Sabitlenmiş Tweet
Don Kusumo
8.1K posts

Don Kusumo
@ibnuksm
don't forget to breathe
Sicily, Italy Katılım Şubat 2012
378 Takip Edilen412 Takipçiler

Terus para boomer boomer itu bertanya kenapa generasi kita ga nasionalis dan ga mau bekerja di institusi negara ☺️
Jeni_Ly again@Jelli_cent
Gilaaaa!!! Tuntutan thd Nadiem Makarim adl *Penjara: 18 Tahun *Denda : 1 Milyar (190 hari) *Uang Pengganti 809 Miliar + 4 T (9th) Pdhl di setiap persidangan dakwaan thd Nadiem terbantahkan.😓 Tetap kuat Nadiem 💪🏻 Masih ada proses selanjutnya. Smoga Majelis hakim memegang asas keadilan & berpikir sangat jernih dlm memutuskan kasus ini. Berani memegang prinsip beyond a reasonable doubt. Amin 🙏🏻
Indonesia

Sering nyeker tuh bikin tumit retak retak fyi
alfin rizal@alfinrizalisme
jalan-jalan pagi dengan kaki telanjang, fren.
Indonesia

@FaktaSepakbola Emyu paling bnyk tp pialanya paling bnyk arsenal. Ga di liga inggris, di fa cup cm jd satpam trofi awkaowak ketika lu mau banter arsenal tp malah emyu yg dibanter awlaowak selalua ada celah banteran buat si king akwaoak
Indonesia

Laki-laki tidak bercerita
Foto foto saat mau pergi keneraka selamanya👹👹.
Awas klo ada yg komplain, semua agama itu mengharamkan bunuh diri jadi jangan komplain kalo orang ini masuk neraka selamanya!!
Saya sendiri pun ga tau akan masuk neraka atau pun surga, tapi jangan sampai teman²ku semua ada yg kepikiran untuk Bunuh diri, cukup mreka saja..

Indonesia


@nobartvnews @LambeSahamjja Karena masih banyak orang2 tua goblok & kolot
Indonesia

@LambeSahamjja Pakem lama masih dipakai karena mereka sudah nyaman dengan tradisinya dan malas untuk belajar hal baru ... Jadi mandek ga ada kemajuan, kita perlu pejabat yang punya pola pikir reformis
Indonesia

