Imam Rofiki

3.2K posts

Imam Rofiki banner
Imam Rofiki

Imam Rofiki

@Imamrofiki

Guru di SDN 3 Kandangan Kec Purwodadi Kab Grobogan - Ketua Poktan Loh Jinawi 1 Ds Boloh Kec Toroh Kab Grobogan

Toroh, Indonesia Katılım Ekim 2009
1.3K Takip Edilen355 Takipçiler
Imam Rofiki retweetledi
listyantidewi
listyantidewi@listyantidewi·
Masalah terbesar sekolah bukan siswa yang malas belajar, namun banyak siswa yang belum pernah benar-benar diajari cara belajar. -> Disuruh mencatat, tapi kurang diajari memilih poin yang penting untuk dicatat. -> Disuruh membaca, tapi kurang diajari bertanya sesuai konteks dan kritis. -> Disuruh mengerjakan tugas, tapi kurang diajari bagaimana memecahkan masalah. Di era AI, perkara ini menjadi semakin genting. Karena, kalau anak tidak punya strategi belajar, maka AI (terumata gen-AI) akan terasa seperti penyelamat. Padahal yang terjadi bisa saja sebaliknya, bahwa proses berpikir anak-anak kita diambil alih pelan-pelan.
Indonesia
15
139
434
10.8K
Imam Rofiki retweetledi
listyantidewi
listyantidewi@listyantidewi·
Mari kita lestarikan bahasa daerah! Setiap kali sebuah bahasa daerah punah, yang hilang bukan hanya kata-kata, tapi seluruh cara memandang dunia. Bahasa-bahasa daerah Nusantara mengandung pengetahuan tentang flora-fauna lokal, sistem irigasi tradisional, ramuan obat, navigasi laut, dan filosofi hidup yang tidak bisa diterjemahkan secara persis ke Bahasa Indonesia. Ketika anak Sunda tidak lagi bisa berbahasa Sunda dengan kakeknya, ada seluruh dunia pengetahuan yang putus dalam satu generasi.
Indonesia
1
14
57
1.8K
Imam Rofiki retweetledi
listyantidewi
listyantidewi@listyantidewi·
Sebelum pensil grafit menjadi umum di abad 19, anak-anak belajar menulis menggunakan batu tulis (slate) dan kapur, atau pena bulu yang dicelup tinta. Ketika pensil mulai populer, banyak pendidik (konservatif) protes keras dengan alasan: "Kalau anak bisa menghapus kesalahannya dengan mudah, dia tidak akan pernah belajar berpikir matang sebelum menulis." Argumennya sederhana tapi menarik: kesulitan adalah bagian dari pembelajaran. Ketika tinta tidak bisa dihapus, anak dipaksa untuk merencanakan kalimat di kepalanya, mempertimbangkan struktur, baru menulis dengan hati-hati. Pensil dengan penghapus dianggap "memanjakan" dan membuat anak ceroboh. Yang ironisnya, perdebatan ini muncul lagi dalam bentuk modern setiap kali ada teknologi baru: -> Kalkulator dilarang karena "merusak kemampuan berhitung" -> Komputer dilarang karena "merusak tulisan tangan" -> Wikipedia dilarang karena "merusak riset" Dan sekarang, tools AI seperti ChatGPT dilarang karena "merusak kemampuan berpikir". Pola yang sama terus berulang sepanjang sejarah pendidikan. Setiap teknologi baru awalnya dianggap ancaman bagi "cara belajar yang benar", sebelum akhirnya diterima sebagai alat yang biasa/dinormalisasi. Penghapus di ujung pensil, yang sekarang kita anggap sangat sepele, dulunya adalah pusat perdebatan filosofis tentang bagaimana manusia seharusnya belajar.
Indonesia
3
12
42
1K
Imam Rofiki retweetledi
Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen@na_dirs·
