Hendra

6.1K posts

Hendra

Hendra

@ifhendra

rakjat

Bebas Katılım Ocak 2010
782 Takip Edilen34 Takipçiler
Hendra
Hendra@ifhendra·
ketawa Julius Caesar lihat usulan anggota DPR gini, abis kunker ke Roma kah? tiba-tiba ada ide gini😁
Lambe Saham@LambeSahamjja

Guys, DPR baru saja mengusulkan sesuatu yang menurut gue paling sempurna menggambarkan betapa jauhnya jarak antara para wakil rakyat dengan kenyataan rakyat yang mereka wakili. Di tengah rupiah Rp17.700. Di tengah badai PHK yang mengintai. Di tengah guru honorer yang digaji Rp1,5 juta per bulan. Di tengah anggaran pendidikan yang dipotong 44% untuk MBG. Anggota DPR dari Fraksi Gerindra mengusulkan: Alokasi APBN 2027 untuk membangun 1.000 layar bioskop di desa. Gue perlu berhenti sejenak dan baca ulang itu: Seribu Layar Bioskop Di desa. Dari APBN. Dari uang pajak rakyat. Di 2027. Dan ini yang paling menggelikan: Alasannya mulia. Untuk mendukung rumah produksi kecil di daerah. Untuk menampilkan potensi dan budaya lokal. Untuk memberi akses sinema kepada rakyat desa. Tapi ada satu pertanyaan yang tidak pernah dijawab dalam rapat itu: Rakyat desa yang gajinya di bawah UMR dengan harga bahan pokok yang terus naik mau beli tiket bioskop pakai uang apa? Dan ini datanya yang harus dihadapkan langsung: 88% kepala rumah tangga Indonesia tidak punya pendidikan S1. IQ rata-rata Indonesia 78,9 hampir juru kunci dunia. Skor PISA Indonesia peringkat 69 dari 81 negara. 50% pegawai Indonesia pernah mengalami stunting waktu kecil yang artinya perkembangan otak mereka terganggu sejak masa paling kritis. Guru honorer yang seharusnya menjadi satu-satunya harapan untuk memutus rantai kebodohan struktural ini — digaji Rp1,5-2,8 juta per bulan. Di bawah UMP. Di bawah standar hidup layak. Dan anggaran pendidikan yang seharusnya mengurus semua ini dipotong 44% untuk program makan siang. Tapi DPR punya solusi: Bukan 1.000 sekolah baru di daerah terpencil yang belum punya akses pendidikan layak. Bukan rekrut 100.000 guru berkualitas dengan gaji Rp40 juta per bulan yang total biayanya hanya Rp50 triliun atau 7% dari anggaran pendidikan yang ada. Bukan perpustakaan desa. Bukan laboratorium sains. Bukan akses internet untuk sekolah-sekolah yang masih mengajar dengan papan tulis kapur. Tapi bioskop. Dan ini logika yang paling sederhana: Dr. Tirta sudah bilang: rakyat yang pintar adalah ancaman bagi penguasa yang tidak kompeten. Karena rakyat yang pintar akan mempertanyakan kebijakan yang tidak ada gunanya. Ahok sudah bilang: kebodohan struktural bukan kebetulan. Ini by design. Tidak ada pemerintah otoriter yang ingin punya warga yang benar-benar cerdas. Mahfud MD sudah bilang: demokrasi tidak akan berhasil sebelum pendapatan per kapita mencapai 5.500 dolar. Rakyat yang masih miskin dan tidak berpendidikan pasti menjual suaranya. Dan sekarang alih-alih memperbaiki pendidikan yang bisa mengubah semua itu DPR mengusulkan membangun bioskop. Rakyat yang tidak pintar tapi punya bioskop jauh lebih mudah dihibur. Jauh lebih mudah dialihkan perhatiannya. Jauh lebih mudah diberi sesuatu yang kelihatan seperti pemberian tanpa benar-benar mengubah kondisinya. Dan ini yang paling menohok: Orang desa yang gajinya Rp2-3 juta per bulan yang harga kedelai dan telurnya