Maryati Imang

2.6K posts

Maryati Imang banner
Maryati Imang

Maryati Imang

@imangku

Full time mommy / Writing learner/Organic lover/ Batik Addict

Pekalongan Katılım Ağustos 2009
440 Takip Edilen116 Takipçiler
Faiz Ghifari
Faiz Ghifari@MFaizGhifari·
Banyak orang belajar business finance, lalu baca PnL, Balance Sheet, & Cash Flow Statement secara terpisah. Padahal kekuatan sebenarnya ada di HUBUNGAN antar ketiganya. Jadi ini aku bikinin tools gratis untuk visualisasi hubungan antara 3 FS Coba reply di bawah untuk aku DM linknya ya 👇🏻
Indonesia
263
106
784
52.8K
Yus Mei Sawitri
Yus Mei Sawitri@usemay·
Punya saudara yang praktis nyenengin bgt. Lebaran ini di rumah gak masak opor dan sebagainya karena bapak mondok di RS dan baru keluar beberapa hari sebelum lebaran. Saudara2 bapak datang lebaran kedua. Sebelumnya nelfon: pokoknya gak usah masak, kita beli mi ayam saja. Praktis.
Indonesia
2
0
2
157
Maryati Imang retweetledi
Sherly
Sherly@happenfed·
Bismillah Okay guys berdasarkan jawaban ini.. dalam seminggu ke depan selama seminggu kita belajar saham yaa.. mumpung market libur hehe Aku urutin dari req jawaban ini yaaa.. (Semua nanti akan aku buat dalam bentuk thread dan tentunya aku open discuss di kolom komentar) 1. Memulai saham dari nol (karena ada beberapa yg bener bener gatau mulai dari mana dan aku tidakbisa jelasin onebyone) 2. Cara entry saham (bahas s/r, orderbook sama trade book) 3. Metode scalping aku dari awal sampe akhir, nanti aku bahas urutannya 4. Analisa saham one by one, tapi sebelum itu bahas MA 5, MA 20 dll sama teori volume vs harga (ini aku lagi riset probability juga) 5. Analisa saham BIPI, MAHA, PADI, IRSX, PPRE (nanti sekalian aku kasih target rebound nya tapi gapake rumusnya yaa) 6. Bonus file saham deviden (yg lagi aku buat) tapi gapake analisa mendalam yaa cuma dia bagi deviden berapa % dalam setahun dan kapan waktu bagi devidennya Sampai jumpa besok di day 1 😚✋🏻
Sherly@happenfed

GUYS BOLEH KOMEN YAAA.. KALIAN MAU AKU BAHAS SAHAM TENTANG APAAAA???? Disclaimer dulu kalau aku juga masih pemula jadi kita bisa belajar bareng bareng YAAAAAYYYYY ✨🥰🎉🥳🎊

Indonesia
28
297
2K
54.5K
Maryati Imang retweetledi
David Alfa Sunarna
David Alfa Sunarna@davidsunarna·
Ketemu @ilhamfputra di Singapore, anak jenius yang bikin pasal.id dan menang hackathon international terus. 😭 Cerita di X ini susah, pasti akan dicari salahnya sama orang. Gua akan cerita senyaman gua aja. Lesson yang gua petik banyak juga dari dia. Ternyata dia udah di SG dari 2021, sekarang kerja di perusahaan top disana. Doakan saya punya properti di SG juga ya someday kayak kamu dan mas Ainun ✌️ Kata dia, AI ini bisa dengan cepat mengubah unstructured data dari PDF jadi data yang terstruktur. Salah satu use case yang dia langsung kepikiran adalah data-data regulasi di Indonesia yang masi berantakan dan tersebar sebagai PDF di berbagai macam situs. Lahirlah dari situ pasal.id yang viral kemarin. Terus dia menang hackathon dari OpenAI dengan product GambitHunter, dia bikin AI agent yang bisa masuk ke website jud*l dan catet rekening/ewallet untuk diblokir. Dia mikir, daripada blokir domainnya mending blokir rekeningnya? Gimana Pak/Bu Kominfo masuk ga? Ehemm 😹 Abis itu dia menang lagi hackathon dari Gemini, produknya sederhana “DefaultTaste”. Dia nemuin pattern kalau ternyata tiap model AI punya preferensi warna berbeda. Contohnya gemini punya kecenderungan 25% warna ungu. Jadi kalau suruh Gemini design, tambahin extra prompt biar gak ungu terus. Semua prestasi dia itu, bikinnya 100% pake AI, gak ada even one line of code yang dia tulis sendiri 😹 Walaupun sehari-hari doi software engineer. Hebat ya anak Indonesia ini 🇮🇩
David Alfa Sunarna tweet media
Indonesia
37
205
1.8K
72.2K
Maryati Imang retweetledi
unggul sejagatd
unggul sejagatd@Unggul_sejagatd·