Kenapa Allah Tidak Selalu Menghilangkan Masalah Kita? Ada saat-saat dalam hidup ketika kita merasa dikelilingi api. Bukan api yang terlihat, tapi yang terasa: tekanan, kehilangan, kegagalan, pengkhianatan, atau kecemasan yang tak kunjung reda. Kita sering berdoa agar api itu dipadamkan. Kita ingin masalahnya hilang. Kita ingin semuanya selesai. Namun kisah Nabi Ibrahim mengajarkan sesuatu yang lebih dalam. “Kami berfirman: Wahai api, jadilah engkau dingin dan penyelamat bagi Ibrahim.” (QS. Al-Anbiyā’ [21]: 69) Allah tidak memadamkan api itu. Api tetap menyala. Bara tetap ada. Kayu-kayu tetap terbakar. Tapi yang berubah adalah “rasa” terhadap api itu. Dalam penjelasan Tafsir at-Tabari disebutkan bahwa Allah menjadikan api itu dingin, dan tidak sekadar dingin, tapi juga “selamat” (salāman), agar dinginnya tidak membahayakan. Ini menegaskan bahwa api itu tetap menyala tapi tidak lagi menyakiti Ibrahim sama sekali. Kalau dari suhu panas lantas mendadak berubah menjadi suhu dingin, itu justru bisa bikin tubuh semakin hancur. Justru di situlah letak rahasianya. Allah tidak selalu menghilangkan masalah kita. Tapi Dia bisa mengubah cara kita “merasakan” masalah itu. Api tetap ada, tapi tidak lagi membakar jiwa. Tekanan tetap ada, tapi tidak lagi menghancurkan hati. Kita masih berada di tengah situasi yang sama, tapi batin kita tidak lagi hangus di dalamnya. Lalu Allah tidak berhenti di situ. Dia tidak hanya membuat kita “tidak sakit”, tapi juga “selamat”. Bukan sekadar bertahan, tapi dilindungi. Bukan hanya dingin, tapi juga aman. Kita ngarep kayak gini juga kan? 🙏🏻 Bukan sekadar: “Ya Allah, hilangkan masalah ini.” Tapi lebih dalam dari itu: “Ya Allah, jika masalah ini harus tetap ada, maka jadikan aku kuat di dalamnya. Jadikan hatiku sejuk. Dan jangan biarkan ia menghancurkanku.” Karena mungkin, keselamatan terbesar bukan ketika api itu padam. Tapi ketika kita berdiri di kobaran api masalah, dan tetap tenang serta selamat. Dan di titik itu, kita mulai mengerti apa artinya benar-benar dilindungi.​​​​​​​​​​​​​​​​ Mohon Engkau jangan tinggalkan kami barang sekejap matapun, Ya Rabb 🙏🏻😰 Met Jumatan guys… Tabik, Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen tweet media
Indonesia
8
105
356
10.5K
Imam Rofiki retweetledi
ntang
ntang@prkdlx·
Ternyata menarik banget kalau dipikirin, knp berhenti baca buku bisa bikin kita kehilangan banyak hal ya? Penjelasan sederhananya adalah saat kita baca buku, otak kita bener2 aktif. Kita diajak mikir, berimajinasi, dan seringkali jadi pengen ngelakuin sesuatu. Nah, pas kita berhenti, otak jadi kurang stimulasi. Setidaknya dengan membaca akan memengaruhi: - Intelligence: Melatih otak buat terus nyari info baru. Tanpa itu, kemampuan analisis dan berpikir kritis bisa tumpul. - Ambition: Buku sering memotivasi kita dengan ide dan perspektif baru. Tanpa inspirasi itu, kita bisa jadi stagnan. - Imagination: Buku ngebuka dunia baru yang bikin kita lebih kreatif. Tanpa latihan ini, imajinasi jadi kaku. Setuju ga?
Indonesia
21
1.3K
5K
84.8K
Imam Rofiki retweetledi
Bambang
Bambang@sibambaang·
