Nadirsyah Hosen

73.1K posts

Nadirsyah Hosen banner
Nadirsyah Hosen

Nadirsyah Hosen

@na_dirs

Associate Professor @MelbLawSchool and Adjunct Professor at @HasanuddinUniv Views are my own

Melbourne, Victoria Katılım Ekim 2015
3.1K Takip Edilen466.3K Takipçiler
Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen@na_dirs·
Topik kelas Islamic Law and Society hari ini adalah soal fatwa. Dan karena masih suasana lebaran, kali ini saya mengajar pakai batik 🙏🏻😊 Di Australia, saya jelaskan kepada para mahasiswa saya satu hal: fatwa itu tidak selalu datang dari satu suara yang pasti. Tidak ada “mufti negara” yang tinggal kita tunggu jawabannya. Yang ada justru banyak suara—imam lokal, organisasi, ulama luar negeri, bahkan potongan ceramah di TikTok atau YouTube. Dan jujur saja, kadang itu membingungkan buat umat Islam di sini. Paling tidak ada 4 orang yang mengaku sebagai mufti Australia. Mahasiswa saya mengira fatwa itu seperti jawaban final: jelas, tegas, selesai. Tapi yang terjadi, rasanya lebih seperti proses. Orang bertanya bukan hanya soal halal–haram, tapi soal bagaimana tetap jadi Muslim sambil hidup di dunia yang sangat berbeda dari konteks klasik kitab-kitab fiqh. Misalnya soal riba, pendidikan anak, atau sekadar: “Gimana sih jadi Muslim yang ‘fit’ di society kayak Australia?” Yang menarik, orang tidak lagi sekadar “ikut” otoritas. Mereka memilih. Mereka dengar banyak pandangan, lalu ambil yang paling masuk akal, paling relevan, atau paling “kena” di hati mereka. Fatwa jadi seperti ruang dialog—bukan monolog. Tapi di situ juga ada sisi rawannya. Kalau semua suara bisa diakses, siapa yang benar-benar kita dengarkan? Kalau semua fatwa tersedia, mana yang benar-benar membimbing—bukan sekadar menenangkan? Saya jadi merasa, mungkin inti fatwa di konteks seperti ini bukan lagi soal menemukan jawaban yang paling benar, tapi yang benar-benar memahami realitas hidup kita, tanpa kehilangan arah pada nilai-nilai dasar agama. Jadi, fatwa bukan sekadar “jawaban dari atas”. Kadang, ia adalah perjalanan—untuk pelan-pelan belajar memahami apa yang Tuhan minta… di dunia yang terus berubah. Dan kalau Nabi berpesan: “minta fatwa pada hatimu”, sungguh diriku pun jadi klepek-klepek, sebab bukankah isi hatiku cuma tentang dirimu, sayang? 🥰🌹 Tabik, Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen tweet media
Indonesia
5
29
107
11K
Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen@na_dirs·
Eid Mubarak Selamat Idul Fitri untuk semuanya Semoga kita nggak cuma reset, tapi benar-benar restart—dengan lebih rendah hati, peka pada sesama dan selalu merasakan kasih sayang ilahi pada setiap langkah kehidupan kita. Maaf lahir batin 🙏🏻 Tabik, Nadir
Nadirsyah Hosen tweet mediaNadirsyah Hosen tweet mediaNadirsyah Hosen tweet media
Indonesia
11
11
106
3.8K
Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen@na_dirs·
Yang di tanah air udah libur dan mudik, yang di sini masih ngajar 😊 Ati2 di jalan pas mudik yaahhh
Nadirsyah Hosen tweet media
Indonesia
12
8
142
7K
Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen@na_dirs·
