🦌 retweetledi
🦌
1.1K posts

🦌 retweetledi

@ririnde_ @pertamina135 maaf kak, mau tanya akhirnya udh bisa login lagi apa blum kak? soalnya aku juga pnya masalah sama:"(
Indonesia

@pertamina135 Halo min
@pertamina135 mohon bantuan terkait follow up ID pelaporan : 20260404215438148. Terkait 2FA yang hilang di web recruitment untuk dibantu karena mendapat undangan BPS dari Pertamina dengan tenggat waktu konfirmasi besok 10 April 2026. Terima kasih 🙏
Indonesia

Jadi kalau kamu butuh bantuan, just contact me aja~😎
#MyPertamina #Pertamina135 #Open24Hours #PertaminaContactCenter135 #Pertamina


Indonesia
🦌 retweetledi

nggak pakai mikir panjang: jokpin.

i-Pop HQ@iPopHQ
In honor of National Poetry Day, name your favorite Indonesian poem of all time.
Indonesia
🦌 retweetledi
🦌 retweetledi
🦌 retweetledi

@hwanttofly @tradexch halo kakkk, mjb boleh tanya2 tentang interviewnya ga ya
Indonesia
🦌 retweetledi

@hwanttofly @tradexch kak tes tgl berapa kalo boleh tau?
Indonesia
🦌 retweetledi

@burntheimpala Klo jiwa gw msih smp deh, tahun 2016 tuh knp ttp stay di gw ya
Indonesia
🦌 retweetledi
🦌 retweetledi

Baru tahu kalau kupu-kupu bahkan tidak bisa melihat sayapnya sendiri, dan itu bikin aku kepikiran… kebanyakan orang juga nggak menyadari betapa indahnya diri mereka dan seberapa jauh mereka sudah tumbuh dan berkembang.
aesthetic vibes@aesthetic2002
Girl to girl: enjoy your slow life, stay private, & be SO selective with your energy.
Indonesia
🦌 retweetledi
🦌 retweetledi

“Dunia ini cukup untuk kita semua”
Aku tiba-tiba ingat kata Psikologku (iya, Psikolog juga ke Psikolog), begini katanya:
“Nell, kita semua itu punya peran masing-masing. Tidak semua orang harus ‘bersinar’ dengan intensitas yang sama.
Ada Psikolog yang terkenal, kayak xx tapi ada juga yang nggak, kayak saya.
Tapi kalau orang yang biasa-biasa aja kayak saya gak ada terus yang ngelayanin kamu konsul siapa?
Dunia ini cukup untuk kita semua.”
Pas dengar itu, aku merasa…lega. Separuh rasa cemasku mereda di tengah-tengah perkuliahan yang bikin aku merasa gak percaya diri dengan kemampuanku.
Aku membandingkan diriku dengan teman-teman lain yang menurutku hebat-hebat sekali. Ditambah standarku memang tinggi. Aku takut tidak jadi “apa-apa”, tidak dapat tempat.
Pelan-pelan aku mulai menata diriku lagi. Semuanya tidak harus sempurna. Aku hanya perlu tetap jalan.
Toh, secara objektif “biasa-biasa”nya aku sebenarnya buat orang lain itu bagus, tidak ada masalah.
Sampai sekarang, aku masih perlu mengingatkan diriku secara berkala,
“Setiap orang punya sinar yang berbeda, seperti bintang. Ada yang terlihat terang dan besar, ada juga yang kecil. Namun, keduanya sama-sama cantik dan penting.”
Hari ini pun aku mengingat kembali, aku mungkin tidak jadi musisi andal seperti Mozart tapi musikku cukup untuk anak-anak. Mungkin juga untuk sobat twitterku.
Dunia ini cukup untuk kita semua. Aku harap, kita yang lagi merasa tergesa-gesa bisa mengingat ini 💛
Indonesia
🦌 retweetledi