Dalam psikologi sosial, sentimen kelompok kognitif rendah terhadap kognitif tinggi, bisa disebut dengan Anti-Intelektualisme. Kelompok yang merasa tertinggal secara kognitif atau pendidikan sering kali mengembangkan rasa tidak percaya atau permusuhan terhadap kelompok "elit intelektual." Menurut Social Identity Theory (Tajfel & Turner), setiap kelompok berusaha mempertahankan citra positif tentang diri mereka. Ketika kelompok kognitif tinggi dianggap sebagai standar "kesuksesan," kelompok lain mungkin merasa terancam secara psikologis. Kelompok kognitif rendah sering memandang kelompok kognitif tinggi sebagai sosok yang sombong, tidak praktis, atau tidak peka terhadap realitas hidup orang biasa. Hal ini menciptakan jarak emosional yang memicu kebencian. Untuk menyeimbangkan rasa rendah diri kognitif, kelompok ini sering menekankan nilai-nilai lain seperti "moralitas," "kejantanan," "akal sehat (common sense)," atau "kepatuhan pada tradisi" sebagai bentuk keunggulan mereka atas kelompok intelektual. Penelitian oleh Hodson dan Busseri (2012) menunjukkan adanya korelasi antara kemampuan kognitif yang lebih rendah dengan tingkat prasangka yang lebih tinggi terhadap "outgroups" (kelompok luar). Hal ini dikarenakan individu dengan kognitif rendah cenderung lebih menyukai struktur yang kaku dan hierarki sosial yang jelas untuk merasa aman di dunia yang kompleks. Kritik yang logis memaksa seseorang untuk berpikir lebih keras (cognitive strain). Menyingkirkan pengkritik intelektual adalah cara termudah bagi kognitif rendah untuk kembali ke kondisi "nyaman" di mana keyakinan mereka tidak dipertanyakan. Jika dominasi kelompok rendah didasarkan pada dogma atau narasi tertentu, maka intelektualitas adalah ancaman eksistensial. Menyingkirkan intelektual adalah bentuk mekanisme pertahanan diri kelompok. Kelompok kognitif tinggi akan diberi label negatif seperti "elitis," "sok tahu," "tidak nasionalis," atau "pengkhianat rakyat." Ini bertujuan untuk merusak kredibilitas mereka di mata publik sebelum argumen mereka sempat didengar. Dalam organisasi atau pemerintahan, kelompok mayoritas mungkin menerapkan sistem seleksi yang lebih mengutamakan loyalitas dan keseragaman daripada kompetensi atau kecerdasan. Orang-orang cerdas yang kritis sengaja tidak diberi ruang agar tidak "mengganggu" arus utama. Ketika kelompok kognitif rendah berhasil menyingkirkan pengaruh kelompok kognitif tinggi, masyarakat tersebut biasanya mengalami fenomena yang disebut The Race to the Bottom atau kemunduran standar. Karena kritik dianggap sebagai gangguan, tidak ada ruang untuk perbaikan. Kesalahan yang sama diulang terus-menerus karena tidak ada yang berani (atau mampu) mengoreksinya. Individu-individu cerdas di dalam kelompok tersebut akan memilih untuk diam (silent majority) atau pergi ke lingkungan lain yang lebih menghargai kecerdasan (brain drain), yang pada akhirnya semakin memperlemah kelompok tersebut. Ini hampir mirip dengan kejadian tahun 60-an di mana 1 generasi intelektual hilang hanya gara-gara politik "kelompok kognisi rendah." Tidak disangka, hari ini kita akan mengalaminya lagi. 1 generasi dipersekusi, diusir, dan akan "hilang" digantikan dengan perut yang kenyang (MBG).
Indonesian Pop Base@iPopBase