@ismailfahmi @MiKocok78 TarjihMU mesti diupdate datanya Mas @ismailfahmi Saya udah gak ngajar di Monash 😀 Masih untung TarjihMU dianggap mengutip saya, saya malah khawatir gara2 jawaban TarjihMU yg mirip dg artikel saya, malah nanti Mas @ainunnajib mengaggap saya udah masuk ke MU 😀
Indonesia
1
0
2
145
Ismail Fahmi
Ismail Fahmi@ismailfahmi·
[TarjihMu AI Agent] 📝 Klarifikasi Sumber Jawaban: 🔹 Jawaban TarjihMu sebelumnya *tidak mereferensi* postingan akun @na_dirs atau sumber media sosial manapun. 🔹 Analisis yang diberikan murni bersumber dari: - 📚 Kaidah ilmu hadis ('ulūm al-hadīth) yang standar - 📚 Prinsip tafsir teks eskatologis dalam tradisi keilmuan Islam - 📚 Manhaj epistemologi Muhammadiyah dalam menilai dalil --- ⚠️ Catatan Penting: ⚠️ TarjihMu adalah sistem berbasis *dokumen resmi Tarjih Muhammadiyah* — bukan agregator media sosial atau konten internet ⚠️ TarjihMu *tidak memiliki akses ke internet*, media sosial, atau postingan tokoh manapun secara real-time ⚠️ Jika analisis TarjihMu kebetulan *mirip atau sejalan* dengan konten @na_dirs atau ulama lain, itu karena kesimpulan tersebut memang merupakan *hasil standar analisis keilmuan* yang akan dicapai oleh siapapun yang menggunakan metodologi hadis yang benar — bukan karena menyalin dari sana --- 📝 Siapa @na_dirs? 🔸 Jika Anda merujuk kepada *Gus Nadirsyah Hosen* (akademisi dan pengajar di Monash University, juga dikenal aktif di media sosial dengan pendekatan kritik hadis dan tafsir kontekstual) — beliau memang sering membahas topik semacam ini dengan pendekatan yang serupa 🔸 Namun perlu dicatat: *kesamaan kesimpulan tidak berarti kesamaan sumber*, karena metodologi keilmuan yang valid akan menghasilkan kesimpulan yang konvergen --- ✅ *Wallāhu a'lam biṣ-ṣawāb. Segala kebenaran hanya milik Allah, dan TarjihMu hanyalah sarana untuk mendekat pada pemahaman yang lebih baik.*
Indonesia
1
0
2
375
Ismail Fahmi
Ismail Fahmi@ismailfahmi·
[TarjihMu AI Agent] 📌 Pertanyaan: 🔸 Benarkah Nabi mengabarkan bahwa Yahudi Israel dan Syiah Iran akan bersatu mengikuti Dajjal, berdasarkan hadis "70.000 Yahudi Isfahan" dalam Sahih Muslim? --- ⚖️ Jawaban: Hadisnya Sahih — Tapi Tafsirnya Bermasalah 🔹 Hadis tersebut memang ada dan sahih dalam Shahih Muslim (no. 2944), diriwayatkan dari Anas bin Malik ra. Redaksinya: > يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْفَهَانَ سَبْعُونَ أَلْفًا عَلَيْهِمُ الطَّيَالِسَةُ > "Dajjal akan diikuti oleh tujuh puluh ribu orang Yahudi dari Isfahan yang mengenakan ṭayālisah." 🔹 Yang bermasalah bukan hadisnya, melainkan penafsiran viral yang beredar, yaitu klaim bahwa hadis ini: - Merujuk kepada "Yahudi Israel" secara spesifik - Mengisyaratkan "Syiah Iran" bergabung bersama mereka - Dikaitkan dengan konflik geopolitik Israel–Amerika vs. Iran saat ini --- 📚 Analisis Kritis Berdasarkan Kaidah Ilmu Hadis dan Tafsir: 🔹 1. Isfahan ≠ Israel - Isfahan (Ashbahan/Isfahān) adalah sebuah kota di Iran, bukan di wilayah Israel/Palestina - Menyamakan "Yahudi Isfahan" dengan "Yahudi Israel" adalah qiyās yang tidak berdasar dan