yang nilainya ratusan triliun rupiah.
Konteks yang perlu dipahami dulu:
Koperasi Desa Merah Putih adalah salah satu program unggulan Presiden Prabowo.
Target nasional: 80.000 koperasi desa di seluruh Indonesia.
Anggaran yang disiapkan sangat besar.
Dan program ini ditargetkan berjalan cepat bahkan bangunannya di banyak daerah sedang dibangun oleh TNI.
Di Maluku Utara saja seperti yang gue bahas dari wawancara Sherly Tjoanda sudah dibentuk 185 Kopdes Merah Putih, sekitar 60 sedang dibangun. Tapi Sherly sendiri mengakui belum ada yang beroperasi.
Dan sekarang di Kepulauan Meranti bukan hanya belum beroperasi optimal.
Pengurusnya mundur massal.
Yang paling mengerikan dari seluruh situasi ini:
Program ini bukan program kecil-kecilan. Ini adalah program yang disebut sebagai tulang punggung ekonomi kerakyatan Indonesia. Yang dimaksudkan untuk menyejahterakan desa-desa di seluruh nusantara.
Tapi implementasinya memperlihatkan pola yang sangat mengkhawatirkan:
Satu — pengurus dipilih tanpa verifikasi kapasitas yang memadai.
Ada yang ternyata bekerja di luar daerah.
Bagaimana bisa seseorang yang bekerja di luar daerah terpilih sebagai pengurus koperasi desa?
Dua — pelatihan yang diberikan tidak cukup efektif untuk membangun pemahaman dasar.
Pengurus tidak paham bahwa tidak ada kewajiban mengganti kerugian pribadi.
Pengurus tidak paham bahwa tidak ada gaji tetap.
Ini adalah hal paling mendasar tentang cara kerja koperasi.
Tiga — tidak ada mekanisme deteksi dini. Ketidakpahaman ini baru terungkap setelah pengurus mundur — bukan sebelum mereka dilantik.
Soal ekspektasi gaji yang tidak terpenuhi dan ini yang paling realistis:
Orang-orang yang menjadi pengurus koperasi desa di daerah seperti Kepulauan Meranti bukanlah orang kaya yang punya tabungan cukup untuk bekerja sukarela. Mereka adalah warga biasa yang mungkin menerima tawaran jabatan dengan harapan ada kompensasi yang layak.
Ketika ternyata tidak ada gaji tetap dan kompensasinya hanya dari bagi hasil usaha koperasi yang belum tentu ada dan belum tentu cukup mereka mundur.
Ini bukan sikap yang salah. Ini adalah respon manusia yang sangat rasional.
Pertanyaannya adalah: kenapa sistem koperasi ini tidak mempertimbangkan realita ekonomi pengurus desa yang memang butuh kepastian kompensasi?
Kalau pengurus koperasi tidak dibayar dengan layak siapa yang mau dengan serius mengelola aset bernilai miliaran rupiah dengan penuh tanggung jawab?
Bandingkan dengan janji program ini:
Pemerintah membuka lowongan 30.000 manajer Koperasi Desa Merah Putih secara nasional. Program ini diklaim akan menjadi motor penggerak ekonomi desa. Gubernur-gubernur sudah melaporkan pembentukan koperasi selesai. Bangunannya dibangun TNI.
Tapi di lapangan: pengurus mundur massal karena tidak paham sistem, tidak ada kepastian kompensasi, dan merasa terbeban.
Dari luar terlihat program berjalan.
Di dalam orangnya angkat tangan.
Dan ini bukan hanya masalah Kepulauan Meranti:
Kalau di satu kabupaten saja sudah ada 13 pengurus yang mundur dalam satu waktu berapa yang terjadi di kabupaten-kabupaten lain di seluruh Indonesia yang tidak diberitakan?
Kepulauan Meranti ketahuan karena ada yang melaporkan. Tapi dari 80.000 koperasi yang ditargetkan di seluruh Indonesia — berapa yang mengalami hal serupa tanpa pernah muncul di berita?
Bottom line:
Koperasi Desa Merah Putih adalah program yang idenya tidak salah. Memberdayakan ekonomi desa melalui koperasi adalah gagasan yang sudah terbukti berhasil di banyak negara.
Tapi implementasinya memperlihatkan masalah yang sangat fundamental: program dijalankan dengan kecepatan yang melampaui kesiapan sistemnya.
Bangunan dibangun cepat. Pengurus dilantik cepat. Pelatihan diberikan. Tapi pemahamannya tidak terbangun. Ekspektasinya tidak diselaraskan. Dan pengawasannya tidak cukup ketat untuk mendeteksi masalah sebelum meledak.
Dan yang paling ironis: ini adalah program yang dimaksudkan untuk menyejahterakan rakyat desa. Tapi pengurus desanya sendiri mundur karena merasa terbeban dan tidak tahu apa yang mereka hadapi.
Kalau orang yang seharusnya menjalankan program saja tidak sanggup bagaimana rakyat desa yang seharusnya merasakan manfaatnya?

Indonesia

Lyn🦋. retweetledi

Bubarkan fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. Bubarkan prodi-prodi yang mencetak guru atau sarjana pendidikan.
Percumah, lulusannya hanya direndahkan dan dilecehkan terus-menerus oleh negara. Tak pernah sekalipun menjadi prioritas, meski pendidikan adalah amanat konstitusi.
tempo.co@tempodotco
JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri
Indonesia
Lyn🦋. retweetledi

Di suatu negara yang aneh
Negara tropis = buah mahal
Negara maritim = ikan mahal
Negara CPO = migor mahal
Negara SDA = listrik dan BBM mahal
Negara hukum = tunggu viral
Swasembada pangan = beras mahal
Bebas aktif = ikut BOP
Negara religius = korupsi nya banyak, sampai kitab Tuhannya dikorupsi
Semuanya karena sistem yang buruk dan political will yang tidak berpihak rakyat tapi berpihak cepat balik modal dan nambah kekayaan pribadi hehe
Indonesia

@yappingfess at least dia jujur dan terbuka nder, dan mau mengupayakan. kalo pun lu kecewa keknya ga perlu segitunya juga sih. itu cowo lu lg kesusahan, bukannya disupport malah dicemooh dibawa ke base
Indonesia
Lyn🦋. retweetledi

Bukti kuat bahwa negara gak kerja, gak hadir, salah pilih prioritas, bebal, culas, pongah, dan empatinya jatoh.
Kapan terakhir kali kamu liat presiden unggah konten perihal Aceh? Saat sholat ied? Saat diskusi harga sumur bor 150jt dan dianggapnya murah? Atau saat ia berkelakar di atas podium bahwa saat pemilu ia tak memenangkan suara di Sumatera, tetapi mengklaim ia dan pemerintahannya tetap 'mati-matian' untuk proses pemulihan bencana? Kapan?
Inilah Aceh saat ini, masih seperti ini.
Semoga lekas pulih, Aceh. 🥀
Humanies Project@humaniesproject
Selamat sore dari Gayo Luwes, Aceh.
Indonesia

@tanyakanrl kamu boleh menolong orang lain kalo dirimu juga sudah 'tertolong', jadi utamakan diri sendiri dulu.
bahkan dalam islam pun diutamakan untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarga sebelum bersedekah kpd orang lain. tapi ya wallahu'alam ya, balik lagi ke niat masing-masing
Indonesia

@collegemfs santai aja nder, dulu dosenku malah sarkas terus tiap bimbingan, tapi aku heha hehe aja dibikin enjoyyy😭
Indonesia
Lyn🦋. retweetledi
Lyn🦋. retweetledi