Prabowo says “smart” people are free to leave if they believe the nation is moving toward a “dark age”: “Matanya buram, Indonesia gelap. Indonesia terang. Ada yang mau kabur, kabur saja. Kau kabur saja ke sana. Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman. Silakan. Mau kabur ke mana. Hei orang-orang pintar, bukalah berita, lihatlah kita ditempatkan sebagai tempat yang paling aman di dunia sekarang. Kabur saja deh. Iya, kabur saja, biar kita enggak gaduh.” (nasional.kompas.com/read/2026/04/2…)

Indonesia
8
196
433
21.6K
Imam Rofiki retweetledi
Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen@na_dirs·
Mengapa filosofi pendidikan “sesuai industri” itu problematis? Saya agak gelisah baca wacana menutup prodi yang dianggap “tidak relevan dengan industri”, yang disampaikan Sekjen Kemendikti, Prof Bakri Munir Sukoco. Bukan karena saya anti industri. Tapi… industri yang mana? Yang hari ini? Atau yang bahkan belum ada 10 tahun lagi? Masalahnya sederhana: industri sendiri sering belum tahu arah masa depannya. Laporan World Economic Forum dan McKinsey & Company berulang kali bilang hal yang sama: banyak pekerjaan masa depan belum eksis hari ini. Jadi kalau kampus sibuk “menyesuaikan diri” dengan kebutuhan sekarang, kita mungkin sedang menyiapkan lulusan… untuk dunia yang sudah lewat. Dan biasanya, yang pertama dikorbankan itu selalu sama: Filsafat. Sejarah. Sastra. Yang dianggap tidak praktis. Padahal banyak pemimpin, pembuat kebijakan, bahkan inovator yang lahir dari sana. Sekarang bahkan keguruan dan kedokteran ikut disorot oleh Sekjen Kemendikti. Keduanya dibutuhkan masyarakat tapi katanya terlalu “market-driven”, harus jadi “market-driving”. Tapi jujur saja kedua istilah ini masih dalam logika yang sama: pasar sebagai penentu. Bedanya hanya soal siapa yang lebih pandai meramal pasar. Padahal masalah utamanya bukan di situ. Masalah pendidikan di Indonesia itu ada di tata kelola. Prodi dibuka karena tren. Karena peminat. Karena pemasukan. Bukan karena visi pendidikan. Kalau akarnya di situ, menutup prodi dari atas itu cuma seperti memotong daun, tanpa menyentuh akar. Yang kita butuhkan bukan sekadar menutup prodi, tapi membenahi cara kita menilai dan membiayai pendidikan. Quality control dan akreditasi tetap penting, tapi ukurannya harus nyata: kualitas belajar, daya pikir lulusan, dan dampaknya bagi masyarakat, bukan sekadar dokumentasi. Yang dibutuhkan adalah pendanaan berbasis kualitas, kurikulum yang lentur, dan keberanian menjaga ilmu yang tidak selalu “laku”. Karena saat industri jadi satu-satunya ukuran, dunia kampus menjelma hanya melatih tenaga kerja bukan melahirkan manusia yang mampu berpikir, menilai, dan membentuk zamannya sendiri. Tabik, Nadirsyah Hosen
tempo.co@tempodotco

JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

Indonesia
35
1.1K
2.7K
79K
Imam Rofiki retweetledi
dr. Adam Prabata
dr. Adam Prabata@AdamPrabata·
Tau gak kalian kalau ternyata ibu kita masih menyimpan 'kenangan biologis' tentang diri kita dalam bentuk sel-sel tubuh kita saat masih di kandungan? Kenangan biologis ini tidak berlaku untuk anak yang dilahirkan, tapi juga bisa berlaku untuk anak yang keguguran, atau meninggal dalam kandungan. Jadi ada fenomena yang namanya 𝗳𝗲𝘁𝗮𝗹-𝗺𝗮𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝗹 𝗺𝗶𝗰𝗿𝗼𝗰𝗵𝗶𝗺𝗲𝗿𝗶𝘀𝗺, yaitu sel janin di kandungan menyeberang lewat plasenta masuk ke aliran darah ibu hamil. Yang menarik adalah sel janin ini akan tetap ada setelah kita dilahirkan, bahkan kemudian menetap di organ-organ ibu kita dalam waktu yang lama. Salah satu penelitian menunjukkan kalau sel-sel janin itu dapat 'masih terdeteksi' hingga 27 tahun setelah kelahiran. Selain itu, sel-sel janin ini juga dapat membantu ibu-nya bila mengalami cedera. Contohnya adalah sel-sel janin ini ditemukan di jaringan parut bekas operasi Caesar dan jaringan jantung yang cedera pasca serangan jantung. Fenomena ini sebenarnya masih menjadi misteri, karena manfaat pastinya belum diketahui dan apakah bisa memunculkan efek buruk pada kesehatan ibu itu juga belum diketahui. Semoga bermanfaat! Sumber: Bianchi (2018). The Inadvertent Discovery of Human Fetal Cell Microchimerism.
Dr. AK 🇮🇳@docakx

Tell me a beautiful medical fact.

