Ketika Administrasi Dipidana: Di Mana Keadilan bagi ASN?
38 Tahun Mengabdi — Dibalas Borgol.
Setiap hari saya membaca berita tentang orang-orang yang dikriminalisasi.
Saya pikir itu hanya cerita orang lain—
sampai akhirnya, itu terjadi pada ayah saya sendiri.
Dari jauh,
saya bersuara sebagai anak.
Dan hari ini,
saya juga bersuara untuk seluruh ASN Indonesia.
Agar pengabdian sepenuh hati tidak lagi dibalas oleh kriminalisasi.
Jika hari ini seorang ASN bisa dipidana atas proses administratif,
maka besok—
siapa pun bisa menjadi berikutnya.
ASN, pegawai BUMN, profesional—
akan bekerja dalam ketakutan.
Bukan lagi untuk melayani,
tapi untuk menghindari risiko diseret ke meja hijau.
Tapi kali ini berbeda.
Karena ini bukan lagi sekadar berita.
Ini keluarga saya.
Ini ayah saya—
yang kini harus kami perjuangkan keadilannya.
Dan jujur saja, saya takut.
Bukan hanya untuk keluarga saya,
tapi untuk masa depan banyak orang.
Kenapa tahapan-tahapan administrasi, bahkan ketika negara sudah mengaturnya, dilangkahi oleh Kejaksaan? Menetapkan ini sebagai tindak pidana tanpa bisa membuktikan adanya mens rea.
Dari jauh, sebagai diaspora,
setiap kabar tentang penegakan hukum di Indonesia terasa berat.
Tentang setiap individu yang bekerja dalam sistem negara.
Mengikuti prosedur.
Menjalankan program pemerintah.
Menghadapi tekanan target, deadline, dan kebijakan.
Lalu ketika ada persoalan administratif—
mereka justru dijadikan pelaku kejahatan.
Di mana letak keadilannya?
Atas pekerjaannya yang dilakukan dengan sungguh-sungguh penuh kehati-hatian di tahun 2018, 8 tahun lalu.
Ini bukan hanya tentang ayah saya.
Ini tentang setiap ASN di Indonesia.
Ustadz Khalid Basalamah dalam kajiannya mengatakan :
Kebahagiaan orang lain tidak akan merugikanmu, kekayaan mereka juga tidak akan mengurangi jatah rezekimu.
Hiduplah dengan hati yang bersih, agar ketika melihat nikmat orang lain, hatimu tidak sakit.
Jujur, menjadi bapak-bapak usia 40-an yang harus bersikap "tega" ke anak sendiri itu menguras mental. Apalagi kalau berhadapan dengan anak perempuan umur 6 tahun yang lagi jago-jagonya negosiasi.
Kadang rasanya pengen menyerah saja. Mengiyakan apa yang dia mau supaya rumah tenang, dan saya bisa duduk sebentar nyeruput kopi hitam tanpa dengar suara rengekan.
Istri saya adalah seorang perawat NICU. Setiap hari dia merawat bayi-bayi prematur yang butuh presisi dan kedisiplinan tingkat tinggi. Jadi buat dia, urusan rutinitas anak di rumah—jadwal tidur, jam belajar, dan batas waktu main gadget—adalah hal mutlak. Kalau istri lagi dapat shift jaga malam, otomatis sayalah sang "Panglima Tempur" yang harus menegakkan semua aturan itu sendirian.
Tiap jam 8 malam, dramanya sering mengalahkan sinetron.
"Yah, 5 menit lagi ya YouTube-nya!"
"Yah, aku belum ngantuk, mau main block sebentar lagi!"
Mendengar dia menangis karena iPad-nya saya tarik, batin ini rasanya perang. Saya sempat mikir, "Apa saya terlalu keras ya sama anak sendiri?"
Tapi kemudian saya menemukan grafik dari Family Studies di bawah ini. Rasanya seperti ditampar, sekaligus dipeluk.
Di grafik itu ada satu temuan yang sangat valid, Stricter parenting is harder. Menetapkan aturan yang ketat itu memang bikin orang tua lebih pusing, capek, dan stress (lihat bar warna krem). Jauh lebih gampang ngasih anak HP supaya mereka diam.
TAPI, coba perhatikan bar warna biru dan abu-abunya.
Ternyata, aturan yang bikin kita capek itu—seperti menetapkan jam tidur yang ketat (strict bedtime) dan membatasi gadget (screen time limits)—justru meningkatkan kualitas hubungan orang tua dan anak secara drastis. Dan hebatnya lagi, ini bukan cuma klaim dari kacamata kita sebagai orang tua, tapi anak-anak juga merasakannya!
Pantas saja. Walaupun semalam dia menangis tersedu-sedu karena saya suruh berhenti nonton dan masuk kamar, pagi ini dia bangun dengan sangat segar.
Tiba-tiba dia lari, memeluk kaki saya dari belakang pas saya lagi menyeduh kopi di dapur, sambil menyengir lebar, "Ayah, ayo temenin adek main Lego!"
Tidak ada dendam. Yang ada hanya anak yang merasa aman, karena dia tahu kapan batasnya, kapan dia harus berhenti, dan kapan dia harus istirahat.
Ternyata anak-anak kita butuh ketegasan untuk merasa diperhatikan. Capeknya berdebat tiap malam dan menahan rasa "nggak tegaan" itu adalah investasi jangka panjang untuk kedekatan kita dengan mereka di masa depan.
Bismillah. Mari kuat-kuatkan mental jadi orang tua yang tega demi kebaikan mereka sendiri. 💪
Bagaimana dengan Bapak/Ibu di sini? Ada yang sering perang batin juga setiap menyuruh anak tidur atau menarik gadget dari tangan mereka? Apa trik kalian supaya tetap waras menghadapi fasenya?