Mas Yuda. retweetledi

Guys, ada trader yang baru saja update portfolio-nya di podcast dan angkanya menurut gue perlu dibahas dengan jujur dan lengkap.
Hengky Adinata dalam 9 bulan.
cuan Rp40 miliar.
Dan gue mau bedah ini sedetail mungkin bukan untuk bikin lo FOMO, tapi justru supaya lo paham apa yang sebenarnya terjadi di balik angka itu.
Siapa Hengky Adinata:
Trader saham full time.
Mulai trading serius sejak Covid-19 Maret 2020 — jadi sudah sekitar 6-7 tahun pengalaman.
Punya komunitas trader bernama Remora.
Dan dalam 9 bulan terakhi dari Juli 2024 sampai April 2026 porto-nya tumbuh sekitar Rp40 miliar.
Pertama — konteks yang sering dilupakan:
Angka Rp40 miliar dalam 9 bulan terdengar luar biasa.
Tapi ada beberapa hal yang perlu diletakkan bersamanya:
Satu — modal awalnya bukan kecil.
Dia sendiri bilang main saham-saham dengan size puluhan miliar per transaksi.
Untuk bisa menghasilkan Rp40 miliar modalnya sudah sangat besar sebelumnya.
Dua — dalam perjalanan 9 bulan itu dia sempat minus Rp60 miliar dari all time high sebelumnya.
Itu bukan drawdown kecil.
Itu adalah kerugian yang kalau dialami trader retail biasa sudah hancur total.
Tiga — dia sendiri mengakui ada faktor hoki yang tidak bisa diabaikan.
Market rebound setelah crash MSCI dan perang. Timing-nya kebetulan tepat.
Strategi konkret yang dia pakai dan ini yang paling berharga:
Pertama: Main saham konglo tapi pilih yang baby-nya:
Hengky tidak main saham induk konglomerat langsung.
Dia main anak perusahaannya yang lebih kecil, lebih lincah, dan spreadnya lebih besar.
Contoh: Pak Happy Habsoro dia main BUVA, bukan yang lain. Pak Bakri dia main ENRG, VKTR, BRMS. Pak PP dia ikut tapi tidak dari awal.
Kenapa baby-nya?
Karena spread pergerakannya lebih besar.
BUVA misalnya dari 1.000 bolak-balik ke 1.300, bolak-balik lagi ke 1.000. Spread 30% yang bisa dimanfaatkan berkali-kali.
Kedua: Baca broker summary dan bitover bukan hanya chart:
Yang dia track bukan hanya pergerakan harga.
Tapi siapa yang beli dan siapa yang jual melalui data broker summary.
Dia bisa mengidentifikasi pola spesifik asing tertentu misalnya AK dan BK yang konsisten beli di sore hari dan besoknya saham gap up.
Bukan dari Chart.
Bukan dari fundamental.
Tapi dari perilaku transaksi yang identik berulang.
ketiga : Tidak emotional attach ke saham:
Dia jual BUVA di 1.100 saham naik ke 1.300.
Dia tidak menyesal.
Dia kejar lagi di 1.200.
Kenapa?
Karena dia tidak takut kehilangan barang.
Prinsipnya: kalau mau kejar lagi kejar.
Kalau tidak mau cari saham lain.
Hidup terlalu sederhana untuk dipersulit.
keempat
Waktu crash adalah waktu paling penting untuk masuk:
Di Maret 2026 ketika semua orang lagi takut, fund manager full cash, market hancur Hengky justru pakai margin untuk pertama kalinya.
Masuk besar-besaran.
Kenapa dia PD?
Karena dia sudah hitung bahwa ini adalah panic selling bukan fundamentally ada yang salah. Dan Trump efeknya sudah mulai tidak berdampak ke market.
Hasilnya: rebound kencang. Porto balik ke all time high.
Bahkan super ATH.
Yang paling jujur dari seluruh conversation ini:
Hengky bilang sesuatu yang menurut gue adalah kalimat paling penting dari seluruh podcast:
"Saham turun bukan berarti lu lebih pintar dari fund manager.
Artinya ada sesuatu yang lu tidak tahu."
Dan di sisi lain:
"Kalau lu jual dan dia naik kejar lagi.
Jangan takut kehilangan barang."
Dua prinsip ini kalau benar-benar diinternalisasi bisa mengubah cara lo trading sepenuhnya.
Rp40 miliar dalam 9 bulan bukan keajaiban. Tapi juga bukan sesuatu yang bisa direplikasi semua orang.
Itu adalah hasil dari modal besar, pengalaman bertahun-tahun, disiplin yang tidak emotional, kemampuan membaca perilaku smart money, dan timing yang tepat di momen crash yang jarang terjadi.
Yang bisa diambil dari cerita Hengky bukan angkanya. Tapi prinsip-prinsipnya:
Jangan merasa lebih pintar dari fund manager. Ikut yang sudah terbukti jangan jadi inisiator. Tidak emotional attach ke saham apapun. Crash adalah kesempatan bukan ancaman. Dan yang paling penting: trading adalah soal karakter, bukan hanya soal skill.
Kalau lo belum punya karakter itu tidak ada sistem apapun yang bisa menyelamatkan porto lo.


Indonesia
