@zanatul_91 EmBeGe adalah alat tukar yang SAH Apapun Masalahnya eMBeGe Solusinya
Indonesia
2
19
85
13.6K
Maryati Imang retweetledi
Ismail Fahmi
Ismail Fahmi@ismailfahmi·
Bagaimana Platform Mendeteksi Usia Tanpa Verifikasi ID? Saya sangat mendukung @kemkomdigi secara resmi menerbitkan Peraturan Menteri sebagai turunan dari PP Nomor 17 Tahun 2025 (PP Tunas), yang menunda akses anak di bawah 16 tahun pada platform digital berisiko tinggi termasuk media sosial dan layanan jejaring. Alasannya sudah disampaikan Menkomdigi. Clear. Itu problem besar kita. Negara lain, spt China, justru jauh lebih ketat dibanding Indonesia dan sudah melakukannya sejak lama. China tidak hanya melarang anak membuat akun medsos, tapi mengatur ekosistem digital anak secara menyeluruh dan berlapis, dari level konten, level platform, hingga level perangkat keras. China sebenarnya model referensi yang lebih relevan secara geopolitik untuk Indonesia dibanding Australia, keduanya negara non-Barat dengan populasi besar dan konteks digital yang mirip. Yang menarik, Indonesia justru melampaui China dalam satu hal, yakni melarang akun medsos secara eksplisit per platform berdasarkan usia, sesuatu yang belum dilakukan China secara langsung. Rencananya, implementasi dimulai secara bertahap pada 28 Maret 2026, mencakup YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Threads, X, Bigo Live, dan Roblox. Pertanyaan Besar Naaah.... yang jadi pertanyaan banyak netizen adalah: bagaimana teknis deteksi usianya? Pake KTP? Belum punya. Pake form tanggal lahir? Mudah dimanipulasi. TErkait teknis pembatasan, saya pernah bertanya ke perwakilan TikTok Indonesia. Apakah platform sebenarnya bisa mendeteksi usia anak, dari pola akses mereka, misal anak sekolah tidak akses pada jam2 sekolah, konten yang mereka buka, komentar yang mereka tuliskan? Dia bilang, Tiktok bisa tahu dari parameter2 ini. Bagaimana Platform Mendeteksi Usia? 🔴 TikTok — Paling agresif dalam video scanning TikTok telah mengonfirmasi bahwa mereka memindai video publik pengguna untuk menginferensi usia. Salah satu sinyal unik yang digunakan adalah dengan memindai komentar di posting ulang tahun ("Happy Birthday") di mana usia pengguna mungkin tersebut. Sistem TikTok menganalisis profil pengguna, video yang diposting, dan sinyal perilaku untuk memprediksi apakah akun tersebut milik pengguna di bawah umur. Setelah AI menandai akun, moderator manusia mereview akun-akun tersebut sebelum pemblokiran dilakukan — bukan otomatis ban langsung. Sistem ini mengidentifikasi pola yang mungkin mengindikasikan pengguna lebih muda dari yang diklaim, seperti nada video, sifat interaksi, atau sinyal keterlibatan lainnya. Untuk verifikasi lanjutan (saat akun diperdebatkan), TikTok bermitra dengan layanan seperti Yoti untuk estimasi usia berbasis biometrik wajah — sistem menganalisis karakteristik wajah untuk memperkirakan usia, tanpa menyimpan foto secara permanen. 🔵 Instagram/Meta — "Adult Classifier" AI paling canggih Sistem adult classifier Meta menganalisis sinyal perilaku untuk mengkategorikan pengguna sebagai di bawah atau di atas 18 tahun. AI memeriksa profil pengguna, daftar follower, interaksi konten, dan postingan seperti pesan ulang tahun dari teman. Misalnya, profil yang mengikuti influencer bertema remaja atau berinteraksi dengan konten terkait sekolah dapat memicu pemeriksaan lebih lanjut. Meta juga menandai akun yang dibuat dengan email atau device ID yang sama tetapi dengan tanggal lahir berbeda — ini mencegah remaja lolos dengan membuat akun baru. Jika teman pengguna memposting sesuatu seperti "Screaming happy 15th birthday to my best friend", tim evaluasi internal Meta akan melabeli pengguna tersebut sebagai remaja. Instagram juga menggunakan Natural Language Processing (NLP) untuk memindai caption dan pesan terhadap pola bahasa yang khas dari pengguna yang lebih muda. 