Guys, ada momen di rapat DPR
seorang anggota DPR marah dan heran
Dan yang ngomong ini bukan aktivis.
Bukan pengamat.
Ini anggota DPR sendiri yang semprot Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya secara langsung di depan muka.
Pertanyaan yang paling mendasar yang dia lempar:
Kalau kita sudah punya big data
orang datang ngurus KTP
masa dimintain fotokopi KK lagi?
Gua punya KTP untuk apa?
Masih dimintai fotokopi KTP.
Kan aneh.
Surat lahir,
surat baptis masih diminta.
Wah, pusing. Negara kita kayak begini.
Ini bukan pertanyaan teknis yang butuh jawaban panjang.
Ini pertanyaan yang semua orang Indonesia pernah tanyakan dalam hati setiap kali berurusan dengan birokrasi.
Dan jawabannya tidak pernah memuaskan selama puluhan tahun.
Faktanya yang bikin makin miris perbandingan dengan Malaysia:
Indonesia punya e-KTP sejak 2011.
Ada chip NFC.
Ada data biometrik.
Teknologinya canggih.
Anggarannya triliunan rupiah.
Malaysia punya kartu yang secara teknologi identik namanya MyCAD.
Bedanya satu hal:
Malaysia benar-benar memakainya.
Di Malaysia mau isi BBM subsidi tinggal tap MyCAD di pompa bensin.
Sistem langsung cek identitas, cek kuota, kasih harga subsidi otomatis.
Tidak perlu antri.
Tidak perlu surat keterangan.
Tidak perlu aplikasi.
Tidak perlu fotokopi.
Setiap warga dapat kuota 200 liter per bulan.
Kalau kuota habis bayar harga normal.
Tidak bisa diakali.
Kalau ketahuan curang kuota diblokir permanen.
Hasilnya:
pemerintah Malaysia hemat RM600 juta per bulan.
Penjualan diesel bersubsidi turun 30%. Penyelundupan langsung terdeteksi.
Indonesia?
e-KTP yang sama teknologinya selama 15 tahun masih dipakai untuk difotokopi.
Dan ini yang paling menohok dari seluruh pidato itu:
Kita harus bilang kita lebih bodoh dari orang Malaysia kalau urusan ini.
Karena enggak pernah kelar.
Kalimat itu keras.
Tapi tidak salah.
Soal pemborosan anggaran yang berlangsung setiap tahun:
Ini yang menurut gue paling menyakitkan secara fiskal.
BNI punya data nasabah sendiri.
Pertamina buat sistem data sendiri untuk subsidi.
KPU setiap pemilu buat pendataan pemilih sendiri yang nilainya triliunan setiap siklus.
BPJS punya database sendiri.
Kemendikbud punya data sendiri.
Kemensos punya data sendiri.
Semua lembaga membangun silo data masing-masing.
Semua dengan anggaran masing-masing. Semua dengan vendor masing-masing.
Semua dengan tender masing-masing.
Dan di ujung semuanya data tetap tidak terintegrasi. Rakyat tetap diminta fotokopi KTP setiap kali berurusan.
Kita kalau urusan ngamburin uang tuh juara satu. Untuk data saja triliunan kita buang tiap tahun.
Cerita yang paling menyentuh dan ini yang paling human:
Anggota DPR ini bercerita soal kondisi di dapilnya di Kalimantan Utara.
Banyak warga dari NTT, NTB, Toraja yang kerja di Malaysia banyak secara ilegal.
Ketika mereka diusir setelah tidak digaji atau dieksploitasi paspor dan KTP mereka sudah disita oleh majikan.
Mereka pulang ke Kalimantan tanpa dokumen.
Tanpa uang.
Tanpa apa-apa.
Dan ketika mereka coba mengurus KTP baru mereka diminta KK.
Diminta fotokopi KTP lama yang sudah disita.
Diminta surat lahir yang ada di kampung di NTT yang jauh.
Untuk makan aja enggak ada. Sekarang mereka terkapar di perkebunan-perkebunan, digaji di bawah UMR, enggak punya BPJS, enggak punya apa-apa.
Dan sistem birokrasi yang seharusnya melindungi mereka justru menjadi tembok yang tidak bisa ditembus.
Makanya saya bilang KTP itu hak asasi.
Soal keamanan data ini juga perlu diangkat:
Dia menyebut setiap hari dia menerima minimal 50 WhatsApp dan telepon yang menawarkan emas, saham, investasi bodong.
Gimana keamanan data kita ini?
Siapa yang harus bertanggung jawab?
Masa kita terus diganggu hal seperti ini?
Dan tidak ada jawaban jelas apakah yang bocor itu data adminduk, data bank, atau data operator telekomunikasi.
Tidak ada institusi yang maju mengambil tanggung jawab.
Solusi yang dia minta dan ini bukan permintaan yang rumit:
Satu — sinkronisasi semua data di bawah satu gatekeeper. Kemendagri sebagai pemegang e-KTP harus jadi koordinator. Semua lembaga lain berhenti bikin database sendiri.
Dua — chip e-KTP harus diaktifkan untuk semua layanan publik. Tidak ada lagi fotokopi. Tidak ada lagi surat lahir. Cukup tap kartu.
Tiga — presiden harus turun tangan dan memerintahkan sinkronisasi ini di level ratas. Karena tanpa political will dari atas tidak ada satu lembaga pun yang akan mau menyerahkan kewenangan datanya.
"Jangan nanti KPU dibentuk, tahun berikutnya mengusulkan 2 triliun untuk identifikasi pemilih. Enggak habis-habis kalau begitu terus."
Sudah 80 tahun merdeka. Sudah 15 tahun punya e-KTP. Dan kita masih dimintai fotokopi KTP untuk mengurus KTP.
Kalau itu bukan kegagalan sistemik yang harus dipertanggungjawabkan gue tidak tahu apa lagi namanya.

