T.E.H retweetledi

Malam ini, sebuah pesan WhatsApp masuk.
Kabar duka dari seorang kawan, ayahandanya sakit, masuk IGD, pakai BPJS kelas 1.
Masalahnya satu, ruang rawat inap BPJS kelas 1 penuh. Semua kelas 2 dan 3 pun penuh.
Akhirnya pasien tertahan di ruang observasi IGD cukup lama. Aku paham kondisi si kawan, sebagai anak rasanya pasti campur aduk. Cemas, takut dan pastinya gelisah
si kawan Minta tolong, bantu cari kan kamar
Di titik itu, jujur… situasinya dilematis. Di satu sisi, ada kawan yang butuh dibantu. Di sisi lain, ada sistem yang nggak bisa sembarangan diterobos.
Tapi malam ini, aku pilih bergerak.
Aku telepon pihak rumah sakit.
Kukonfirmasi, benar, ruang kelas 1 penuh?
Lalu aku tanya lagi, Kalau VIP ada kosong?
Jawabannya: ada.
Ya sudah, masukkan saja dulu ke VIP. Nanti kalau ada kelas 1 kosong, langsung dipindahkan.
Kurang lebih 30 menit kemudian, masuk pesan lagi.
Bapaknya sudah dapat kamar… tapi VIP.
Lalu si kawan bertanya, dengan nada ragu,
Ini nanti gimana ya kak? BPJS-ku kan kelas 1.
Aku jawab santai ala2 pejabat,
Sudah, nggak usah dipikir sekarang. Yang penting bapakmu sudah dapat ruangan dulu. Besok klo ada kelas 1 kosong pindah.
Selesai.
Dan tahu nggak?
Semua itu terjadi… cuma lewat WhatsApp.
Nggak ada tatap muka.
Nggak ada ribet sana-sini.
Cuma komunikasi, kepercayaan, dan sedikit keberanian buat ambil keputusan.
Di situ aku sadar,
modernisasi dan teknologi itu nyata. Bukan cuma soal canggih-canggihan, tapi benar-benar bisa meringankan beban manusia , di saat yang paling genting.
Kadang yang dibutuhkan bukan solusi yang sempurna,
tapi langkah cepat yang tepat.
Dan malam ini, satu keluarga bisa sedikit lebih tenang, karena sebuah pesan, dan keputusan yang nggak ditunda.


Indonesia

