Indonesia
24
1.2K
7.2K
290.6K
Imam Rofiki retweetledi
NutaniMan
NutaniMan@rouppme·
JIka datang ke toko pertanian, jangan bingung pilih NPK atau DAP. Ini satu panduan sederhana biar nggak salah beli dan buang uang. Thread:
NutaniMan tweet media
Indonesia
43
354
1.6K
90.5K
Imam Rofiki retweetledi
listyantidewi
listyantidewi@listyantidewi·
Pernahkah Anda merasa menjadi "orang tua yang gagal" hanya karena melihat unggahan orang lain di Instagram atau TikTok? Anda tidak sendirian. Di abad ke-21 ini, tantangan menjadi orang tua bukan lagi sekadar memastikan anak makan dan sekolah, melainkan menghadapi tekanan mental dari standar pengasuhan "sempurna" yang setiap hari muncul di layar ponsel kita. Artikel ini akan membahas mengapa mengejar kesempurnaan justru bisa merugikan anak, dan mengapa menjadi orang tua yang "cukup baik" adalah kunci keberhasilan yang sesungguhnya. Baca selengkapnya di tautan artikel berikut ini:
listyantidewi@listyantidewi

x.com/i/article/2032…

Indonesia
0
3
12
862
Imam Rofiki retweetledi
listyantidewi
listyantidewi@listyantidewi·
Kali ini saya menulis artikel tentang salah satu mitos terbesar dan terlama di dunia pendidikan, yaitu "gaya belajar". Banyak individu tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka memiliki "gaya belajar" tertentu, seperti visual, auditori, atau kinestetik. Premis dari teori ini adalah bahwa pembelajaran akan lebih optimal jika instruksi pengajaran disesuaikan dengan preferensi sensorik siswa, sebuah gagasan yang dikenal sebagai "hipotesis pencocokan" (meshing hypothesis) (Pashler et al., 2008). Meskipun ide ini sangat populer dengan survei menunjukkan bahwa lebih dari 90% guru di beberapa negara memercayainya, namun bukti ilmiah selama puluhan tahun secara konsisten menunjukkan bahwa mencocokkan materi dengan gaya belajar tidak meningkatkan hasil belajar sama sekali (Howard-Jones, 2014; Pashler et al., 2008). Selengkapnya, mohon berkenan membaca artikel berikut.
listyantidewi@listyantidewi