Indonesia
Don Kusumo retweetledi

Guys, ini kasus yang menurut gue lebih ngeri dari yang kelihatan di permukaan.
Dan yang paling bikin gue marah bukan pelakunya — tapi respons institusinya.
Kronologi yang perlu semua orang tahu:
2019 Andi Hakim Febriansyah, Kepala Kas BNI Unit Aek Nabara, mendekati pengurus Credit Union Paroki Aek Nabara. Dia menawarkan produk investasi bernama "BNI Deposito Investment" dengan bunga 8% per tahun.
Produk itu tidak pernah ada.
Dia menciptakannya sendiri.
Tapi siapa yang mau curiga?
Dia pejabat bank resmi.
Pakai seragam BNI.
Datang dengan fasilitas pick-up service BNI yang sudah berlangsung sejak 2015.
Menyerahkan bilyet deposito yang ternyata dicetak sendiri di kertas A4.
Setiap bulan dia transfer uang ke rekening CU-PAN sebagai bunga supaya korban tidak curiga.
Dia juga meminta tanda tangan di formulir kosong yang kemudian dia isi sendiri jumlah dan tanggalnya.
Rapi. Sistematis. Bertahun-tahun.
Uang Rp28 miliar itu uang siapa:
Ini bukan uang korporat besar.
Ini uang umat Katolik di Labuhanbatu yang dikumpulkan perak demi perak oleh jemaat biasa lewat koperasi simpan pinjam gereja mereka.
Uang yang seharusnya untuk membangun sekolah. Untuk menyejahterakan jemaat. Untuk masa depan komunitas kecil di Sumatera Utara.
Dipakai Andi untuk apa?
Sport center.
Kafe.
Mini zoo.
Uang sedekah umat dipakai buat bangun mini zoo.
Cara ketahuannya dan ini yang menyedihkan:
Februari 2026 CU-PAN butuh Rp10 miliar untuk pembangunan sekolah.
Mereka minta cairkan deposito.
Andi mulai mengelak.
Minta bilyet asli dengan alasan pembaruan. Mencairkan deposito lain tanpa izin pengurus untuk menutupi.
Lalu tiba-tiba datang pegawai BNI baru yang memperkenalkan diri sebagai kepala kas pengganti Andi.
Suster Natalia bendahara CU-PAN baru sadar ada yang sangat salah.
23 Februari 2026 kepala kas baru mengkonfirmasi: BNI Deposito Investment bukan produk resmi BNI. Tidak pernah ada.
Tujuh tahun.
Baru ketahuan karena korban mau cairkan uang dalam jumlah besar.
Yang Andi lakukan setelah ketahuan:
9 Februari ambil cuti.
18 Februari pensiun dini.
28 Februari kabur ke Australia bersama istri lewat Bali.
Polda Sumut koordinasi dengan Interpol, Australian Federal Police, terbitkan red notice.
30 Maret 2026 Andi dan istrinya kembali ke Indonesia lewat Kualanamu.
Langsung ditangkap.
Dalam pemeriksaan dia mengakui semua perbuatannya.
Dan sekarang kita masuk ke bagian yang paling bikin gue tidak bisa diam:
Respons BNI.
Setelah semua terbongkar BNI melakukan verifikasi internal sendiri.
Tanpa transparansi ke korban.
Tanpa penjelasan soal metodologi atau dasar perhitungan.
Lalu pada 12 Maret 2026 BNI mengirim surat yang menyatakan mereka bersedia mengganti rugi Rp7 miliar.
Dari total kerugian Rp28 miliar lebih.
Dan pada 26 Maret 2026 tanpa persetujuan CU-PAN BNI mentransfer Rp7 miliar itu secara sepihak ke rekening CU-PAN.
Seolah dengan mentransfer uang itu kasus selesai. Akui kerugian sebagian.
Anggap beres.
Ini yang perlu dipahami secara hukum:
Berdasarkan prinsip Vicarious Liability perusahaan bertanggung jawab atas tindakan pegawainya yang dilakukan dalam konteks pekerjaannya.
Andi tidak beroperasi sebagai individu random. Dia menggunakan:
Fasilitas pick-up service resmi BNI
Sistem dan infrastruktur BNI
Jabatan dan wewenang yang diberikan BNI
Kepercayaan nasabah terhadap nama BNI
POJK Nomor 22 Tahun 2023 juga menegaskan bahwa pelaku usaha jasa keuangan wajib bertanggung jawab atas kerugian konsumen akibat kesalahan pegawainya.
Artinya: BNI tidak bisa bersembunyi di balik kata oknum.
Dan kata oknum itu yang perlu kita bicarakan:
Ini pola yang selalu sama di Indonesia setiap kali ada skandal institusi besar.
Polisi korup? Oknum.
Pejabat BUMN korup? Oknum.
Pegawai bank gelapkan dana nasabah? Oknum.
Kata "oknum" itu bukan hanya klarifikasi.
Itu strategi.
Cara untuk memisahkan institusi dari tanggung jawab.
Cara untuk bilang ke publik:
jangan salahkan sistemnya ini hanya satu orang nakal.
Tapi pertanyaannya:
bagaimana satu orang bisa menjalankan skema selama 7 tahun menggunakan sistem, fasilitas, dan nama institusi tanpa ada pengawasan internal yang mendeteksinya?
Kalau jawabannya adalah pengawasan internal BNI yang gagal maka ini bukan hanya masalah oknum.
Ini masalah sistem.
Dan sistem itu tanggung jawab institusi.
Yang seharusnya terjadi tapi tidak terjadi:
BNI harusnya transparan sejak awal buka semua dokumen, jelaskan metodologi verifikasi, dan libatkan korban dalam proses.
BNI harusnya tidak mentransfer Rp7 miliar secara sepihak seolah itu solusi final.
BNI harusnya tidak membebankan pembuktian ke korba korban sudah mengikuti prosedur resmi, sudah percaya pada nama BNI, dan sudah ditipu dengan menggunakan fasilitas BNI.
Kalimat yang paling gue ingat dari Suster Natalia:
Tak pernah kami bayangkan bahwa
ternyata bank-lah yang akan menghilangkan uang
bukan saya yang menikmati uangnya
Jemaat kecil di Labuhanbatu menyimpan uang di bank karena percaya bank lebih aman dari menyimpan di bawah kasur.
Dan kepercayaan itu dikhianati bukan oleh orang asing, tapi oleh pejabat bank yang datang setiap bulan dengan seragam resmi.
Andi Hakim adalah penjahat.
Itu sudah jelas dan dia harus dihukum seberat-beratnya.
Tapi BNI tidak bisa cuci tangan dengan kata "oknum" dan transfer Rp7 miliar yang tidak transparan.
Kalau bank BUMN yang dipercaya masyarakat dan dijamin negara bisa lolos dari tanggung jawab penuh hanya dengan menyebut pelakunya oknum, maka tidak ada lagi yang aman menyimpan uang di mana pun.
Dan itu adalah krisis kepercayaan yang jauh lebih besar dari angka Rp28 miliar.
Catholic 𐕣@myshawti
Kenapa kasus seperti ini sulit naik di media? Padahal ini kasus tidak kalah pentingnya juga Nih awak test, pasti sulit naiknya
Indonesia
Don Kusumo retweetledi

