Raa
14.4K posts

Raa
@Hello_RaaRaa
Rekreasi, Hiburan, Kuliner dan Keluarga

dilarang mati sebelum jadi ibu yang gaul, yang bakalan dengerin semua cerita anaknya, yang bakal dukung semua apa yang anaknya mau, dan menjadi ibu terkeren di dunia.

-rek buat biaya hidup di sby 2jt cukup ngga ya? kira2 kos di sby kisaran berapa?

aku sebelum nikah pernah diginiin sama kenalanku, katanya dia iri aku bisa jalan-jalan terus (aku dulu freelance toue guide di luar kerja 9-5) sedangkan dia susah kmn2 krn anaknya banyak. Dulu sempet mikir, ah masa nanti gw kalo nikah bakal kayak dia juga. Ternyata enggak tuh, aku masih bisa jalan-jalan, nonton konser, seneng2 sama suami. "Oh belum punya anak aja" InsyaAllah ya kalo dapet rezeki anak, kita jadikan anak itu sebagai menambah kebahagiaan bukan dianggap sebagai beban hidup. sampe skrg udah tuh aku dan suami mikirin gimana nanti anak sekolah, saving buat liburan, kerjaan, dll. Sebel tiap liat konten abis nikah jadi kumel, abis nikah gak bisa kemana2, abis nikah gak bs seneng2. Like gurl, what's the point of getting married then if it's only bring you misery. I would rather stay single.

Udah gila anjing, pendidikan psikologi Indonesia masuk ke jurang yang kaya kaya dan stabil aja at this point. Kalo lo miskin atau ekonomi rentan, gausah mimpi jadi psikolog, apalagi psikolog klinis.


baru tau plasenta itu ternyata bagian dari ayah, bukan dari ibu, ternyata seorang ayah sudah melindungi anaknya sejak dalam kandungan makin nangis setelah baca komen ini🥺


Selamat untuk orang2 yg dapat! Jgn lupa isi form di atas! @ekchylp @vioslas @hello_RaaRaa @masoman112_ @putulumpia17 @kriskris1664482 @Bagas_KL @Ifidsafitri @pumagvillas @merkurikus @sapimomo99 @tuanazrull @julianbrams @yeahitsmepi @kageht_ @kmHzel @BlubluABC



[anak fhui bikin grup isinya lecehin perempuan tiap hari???]


“Para bapak, sudahi prinsip: mendidik anak laki-laki itu mudah. Turun tangan, didik anak laki-lakimu” Semalam 16 mahasiswa FH UI disidang sampai jam tiga pagi, sidang terbuka, disaksikan secara live oleh ribuan orang. Kejadian ini tidak tiba-tiba. Ini akumulasi. Terlalu lama society menelan mentah-mentah prinsip: “mendidik anak laki-laki itu mudah.” TIDAK. Justru karena dianggap mudah, banyak hal yang tidak diajarkan. Lihat saja pola yang sering diremehkan: Berawal dari obrolan santai yang melecehkan, jadi kebiasaan, jadi cara pandang, lalu jadi perilaku nyata (liat gambar piramida perkosaan) Tidak semua langsung jadi pelaku kekerasan seksual. Tapi hampir semua berangkat dari titik yang sama: normalisasi. Society sibuk mendidik anak perempuan: jaga diri, jaga batas, jaga perilaku. Tapi kendor pada anak laki-laki. “Namanya juga laki-laki.” “Cuma bercanda.” “Nanti juga ngerti sendiri.” "Boys will be boys" Tidak. Karakter tidak tumbuh sendiri. Ia dibentuk. Dilatih. Ditegaskan. Orang tua, perhatikan obrolan anak laki-lakimu. Kalau sudah mulai ada convo yang melecehkan: Tegur. Luruskan. Jangan ditertawakan atau dianggap enteng. Karena di situlah fondasi dibangun. Terutama para bapak. Anak laki-laki belajar bukan dari teori, tapi dari contoh. Bagaimana kamu bicara tentang perempuan. Bagaimana kamu memperlakukan pasanganmu. Bagaimana kamu menempatkan perempuan sebagai manusia, bukan objek. Semua itu direkam. Dan akan mereka ulang. Ketika seorang bapak menganggap mendidik anak laki-laki itu mudah, dia sedang memilih untuk menjerumuskan anak dengan tidak hadir secara penuh, tidak waspada, hingga di satu titik si anak bisa jadi pelaku ataupun korban. Anak kemudian dibesarkan oleh algoritma, oleh teman, oleh budaya yang seringkali permisif terhadap pelecehan dan standar moral yang yang tidak sehat. Kalau kita tidak serius mendidik anak laki-laki hari ini, jangan kaget dengan realitas besok. Karena pelaku tidak lahir tiba-tiba. Mereka dibentuk pelan-pelan, dari hal-hal yang selama ini dianggap “sepele.” Just incase ada yang komen: "emang siapa yang bilang mendidik anak laki-laki itu mudah? Saya dididik dengan sangat keras" Oh well, cara pandang itu sudah mengakar sejak lama di masyarakat.





