Sabitlenmiş Tweet
Bakmi Jawa
52.9K posts

Bakmi Jawa
@ibnu_bonsai
-Life is Better without Feeling~ #Undermaintenance
Jepara, Indonesia Katılım Nisan 2011
618 Takip Edilen749 Takipçiler
Bakmi Jawa retweetledi

Di suatu negara yang aneh
Negara tropis = buah mahal
Negara maritim = ikan mahal
Negara CPO = migor mahal
Negara SDA = listrik dan BBM mahal
Negara hukum = tunggu viral
Swasembada pangan = beras mahal
Bebas aktif = ikut BOP
Negara religius = korupsi nya banyak, sampai kitab Tuhannya dikorupsi
Semuanya karena sistem yang buruk dan political will yang tidak berpihak rakyat tapi berpihak cepat balik modal dan nambah kekayaan pribadi hehe
Indonesia
Bakmi Jawa retweetledi

Unpopular opinions about rokok.
Negara rugi jauh lebih besar daripada untung dari rokok (kerugian 3x lipat cukai).
Cukai rokok menghasilkan Rp217–230 triliun per tahun, tapi kerugian makro ekonominya Rp400–600 triliun (3x lipat).
Hanya sebagian kecil (sekitar Rp7 triliun via pajak rokok + subsidi APBN) yang langsung mendukung BPJS, sementara BPJS justru keluar Rp10–17 triliun per tahun untuk biaya pengobatan penyakit rokok.
Ini sering disebut “dilema dana sehat”. Cukai rokok “membayar” penyakit yang diciptakannya sendiri.
Data ini bersumber dari Kemenkes, DJBC Kemenkeu, CISDI, dan laporan resmi 2024–2025.
Sini kalian pecandu rokok, bantah kalau berani