🔴 YouTube/Google — Berbasis riwayat tontonan Sistem AI YouTube bergantung pada sinyal seperti jenis video yang dicari dan ditonton pengguna, serta sudah berapa lama akun aktif, untuk menentukan apakah mereka berusia di bawah 18 tahun. Pengguna dewasa yang salah diidentifikasi sebagai remaja harus mengunggah KTP, kartu kredit, atau selfie untuk membuktikan usia mereka. Google dan YouTube sangat mengandalkan sinyal perilaku yang terkait dengan riwayat tontonan dan aktivitas akun untuk menginferensi usia — baru kemudian meminta KTP atau kartu kredit ketika sistem merasa tidak yakin. 🟣 Facebook/Threads — Lintas platform Meta Facebook dan Threads menggunakan infrastruktur yang sama dengan Instagram. Instagram menyatakan bahwa mereka mungkin mencoba mencocokkan usia pengguna di Facebook dengan usia yang dinyatakan di Instagram, bersama dengan penggunaan "banyak sinyal lain" yang tidak diungkapkan. 🟡 Roblox — Orientasi pada perilaku anak di bawah umur Roblox secara khusus fokus pada deteksi perilaku anak. Mereka menganalisis pola chat, jenis game yang dimainkan, dan waktu sesi bermain. Perilaku khas anak (bahasa yang digunakan, pola waktu bermain di jam sekolah/malam) menjadi sinyal utama. ⚪ X (Twitter) & Bigo Live X saat ini paling lemah dalam deteksi usia berbasis perilaku — lebih mengandalkan laporan komunitas dan verifikasi manual. Bigo Live menggunakan moderasi konten live streaming secara real-time, termasuk deteksi wajah untuk usia. Keterbatasan Sistem Sistem-sistem ini gagal dengan cara yang dapat diprediksi. False positive sangat umum — platform mengidentifikasi orang dewasa dengan wajah muda, orang dewasa yang berbagi perangkat keluarga, atau memiliki penggunaan yang tidak biasa, sebagai remaja. Sementara false negative juga persisten — remaja dengan cepat belajar cara mengelabui sistem dengan meminjam KTP, berganti akun, atau menggunakan VPN. Bukan Sekadar Pembatasan, Perlu ada Substitusi Menurut saya, ini harus dimulai. Pasti ada kekurangan di awal. Yang penting terus disempurnakan sambil belajar dari yang sudah berhasil seperti China. Poin kunci yang membuat model China berbeda adalah mereka tidak hanya melarang, tapi menyediakan alternatif yang dikurasi secara aktif oleh negara. Douyin "Youth Mode" — fitur-fiturnya sangat spesifik: Fitur Youth Mode Douyin antara lain: jeda wajib lima detik antar video untuk mengurangi risiko adiksi, batas 40 menit per hari hanya antara jam 6 pagi sampai 10 malam, dan konten diganti dengan materi edukatif seperti eksperimen sains, pameran museum, dan penjelasan sejarah. Di sisi konten, mode remaja Douyin melarang berbagai jenis konten ditampilkan, termasuk video prank, "takhayul", dan konten tempat hiburan seperti klub dansa atau karaoke yang memang tidak boleh dimasuki remaja. Setiap akun juga dihubungkan ke identitas asli pengguna, dan teknologi pengenalan wajah digunakan untuk memantau pembuatan konten live streaming. Bahkan ada aplikasi anak tersendiri. ByteDance meluncurkan aplikasi khusus anak bernama Xiao Qu Xing ("Little Fun Star") — seperti Douyin tapi hanya berisi konten edukatif, dibatasi 40 menit per hari dengan default 30 menit di hari kerja, dan orang tua bisa menurunkan batas waktu hingga hanya 15 menit per hari. Kesimpulan Jadi konfirmasi dari perwakilan TikTok itu akurat dan berdasar — platform memang sudah jauh melampaui sekadar mengandalkan tanggal lahir yang diinput. Namun tantangan terbesarnya untuk konteks Indonesia adalah sinyal seperti "cross-platform account matching" dan "device ID linking" akan sangat efektif, tapi sinyal berbasis konten (bahasa, NLP) perlu dilatih ulang untuk Bahasa Indonesia dan dialek lokal agar akurasinya setara dengan deployment di pasar Barat. Harusnya ini ndak jadi masalah, mengingat perkembangan AI yang sudah sangat maju.