sudah naik karena rupiah melemah yang anaknya sekolah dengan guru yang mau resign karena gajinya tidak cukup untuk makan Tidak butuh bioskop. Mereka butuh guru yang digaji layak supaya anaknya tidak tumbuh dengan IQ 78. Mereka butuh sekolah yang layak supaya anaknya bisa bersaing. Mereka butuh sistem pendidikan yang mengajarkan berpikir kritis bukan menghafal untuk ujian. Karena bioskop tidak mengubah nasib. Bioskop hanya menghibur orang yang nasibnya tidak berubah. Dan angkanya bicara sendiri: 1.000 layar bioskop dengan asumsi biaya pembangunan, peralatan, dan operasional bisa menghabiskan ratusan miliar bahkan triliunan rupiah dari APBN. Uang yang sama bisa dipakai untuk: menggaji 25.000 guru berkualitas selama satu tahun penuh. Atau membangun ratusan perpustakaan desa dengan koleksi buku yang memadai. Atau memberikan beasiswa bagi ribuan anak desa yang putus sekolah karena tidak mampu. Tapi yang diusulkan adalah bioskop. DPR bukan Dewan Perwakilan Rakyat. DPR adalah Dewan Penghibur Rakyat. Rakyat tidak dirancang untuk pintar karena rakyat yang pintar tidak bisa dihibur dengan bioskop. Rakyat yang pintar akan tanya: kenapa anggaran pendidikan dipotong tapi ada uang untuk bioskop desa? Kenapa guru digaji Rp1,5 juta tapi ada dana untuk layar sinema? Kenapa stunting masih 21% tapi kita bahas distribusi film nasional? Dan pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berbahaya bagi mereka yang duduk di kursi DPR daripada rakyat yang diam di depan layar bioskop desa sambil lupa bahwa hidupnya tidak berubah.

Indonesia
0
0
0
5
Hendra retweetledi
AirinNz_KembaliLagi
AirinNz_KembaliLagi@AirinDatangLagi·
Guru Honorer yg Mencerdaskan Ank Bangsa & Nakes yg Menjaga Kesehatan Masyarakat digaji Rendah. Org yg Masak MBG yg buat bnyk Ank2 kita Keracunan Malah dGaji tinggi. Anggota Dewan yg Kerjanya cuma Pelesiran & Tidur dwaktu sidang dpt Dana Pensiun GILA..GILA
Indonesia
0
59
75
861
Hendra retweetledi
Nda ! 🧳
Nda ! 🧳@Naandaa27·
...ternyata Merah Putih tidak melindungi Kami ! 💔 🥲 --------------- Jawa Timur Wowo Indomaret
Indonesia
41
1.6K
4.3K
45.4K
Hendra retweetledi
ᶜⁱᶜᵃᵍ ᵈⁱ ᴰⁱⁿᵈⁱⁿᵍ
Apakah wajar sengketa hak milik yang sudah dimenangkan warga di ranah perdata diseret paksa menjadi kasus korupsi ?! Kasus ini penuh dengan kejanggalan yang sulit di nalar. Thio adalah pembeli swasta, pakai uang pribadi, bukan pejabat yang memegang uang negara. Bagaimana bisa disebut memperkaya diri dengan uang negara ? Mahkamah Agung sudah memenangkan Thio dari tahun 2021-2024 melawan Kemenag terkait kepemilikan tanah ini. Dan yg paling aneh, Jaksa yang menjebloskan Thio ke penjara adalah orang yang SAMA - yang kalah dari Thio di persidangan perdata sebelumnya
Indonesia
27
201
353
12K
Hendra retweetledi
iii_chromatic
iii_chromatic@blue_berets7·
Nostalgia yukkk sambil nunggu bubaran bioskop 😂🤣
Indonesia
22
341
759
9.3K
Hendra retweetledi
HUMOR JON TAMPAN
HUMOR JON TAMPAN@HumorJonTampan·
CHINA EMANG GAK ADA LAWAN! "Kalo China punya DANYANG KUNSHAN GRAND BRIDGE, Indonesia punya DANYANG PENUNGGU TEMPAT ANGKER!!" #Ngik
Indonesia
34
112
365
11.2K
Hendra retweetledi
Mar Teg
Mar Teg@LexMarteg·
Hiyaaaaaaa Ter Kuakkk...... Dari anggaran 1,1M yg turun cumak 285jt..... Trus bangunannya spek model apa tuhhhh???
