solicitude_
338 posts

solicitude_
@herscakes
Support MoRa MoRa MoRa! Spread Love ✨💗
Katılım Mayıs 2025
84 Takip Edilen7 Takipçiler

@sugarnotcoat Omg damn you always know what I need to my monday mood! God bless youu 💗😚
English

@mumoraeyes FOR REAL BUVEM! FQ YG DEEPTALK KITA YG IKUTAN SESEK NAPAS! 🤧
Indonesia

@neeiod oiya jugaa yaa terlebih raisa tau banget mohan kayak gimana udh pacaran 2 taun juga! Makannya pas balik lagi ke hidup mohan dia masih konsisten sama rasa bencinya 🤧
Indonesia

@mumoraeyes Raisa tau kejadian yg depan matanya aja se sulit itu maafinnya apalagi tau lebih gw aja sakit banget! 😭🤧
Indonesia
solicitude_ retweetledi

@bvttercrisp Perkara scene 30 detik udh hilang arah semuaa mor ini arahnya kemanaa wkwkw
Indonesia
solicitude_ retweetledi
solicitude_ retweetledi
solicitude_ retweetledi

Setiap orang di dalam cerita itu selalu punya versinya sendiri. Dari sudut pandang yang satu, seseorang bisa kelihatan salah. Tapi dari sudut pandang yang lain, justru dia yang paling terluka. Dan hampir semua orang, kalau lagi ada di posisinya masing-masing, pasti akan cenderung membela diri.
Itu manusiawi.
Tapi yang menarik, nggak semua orang berhenti di situ. Ada yang akhirnya berani berhenti, mundur sedikit… dan melihat dirinya sendiri.
Di awal, Raisa juga sama seperti kebanyakan orang. Dia menyalahkan keadaan, menyalahkan situasi, terutama menyalahkan Mohan. Dia merasa ada yang berubah dari Mohan, ada yang hilang.
Makanya Raisa berusaha.
Dia tanya, “Ada apa?”
Dia coba cari celah, “Apa yang bisa aku perbaiki?”
Bahkan sampai di titik dia bilang kalau dia mau berubah, selama itu bisa bikin mereka kembali seperti dulu.
Di situ, Raisa belum benar-benar melihat ke dalam dirinya. Dia masih fokus ke “gimana caranya hubungan ini bisa diselamatkan.”
Pelan-pelan, Raisa mulai capek menyalahkan keadaan. Bukan karena dia menyerah, tapi karena dia sadar menyalahkan orang lain nggak pernah benar-benar menjawab apa-apa.
Akhirnya dia mulai tanya ke dirinya sendiri.
“Sebenarnya, salah aku di mana?”
Dan itu bukan pertanyaan yang mudah.
Karena begitu dia jujur, jawabannya juga nggak enak untuk diterima.
Raisa sadar kalau selama ini dia terlalu menekan Mohan. Terlalu ingin semuanya berjalan sesuai keinginannya. Kurang memberi ruang. Kurang benar-benar mendengar. Sampai tanpa dia sadari… harga diri Mohan ikut terluka.
Dan dari situlah semuanya mulai runtuh.
Mohan menjauh, bukan tanpa alasan. Hubungan mereka retak, bukan tiba-tiba. Bahkan sampai akhirnya Mohan mencari pelarian di tempat lain itu bukan sesuatu yang muncul begitu saja, tapi akumulasi dari luka yang nggak pernah diselesaikan.
Dan Raisa… akhirnya melihat itu.
Tapi memahami bukan berarti rasa sakitnya hilang.
Justru di titik itu, Raisa mungkin lebih sakit dari sebelumnya. Karena sekarang dia bukan cuma kehilangan, tapi juga tahu kenapa dia kehilangan.
Dan tetap… dia nggak bisa memperbaikinya.
Di situlah keputusan terberat yang dia ambil muncul.
Raisa memilih mundur.
Bukan karena dia berhenti peduli. Justru karena dia masih peduli, tapi dia tahu memaksakan diri hanya akan melukai lebih dalam baik dirinya sendiri maupun Mohan.
Dia memilih untuk melepaskan. Membiarkan Mohan bahagia, meskipun bukan bersamanya. Dan untuk pertama kalinya, Raisa benar-benar diam. Nggak mengejar, nggak memaksa, nggak mencoba mengubah apa pun.
Dia hanya menerima.
Dan itu… bentuk kedewasaan yang nggak semua orang bisa lakukan.
Lalu waktu berjalan lagi.
Dan tanpa direncanakan, keadaan mempertemukan mereka kembali.
Kali ini beda.
Raisa datang bukan sebagai seseorang yang ingin memiliki, tapi sebagai seseorang yang peduli. Dia membantu Mohan sebagai teman, tanpa ekspektasi, tanpa harapan tersembunyi. Nggak ada lagi dorongan untuk “balikan,” nggak ada lagi ambisi untuk memperbaiki masa lalu.
Dia hanya ada.
Dan justru dari situ… semuanya mulai tumbuh lagi.
Perlahan. Natural. Nggak dipaksa.
Hubungan mereka kembali terbangun, tapi dengan versi diri yang sudah berubah. Raisa yang sekarang lebih tenang, lebih memahami, dan lebih tahu batas. Mohan pun bukan orang yang sama seperti dulu.
Sampai akhirnya, mereka memilih untuk kembali bersama.
Bukan karena mereka kembali ke masa lalu, tapi karena mereka sudah melewati proses yang membuat mereka siap untuk memulai lagi dengan cara yang berbeda.
Dan kalau dipikir-pikir… perjalanan Raisa ini bukan cuma soal cinta.
Ini tentang belajar berhenti menyalahkan dunia, dan mulai berani melihat ke dalam diri sendiri.
Tentang sadar kalau kadang, kehilangan bukan cuma karena orang lain pergi, tapi karena kita belum benar-benar mengerti bagaimana cara menjaga.
Indonesia

Kangenn bangett mami papi plissss udh gakuattt! 🤧💗
Rain ᥫ᭡.ೀ@beforegrain_
ayoo i love you i love you an lagiii mami papikuuu
Indonesia
solicitude_ retweetledi

aman aja kita mah. kita udah menerima dari sejak mohan ke rs nyamper kalo mora pun pernah plenger. buat apa ngerasa marah dan ngrasa bener terus kalo emang semuanya terjadi untuk proses pendewasaan hubungan mora juga🤗
ruu@skywtrain
Kemungkinan mora hari ini kesenggol ada banget, but i hope piyik stay calm. Kita udah mengakui mora zaman itu emg toxic dan salah, jadi yaudah biarlah itu berlalu, kita juga must go on. Kalo dipancing huru hara, jangan terpancing ya guys
Indonesia

@nfavghn setuju kaa emang udah pas banget dialog pov raisa waktu di ruko "gaada yg lebih bersih diantara mereka berlima dulu, semua punya salah masing-masing"
Indonesia

@erlovesy Udah beberapa kali mohanagz mah waktu curhat sama vio, ngobrol berdua sama fattah di depan ruko, scene di rumah sakit yg samperin raisa, yg di ruko bareng elite squad juga, harusnya pov mohan udh clear
Indonesia
solicitude_ retweetledi

@flyingbutter26 Kalo mora harusnya udh lengkap sih soal pov mereka satu sama lain, pov raisa pas di ruko kan ada mohan trus pov mohan juga udh pas nyamperin raisa ke rumah sakit jadi harusnya udh clear but yah semoga udh bener" gada lagi huaa
Indonesia



