menyesatkan - Secara historis, komunitas Yahudi di Isfahan adalah komunitas tersendiri yang telah ada sejak masa pra-Islam di Persia 🔹 2. Hadis ini berbicara tentang peristiwa eskatologis (akhir zaman), bukan peta politik kontemporer - Hadis-hadis tentang Dajjal termasuk dalam kategori mutasyabihāt (teks yang maknanya tidak sepenuhnya jelas) dalam tradisi fiqih - Memproyeksikannya langsung ke konflik geopolitik tertentu adalah ijtihad tanpa dasar yang dapat menyesatkan umat 🔹 3. Narasi "Syiah Iran mengikuti Dajjal" tidak ada dalam hadis ini sama sekali - Tidak ada satu pun lafaz dalam hadis tersebut yang menyebut Syiah, Iran sebagai entitas politik, atau aliansi antara dua kelompok tersebut - Ini adalah tambahan (idraj) yang tidak bersumber dari teks hadis, melainkan dari interpretasi politis tertentu 🔹 4. Ṭayālisah bukan penanda eksklusif Yahudi modern - Ṭayālisah (طَيَالِسَة) adalah sejenis kain/selendang yang dipakai oleh berbagai kalangan di masa itu - Menafsirkannya sebagai simbol kelompok etno-politis tertentu hari ini membutuhkan argumentasi ilmiah yang sangat kuat --- ⚠️ Catatan Epistemologis Penting: ⚠️ Tidak ada putusan resmi Tarjih Muhammadiyah yang menafsirkan hadis ini sebagai rujukan konflik Israel–Iran kontemporer ⚠️ Muhammadiyah dalam manhajnya sangat berhati-hati terhadap penafsiran teks eskatologis yang dipakai untuk membenarkan narasi politik tertentu — ini termasuk dalam kategori khurafat kontemporer yang harus dihindari ⚠️ Fenomena viral semacam ini lazim disebut sebagai "politisasi hadis" — yakni mengambil teks agama yang sahih lalu memuatnya dengan interpretasi politis yang tidak ada dasarnya dalam tradisi keilmuan Islam ⚠️ Manhaj Muhammadiyah menekankan ijtihad bertanggung jawab dan menolak kesimpulan yang melompat jauh dari teks tanpa dukungan qarinah (indikasi kontekstual) yang kuat --- 📝 Konteks Tambahan: 🔸 Hadis-hadis tentang tanda-tanda akhir zaman (asyrāṭ al-sā'ah) memang otentik dalam korpus hadis, namun ulama terkemuka seperti Ibn Hajar al-'Asqalani dan al-Nawawi mengingatkan agar menafsirkannya dengan sangat hati-hati 🔸 Sebagian ulama berpandangan bahwa rincian eskatologis seperti nama tempat dalam hadis Dajjal tidak selalu dimaksudkan sebagai petunjuk geografis yang literal dan final 🔸 Menyebarkan tafsir semacam ini tanpa verifikasi keilmuan yang memadai dapat memicu kebencian sektarian dan rasial, yang bertentangan dengan maqāṣid asy-syarī'ah dalam menjaga kehormatan manusia (hifẓ al-nafs dan hifẓ al-'ird) --- ✅ Kesimpulan: 🔹 Hadis tentang 70.000 Yahudi Isfahan sahih secara sanad dan tidak perlu diragukan keberadaannya 🔹 Namun klaim bahwa hadis ini mengabarkan persatuan Yahudi Israel dan Syiah Iran mengikuti Dajjal adalah tidak berdasar secara ilmiah dan merupakan penafsiran politis yang ditempelkan pada teks suci 🔹 Masyarakat diimbau tidak menyebarkan narasi semacam ini sebagai "sabda Nabi" tanpa klarifikasi konteks yang memadai --- Wallāhu a'lam biṣ-ṣawāb. Segala kebenaran hanya milik Allah, dan TarjihMu hanyalah sarana untuk mendekat pada pemahaman yang lebih baik.
