loren💤 🦋
3.2K posts







NLH is so funny because you got Dazai trying to convince you from page one that he deserves to be englufed by God’s burning hatred and given eternal punishment just bc he smiled weird in a childhood photo that one time but you look at the photo and its cutiest patootie ever


Dapet 10 jilid ensiklopedia seharga 280K. 10 jilid. 10 wholeass encyclopedia of popular science. Hell.


Kalau diminta untuk menciptakan kampanye baru soal membaca buku, saya akan mengusulkan ini: “Normalisasi membeli buku yang bukan BEST SELLER.” Saat memasuki toko buku besar seperti Gramedia, sedari dulu saya cenderung menghindari rak paling mencolok dengan label Best Seller. Bukannya sok beda atau apa, hanya saja ada perasaan mengganjal tiap kali saya melihat satu judul buku bertengger di rak best seller selama berbulan-bulan, bahkan sampai bertahun-tahun. Mari kita ambil contoh novel Laut Bercerita, yang setidaknya sudah dipajang di rak Best Seller sepanjang tahun 2021–2026. Saking larisnya, novel tsb bahkan sudah cetak ulang lebih dari 115 kali. Pertanyaannya, mengapa novel itu begitu laris? Oke, katakanlah isinya bagus. Lalu apa? Di luar sana masih banyak novel bagus lainnya. Salah satu teori yang dapat menjelaskan fenomena larisnya Laut Bercerita adalah Efek Bandwagon (Bandwagon Effect) yang muncul di Amerika sejak abad ke-19. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan fenomena sosial di mana seseorang cenderung ingin menjadi bagian dari mayoritas. Generasi sekarang mungkin lebih akrab dengan istilah fear out of missing out (FOMO), tapi secara konsep sedikit berbeda. Perilaku kita yang punya kecenderungan untuk membeli buku yang sudah populer dan dipajang di rak Best Seller adalah contoh paling tepat dari Efek Bandwagon. Sering kali kita tak sadar bahwa keputusan kita membeli buku bukan lagi soal preferensi pribadi, melainkan sudah jadi tren ikut-ikutan. Paradoksnya terletak pada hilangnya orisinalitas dalam keputusan membeli sesuatu karena didorong oleh popularitas massa.

Ada politisi Jepang bilang tegas di parlemen, “Jepang ini negara kremasi. Kalau Muslim mau dikubur, ya pulang aja ke negara asal, biaya sendiri.” Pernyataan diatas mungkin terdengar menyakitkan bagi saudara muslim di Jepang, tapi gw pengen kalian tau sisi sebenarnya. Kalo digali lebih dalam, ceritanya nggak sesimpel itu. Faktanya: Jepang itu negara kepulauan kecil banget. Tanah yang bisa dihuni cuma 37%, sisanya gunung, hutan, plus gempa bumi sering bikin mayat muncul lagi dari tanah. Makanya 99,9% orang Jepang dikremasi. Sekarang bandingin sama Muslim. Populasi Muslim di Jepang cuma 100-200 ribu di antara 124 juta penduduk. Tapi ada kelompok mereka ngotot minta kuburan utuh sesuai syariat (nggak boleh dikremasi). Hanya ada 10 kuburan Muslim di seluruh Jepang, dan itu pun sering ditolak warga karena takut kontaminasi air tanah. Jadi politisi Sanseito (partai populis kanan) naik daun gara-gara bilang “cukup deh, tanah kita terbatas”. Tapi ada kelompok Muslim yang minta pengecualian, dan itu langsung terasa kayak “kami mau parallel society” di negara yang super homogen. Dari sisi Muslim: ini memang berat. Agama melarang kremasi, jadi pilihan cuma kremasi (dosa) atau kirim pulang mayat (mahal + ribet). Mereka bilang ini soal hak minoritas. Dari sisi Jepang: tanah itu barang langka. Kalau mulai bagi-bagi lahan khusus, besok tanah habis buat kuburan. Ini soal negara kecil yang mau jaga identitasnya di tengah gelombang imigrasi. Orang Barat nggak bikin masalah karena mereka fleksibel. Muslim yang ngotot justru terlihat nggak mau adaptasi. Intinya? Tiap negara punya hak nentuin aturan sendiri. Tapi konsekuensinya: kalau budayanya bentrok banget sama tuan rumah, ya memang lebih enak di rumah sendiri. Jepang nggak mau jadi Eropa yang lagi pusing sama “no-go zones”. Mereka lagi bilang keras: “Welcome, tapi jangan ubah kami.” Gimana menurut kalian?



