Indonesia
28
145
338
58.7K
Maryati Imang
Maryati Imang@imangku·
@Widino Makin semangat cari rezeki, Mas, nanti uangnya disedekahkan atas nama orangtua (ibu).
Indonesia
0
0
0
38
Dino
Dino@Widino·
Tbh, sejak kehilangan ibu sampe skrg gw demotivasi bgt. Kaya kehilangan semangat dalam banyak hal. Jalani kehidupan spt biasa sih, tp kaya ga punya tujuan 🙂 Positivenya jadi lebih banyakin ibadah aja, seolah-olah udah gak ada lagi yg dikejar di dunia ini.
Indonesia
12
6
63
5.8K
Dino
Dino@Widino·
Buat temen-temen yg masih sendiri tapi udah gak ada kedua orang tua, alasan kalian masih bertahan sampe sekarang karena apa?
Indonesia
65
13
125
26K
Belajarlagi
Belajarlagi@belajarlagiHQ·
Siapa yg tahun ini punya target buat nambah income lewat side hustle?☝️ Minjar mau ngadain kelas bahas produk digital dan affiliate marketing nih. Sesinya gratis, instructornya affiliate educator sekaligus digital product creator. Yg mau join bisa tinggalin jejak di reply, nanti Minjar share link pendaftarannya.
Indonesia
1.4K
202
2.1K
101.1K
Maryati Imang retweetledi
RisangP
RisangP@rsngprad·
Beberapa bulan lalu, di X juga, gw nemu 1 google drive isinya ilmu semuaaa. Nih langsung aja drive.google.com/drive/u/0/fold… Silakan belajar sepuasnya yaaa. Semoga bermanfaat Silakan bookmark dan bantu repost yaa!
RisangP tweet media
Indonesia
277
7.1K
24.6K
738.8K
Maryati Imang retweetledi
Dina Sulaeman
Dina Sulaeman@dina_sulaeman·
Iran Kecolongan? Tadi malam, dalam kondisi sebenarnya udah ngantuk banget (dan hampir saya matikan tuh laptop, mau tidur aja karena sudah 10 menit lewat waktu yang dijanjikan, pihak TV belum menghubungi lagi), saya dihadapkan pada pertanyaan yang menggelitik. Intinya begini, narasumber yang lain menyebut Iran "kecolongan" karena tidak bisa menjaga pemimpinnya. Lalu host mengkonfirmasi ke saya, menanyakan pertanyaan yang -saya pikir- juga ada di benak banyak orang, "Bukankah seharusnya pemimpin dengan level setinggi itu penjagaan keamanannya sangat ketat?" Saya sebelumnya sudah menyimak pernyataan tokoh politik senior Iran, saat ini menjabat Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani yang menyatakan bahwa Ayatullah Khamanei memang tidak mau diminta bersembunyi. Memang beliau yang maunya tetap bertahan di tengah masyarakat (rumah dan kantor beliau ada di dalam gang, di tengah kota Teheran). Beliau bilang, baru mau ke bunker kalau semua warga Iran juga dapat kesempatan berlindung ke bunker. Berkali-kali sebelumnya saya juga melihat video-video yang menunjukkan beliau berdoa, memohon kesyahidan. Suami saya, dulu banget, saat masih kuliah di Iran, pernah ikut i'tikaf di masjid, lalu diumumkan, "Rahbar minta diaminkan doanya." Jamaah i'tikaf ya nurut aja, amin.. amin.. Eh, kemudian ketahuan, doa beliau adalah doa minta segera disyahidkan. Jadi, ya memang begitulah mental kebanyakan orang Iran, ingin mati syahid. Tapi, beda dengan syahid ala jihadis Wahaboy, harapan akan kesyahidan dipandu oleh kesadaran kritis, yaitu pemahaman geopolitik dan kegigihan mencapai kemajuan iptek, terutama pembuatan senjata untuk membela diri saat musuh menyerang. Cuma, masih ada pertanyaan tersisa di benak saya, "Ya tapi kan harusnya langit Teheran dijaga dong, biar ga ada rudal atau jet tempur masuk?" Di TV saya cuma bisa bilang, serangan ini kejutan, karena serangan terjadi saat negosiasi masih berlangsung, dan Menlu