whoinside

1.1K posts

whoinside

whoinside

@herebypet

Yogyakarta, Indonesia Katılım Ekim 2017
133 Takip Edilen57 Takipçiler
whoinside
whoinside@herebypet·
Level takut hari ini 100/5
Indonesia
2
0
1
19
whoinside
whoinside@herebypet·
Ish 🙃
QST
1
0
0
19
whoinside
whoinside@herebypet·
You’re seen, yet nowhere to be found :)
English
0
0
0
10
whoinside
whoinside@herebypet·
All that listening and understanding, yet once their needs are fulfilled, you quietly become taken for granted. Have you ever felt this? @petraradyab/about-in-between-2eeb41e9580b" target="_blank" rel="nofollow noopener">medium.com/@petraradyab/a…
English
0
0
0
73
whoinside
whoinside@herebypet·
@Rajjath24 Yeap, i learn and it changes my whole fucking life :)
English
0
0
0
57
Rajjath
Rajjath@Rajjath24·
please take the risk. worst case scenario: you learn. best case scenario: it changes your whole fucking life. and you very well know, you need that change.
English
136
14.2K
61.1K
990.5K
whoinside
whoinside@herebypet·
That was my morning. Besok pagi gimana ya ahahh 🏃🏻‍♀️
Filipino
0
0
0
30
whoinside
whoinside@herebypet·
Nothing complicated, really. Just a slow morning walk, fresh air, watching birds fly, trees everywhere, or any random thing that catches my eye. I snap a quick photo like I always do 📸😁
English
1
0
0
42
whoinside
whoinside@herebypet·
After a rough stretch lately, I realized something simple like a morning walk actually helps. The stress and exhaustion feel a little lighter.
whoinside tweet mediawhoinside tweet mediawhoinside tweet mediawhoinside tweet media
English
1
0
1
59
🐣
🐣@MUSIKMENFESS·
saran lagu jatuh cinta yang bener bener tulus 🩵
Indonesia
251
131
1.6K
89.9K
whoinside retweetledi
Bara
Bara@trickyinvestor·
Gak tau ini ada hubungannya apa engga, tapi ini tulisan yg layak dibaca.
Bara tweet mediaBara tweet media
Tahilalats@tahilalats

Indonesia
31
5.9K
12.7K
319.4K
whoinside
whoinside@herebypet·
Udah tau bodo dilanjutin pet 😮‍💨
Indonesia
0
0
1
22
whoinside
whoinside@herebypet·
@myXL min kalo kartu nomor lama bisa diubah jadi e-sim aja ga?
Indonesia
2
0
0
112
whoinside
whoinside@herebypet·
15/1: What comes after the rain? 🌧️ A cloudy sky slowly turning brighter
Water drops resting on the leaves
Petrichor lingering in the air
A gloomy feeling But it doesn’t always feel like this
Different times, different feelings
whoinside tweet mediawhoinside tweet mediawhoinside tweet mediawhoinside tweet media
English
0
0
0
46
whoinside retweetledi
𑣲
𑣲@feylings·
this is the truth of life
English
240
6.1K
19.9K
633.2K
whoinside
whoinside@herebypet·
@dymussaga Ternyata kejar KPI ini jadi masalah di banyak hal 🙂
Indonesia
0
0
1
516
Dym
Dym@dymussaga·
Selalu bertanya kenapa Badan Bahasa bukannya merekam perkembangan bahasa, melainkan memaksakan penggunaan bahasa-bahasa “baru”. Sebab aku menolak dipaksa menggunakan jenama, kenal asu, tulat, dsb yang asing di telinga. Ternyata jawabannya: ada KPI yang perlu dikejar.
Oni Suryaman@OniSuryaman