Indonesia
333
970
1.9K
80K
Hendra retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, Rocky Gerung baru ngomong sesuatu soal Purbaya di depan ribuan mahasiswa ITB dan kalimatnya menurut gue paling telak dan paling jujur yang pernah diucapkan soal posisi Menteri Keuangan kita. Bukan dari ekonom. Bukan dari analis. Dari filsuf. Dan justru itu yang bikin kalimatnya paling menancap. Kalimatnya sederhana. Tapi sangat keras: "Pak Purbaya itu dia cuma kasir. Mana ada kasir menghasilkan growth." Selesai. Tiga kalimat. Tapi gue mau bedah ini lebih dalam karena ini jauh lebih penting dari yang kelihatan di permukaan. Apa maksud Rocky dan kenapa ini sangat relevan: Rocky tidak sedang menghina Purbaya sebagai manusia. Dia sedang mengoreksi sesuatu yang fundamental soal bagaimana kita memahami ekonomi dan bagaimana pemerintah sedang menyesatkan rakyat dengan narasi yang salah. Menteri Keuangan adalah penjaga kas negara. Dia yang mengatur anggaran masuk dan keluar. Dia yang memastikan utang tidak meledak. Dia yang menjaga fiskal tetap sehat. Tapi dia bukan yang menciptakan pertumbuhan. Pertumbuhan lahir dari kementerian teknis yang produktif perindustrian, perdagangan, kelautan, perikanan. Pertumbuhan lahir dari pabrik yang berproduksi, dari nelayan yang bisa melaut, dari petani yang bisa menjual hasil panennya dengan harga yang adil. Tapi yang terjadi sekarang adalah semua orang dari Prabowo sampai media membebankan ekspektasi pertumbuhan 6% kepada seorang kasir. Dan ketika kasir tidak bisa menghasilkan pertumbuhan padahal memang bukan tugasnya untuk melakukan itu dia disalahkan. Rakyat kecewa. Presiden tidak puas. Market tidak percaya. Padahal pertanyaan yang sebenarnya harus diajukan adalah: Di mana kementerian teknis yang seharusnya menghasilkan pertumbuhan itu? Kementerian Perindustrian yang seharusnya menumbuhkan manufaktur tapi kontribusi manufaktur terhadap GDP kita turun dari 30% menjadi 18%. Deindustrialisasi terjadi diam-diam selama bertahun-tahun. Kementerian Perdagangan yang seharusnya membuka pasar tapi investor asing semakin ragu masuk karena kepastian hukum yang berubah-ubah. Regulasi EV yang tiba-tiba mau dikenakan pajak setelah sebelumnya bebas pajak. Komisi ojek online yang dipaksa turun ke 8% sehingga platform bleeding. Kementerian Kelautan dan Perikanan yang potensinya luar biasa tapi realisasinya masih jauh dari optimal. Itu yang seharusnya ditagih. Bukan Purbaya yang memang tugasnya jaga kas bukan cetak pertumbuhan. Dan ini yang paling miris: Purbaya sudah berulang kali bilang "fundamental kita kuat, rupiah kita undervalued, kita sedang ekspansi." Tapi dolar tetap ngacir ke Rp17.600. IHSG tetap ambruk. Market tidak percaya. Rating agency downgrade outlook kita dari stable ke negatif. Rocky bilang Purbaya "disiksa oleh keinginan rakyat untuk melihat