Oman di TV bahkan mengungkap, Iran bersedia menyimpan nol cadangan uranium yang diperkaya [yang berpotensi dijadikan bom]. Namun dalam waktu singkat, meski Pemimpin Tertinggi gugur, Iran mampu memberikan serangan balasan. [Serangan terhadap kediaman Ayatullah Khamenei jam 8.30 pagi, serangan balasan dimulai 11.00 pagi waktu Iran] Setelah diskusi dengan beberapa kawan, akhirnya ketemu jawaban yang lebih detil. Narasi bahwa “Iran kecolongan karena gagal mengintersep” adalah penyederhanaan yang keliru. Dalam perang modern, tidak ada sistem pertahanan udara yang 100% sempurna. Amerika gagal mencegah serangan 9/11 [dengan mengikuti klaim mereka bahwa Al Qaida yang menabrakkan pesawat ke Twin Tower], Israel tetap kebobolan sebagian roket Iran (bahkan juga roket Hamas) meski punya Iron Dome. Arab Saudi tidak mampu mencegat drone Ansharullah Yaman saat serangan Aramco 2019. Kegagalan intersep [mencegat] bisa disebabkan oleh serangan multi-vector yang kompleks, faktor kejutan, infiltrasi intelijen, atau celah teknis. Menyimpulkan “lemah” atau "kecolongan" dari satu kegagalan adalah falasi "hasty generalization" (generalisasi yang terburu-buru). Begitu juga, klaim bahwa terbunuhnya Ayatullah Khamenei adalah gara-gara kebocoran intelijen yang artinya "rezim tidak solid" atau lemah, juga generalisasi yang tergesa-gesa. Faktanya, semua negara mengalami infiltrasi: CIA beroperasi di Rusia, Mossad di berbagai negara, dan intel Rusia maupun China juga menyusup ke Barat. Dan... intel-intel Iran juga ada di Teluk. Makanya Iran menggempur sebuah hotel mewah di Dubai karena mendapatkan info bahwa tentara-tentara AS dievakuasi ke sana. Terakhir, penyebab terbunuhnya Ayatullah Khamenei juga masih belum pasti, apakah jet tempur masuk ke wilayah Iran, atau rudal yang ditembakkan dari luar Iran. Jika rudal dari luar Iran, penjelasannya begini (kata teman saya): Misil yang ditembakkan dari luar perbatasan masih jadi problem buat semua militer, bukan cuma Iran. Jika rudal itu dikirim dari Suriah, Bahrain, atau Irak, jaraknya sudah terlalu dekat. Misil sudah dalam posisi aktif untuk bisa dicegat. Apalagi (lihat peta), pangkalan militer AS ada di sekeliling Iran, serangan bisa berasal dari mana saja, sulit diduga, dan wilayah Iran sangat luas. Tidak mungkin menjaganya 100% tanpa bisa ditembus. Sebaliknya, misil dari Iran menuju Tel Aviv, bisa ditembak di Yordania, UAE, dll, karena belum masuk posisi aktif (masih meluncur) jadi lebih mudah dijatuhkan. Itulah sebabnya, jika misil Iran sudah masuk fase aktif, bahkan Iron Dome dkk juga tidak bisa menangkis. Apapun juga, intinya: Iran sudah (dan sedang) melawan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Kematian pemimpin dan para komandan militer adalah bagian dari resiko perjuangan mereka. Kesyahidan (yang rasional) menjadi impian bagi mereka. YANG SALAH ITU: menyalah-nyalahkan korban. Justru harusnya, terus berfokus ke si pelaku: AGRESI terhadap negara berdaulat adalah salah, melanggar Piagam PBB pasal 2, dan pihak yang diserang berhak untuk membalas (Piagam PBB pasal 51). Ini juga berlaku dalam cara kita memandang Palestina. Meski di sana ada friksi internal, ya sudah, itu urusan mereka. Selalu ingat bahwa yang salah itu ISRAEL; penjajahan Israel harus segera dihentikan. Jangan malah berkata, "Ya gimana kita mau bantuin? Mereka aja berantem satu sama lain?!"