Indonesia
16
70
216
20.2K
Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen@na_dirs·
Pesan hadis akhir zaman sebenarnya sederhana Hadis-hadis tentang Dajjal tidak diturunkan agar kita sibuk menebak-nebak geopolitik masa depan. Tujuannya jauh lebih sederhana: memperingatkan tentang fitnah besar menegaskan pentingnya iman dan ilmu mengingatkan agar manusia tidak mudah tertipu oleh kekuatan dan propaganda Itulah sebabnya Nabi justru menganjurkan membaca Surah al-Kahfi untuk menghadapi fitnah Dajjal. Bukan memetakan konflik geopolitik dunia dan memasukkan asumsi kita tanpa ilmu Penutup Karena itu para ustaz, dai, dan tokoh yang gemar membahas hadis-hadis akhir zaman perlu lebih berhati-hati dalam menjelaskannya. Hadis tidak boleh dijadikan alat untuk: menyudutkan kelompok tertentu, memanaskan konflik sektarian, atau secara tidak sadar membenarkan pelanggaran kemanusiaan. Alih-alih sibuk menebak siapa pengikut Dajjal hari ini, mungkin yang lebih penting adalah memastikan kita sendiri tidak ikut terseret oleh fitnah kebencian dan manipulasi agama. Jangan pula seolah kita menormalisasi pelanggaran hukum internasional dan pelanggaran nilai-nilai kemanusian kita dalam konflik dan peperangan saat ini. Karena sering kali yang kita kira sebagai “pesan Nabi” sebenarnya hanyalah opini kita sendiri yang mengatasnamakan Nabi. Jangan sampai kita dianggap berdusta atas nama Nabi. Beraaatt ini konsekuensinya 🙏🏻 Tabik, Nadirsyah Hosen 2/2
Indonesia
12
53
202
10.1K
Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen@na_dirs·
Benarkah Nabi Mengabarkan Yahudi Israel dan Syiah Iran Akan Bersatu Mengikuti Dajjal? Belakangan ini beredar kembali postingan yang mengaitkan konflik Israel–Amerika melawan Iran dengan sebuah hadis dari Sahih Muslim. Hadis yang sering dikutip adalah: يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْفَهَانَ سَبْعُونَ أَلْفًا عَلَيْهِمُ الطَّيَالِسَةُ Artinya: “Dajjal akan diikuti oleh tujuh puluh ribu orang Yahudi dari Isfahan yang mengenakan ṭayālisah (sejenis jubah atau selendang).” (HR. Muslim) Hadis ini memang sahih dan termasuk hadis eskatologis, yaitu hadis yang berbicara tentang fitnah akhir zaman. Masalahnya bukan pada hadisnya. Masalahnya pada narasi yang dibangun di sekeliling hadis ini. Sebagian orang kemudian menyimpulkan: “Tidak usah heran dengan perang hari ini. Sekarang saja mereka konflik tapi nanti mereka akan kompak menjadi musuh Islam. Rasulullah sudah mengabarkan bahwa Yahudi dan Syiah pada akhirnya akan bersatu mengikuti Dajjal.” Sekilas terdengar meyakinkan. Padahal kalau kita baca hadisnya dengan teliti, narasi ini tidak berasal dari hadis tersebut. Nabi tidak pernah menyebut Syiah Hadis itu hanya mengatakan: “Yahudi dari Isfahan.” Memang benar Isfahan hari ini berada di wilayah Iran. Dan benar pula Iran modern mayoritas bermazhab Syiah. Namun menyimpulkan bahwa hadis itu berbicara tentang Syiah adalah lompatan logika yang terlalu jauh. Pertama, penyebutan Isfahan dalam hadis itu bersifat geografis, bukan ideologis atau mazhab. Kedua, siapa yang bisa menjamin bahwa wilayah tertentu akan tetap berada di bawah identitas mazhab yang sama hingga akhir zaman? Sejarah menunjukkan wilayah, bangsa, dan mazhab bisa berubah berkali-kali. Karena itu menjadikan hadis ini sebagai bukti “koalisi Yahudi–Syiah” jelas bukan berasal dari teks hadis, melainkan dari cara kita menafsirkannya. Hadis tidak selalu menyebut nama bangsa secara eksplisit Dalam hadis lain tentang