pertumbuhan" dan itu sangat tepat. Orang yang salah jabatan dipaksa menanggung beban yang bukan tugasnya. Dan ketika hasilnya tidak sesuai ekspektasi dia yang jadi kambing hitam dari masalah yang sebenarnya ada di tempat lain. Dan sambungkan ini dengan apa yang Prabowo bilang hari yang sama: "Kalau tidak beres, copot. Sederhana." Pertanyaannya sangat sederhana: Kalau Purbaya yang salah kenapa kementerian teknis yang tidak menghasilkan pertumbuhan tidak dicopot? Kalau Purbaya yang tidak kompeten kenapa orang-orang di sektor riil yang seharusnya menggerakkan ekonomi tidak ditagih? Atau jangan-jangan lebih mudah menyalahkan kasir daripada mengakui bahwa masalahnya ada di arsitektur kebijakan yang lebih besar? Dan Rocky kasih satu poin lagi yang sangat penting: "Tradisi berpikir di universitas begitu masuk dalam birokrasi berubah menjadi hierarki. Tidak mungkin ada inovasi dari dalam birokrasi." Ini menjelaskan segalanya. Kenapa orang pintar yang masuk ke pemerintahan akhirnya diam. Kenapa yang berani justru dihukum. Kenapa Nadiem yang mencoba inovasi berakhir dengan tuntutan 27 tahun. Kenapa yang pandai menunduk justru yang bertahan dan dipuji. Birokrasi tidak mendesain dirinya untuk menghasilkan pertumbuhan. Birokrasi mendesain dirinya untuk mempertahankan hierarki. Dan selama itu yang terjadi pertumbuhan 6% hanya akan menjadi angka di slide presentasi bukan kenyataan yang dirasakan rakyat di dompet mereka. Rocky Gerung benar. Purbaya bukan masalahnya. Purbaya adalah kasir yang dipaksa berperan sebagai mesin pertumbuhan sementara mesin pertumbuhan yang sesungguhnya tidak berjalan dengan benar. Tapi yang lebih besar dari soal Purbaya adalah ini: kita sedang hidup dalam sistem yang menghukum keberanian, memproteksi loyalitas, dan membebankan ekspektasi kepada orang yang salah jabatan sementara yang seharusnya bertanggung jawab terlindungi oleh hierarki yang tidak bisa diganggu gugat. Dan selama sistem itu tidak berubah mau ganti Purbaya dengan siapapun, mau klaim pertumbuhan berapa persen pun dolar akan tetap ngacir. Market akan tetap tidak percaya. Dan rakyat akan tetap merasakan hidupnya makin sempit.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
104
884
2.4K
233.6K
Hendra retweetledi
𝑷𝒖𝒓𝒘𝒐 𝑫𝒆𝒌𝒔𝒊𝒏𝒖
Semoga sang ibu dan dedeknya selalu sehat yah, andai sang suami cukup maka si ibu tak akan memikul beban berat ini, mereka akan mengasuh sang putra, namun apa daya demi menyambung hidup. Yang duduk di singgasana Hai pejabat, anda juga dibayar dari keringat ibu ini
Indonesia
33
523
1.7K
29.4K
Hendra retweetledi
𝙎𝙚𝙧𝙖𝙥𝙝𝙞𝙣𝙚
Pemerintah bagiin tablet gratis buat 600 ribu siswa SMA dengan program "𝗦𝗮𝘁𝘂 𝗦𝗶𝘀𝘄𝗮, 𝗦𝗮𝘁𝘂 𝗧𝗮𝗯𝗹𝗲𝘁" 📱✨ Keren banget Pemerintah Thailand ini 👏🏻
Indonesia
266
923
7K
276.2K
Hendra retweetledi
(bukan) Nini Tulalit
Ada duit kita yang melayang sia2 dari sisa2 makanan ini.