Dina Sulaeman tweet media
Indonesia
124
1.5K
4.5K
290.7K
Maryati Imang retweetledi
Peter Girnus 🦅
Peter Girnus 🦅@gothburz·
I am a diplomatic aide in the Sultanate of Oman's Ministry of Foreign Affairs. My job is logistics. When two countries that cannot speak to each other need to speak to each other, I book the rooms. I prepare the briefing materials. I make sure the water glasses are the right distance apart. You would be surprised how much of diplomacy is water glasses. Too close and it feels informal. Too far and it feels like a tribunal. I have a chart. We had a very good month. Since January, Oman has been mediating indirect talks between the United States and Iran on Iran's nuclear program. The talks were held in Muscat and in Geneva. The Americans would sit in one room. The Iranians would sit in another room. I would walk between them. My Fitbit says I averaged fourteen thousand steps on negotiation days. The hallway between the two rooms at the Royal Opera House conference center is forty-seven meters. I walked it two hundred and twelve times in February. This is good for my cardiovascular health. It was less good for my knees. Both are in the service of peace. By mid-February, we had something. Iran agreed to zero stockpiling of enriched uranium. Not reduced stockpiling. Zero. They agreed to down-blend existing stockpiles to the lowest possible level. They agreed to convert them into irreversible fuel. They agreed to full IAEA verification with potential US inspector access. They agreed, in the Foreign Minister's phrase, to "never, ever" possess nuclear material for a bomb. I have worked in diplomacy for seven years. I have never seen a country agree to this many things this quickly. I made a spreadsheet of the concessions. It had fourteen rows. I color-coded it. Green for confirmed. Yellow for pending. By February 21 the spreadsheet was entirely green. I printed it. It is on my desk in Muscat. It is still green. That phrase took eleven days. "Never, ever." The Iranians initially offered "not seek to." The Americans wanted "will not under any circumstances." We landed on "never, ever" at 2:14 AM on a Tuesday in Muscat. I typed the final version myself. I used Times New Roman because Geneva prefers it. The document was fourteen pages. I was proud of every comma. Here is what they said, in the order they said it. February 24: "We have a once-in-a-generation opportunity." — The Foreign Minister, private briefing to Gulf Cooperation Council ambassadors. I prepared the slide deck. Slide 14 was the implementation timeline. Slide 15 was the signing ceremony logistics. I had reserved the Palais des Nations in Geneva, Room XX. It seats four hundred. We discussed pen brands for the signing. The Iranians preferred Montblanc. The Americans had no preference. I ordered twelve Montblanc Meisterstucks at six hundred and thirty dollars each. They arrive on Tuesday. February 27, 8:30 AM EST: "The deal is within our reach." — The Foreign Minister, CBS Face the Nation. He sat across from Margaret Brennan. He said broad political terms could be agreed "tomorrow" with ninety days for technical implementation in Vienna. He said, and I wrote this line for the briefing card he carried in his breast pocket: "If we just allow diplomacy the space it needs." He praised the American envoys by name. Steve Witkoff. Jared Kushner. He said both had been constructive. I watched from the Four Seasons Georgetown. The minibar had cashews. I ate the cashews. They were nineteen dollars. The most expensive cashew I have ever eaten. But it was a good morning and we were within our reach. February 27, 2:00 PM EST: Meeting with Vice President Vance, Washington. The Foreign Minister presented our progress. Zero stockpiling. Full verification. Irreversible conversion. "Never, ever." The Vice President used the word "encouraging." His aide took notes on an iPad. The aide did not make eye contact for the last nine minutes of the meeting. I noticed this. Noticing things is the only part of my job that is not water glasses. February 27, 4:00 PM EST: "Not happy with the pace." — President Trump, to reporters. Not happy with the pace. We had achieved zero stockpiling. Full IAEA verification. Irreversible fuel conversion. Inspector access. And the phrase "never, ever," which took eleven days and cost me two hundred and twelve trips down a forty-seven-meter hallway. Every American president since Carter has failed to get Iran to agree to this. Forty-five years. Not happy with the pace. February 27, 9:47 PM EST: The Foreign Minister's flight departs Dulles for Muscat. I am in the seat behind him. He is reviewing Slide 14 on his laptop. The implementation timeline. Vienna technical sessions. The signing ceremony. The pens. I fall asleep over the Atlantic. I dream about water glasses. February 28, 6:00 AM GST: I wake up to push notifications. February 28: "The United