zhil@zhil_arf
Pada 1983, ketika China sibuk membasmi preman, Indonesia juga sibuk membantai manusia.
Yang dibantai adalah populasi Timor Timur.
Sepertiga populasi Timor Timur mati dibantai.
Preman yang dibantai Soeharto: ribuan.
Populasi Timor Timur yang dibantai Soeharto: ratusan ribu.
Ternyata, pembunuhan massal adalah hal yang enteng-enteng saja dilakukan diktator seperti Soeharto. Ia memiliki kekuasaan mutlak untuk melakukan itu.
Apakah kekuasaan itu dipakai untuk hal bermanfaat membasmi tuntas premanisme seperti di China? (Note bahwa 1.7 juta preman di China tidak digenosida, hanya ditangkap. Ini sudah sangat cukup).
Ternyata tidak. Kekuasaan dan impunitas Soeharto malah dihamburkan oleh Soeharto untuk menjajah dan menggenosida Timor Timur.
Soeharto juga jadi terbukti tidak ingin membersihkan Indonesia dari preman. Soeharto justru menertibkan, memelihara, mengontrol, dan melembagakan preman. Ia dan keluarganya ingin menjadi the Lord of Crime.
Kekuasaan diktator dan impunitas Soeharto bukannya dipakai secara bijaksana seperti Deng Xiaoping, melainkan disia-siakan untuk menjajah, membantai, dan merampok Timor Timur.
Di bawah Soeharto, Timor Timur menjadi seperti di Gaza. Soeharto berperilaku seperti Netanyahu di Israel.
Salah satu pembantaian massal Timor Timur yang paling gila sadis dan mengerikan terjadi di Kraras pada tahun 1983.
Seluruh populasi berjenis kelamin laki-laki di Kraras, termasuk seluruh anak kecil, mati dibantai tentara sampai habis.
Sampai sekarang perwira lapangan yang menjadi dalang pembantaian mengerikan itu tidak pernah diusut.
Perwira lapangan spesifik itu malah dibiarkan liar membunuh, membantai, dan mengacau di Timor Timur selama bertahun tahun.
Ia sangat sadis dan di luar akal sehat sampai Gubernur Timor Timur saat itu, Mario Carasscalao, terbang ke Jakarta memohon pada Panglima ABRI Try Sutrisno supaya perwira meresahkan yang spesifik itu dicopot dan dipindahkan ke tempat lain.
Alasannya bukan hanya karena perwira itu sangat hobi membunuh dan membantai rakyat Timor Timur seperti psikopat, melainkan juga karena kelakuan liar dan belagunya sudah sangat membahayakan satuan-satuan ABRI yang lain.
Salah satu perwira ABRI yang pernah menjadi atasan perwira itu, A.M. Hendropriyono, juga resah karena tes psikologi perwira tersebut menunjukkan gejala psikopat.
Gejala psikopat ini ternyata dibuktikan dengan sederet pembantaian mengerikan dan tidak lazim yang ia lakukan di Timor Timur, seperti di Kraras.
Di Timor Timur, perwira ini juga merekrut segerombolan preman buas yang mau mengkhianati rakyat Timor sebangsanya sendiri dan membantu si perwira dalam berbagai kejahatan mengerikannya.
Tidak seperti Carasscalao yang memedulikan nasib rakyatnya, gerombolan preman rampok ini benar-benar seperti monster buas. Mereka membunuh, merampok, mencuri, dan memerkosa rakyat Timor.
Gerombolan iblis ini jelas dilindungi keluarga Cendana selaku the Lord of Crime, sehingga tak tersentuh apapun yang menyerupai Petrus.
Ketika perwira psikopat ini kembali ke Indonesia, gerombolan preman dan bandit buas mengerikan yang ia pelihara juga berbondong-bondong ikut.
Gerombolan sadis ini kemudian sampa di Jakarta, menetap, lalu merekrut preman baru dan tumbuh membludak seperti hama tikus di Jakarta.
Orang-orang Timor yang mengkhianati bangsanya sendiri ini meneror, memalak, dan merampok penduduk ibukota dan sekitarnya sampai hari ini, terutama penduduk Jakarta yang miskin. Hari ini ormas premannya mengklaim punya setengah juta anggota.
Preman-preman Timor ini dilaporkan AsiaWeek sangat terlibat dalam berbagai kerusuhan, pembakaran, pemerkosaan massal, dan pembunuhan massal Mei 1998.
Ratusan orang penjarah mati terbakar di mall Klender setelah gerombolan yang diduga preman pengacau menutup pintu-pintu dan membakarnya.
Hari ini shock video ratusan mayat manusia yang gosong di Klender dapat dilihat di YouTube.
---
Keluarga Cendana selaku the Lord of Crime memelihara preman buas di Timor Timur, kemudian memasukkan mereka ke Jakarta. Rakyat kecil di Jakarta dirampok, diteror, dan ditindas oleh gerombolan preman mengerikan ini.
Tentu saja, gerombolan preman ini berjumlah kecil jika dibandingkan gerombolan preman bengis dan rampok peliharaan keluarga Cendana yang lain, yang seragamnya berwarna cerah dan mudah dikenali.