Sabitlenmiล Tweet
mon
5.9K posts

mon
@helssnarry
๐ษฆฮฑ๐ ๐พ๐ฃ๐ษฆฯ ๐๐ฮฑ๐๐ ๐น๐ญ๐ #1๐ง๐๐ฆ๐ญ๐๐ง๐ก๐จ๐ฅ๐ข๐ ๐ธ๐ฝ๐๐ธ๐ ๐๐๐๐๐ ๐ซโก ๐ท๐๐๐, ๐ ๐พ๐๐ ๐๐๐๐น๐ & ๐น๐๐๐๐๐ ๐
๐๐ถ๐ป ๐ป๐ฎ๐บ๐๐ฎ๐ป ๐ต๐ฒ๐ฎ๐ฟ๐ Katฤฑlฤฑm Kasฤฑm 2020
329 Takip Edilen1.1K Takipรงiler
mon retweetledi

@bete_sama_kamu @rockstarzszz @muteniche eh bolot klu tu laki yg kegoda ama boti berarti dia bagian dari LGBT juga pada dasarnya
Indonesia

@rockstarzszz @muteniche Misal ada boti anjing di sebuah tempat, nanti si boti anjing ini bakal goda2in cowok normal, beristri, punya anak, di area itu agar tertarik sama dia , cuikkkhhhh padahal boti anjing layak di lidahi muka nya,
Indonesia

Bahkan pos gini aja disuruh mati, dikatain hama huhu...


Zii@Nnariyahsaitama
Gue lahir di agama konservatif, bahkan pernah sekolah agama pas remaja. Tapi ngelihat ada temen cwo yg kemayu pdhl baik, rajin tapi sering dihina sama murid lain. Disana gue mikir, ini org ga salah apa2, bahkan kalau ada yg minta tolong dia juga bantuin. Kebukalah pola pikir gue.
Indonesia
mon retweetledi
mon retweetledi
mon retweetledi

Ga expect malam ini gw naik ojol.
Dan ternyata bapaknya adalah
driver yang lagi viral karena video dia yang bilang
โPak Nadiem itu pahlawan ekonomi saya!โ
Awalnya gw ga ngeh.
Sampe kita ngobrol ngalur ngidul
dan bahas tentang kasus Pak Nadiem, terus dia bilangโฆ
โMba tau video yang ngomong itu, itu saya tau mbaโ
Lhooo gw langsung kaget
Bapaknya cerita kalau udah jadi
driver Gojek dari tahun 2012.
Zaman Gojek belom pake aplikasi.
โDulu saya malah ngetawain Pak Nadiem mbaโ
Katanya dulu banyak yang nentang Gojek ini. Belum banyak yang mau jadi driver. Tapi bapaknya masih inget banget waktu Pak Nadiem bilang:
โNanti Gojek bakal besar.โ
Dan ternyataโฆ kejadian.
โSaya dulu tukang ojek pangkalan mbaโฆ
kadang sehari dapet penumpang aja susah.
Dapet 25 ribu aja udah syukur.โ
โMakanya saya bilang gitu Pak Nadiem tu Pahlawan Ekonomi saya itu nyata dari hati saya mbaโ sambil suaranya nahan nangis โSaya baru punya anak kembar waktu itu mba. Bingung gimana caranya ngidupin keluarga.โ
โTapi dari Gojekโฆ saya bisa punya penghasilan sampai 500 ribu sehari dulu.โ
โSampai akhirnya saya bisa cicil rumah. Bahkan sekarang punya 2 kontrakan.โ
cc:threadudahnyaman



Indonesia
mon retweetledi

sedih bangetโฆ
guys tolong up kasus ini. gue selalu perih tiap berita ttg Papua. mereka disana bener bener jauh keadaannya dgn kita.
alamnya dikeruk habis habisan, tapi penduduknya miskin. ditembaki pula. yaAllah
๐ธ๐๐๐๐๐ แดผแถ แถ โฑแถโฑแตหก@NenkMonica
"Stop civilians casualties" adili dan hukum aparat yg sok jago yg merasa hebat bisa bunuh sipil!
Indonesia

@txtdrimedia bajingan emangโฆ. near empatiโฆ komnas perempuan harusnya menjadi tempat girl support girl tp ah sudahlah
Indonesia
mon retweetledi
mon retweetledi
mon retweetledi
mon retweetledi
mon retweetledi
mon retweetledi
mon retweetledi
mon retweetledi

Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."๏ฟผ
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.๏ฟผ
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.๏ฟผ
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.๏ฟผ
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.๏ฟผ
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.๏ฟผ
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.๏ฟผ
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.๏ฟผ
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.๏ฟผ
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.๏ฟผ
Indonesia
mon retweetledi





