States has begun major combat operations in Iran." — President Trump. Operation Epic Fury. Coordinated airstrikes. The United States and Israel. Tehran. Isfahan. Qom. Karaj. Kermanshah. Nuclear facilities. IRGC bases. Sites near the Supreme Leader's office. Israel called their half Operation Roaring Lion. Someone in both governments spent time choosing these names. Epic Fury. Roaring Lion. I spent eleven days on "never, ever." They spent it on branding. The President said Iran had "rejected American calls to halt its nuclear weapons production." Rejected. Iran had agreed to zero stockpiling. Iran had agreed to full verification. Iran had agreed to "never, ever." Iran had agreed to everything in a fourteen-page document that I typed in Times New Roman. The President said they rejected it. I do not know which document the President was reading. I know which one I typed. February 28, 18:45 UTC: Iran internet connectivity: four percent. — NetBlocks, confirmed by Cloudflare. Ninety-six percent of a country went dark. You cannot negotiate with a country at four percent connectivity. You cannot negotiate with a country that is being struck. You cannot negotiate. This is not a political opinion. This is a logistics assessment. February 28: The governor of Minab reported forty girls killed at an elementary school. I do not have logistics for that. There is no slide for that. The water glass chart does not cover that. February 28: Lockheed Martin: up. Northrop Grumman: up. RTX: up. Dow futures: down six hundred and twenty-two points. Gold: five thousand two hundred and ninety-six dollars. An analyst at AInvest published a note titled "Iran Strikes: Tactical Plays." The note recommended positions in oil, defense stocks, and gold. The most expensive cashew I have ever eaten was nineteen dollars. The most expensive pen I have ever ordered was six hundred and thirty dollars. The math suggests I have been working in the wrong industry. Defense stocks do not require water glasses. Defense stocks do not require eleven days. Defense stocks require one morning. February 28: Israel closed its airspace and its schools. Iran launched retaliatory missiles toward US bases in the Gulf. The Supreme Leader promised a "crushing response." Israel's defense minister declared a permanent state of emergency. Everyone is using words I recognize in an order I do not. I recognize "permanent." I recognize "emergency." I do not recognize them next to each other. In diplomacy, nothing is permanent and everything is an emergency. In war it is the reverse. February 28: The Foreign Minister has not made a public statement. The briefing card is still in his breast pocket. It still says "within our reach."
English
1.5K
15.9K
32.8K
4.2M
Maryati Imang retweetledi
M Karyo
M Karyo@Makaryo0·
Minggu pagi daripada bingung mau ngapain mending belajar finance & investing. Cuma 40 menit tapi isinya lengkap mulai dasar bisnis & Korporasi, akuntansi dasar, finance, investing, sampe manajemen risiko Gas langsung di link ini youtube.com/watch?v=WEDIj9…
YouTube video
YouTube
M Karyo tweet media
Indonesia
0
176
933
16.4K
Maryati Imang retweetledi
Rumah Bulan
Rumah Bulan@BulanRumah·
Hari ini sepertinya sudah final keputusan terkait urusan BPJS PBI ini. Dari 190 orang, hanya 72 orang yang berhasil reaktivasi, sisanya dialihkan ke BPJS mandiri. Dengan berbagai macam alasan, yang kami sendiri gak paham asal usulnya dari mana. To be very very honest, we don’t have money for this, we don’t even expect this 😂 Gak punya uang, gak punya tenaga ngurus hal seperti ini panjang lebar. Sekarang sudah 2 minggu lebih mondar mandir ke sana kemari. Tapi keluarga dan anak - anak asuh kami, banyak yang butuh sekali berobat. Their life depends on it. Gak bisa ditunda, gak bisa diganggu. Jadi kami gak bisa menyerah, cuma bisa mengusahakan. Tapi kami amat sangat butuh teman - teman semua, kami juga gak mengira akan kejadian seperti ini. Mempertahankan operasional saja kewalahan, sekarang harus putar otak 2 kali lebih keras. Please help us. Tolong bantu kami. Ratusan keluarga, anak - anak korban KDRT yang jelas hidup di bawah garis kemiskinan, bergantung pada Rumah Bulan 🙏❤️
Rumah Bulan tweet mediaRumah Bulan tweet mediaRumah Bulan tweet media
Rumah Bulan@BulanRumah

‼️Urgent Help Needed‼️ Urusan BPJS PBI ini betul - betul jadi kendala gak terduga, yang makan waktu, tenaga, dan pikiran kami. Ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga. Yang tadinya susah, jadi susah banget 😂 Keluarga Rumah Bulan yang terdampak ada 190 orang. Kami sampai harus menunda banyak sesi pendampingan, karena fokus urusan ini. Itu pun gak semuanya berhasil reaktivasi. Sudah cari solusi, dan jawaban ke mana - mana, tapi gak ada jawaban yang memuaskan. Kayanya semuanya sama sama bingung. Bolak balik hanya dijelaskan sistem desil baru, yang entah datanya dari mana, dan entah parameternya berdasarkan apa atau siapa.