x.com/i/article/2027…

Indonesia
16
270
975
26.3K
Imam Rofiki retweetledi
Hanif | AI For Productivity
Hanif | AI For Productivity@hanifproduktif·
Stop bayar Google One. Gue gue pernah panik gara2 Google Drive gue penuh dan ga bisa terima email. Hampir aja gue subscribe bayar Google One buat upgrade kapasitas drive. Ternyata gak perlu. 15GB gue yang "penuh"? 11GB-nya sampah yang Google sembunyiin. Gue bersihin dalam 20 menit. Gratis. Tanpa hapus file penting. Gini caranya:
Indonesia
238
10.5K
43.3K
2M
Imam Rofiki retweetledi
Iman Zanatul Haeri
Iman Zanatul Haeri@zanatul_91·
Ini keliru. 1. Kalau APBN untuk pendidikan sekarang 769,1 Triliun, dikurangi MBG 223 Triliun, berarti APBN untuk pendidikan kita 546 Triliun, lebih rendah dari tahun 2023. Itu namanya Turun. Kurang jelas? 2. Tidak ada tunjangan guru Non-ASN naik 100%. Coba denger pidato Presiden, naiknya hanya 500 ribu dari 1,5 ke 2 juta. 2. MBG tidak mengganggu anggaran untuk guru? guru ASN digaji pemda, itu diambil dari anggaran pendidikan. Maka ketika transfer ke daerah dipangkas, berimbas pada kemampuan daerah dalam mengalokasikan anggaran untuk guru. 3. guru Honorer negeri hampir tidak ada setelah adanya pengangkatan PPPK PW. Namun, setelah diangkat, ternyata gaji mereka lebih rendah dari honorer. Kenapa? lihat nomor dua. Dari 139 ribu-500 ribu. 4. Apakah guru honorer makin sejahtera? tidak. Prinsipnya, adalah guru yang tidak sejahtera. Disitu negara bermasalah jika anggarannya besar, tapi tidak sanggup menggaji guru dengan layak. 5. Ada masalah sistemik dalam rekeuitmen guru. Sampai sekarang masih ada guru honorer, karena distribusi guru tidak sesuai kebutuhan, atau ketika dibutuhkan lemah distribusi, sehingga kepala sekolah melakukak rekruitmen darurat asal kelas tidak kosong. 6. Sebaiknya diupdate lagi infografis tanpa nama/ tanpa lembaga tersebut. Baru-baru ini Komisi X mempertanyakan mengapa anggaran Pendidikan Profesi guru dipangkas 1 Triliun. Padahal, PPG ini adalah skema yang dijanjikan pemerintah untuk mensejahterakan guru. Eh dikurangi juga. Kurang jelas apa kesejahteraan guru berkurang akibat MBG?
Ferry Koto@ferrykoto

Saya kasih data ini dulu ya,soal penghasilan Guru. Ini bukti konsistensi Presiden @prabowo dlm memperhatikan pendidikan, khususnya kesejahteraan Guru. Sorry, full load sekali, nanti longgar saya jelaskan. Singkat saja dulu. Singkatnya, walau ada MBG, anggaran kesejahteraan Guru bukan berarti berkurang. Malah meningkat di 2025 dan 2026 ini. Meningkatnya bahkan ada yg sampai 2x lipat alias 100% (tunjangan Guru Non ASN). Silahkan baca data ini ya. Disajikan Katadata yg merupakan media kredible soal data. Intinya tak berkurang perhatian ke Guru. Dan mohon teman2 jika bahas soal Guru Honorer, pisahkan dulu itu guru swasta atau negeri, lama atau baru. Di negeri sudah tak boleh ada Guru Honorer baru, semua guru baru diangkat lewat mekanisme ASN. Guru honorer di sekolah negeri sudah selesai pengangkatannya di 2025. Tak ada lagi honorer baru. Betul, masih ada yg belum lolos seleksi, itu sedang dicarikan solusi yg tidak menyalahi UU. Demikian, 🙏🙏

Indonesia
99
2K
3.6K
178.1K
Imam Rofiki retweetledi
☀️☯️ Ĕxčèĺ Ďèé🌏🌱
Baik kak...penjelasannya seperti ini.... Sejak dulu, leluhur Jawa kerap menanam pohon beringin di dekat sumber air, tepi sungai, atau wilayah yang rawan ambrol. Dalam ilmu titen, beringin dipercaya sebagai pancer bumi, penjaga keseimbangan tanah dan air. Apa yang diamati leluhur ini ternyata sejalan dengan penjelasan sains modern. Secara ilmiah, beringin memiliki sistem perakaran yang unik. Selain akar di dalam tanah, beringin juga menumbuhkan akar gantung yang menjulur dari cabang ke arah bumi. Ketika akar gantung menyentuh tanah, ia tidak sekadar menempel, tetapi berkembang menjadi akar penyangga baru. Akar-akar ini membentuk jaringan vertikal dan horizontal yang : Mengikat partikel tanah lebih kuat Menyebarkan beban pohon dan tanah ke banyak titik Mengurangi pergeseran tanah, terutama di lereng dan bantaran sungai Saat hujan deras turun, akar gantung dan tajuk beringin berfungsi sebagai peredam alami. Air hujan tidak langsung menghantam tanah, alirannya dipecah, lalu diserap perlahan. Inilah yang membuat tanah di sekitar beringin cenderung lebih stabil dan tidak mudah tererosi. Dalam pengamatan orang-orang tua dulu, tanah di bawah beringin terasa lebih adem, lembab, dan jarang longsor. Kini kita tahu, itu karena kombinasi : Sistem akar yang rapat Penahanan air yang baik Struktur tanah yang terus diperkuat oleh akar hidup Akar gantung pohon beringin bukan sekadar ciri visual yang megah, melainkan jaring hidup pengikat tanah. Ia bekerja diam-diam menjaga bumi, sebagaimana leluhur kita dulu menanamnya, bukan tanpa alasan, tapi karena memahami tanda-tanda alam. Ilmu titen dan sains bertemu di satu titik, alam selalu memberi isyarat, manusia yang belajar membaca.
quest@Paramecwara

