Sabitlenmiş Tweet
Muhammad Hasya Sabila
652 posts

Muhammad Hasya Sabila
@hasyaalive
I walk through tech like a whisper. I touch code with scripture. Hasya, the one you never knew you needed. | Soul-powered
Katılım Nisan 2022
440 Takip Edilen143 Takipçiler

Di buku The Khadijah Effect secara khusus:
“Perempuan yang Menolak Seluruh Pangeran Mekah”.
Standar bukan sombong, itu tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Mau baca bagian yang bikin kamu berani bilang ‘tidak’ dengan tenang? Reply ‘STANDAR’ yaa
#TheKhadijahEffect”
Indonesia

@skyholicc88 narasi seperti ini tidak merugikan Timothy terlebih dulu.
Yang pertama rusak justru kredibilitasmu sendiri.
Orang bisa salah.
Orang bisa dikritik.
Tapi kebencian tidak pernah membuat kritik menang.
Indonesia

Tidak semuanya bisa dibayar dengan uang. Kalian gak belajar dari kasus - kasus sebelumnya??
Berapa banyak triliuner yg disikat2in beberapa tahun belakangan?
Emang timboti lebih kaya dari mereka? lebih powerful dari mereka?
Kalau kebenaran dan masyarakat sudah bersatu, uang seberapa banyak pun gak akan bisa menang. 👌🏽
Elyon@Elyon690787
@skyholicc88 @OscarDarmawan @WilliamSutanto Bang jujur gua ragu misal lu berhasil laporin timo dan culay kayak nya mereka pun bisa bayar dan lawyer yg di sisi mereka juga lu tau lah bang gua ragu uang gua bakal balik mines gua di atas $10k soal nya ber kali kali lipat 😭
Indonesia

@kakehan_jupuke @DokterTifa Kritik yang kuat tidak butuh kebencian.
Kritik yang bermartabat tidak menyentuh ranah kemanusiaan.
Indonesia

@hasyaalive @DokterTifa Ya gak papa. Jokowi pantas manerimanya.
Indonesia

SOMEBODY PLEASE HELP HIM!
Bismillahirrahmanirrahiim
Kadang sejarah tidak runtuh dengan ledakan,
tetapi dengan suara yang pelan, rambut yang menipis, langkah yang melambat,
dan tatapan seseorang yang tiba-tiba tampak jauh dari dirinya sendiri.
Dalam neurosains, tubuh mencatat semua yang tak diucapkan.
Kortisol memendekkan telomer, ekor kromosom yang menjadi penanda harapan hidup,
Inflamasi kronik mengubah ekspresi gen,
dan wajah adalah layar bioskop tempat memori hidup diputar ulang.
Rambut gugur bukan hanya genetika, ia simbol mahkota biologis yang perlahan kembali ke tanah.
Dalam imunologi klinis, kita mengenal fenomena ketika tubuh menyerang dirinya sendiri.
Autoimun berat sering menampakkan tanda yang tak keras suaranya,
namun dalam diamnya kita membaca perang dari dalam:
•kulit pucat, warna tidak stabil, mudah meradang,
•moonface akibat retensi cairan dan efek steroid kronis,
•rambut menipis cepat, seperti mahkota yang mulai melepas bebannya,
•langkah yang pelan: bukan lemah, tapi seperti tulang yang memikul beban yang dibikin sendiri,
•tatapan kosong: brain fog, ketika pikiran lelah berperang dengan segala keadaan yang tak lagi bisa diatur dan dikuasai,
•postur sedikit membungkuk, seolah tubuh berkata aku bersikeras membalikkan waktu.
Tulisan ini bukan untuk menuduh seorang tokoh sakit.
Ini daftar tanda klinis umum, tetapi juga metafor politik tubuh.
Karena sering kali sejarah dan biologi memiliki pola yang sama:
tubuh yang lelah = kekuasaan yang selesai,
wajah yang pucat = cahaya kuasa yang menurun,
mahkota rambut yang luruh = era yang selesai.
Kekuasaan jarang runtuh dengan kerusuhan.
Ia surut dengan keheningan.
Dengan hilangnya karisma biologis,
dengan publik yang tidak lagi terpikat pada narasi lama,
dengan tubuh yang perlahan berubah menjadi cerminan saatnya layar panggung ditutup
Kita hidup di titik balik peradaban Nusantara.
Gelombang politik bergeser dari visual ke substansi,
dari teater kuasa ke audit memori,
dari figur tunggal ke kesadaran kolektif.
Indonesia sedang memasuki fase Working Prophecy,
dimana sejarah tidak hanya dicatat,
tetapi dirombak, ditafsir ulang, dan dilahirkan kembali.
Ini bukan tentang satu sosok.
Ini tentang sebuah era yang menua,
tentang medan energi bangsa yang bergerak,
tentang cerita yang meminta penulis huruf pertama baru.
Mungkin gejala-gejala pada tubuh hanya potongan kecil.
Namun bagi yang membaca dengan mata batin,
itu terasa seperti frekuensi alam yang berkata lirih:
“Bab ini sudah selesai.”
Autoimun biologis adalah ketika tubuh memerangi dirinya.
Autoimun politik adalah ketika bangsa memerangi ingatannya.
Dan di tengah inflamasi sosial itu, kita ditanya:
Apakah kita akan terus sakit,
atau mulai menyembuhkan diri sebagai satu tubuh bernama Indonesia?
Bangsa ini sedang berganti kulit.
Dan setiap helai rambut yang gugur di panggung sejarah,
adalah tanda bahwa halaman berikutnya menunggu dituliskan.
Saya, untuk kesekian kalinya berkata: tolongan diingatkan, kondisinya serius dan perlu perawatan, sebelum semuanya terlambat.
Laa haula wala quwwata ilabillah.
Salam takzim
dr. Tifauzia Tyassuma, M.Sc
Indonesia
Muhammad Hasya Sabila retweetledi

@DokterTifa Izin dok🙏
Ya, Joko Widodo tidak suci
kebijakannya bermasalah
Banyak skandal untuk dikritik
Banyak ketidakadilan yang nyata dirasakan orang kecil
Itu fakta politik
Dan kritik atas itu legitim
Tapi dok, anda bukan mengkritik
Itu dehumanisasi yang dibungkus estetika intelektual.
Indonesia