🍑@xopch
Temenku yang Konghucu pernah nggak sengaja masukin adiknya ke pondok. Gini ceritanya.
Awalnya, papa dan mamanya memutuskan pensiun dan tinggal di panti jompo yang jauh dari rumah. Temenku, sebut saja Koko, disuruh mengurus bisnis keluarga dan semua urusan rumah tangga di kampung halamannya, satu daerah di Jambi. Dia punya satu adik laki-laki yang selisih umurnya cukup jauh.
Hampir setahun setelah orang tuanya tinggal di panti jompo, adiknya sudah waktunya masuk SMP. Koko punya ide: gimana kalau adiknya dimasukkan ke boarding school seperti dirinya dulu, tapi di Jawa aja supaya lebih murah. Sebenarnya Koko yang sudah menginjak 30 tahun mulai gelisah kebelet nikah, jadi sibuk kencan sana-sini. Alhasil dia agak males ngurus adiknya andai tetap di rumah. Ide cemerlang itupun disampaikan ke orang tuanya, dan mereka setuju.
Lalu Koko mulai mengetik kata kunci “boarding school” di gugel. Dia telusuri berbagai website dan foto-fotonya, sampai akhirnya menemukan satu yang menurutnya bagus, modern, dan sejuk karena terletak di dataran tinggi di Pulau Jawa. Setelah menelpon pihak sekolah, dia langsung membayar semua biaya yang diperlukan.
Tibalah hari adiknya harus masuk asrama, sebelum tahun pelajaran dimulai. Koko sempat chat di group Line bilang agak males karena harus antar adiknya sampai ke sana. Sore harinya aku video call dia mau nunjukin fidget spinner yang waktu itu lagi populer di Indonesia. Eh, mukanya kecut banget. Aku langsung tanya, “Gimana sekolah adek lu?”
Dia jawab, “Wah kacau, ini boarding school Islam ternyata.”
Aku tambah heran, “Lha kok bisa? Kan lu udah survei.”
“Iya, waktu cari informasi gua cuma baca fasilitasnya sama lihat fotonya doang. Lagian ini sekolah namanya ga ada nuansa Islaminya.” katanya.
“Terus sekarang gimana? Mau dipindahin?” tanyaku lagi.
“Nanti aja, udah terlanjur. Paling ga jalanin dulu satu semester sambil cari sekolah lain,” jawabnya.
“Papa le tau nggak?”
“Ga tau lah. Bisa batal pensiun papa wa kalo denger.”
Ya sudah, semua berjalan normal. Hampir satu semester berlalu masih aman-aman aja, jadi Koko pun nunda-nunda untuk mindahin adiknya. Saat Imlek, adiknya dipulangkan dan diwanti-wanti supaya ga cerita apa-apa. Aman juga. Koko jadi semakin ngeremehin risiko itu.
Masuk bulan kesepuluh, tiba-tiba orang tuanya kangen adiknya dan minta ke Jawa. Singkat cerita, akhirnya orang tuanya tahu. Adiknya dipindahin ke sekolah lain di kota lain. Koko dihukum ga boleh ngurus bisnis keluarga, ATM-nya diambil, dan ga dikasih uang jajan. Kalau lapar ya makan makanan yang ada di rumah. Papanya juga ga ngajak dia ngomong hampir tiga tahun, sampai akhirnya papanya mutusin pensiun lagi.
Sekarang adiknya sudah kuliah dan masih hafal al-Fatihah. Tapi Si Koko masih belum nikah.