loh emg gue belinya di prancis🤷🏻♀️
btw gw sgt rekomen ini mamiche bakery di paris ini krn croissantnya flaky bgt sgt enak.... dan ga nyampe €2


Shandi Aribowo@shandimugiwara
@SAASH1MI Yaudah lu beli aja di Prancis.. 😂
Indonesia

1. MAKAN yang bener! No sugar (kalau gak kuat, less dulu #lessismore JIAKH). Clean eating, protein, fiber, multivitamin (aku prefer yang bukan sintetis). Whole foods! Kalau bisa cek lab kadar vitamin di tubuh (jangan sampai overdosis, terutama Vit D). Minum AIR PUTIH!.
2. OLAHRAGA yang rajin! Jangan FOMO pilates mulu, diimbangi cardio, strength, karena kuncinya gak cuma body shaping tapi gimana tubuh makin powerful memproses dan bekerja.
3. HINDARI STRESS (susah sih emang) paling gak atur/regulasi emosi/emotional intelligence (EI dibutuhkan dibanding AI ternyata biar gak tergantikan hiyahiyahiya!). Sleep! Low-tox body and skincare!.
Hasil itu semua, physical age aku LEBIH MUDA dibanding umur asli 😜


🌸💫@gueiava
rahasia awet muda selain minum darah suci apa
Indonesia
Don Kusumo retweetledi
Don Kusumo retweetledi





