Indonesia
102
914
1.5K
47.1K
Hendra retweetledi
Indonesnews
Indonesnews@pendapatpribumi·
WARTAWAN DI MEDAN DIDUGA DI CULIK ANGGOTA TNI Dunia pers di Sumatera Utara kembali diguncang kabar duka terkait keselamatan jurnalis. SP, salah satu pimpinan media online, diduga menjadi korban penculikan dan intimidasi oleh oknum anggota TNI AD pada Selasa (12/5/2026) malam. Peristiwa ini terjadi tak lama setelah media tersebut menayangkan laporan investigasi mengenai dugaan praktik ilegal kondensat dan judi meja tembak ikan di wilayah Kabupaten Langkat.​Kronologi Penjebakan: Modus Informasi Narkoba​Aksi dugaan penculikan ini bermula dari upaya penjebakan yang rapi. Kepada awak media, SP menceritakan bahwa dirinya awalnya dihubungi oleh seorang oknum wartawan berinisial FK. Dengan dalih ingin membagikan informasi terkait peredaran narkoba di daerah Binjai, FK mengajak SP untuk bertemu di sebuah kafe di Kota Medan.​Namun, setibanya di lokasi yang disepakati, situasi berubah drastis. SP tidak mendapati diskusi yang dijanjikan, melainkan intimidasi fisik.​“Setelah saya datang ke lokasi, tiba-tiba saya didatangi dua pria tak dikenal. Saya dipaksa masuk ke dalam mobil dengan dalih harus memberikan klarifikasi atas berita yang saya tulis,” ujar SP dengan raut wajah trauma, Selasa malam.​Di dalam kendaraan tersebut, situasi semakin mencekam. SP mengaku melihat sosok pria mengenakan seragam loreng yang diduga kuat merupakan anggota TNI AD. Di bawah tekanan dan ancaman, SP dipaksa untuk menyangkal kebenaran produk jurnalistik yang telah diterbitkannya.​“Saya ditekan untuk membuat video klarifikasi. Isinya, saya harus menyatakan bahwa berita soal kondensat dan judi tembak ikan itu tidak benar. Saya tidak punya pilihan di bawah ancaman seperti itu,” tegas SP.​Lebih ironis lagi, para terduga pelaku mencoba menutup-nutupi aksi mereka dengan pesan yang tak masuk akal. Jika ada rekan sejawat atau keluarga yang bertanya mengenai keberadaan SP, ia diperintahkan untuk berbohong.​“Mereka bilang, kalau ada wartawan lain bertanya, bilang saja ada acara ulang tahun atau surprise,” ungkapnya menirukan ucapan oknum tersebut
Indonesia
177
3.7K
5.1K
1.1M
Hendra retweetledi
Takayama_Zero
Takayama_Zero@RaidenKevin17·
Sejak kapan anggota TNI boleh menyita hasil bumi warga? Emangnya mereka boleh ya double job gitu?
Indonesia
227
2.3K
4.4K
99.7K
Hendra retweetledi
Sumatera Adil & Federal
Sumatera Adil & Federal@indepenSumatera·
KALIAN WAJIB LIHAT INI!!!⚠️⚠️⚠️ Ini sungguh mengerikan. Tambang-tambang nikel kini benar-benar mengancam nyawa warga lokal. Lihatlah video ini, lubang tambang yang sangat besar dan dalam sudah hampir menyentuh halaman rumah penduduk. Jika hujan deras datang, warga yang tinggal di pinggir jurang itu bisa menjadi korban sewaktu-waktu. Apakah pemerintah tidak mengetahui hal ini? Atau justru tahu, tapi sengaja Tutup mata? Jika dibiarkan terus, tidak mustahil suatu hari rakyat di sana akan terkubur hidup-hidup oleh tambang negara ini. Sungguh miris memiliki pemerintahan yang hanya pandai menguras sumber daya alam, tapi abai terhadap keselamatan dan kesejahteraan rakyatnya sendiri.
Indonesia
59
3.4K
5K
60.1K
Hendra retweetledi
🌹🌹𝑅𝐼𝒜 🌹🌹
🌹🌹𝑅𝐼𝒜 🌹🌹@RakyatBerbisik·
MAU JADI APA NEGARA INI ⁉️ Mangrove di babat,lokasi di kawasan pesisir laut Legonkulon,Subang -Jabar📌
Indonesia
163
2.8K
4.9K
52.6K