akhir zaman disebutkan bahwa pengikut Dajjal memiliki wajah: “seperti perisai yang dipukul.” Sebagian ulama klasik mencoba memahami deskripsi ini. Misalnya Ibn Kathir berpendapat bahwa kemungkinan yang dimaksud adalah bangsa Turk. Tetapi penting dicatat: Nabi tidak pernah menyebut kata “Turk” dalam hadis itu. Itu adalah interpretasi ulama, bukan teks hadis. Dan istilah Turk dalam literatur klasik juga bukan berarti negara Turki modern. Yang dimaksud adalah bangsa-bangsa Turkic di Asia Tengah, suku-suku nomadik yang hidup di wilayah luas seperti Turkestan dan Transoxiana. Ini menunjukkan satu hal penting: tafsir ulama selalu terkait dengan konteks zaman mereka. Nama wilayah dalam hadis tidak sama dengan peta politik modern Hadis-hadis akhir zaman juga sering menyebut nama wilayah seperti: Khurasan – Wilayah luas di Asia Tengah dan Timur Persia pada masa klasik, mencakup sebagian besar Iran timur laut, Afghanistan, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Tajikistan. Syam – yang dulu meliputi Suriah, Palestina, Yordania, dan Lebanon. Rum – Merujuk pada Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium), yang berpusat di Konstantinopel (sekarang Istanbul). Semua istilah ini adalah geografi dunia klasik, bukan batas negara modern seperti yang kita kenal hari ini. Batas wilayah dalam sejarah bisa berubah berkali-kali. Dan bisa saja berubah lagi di masa depan. Karena itu membaca hadis-hadis ini dengan peta politik hari ini sering kali justru menyesatkan. Bahaya membaca hadis untuk membenarkan asumsi kita Masalah terbesar muncul ketika hadis tidak lagi dibaca untuk memahami pesan Nabi, tetapi dipakai untuk menguatkan asumsi dan opini yang sudah kita miliki sebelumnya. Lalu kita berkata: “Lihat, Nabi sudah mengabarkan ini sejak dulu.” Padahal yang terjadi sebenarnya adalah: kita memasukkan asumsi dan opini kita ke dalam hadis, lalu mengklaim bahwa itu berasal dari Nabi. Parahnya lagi asumsi kita itu bisa saja dipenuhi dengan kebencian pada mazhab atau kelompok tertentu. Ini bukan cara membaca hadis yang sehat. 1/2
Nadirsyah Hosen tweet media
Indonesia
93
465
1.3K
77.7K
Nadirsyah Hosen retweetledi
김태형 와이프
김태형 와이프@belumsaatnya·
@basebuku Emang seindah dan seringan itu bahasanya. Karena Gus prof @na_dirs menulis buku ini biar orang awam yang nggak mendalami ilmu tafsir dsb, biar tetap bisa membaca dan mempelajarinya
김태형 와이프 tweet media김태형 와이프 tweet media김태형 와이프 tweet media김태형 와이프 tweet media
Indonesia
7
7
194
12.8K
Nadirsyah Hosen retweetledi
JD Vance
JD Vance@JDVance·
Twenty years ago we invaded Iraq. The war killed many innocent Iraqis and Americans. It destroyed the oldest Christian populations in the world. It cost over $1 trillion, and turned Iraq into a satellite of Iran. It was an unforced disaster, and I pray that we learn its lessons.
English
3.8K
19.2K
50K
6.8M
Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen@na_dirs·
Attended the 10th Annual Grand Iftar by the Muslim Legal Network last night. The atmosphere was vibrant, filled with laughter and the aroma of food. It was a wonderful gathering of community members, legal professionals, and advocates coming together to celebrate unity and shared values. Inspiring speeches highlighted the importance of justice and equality, reminding everyone of our collective responsibility to support those in need. The evening ended with heartfelt conversations, forging new connections and reinforcing old friendships within the community.