Indonesia
34
2.5K
2.7K
137.3K
Maryati Imang retweetledi
Si Endut
Si Endut@anakodok2009·
@Dahnilanzar Justru MBG ambil anggaran pendidikan sebesar 233T Ini datanya
Si Endut tweet media
Indonesia
0
31
122
4K
Maryati Imang retweetledi
Mas P1yu🍉🇮🇩
Mas P1yu🍉🇮🇩@Piyusaja2·
*Pembohongan Publik Konstitusi mewajibkan pemerintah menganggarkan 20% APBN untuk pendidikan. Itu tuh amanat UUD 1945. Maka coba lihat anggaran pendidikan tahun 2026 ini. Screenshot ini beredar di medsos. Dari total anggaran 769 triliun, jelas sekali MBG mengambil jatah 223 triliun sendiri. Alias nyaris 1/3-nya. Adalah pembohongan publik jika ada pejabat yang bilang anggaran MBG itu semuanya hasil penghematan. Itu tuh jelas sekali mengambil bagian anggaran pendidikan. Kan kamu sendiri loh yang menyusun di APBN ini? Nyadar nggak? Dari mananya penghematan? Jelas2 MBG mencatut anggaran pendidikan. Saat 223 triliun anggaran pendidikan untuk MBG, maka lihatlah hari ini: 1. Sekolah2 mulai agresif memungut iuran komite. Kenapa? Karena setahun terakhir, bantuan dana dari pemda/pemkot macet; saat anggaran digeser ke MBG, pemda/pemkot tdk bisa lagi bantu. Selama ini 80% biaya sekolah itu dari BOS, 20% sisanya ditutup oleh bantuan pemda/pemkot. Saat Pemda/pemkot tidak bisa bantu lagi? Sekolah mulai pakai jurus mabuk. 2. Coba kamu cek sekolah anak2mu, mulai ada pungutan? Yes! Dapat MBG, tapi anakmu mulai disuruh bayar ini dan itu. Sekolah tuh hari ini utk bikin acara pesantren kilat bulan Ramadhan saja susah nggak ada duit. Pun acara2 rutin tahunan lainnya, terpaksa batal. Kamu silahkan saja mengklaim jika ngasih makan itu adalah "pendidikan". Saya seuju. Tapi kamu tdk bisa tutup mata pendanaan sekolah2 mulai mengering. Operasional sekolah2 terganggu. Selamat wahai rakyat Indonesia. Kalian toh yg memilih makan siang gratis? Murid2 kita dikasih makan, tapi iuran komite mulai beraksi deh! Ada yg 1 juta per tahun. Ada yang beberapa ratus ribu per tahun. Dan ini akan semakin 'maksa' deh. Makan siang memang lebih penting dibanding sekolah gratis. *Tere Liye **Buat kalian yg masih bego: 1. APBN 2024, dana pendidikan 20% itu total 665 Triliun. Tanpa MBG sama sekali. 2. APBN 2025, total dana pendidikan 20% adalah 724 triliun. Ada MBG 57 triliun. Mulai masuk itu barang. 2. Nah, jika MBG itu betulan dari penghematan Prabowo, maka APBN 2026, seharusnya 769 Triliun juga murni dana pendidikan dong. Kok bisa 223 triliun jadi MBG? Bohong sekali jika pejabat mengaku MBG itu hasil penghematan, itu tuh simpel "menggeser" dana yg selama ini buat sekolah2, jadi makanan. Juga dana2 lain, kesehatan, dll. Penghematan paling mentok hanya 50 triliun sj (itupun cuma klaim tanpa data).
Mas P1yu🍉🇮🇩 tweet media
Indonesia
28
348
643
19.7K
Maryati Imang retweetledi
Tempesttdenise
Tempesttdenise@tempesttdenise·
Parents make their children have a dance off when they fight. 😂😂 I should have done this 😂😂😂
English
1.7K
14.9K
100.2K
8.6M
Maryati Imang
Maryati Imang@imangku·
Nganggu sih, kerja jadi ga fokus. Jadi jangan sombong sama badan sendiri, yuklah borong buah buat nambah imun jelang puasa
Indonesia
0
0
0
12
Maryati Imang
Maryati Imang@imangku·
Setelah wfh 1 hari, belum kelar juga. Suara fals sampai 4 hari. Makan ga enak, baiklah turun 2 kg dalam sepekan.
Indonesia
1
0
0
12
Maryati Imang
Maryati Imang@imangku·
Sepekan ini rasanya lelah sekali. Badan akhirnya tumbang. Mungkin saya yg terlalu jumawa. Sejak pergantian musim hingga hujan yg makin mendera, fisik aman tanpa flu batuk walo sekitar terpapar. Tapi sejak pekan kemarin badan mulai meriang
Indonesia
1
0
0
37