Lagi-lagi soal Kapitil Saya nulis ini sebenarnya sambil agak emosi (akan saya jelaskan). Kok bisa2nya entri kata seperti "kapitil" masuk KBBI. Di lain pihak, ini sebenarnya tidak mengejutkan karena dalam beberapa tahun terakhir ini KBBI mulai sembarangan memasukkan kata ke dalam KBBI, mungkin karena mengejar target. Semuanya ini dimulai karena nafsu mengejar jumlah kosa kata supaya "bisa disejajarkan" dengan bahasa-bahasa besar di dunia. LIhat: badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/berita-detail/… Tahun 2024 mereka ditarget untuk menambah 80.000 lema, mengejar target 200.000 lema. Saya kira target ini bisa jadi dijadikan semacam KPI bagi Badan Bahasa yang mengampu KBBI. Jadilah segala macam kata hantu belau dimasukkan ke dalam KBBI, termasuk yang terakhir ini: kapitil. Bagaimana sesungguhnya sebuah kata bisa masuk KBBI? Mengacu pada sebuah artikel yang ditulis oleh Badan Bahasa sendiri (badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/artikel-detail…), syaratnya ada lima. Mari kita lihat satu per satu. 1. Unik. Belum memiliki makna dalam bahasa Indonesia. Oke, boleh, dengan syarat jangan ngarang, dan jangan maksa. Kita sudah punya lema kapital untuk huruf besar, dan nonkapital untuk huruf kecil, ada juga onderkas, mungkin mirip seperti lowercase, sebuah kata lama peninggalan dari Belanda. Jadi, apakah kita butuh kapitil? Tidak. 2. Eufonik. Enak didengar. Ini keluhan yang paling banyak saya dengar saat orang berkomentar tentang kapitil. Apaan tuh? Kok bunyinya seperti ... (you know what I mean). Jadi syarat ini udah jelas-jelas dilanggar. 3. Seturut kaidah bahasa Indonesia dalam pembentukan kata. Saya pikir syarat ini kurang relevan 4. Tidak berkonotasi negatif. Lah, justru ini yang paling parah. Soalnya mirip dengan .... (you know what I mean) 5. Kerap dipakai. Memang, untuk membela diri, Badan Bahasa memasukkan entri kapitil sebagai ragam cakap, alias nonformal. Pertanyaan saya, dalam percakapan di mana muncul kata kapitil ini? Perasaan gak pernah dengar dan lihat. Ternyata jawabannya ada di sebuah artikel di detik: detik.com/edu/detikpedia… Kata ini berasal dari joke internal di Badan Bahasa. What?Joke internal boleh dimasukin kamus? Kalau begitu kenapa lema anjir, jancuk, dan cabe-cabean yang bahkan pemakaiannya jauh lebih luas tidak dimasukkan? Karena belum diusulkan masyarakat? Jawaban macam apa itu. Ini hanya menunjukkan satu hal. Badan Bahasa memegang cek kosong untuk memasukkan kata ke dalam KBBI secara semena-mena. Mereka bahkan melanggar aturan yang mereka buat sendiri. Bayangkan, joke internal kantor, yang tidak dikenal masyarakat luas bisa masuk kamus. Saya menyebutnya dengan istilah otoritarianisme bahasa, atau fasisme bahasa (grammar nazi, everyone). Sebagai penutup, saya mau cerita sedikit. Saya dulu pernah bersurat kepada redaktur KBBI perkara lema "batalion". Menurut saya, seharusnya yang masuk kamus itu adalah "batalyon", seperti yang umum dipakai oleh TNI. Kok KBBI tidak mengikuti pemakaian umum melainkan ngarang sendiri. Surat saya dijawab sederhana: bentuk bakunya adalah "batalion", tanpa membuka ruang diskusi. Kalau bukan fasis, apalagi namanya. (Update terakhir, kata "batalyon" dimasukkan sebagai varian dari "batalion") Bahasa adalah milik bangsa, milik pemakainya, bukan milik Badan Bahasa. Dengan memasukkan entri secara serampangan, Badan Bahasa sesungguh sudah merusak bahasa Indonesia. Ingat, "Bahasa Mencerminkan Bangsa." Mungkin rusaknya bangsa kita memang tercermin dari rusaknya bahasa Indonesia.

Indonesia
36
1.1K
5.3K
209.9K