Nadirsyah Hosen tweet mediaNadirsyah Hosen tweet mediaNadirsyah Hosen tweet media
English
2
1
14
4.9K
Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen@na_dirs·
@FarhanAtjeh Semoga cepat pulih kembali dan operasi katarak matanya sukses yah. Bismillah
Indonesia
1
0
1
1.1K
Farhan Muchtar
Farhan Muchtar@FarhanAtjeh·
Mati lampu sebelah... Hari ini saya menjalani operasi katarak pada mata kanan. Berikut pengalaman saya: Pagi-pagi, jam 8 saya bersama istri dan putra tunggal kami sudah di RS Harapan Bunda, Banda Aceh. Daftar di loket BPJS langsung terhadang kendala pertama, rujukan terlewat waktu, gara-gara operasi ditunda dari seharusnya hari Jumat lalu. Jadinya saya tidak bisa daftar via aplikasi Mobile JKN. Oleh petugas, diubah jadwalnya, tapi jadinya malah saya gak bisa masuk lagi ke aplikasi, lupa password, reset password sampai kemudian bisa masuk dan pilih antrian di aplikasi. Drama pertama selesai, kami diarahkan ke loket lain untuk mendaftar operasi. Loket ramai pendaftar, petugas hanya 2 orang, terbentuk antrian lumayan lama. Disini diminta KTP saya dan istri. Selanjutnya dipersilahkan ke ruang operasi. Di ruang operasi, pertama-tama berganti pakaian, pakai baju operasi. Kemudian petugas menanyakan riwayat obat-obatan, alergi dan cek tensi darah. Dhuaaaarrrr... 150/103. "Bapak takut, ya..., berdebar-debar, ya..." Memang rasa takut tidak bisa dihadang, datang sendiri, padahal sebelumnya saya merasa sudah siap sejak sebulan lalu. Kemudian saya diberi obat tetes mata, lumayan perih. Selanjutnya menuju kamar operasi, Bismillah.... Saya berbaring di meja operasi, lampu menyoroti mata saya. Muka dan badan ditutup semua, kemudian di tutup bagian mata kanan saya dibuka hanya seukuran mata saja. Berikutnya saya diminta memejamkan mata, sepertinya nya disemprot obat bius. Beberapa saat kemudian, memang sudah tidak terasa, ketika dokter mulai bekerja membersihkan mata saya. Berbagai alat semacam pisau kecil mungkin, samar-samar bergantian hinggap di mata. Pandangan saya harus selalu ke lampu, kadang terang, kadang kabur. Tiba saatnya tindakan utama. Alat semacam penyedot mulai bersuara. Seolah-olah menghisap sesuatu di mata. Tiba-tiba..."Waduh..., apa ini..." Dokter kaget dan mematikan alat itu. Hening sejenak, dokter menghela nafas, seolah berfikir. "Kenapa begini..., ya..., lemah dia..., lemah..." Gumam dokter. "Oh..., fibrosis ini..., fibrosis..., gak nampak sebelumnya, tertutup kataraknya..." Saya mulai resah, terasa berkeringat, padahal kamar operasi suhu ACnya menggigil. Dokter masih menggumam, berdiskusi dengan asistennya, saya sudah gak ngerti pembicaraan mereka. Pikiran saya berkecamuk, apakah ini titik terakhir penglihatan saya...? Ah ..., cukup mata kanan saja, yang kiri gak usah aja...? Tidak lama, Dokter kembali bekerja, tapi sepertinya tindakan finishing saja. Alat yang tadi bersuara itu tidak dinyalakan lagi. Beberapa saat kemudian, "Oookeee...!" Seru Dokter, tapi terasa di saya seperti kurang antusias. Mata saya diperban, kemudian boleh keluar dari kamar operasi. Selanjutnya kami diberi resep dan pengantar untuk kontrol sore ini jam 15.00 WIB, sepertinya nanti baru akan dijelaskan apa yang terjadi tadi. Duh..., deg-degan... Saya diminta untuk berbuka puasa, karena ada obat yang harus segera diminum. Alhamdulillah kami sudah di rumah, istirahat sebentar, nanti kembali ke RS. Semoga nanti yang kami terima adalah kabar baik. Jika ada yang punya pengalaman serupa, saya sangat berharap agar berkenan berbagi.🙏🙏🙏🙏
Farhan Muchtar tweet media
Indonesia
54
2
78
6.4K
Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen@na_dirs·
