Sabitlenmiş Tweet
xixa
1.2K posts


parahan mana sama orang yg nonton alur cerita film di yutub 🥀
Shandy@shandygasella
Baru aja memergoki orang nonton film lewat hapenya, pake speed 2x. Edan.
Indonesia
xixa retweetledi

@top0fgale menurut gue sih seru top, lucu ajaa komedinya masuk di gue, tp berasa terlalu cepet bgt ajaa alurnya di akhir, dan dialog nya tu ky banyak menyindir hal-hal yg terjadi di indonesia, nonton ajaa seru kok, ringan.
Indonesia

yeay yeay seru dan lucuuu bgt ketawa terus (btw tp ini gore yah)
xixa@indaaaharn
sangat mau nntn ghost in the cell sih gua
Indonesia
xixa retweetledi
xixa retweetledi
xixa retweetledi
xixa retweetledi
xixa retweetledi
xixa retweetledi
xixa retweetledi

Selamat Hari Kartini! Arsip majalah terbitan Gerwani tahun 1959-1964, Api Kartini, sekarang bisa kita akses di logos. 😆 (langka.logosid.app/api-kartini)




Indonesia
xixa retweetledi
xixa retweetledi

Tiga kali nonton film Interstellar. Dan yang ketiga ini justru yang paling bikin aku diam lama setelah credits film habis.
Ada satu pesan yang mungkin tidak bisa aku lupakan
Murphy menatap kamera dan bilang ia tidak akan mengirim pesan lagi. Bukan karena marah, bukan karena menyerah.
Tapi karena usianya kini sudah sama dengan usia ayahnya saat pergi meninggalkannya.
Seorang anak yang menua melampaui ayahnya sendiri yang masih hidup (atau tidak).
Aku tidak siap untuk itu. Bahkan disaat metonton yang ketiga kalinya.
Dan yang lebih menyesakkan ini bukan fiksi murni. Ini fisika.
Di dekat lubang hitam Gargantua, gravitasi begitu ekstrem sampai ia secara harfiah melambatkan waktu.
Bukan metafora, bukan efek dramatis. Setiap jam di orbit Gargantua setara dengan tujuh tahun di Bumi. Ini yang disebut Gravitational Time Dilation dan Einstein merumuskannya bukan dari teleskop, tapi dari kertas dan pena, hampir seratus tahun yang lalu.
Waktu bukan jam yang berdetak sama di seluruh semesta. Ia adalah dimensi elastis, bisa ditekuk, bisa diperlambat.
Cooper tidak "absen" selama puluhan tahun karena lalai. Ia berada di tempat di mana waktu berjalan dengan hukum yang berbeda. Dan tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mengubahnya.
Persis seperti kita yang kadang merasa "ketinggalan" dari orang-orang bukan karena tidak peduli, tapi karena kita masing-masing berjalan di ritme waktu yang berbeda.
Dan ini yang membuat aku merinding lebih dalam lagi.
Jauh sebelum Einstein lahir. Jauh sebelum ada persamaan relativitas. Al-Qur'an sudah bicara tentang ini dengan cara yang kalau kamu baca ulang sekarang, akan terasa berbeda.
di QS. Al-Hajj: 47 "satu hari di sisi Tuhan setara 1.000 tahun perhitungan manusia".
kemudian QS. Al-Ma'arij: 4 "perjalanan malaikat dalam skala 50.000 tahun".
Dua angka yang berbeda. Dua skala yang berbeda. Ini bukan inkonsistensi ini deskripsi tentang gradasi gravitasi dan dimensi yang berbeda-beda. Semakin dekat dengan pusat semesta, semakin lambat waktu berjalan. Persis seperti yang terjadi di Gargantua.
Dan malaikat? Tercipta dari Nur cahaya. Dalam fisika, objek yang bergerak mendekati kecepatan cahaya mengalami time dilation ekstrem dari sudut pandang sang cahaya, waktu nyaris berhenti. Perjalanan yang bagi manusia terasa ribuan tahun, bagi mereka mungkin hanya sekejap.
Dan kisah Ashabul Kahfi tiba-tiba punya dimensi baru: 309 tahun berlalu di dunia luar, tapi tubuh mereka tidak menua. Bukan keajaiban melainkan mereka berada di kondisi di mana waktu berjalan berbeda.
Lalu, ini yang benar-benar menggeser cara aku memandang hidup.
Kalau waktu bukan garis lurus melainkan hamparan spacetime fabric maka masa depan bukan sesuatu yang "belum ada." Ia sudah ada, di koordinat yang belum kita capai. Kita bukan menunggu waktu datang. Kita yang berjalan melintasi hamparan yang sudah terbentang.
Di Tesseract, Cooper melihat setiap momen hidup Murphy bukan sebagai kenangan atau mimpi tapi sebagai ruang fisik yang bisa ia sentuh. "Sudah", "sedang", "akan" dalam dimensi yang lebih tinggi, tiga kata itu adalah satu benda yang sama.
Kalau begitu, apakah perpisahan itu nyata? Atau kita hanya terpisah oleh perbedaan frekuensi detak waktu?
Dan pertanyaan terakhir yang belum bisa aku jawab:
Jika "keabadian" di akhirat adalah kondisi di mana kita keluar sepenuhnya dari dimensi waktu masuk ke dalam singularity di mana tidak ada "sebelum" dan "sesudah" maka mungkin surga dan neraka bukan soal kapan, tapi soal di mana kamu berada dalam struktur realitas.
Takdir sudah "selesai" di dimensi lain dan kita tinggal menjalaninya? Atau di hamparan ruang-waktu ini masih ada ruang untuk kita belokkan garisnya?
Aku belum tahu jawabannya. Tapi aku tahu satu hal:
Interstellar bukan film tentang luar angkasa. Ini film tentang betapa kecilnya kita dan betapa anehnya kita tetap peduli satu sama lain meski terpisahkan oleh dimensi.

Indonesia





