Indonesia
Bakmi Jawa retweetledi

Guys, Sherly Tjoanda Gubernur Maluku Utara baru duduk di depan salah satu pewawancara politik paling tajam di Indonesia dan jawabannya lebih jujur dari kebanyakan politisi yang pernah gue dengar.
Tapi justru itu yang bikin gue khawatir.
Konteks yang perlu diingat dulu:
Sherly bukan politisi karir. Dia pengusaha. Istri Bupati Morotai Benny Laos yang meninggal dalam kecelakaan kapal 12 Oktober 2024 42 hari sebelum pilkada.
Malamnya ketua partai langsung datang ke rumah sakit dan bilang Sherly harus lanjutkan perjuangan. Sherly menolak. Lalu anak-anaknya minta dia maju. Dan dia akhirnya setuju bukan karena ambisi politik tapi karena tidak mau cita-cita suaminya selesai begitu saja.
51% suara di pilkada. Menang. Dilantik sebagai gubernur.
Yang pertama langsung dihajar oleh host:
"Anda tidak merasa dimanfaatkan oleh partai-partai politik itu?"
Jawaban Sherly yang membuatnya berbeda dari politisi kebanyakan:
"Dalam hidup ini kita semua saling memanfaatkan dengan tujuan masing-masing. Tujuan saya waktu itu saya harus menang dan menyelesaikan janji almarhum."
Tidak defensif. Tidak berpura-pura murni. Tapi juga tidak naif dia sadar bahwa ada transaksi di balik semua dukungan itu.
Pengakuan paling jujur dari seorang gubernur:
"Saya ini kertas kosong. Kanvas kosong. I know nothing."
Dan dia tidak bilang itu untuk merendah. Dia bilang itu karena itu fakta dan dia memilih belajar dari nol daripada pura-pura tahu.
9 bulan pertama dia habiskan untuk belajar teknis birokrasi ketemu semua dirjen, semua OPD, baca sendiri, bahkan tanya ChatGPT untuk hal-hal teknis yang belum dia pahami.
"Saya bahkan bilang langsung ke delapan partai koalisi dari awal: saya tidak bisa bicara bahasa politik. Kalau menginginkan A katakan A. Saya tidak mengerti kalimat bersayap."
Dan inilah yang membuat host langsung pasang sinyal bahaya:
Maluku Utara bukan provinsi biasa. Ini provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia 39% karena nikel dan tambang yang luar biasa besarnya.
Dari smelter saja ekspor per tahun mencapai hampir Rp150 triliun. IUP yang aktif menghasilkan sekitar Rp54 triliun setahun.
Tapi Maluku Utara sebagai daerah tidak punya satu pun IUP sendiri. BUMD-nya tidak aktif sejak 2016 kena pemeriksaan BPK dan KPK dan untuk mengaktifkannya kembali butuh waktu 6 bulan sampai 1 tahun.
"Kalau ini perusahaan BUMD punya satu IUP saja PAD bisa tambah 2 sampai 3 triliun per tahun."
Tapi itu tidak dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya selama 10-15 tahun tambang jalan.
Siapa yang menikmatinya? Bukan rakyat Maluku Utara.
Dan di sinilah host menyampaikan pesan yang paling penting:
"Anda sudah terlanjur bersepakat. Partai-partai mendukung Anda. Pada saatnya Anda harus tahu diri Anda harus bayar hutang."
Sherly sadar akan ini. Tapi jawabannya jujur:
"Belum. Saya belum menyiapkan diri untuk itu."
Bukan karena tidak mau. Tapi karena dia benar-benar belum sampai ke titik itu dan dia tidak mau berpura-pura sudah siap untuk sesuatu yang belum dia pahami sepenuhnya.
Soal oligarki dan dinasti pertanyaan yang paling tidak nyaman:
Host bertanya langsung: apakah Sherly merasa bagian dari oligarki dan dinasti?
"Saya tidak merasa bagian dari itu."
Tapi host tidak membiarkan itu lewat begitu saja. Suami Sherly mantan bupati. Sekarang Sherly gubernur. Peta bisnis keluarga ditampilkan di layar puluhan PT terhubung dalam satu grup.
Sherly menjawab: sebelum dilantik dia sudah keluar dari semua kepengurusan. Saham masih ada karena secara hukum boleh. Dan LHKPN almarhum suaminya justru turun selama 5 tahun jadi bupati bukan naik.
"Semua yang dimiliki sudah ada sebelum beliau menjadi bupati. Almarhum bahkan tidak boleh saya menggunakan fasilitas jabatan. Dia bilang ada yang namanya korupsi kepatutan."
Satu hal yang gue catat dan menurut gue penting banget:
Sherly menang pilkada tanpa money politics. Tidak ada uang di hari H pemilihan. 367.000 orang memilihnya.
"Saya harus memulai dengan benar. Karena ketika rakyat memilih pemimpin karena uang bukan karena hati nurani mereka akan menghasilkan pemimpin yang memperbudak nurani."
Di negara di mana money politics sudah menjadi norma pernyataan itu bukan sesuatu yang bisa diabaikan.
Yang paling bikin gue mikir dari seluruh obrolan ini:
Host menutup dengan satu kalimat yang tajam:
"Ada kecerdasan di dalamnya. Ada keteguhan. Tapi ada juga naif di dalamnya."
Dan itu mungkin diagnosis yang paling akurat. Sherly cerdas dan tulus tapi dia masuk ke sistem yang tidak dirancang untuk orang seperti dia. Sistem yang sudah menunggu untuk mengujinya dan yang paling berbahaya sudah menyiapkan tagihannya.
Apakah dia akan tetap berdiri setelah 5 tahun? Atau akan menjadi satu lagi nama yang kita sebut sambil menggelengkan kepala?
"Undang saya lagi 5 tahun dari sekarang. Saya akan duduk di sini dan bilang: I did it."
Gue harap dia benar.

Indonesia
Bakmi Jawa retweetledi
Bakmi Jawa retweetledi
Bakmi Jawa retweetledi