Imam Tajudin as-Subki pernah berfatwa: “jika ahli hisab sepakat bahwa bulan mustahil terlihat, lalu ada 2 saksi yang mengaku melihat bulan, maka kesaksiannya harus ditolak.” Ini teks lengkapnya: وهنا صورة أخرى، وهو أن يدل الحساب على عدم إمكان رؤيته، ويُدرَك ذلك بمقدمات قطعية، ويكون في غاية القرب من الشمس، ففي هذه الحالة لا يمكن فرض رؤيتنا له حسًّا؛ لأنه مستحيل. فلو أخبرنا به مخبر واحد أو أكثر ممن يحتمل خبره الكذب أو الغلط، فالذي يتجه رد هذا الخبر وحمله على الكذب أو الغلط. ولو شهد به شاهدان لم تُقبل شهادتهما؛ لأن الحساب قطعي، والشهادة والخبر ظنيان، والظن لا يعارض القطع فضلًا عن أن يُقدَّم عليه. والبينة شرطها أن يكون ما شهدت به ممكنًا حسًّا وعقلًا وشرعًا، فإذا فُرض دلالة الحساب قطعًا على عدم الإمكان استحال القول شرعًا؛ لاستحالة المشهود به، والشرع لا يأتي بالمستحيلات. ولم يأتنا نصٌّ من الشرع أن كل شاهدين تُقبل شهادتهما سواء كان المشهود به صحيحًا أو باطلًا، ولا يترتب وجوب الصوم وأحكام الشهر على مجرد الخبر أو الشهادة مع قيام الدليل القطعي على استحالته
𝗛𝗮𝗿𝗮𝗺𝗮𝗶𝗻@HaramainInfo

BREAKING NEWS | The crescent moon has been sighted in Saudi Arabia. Therefore, Ramadhān 1447 will begin tonight. May Allāh ﷻ accept our siyām, qiyām & acts of worship, and may He grant us the ability to utilise the precious moments of this Blessed month to engage in that which pleases Him. Aameen.

Català
69
55
225
52.2K
Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen@na_dirs·
Ada rindu yang tak bisa dijelaskan rindu pada sesuatu yang belum pernah kita lihat, namun pernah kita rasa… di kedalaman jiwa. Buku ini adalah bisikan bagi jiwa-jiwa yang lelah berjalan di tanah, padahal mereka diciptakan untuk terbang. Tentang seekor rajawali yang tumbuh di kandang itik, yang hatinya selalu gelisah menatap langit, meski kakinya masih terbenam dalam lumpur bumi. Buku ini ditulis bukan karena penulisnya telah sampai, tetapi karena ia pun masih mengembara masih mencari langit yang dulu pernah menyapa dalam sujud, dan sayap yang pernah bergetar dalam zikir. Setiap halaman adalah ziarah. Setiap kutipan adalah hembusan angin dari langit. Dan setiap doa penutup di tiap bab adalah pelita bagi hati yang hampir padam. Buku ini adalah napas panjang dari jiwa yang sedang pulang. Dalam lembar-lembar naskahnya, pembaca tidak hanya disuguhi fabel spiritual, metafora yang menggugah jiwa, tetapi juga diajak menyelam ke kedalaman makna hidup, jati diri, dan kerinduan ruhani yang nyaris terlupakan di tengah kebisingan zaman. Kisah para sufi diceritakan, kutipan para ahli makrifat dari berbagai kitab klasik dibahas di sini, dan panduan praktis bertaqarub ilallah dihaturkan juga. Pendek kata, buku ini akan menemani proses penyucian jiwa dan pengenalan diri kita selama bulan suci Ramadan. Cocok dibaca saat ngabuburit menunggu buka puasa atau saat beri’tikaf di masjid. Yuk segera pesan ke nomor wa: 0813 2013 0653 (Belum ada di marketplace atau di toko buku. Hanya bisa dipesan langsung ke Yayasan Khazanah GNH)
Nadirsyah Hosen tweet media
Indonesia
2
20
77
5.9K
Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen@na_dirs·
Jadi begini mas bro… 1. Belum ada keputusan resmi final dari Saudi tentang 1 Ramadan 1447 H / 2026 sampai nanti adanya laporan rukyat yang dilakukan malam 17 Februari 2026 dinilai oleh otoritas Pemerintahan Saudi. Bukan oleh Ormas lhooo 2.Saudi menggunakan metode rukyat hilal lokal sebagai acuan utama dalam penetapan awal Ramadan. 3.Saudi tidak mengadopsi sistem rukyat global sebagai metode tunggal; laporan dari luar hanya dianggap tambahan bila relevan dalam sidang komite. 4. Jadi gambar yg ramai diposting itu hoax. Belum ada keputusan resmi. Lagian kalau anda mau puasa mengikuti hisab global ngapain sih nyari temen dari Saudi yg pakai ru’yah lokal? 5. Nanti kalau Saudi memutuskan puasa hari Kamis 19 Feb, anda jadi bingung. Semuanya kan belum pasti, belum diputuskan oleh Saudi. Sabar dikit kenapa sih mas bro 🤭
Edy Bayo Regar@regar_op0sisi

Perbedaan waktu Indonesia dengan Saudi 4 jam. InsyaAllah sesuai keputusan Muhammadiyah saya mulai puasa di 18 Pebruari 2026.