@Excel_Dee Kalau mengenai akar gantung bisa membantu mengikat tanah dan mencegah longsor, bagaimana penjelasannya ya Mbak?

Indonesia
9
321
1.4K
54.8K
Imam Rofiki retweetledi
☀️☯️ Ĕxčèĺ Ďèé🌏🌱
Kenapa Banyak Petani Menanam Pohon Turi di Pinggir Sawah? Di banyak desa pertanian, pohon turi (Sesbania grandiflora) sering ditanam di pematang sawah. Bagi petani lama, ini bukan sekadar kebiasaan, tapi bagian dari ilmu titen yang diwariskan turun-temurun. Dalam titen Jawa, turi dikenal sebagai wit urip sawah, pohon penghidup sawah. Sawah yang bisa ditumbuhi turi dipercaya memiliki tanah yang adem, gembur, dan cukup air. Jika turi tumbuh subur, itu pertanda sawah masih sehat dan padi tidak mudah stres, baik saat kemarau maupun musim hujan. Kepercayaan ini ternyata sejalan dengan sains. Turi termasuk tanaman leguminosa yang akarnya bersimbiosis dengan bakteri pengikat nitrogen. Proses ini membantu menambah unsur hara nitrogen alami di sekitar sawah, sehingga tanah menjadi lebih subur tanpa bergantung penuh pada pupuk kimia. Daun turi yang gugur juga berperan penting. Seresah daun ini cepat terurai, memperkaya bahan organik tanah, memperbaiki struktur sawah, dan menjaga kelembaban. Tak heran jika dulu daun turi sering dimanfaatkan sebagai pupuk hijau alami. Selain itu, pohon turi di pematang berfungsi sebagai penahan angin dan pengatur mikroklimat. Angin kencang yang bisa merobohkan padi dapat diredam, sementara lingkungan sawah menjadi lebih seimbang. Bunganya pun menarik serangga bermanfaat yang membantu menjaga ekosistem sawah tetap stabil. Dari kearifan lokal hingga ilmu pertanian modern, pohon turi membuktikan satu hal : sawah yang dirawat dengan alam akan memberi hasil dengan lebih bijak. Semoga Bermanfaat....🙏 #TitenJawa #IlmuTiten
☀️☯️ Ĕxčèĺ Ďèé🌏🌱 tweet media☀️☯️ Ĕxčèĺ Ďèé🌏🌱 tweet media☀️☯️ Ĕxčèĺ Ďèé🌏🌱 tweet media
Indonesia
137
816
3.5K
137.2K
Imam Rofiki retweetledi
Ken Hans
Ken Hans@kenhans03·
Pawang Ular Prindapan pun keder liat ini... 😂🫢
Indonesia
47
89
298
14.6K
Imam Rofiki retweetledi
Fadel | Business Growth
Fadel | Business Growth@halofadel·
Gw pernah ngobrol sama 47 entrepreneur yg stuck di 300-500jt revenue. Dan gua nemuin 5 pola kesalahan yang SAMA PERSIS di hampir semua mereka. Pola ini yang bikin bisnis mereka macet, margin tipis, dan founder capek. Simak ini...
Indonesia
3
42
229
8.9K
Imam Rofiki retweetledi
Knowledge Nest
Knowledge Nest@learnings01·
Rubik's cube hack .....
English
155
5.1K
15.7K
1.3M