Ada yang lucu sore ini. Kau buka cincin di jari tengahku dan memindahkannya ke jari manisku "sah" katamu. "Kita aminin dulu ya" lanjutmu sambil menatap wajahku, lalu tanpa aba2 kami mulai larut dalam doa... semoga Tuhan merestui jalanmu dan jalanku, ucapku dalam hati
Terimakasih sudah mau mendengarkan semua resahku malam tadi, hidupku ini badai, jika takut lebih baik melangkah jauh dari sekarang.
Tapi katamu, semua itu adalah tugasmu, aku tak perlu khawatir lagi.
Melihatmu, aku seperti melihat diriku. Yang kadang minta waktu untuk tidak di ganggu, yang kadang sering pergi tanpa beri tahu, yang tiba-tiba diam tidak banyak mau. Aku berhadapan dengan diriku yang terkadang sulit untuk di mengerti...
Mungkin Kami terlalu pemalu, untuk menunjukan apa yang kami rasakan kepada semua. Biarkan mereka mulai menebak. 1,2,3... kami berjalan searah tapi tetap tak bersuara
Aku dan segelas kopi pagi ini, rasanya jadi lebih asik dari biasanya. Aku tau dia bukan laki-laki manis dengan kalimat puitis di baliknya. Tapi ya begitulah, kadang manusia tidak bisa berencana akan menaruh rasa pada siapa. Semua terasa tiba-tiba..
Wajahnya pucat pasi malam ini "aku lagi pusing kerjaan, kamu dimana?" tanyanya. Kita makan ya malam ini, jawabku.
Jika aku tidak bisa melerai masalahmu, setidaknya aku bisa membuat mu tenang dengan duduk di sampingmu..
Malam ini di ujung telepon kami saling berbagi canda lewat suara. Jadi kita mau kemana lagi? katanya.. ke gunung yuk! Semua orang bisa telanjang kalau di atas sana. Termasuk aku dan kamu. Kita bisa lebih saling mengenal dan membangun semuanya lebih dalam...
Semua tentang proses, akhirnya ku menemukan seseorang yang sangat percaya terhadap kekuatan proses... iya kami berproses sampai akhirnya saling menemukan dan jatuh dalam dalam.
Mungkin kita memang di takdirkan untuk bertemu. Semesta bekerja memanggilmu mendekat dengan hidupku. Tiba2 semua berubah, menghabiskan waktu bersama dan mencium aroma wangi di bahumu mulai menjadi candu bagiku..
Hari ini mau kemana? Katanya. Aku terdiam bersandar di pinggir pintu mobilnya sambil melipat tangan. Diam2 memperhatikan, diam2 berusaha menebak. Ternyata bingung itu bukan hanya milikku. Kamu juga suka bingung kalau ditanya soal arah dan tujuan...
Kau tau hal apa yang paling aku benci akhir2 ini?? Aku benci menebak arah dan benci sibuk mencari kosakata agar semua rasa yang kita susun bersama ini dapat berjalan seperti semestinya...
Dulu, aku takut bertemu dengan alam, bagiku liburan adalah tempat nyaman, tidur enak, makan mudah dan segalanya tentang hal yang menyenangkan. Tapi malam itu aku sadar, bahwa duduk di depan api unggun dengan langit atapnya bisa semenyenangkan itu...