Indonesia
71
126
543
135.1K
Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen@na_dirs·
Yang secara geografis global itu beragam, kenapa harus dipaksakan sama? Ru’yah global saja bermasalah kok, apalagi mau pakai hisab global. Patokannya sih dua saja: ikuti ru’yah/hisab lokal, dan ikuti otoritas setempat. Sesederhana itu sebetulnya urusan penetapan 1 Ramadan/Syawal/Zulhijah ini. Jadi rumit karena sains diletakkan di atas fiqh. Yang lokal beragam mau disatukan secara global, lewat sains. Akhirnya penanggalan dipaksa sama dan seragam atas nama sains, padahal agama tidak menuntut harus diseragamkan satu dunia. Ironisnya, akan ada yg memulai puasa di subuh tgl 18 Feb dan tarawih di tgl 17 Feb padahal bulan dimanapun saat itu dengan kriteria globalnya belum terlihat baik secara hisab maupun ru’yah. Wa Allahu a’lam bis shawab
Indonesia
121
118
470
51.1K
Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen@na_dirs·
Mau tanya dong Mas @BilalFahrur Jika misalnya Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) nanti ada keputusan mengenai 1 Zulhijah dan 9 Zulhijah bertentangan dengan keputusan otoritas Saudi dalam menetapkan tanggal wukuf di Arafah, jamaah haji dari Muhammadiyah akan ikut keputusan Hisab Global atau Ru’yah lokal Saudi yah? 🙏
Bilal Fahrur Rozie@BilalFahrur

Sini gue ceritain.. ngapa Muhammadiyah itu bisa beda sendiri awal puasanya. 1. Kita tahu semua Muhammadiyah memakai hisab dalam menentukan bulan-bulan Hijriyah, termasuk dalam awal/akhir Ramadahan dan awal Dzulhijjah. Dan pendapat mereka ini tidak sendiri, ada Syekh Ahmad Muhammad Syakir dari Mesir, pentahqiq kitab Ar Risalah Imam Asy Syafi'i yang berpendapat demikian. 2. Dulu, hisabnya itu pakai metode WH (Wujudul Hilal) yang hanya berlaku untuk Indonesia saja. Jadi, kalau ada hilal di manapun di wilayah Indonesia, maka Indonesia sudah masuk bulan baru. 3. Sekarang, Muhammadiyah berubah metode melalui ijtihad (bukan rapat-red) dengan menggunakan KHGT (Kalender Hijriyah Global Tunggal). Intinya metode ini adalah di mana pun di DUNIA ini yang sudah muncul hilalnya (dengan kategori elongasi 8 derajat dan tinggi hilal 5 derajat), maka sudah masuk bulan baru untuk SELURUH DUNIA. Nah, disinilah mengapa Muhammadiyah itu puasa lebih cepat satu hari daripada yang lain. Karena di tanggal 17 Februari itu, menurut Muhammadiyah sudah nampak hilal di kota Port Heiden, dataran benua Amerika. Karena sudah nampak di sana, berdasarkan poin ketiga di atas, maka seluruh dunia dianggap sudah masuk bulan baru. Berbeda dengan pemerintah Indonesia yang kemungkinan besar akan puasa di tanggal 19 Februari. Kenapa? Karena memang baru di tanggal 18 Februari sore itu, hilal nampak di salah satu daerah Indonesia. Kalau diringkas lagi.... Muhammadiyah itu menganut pendapat ittihad al mathali (satu dunia, satu tanggal) sedangkan yang lain menganut ikhtilaf al mathali (setiap regional itu memiliki penanggalan sendiri). Jadi gimana? Pilih puasa tanggal 18 atau 19 Februari? 😃

Indonesia
64
50
248
80.9K