isa

42K posts

isa banner
isa

isa

@itsakk48

my starting point; a personal account

Katılım Temmuz 2023
2.5K Takip Edilen52 Takipçiler
isa
isa@itsakk48·
beneran pengen meninggal nyusul bapak
Indonesia
0
0
0
1
isa
isa@itsakk48·
Benci banget
Indonesia
0
0
0
1
isa retweetledi
isa retweetledi
zaada
zaada@zaada92·
“Setiap kali seorang hamba memperbaiki prasangkanya kepada Allah, memperindah harapannya kepada-Nya, dan meneguhkan tawakkalnya, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan harapannya sedikit pun; karena Dia tidak akan mengecewakan orang yang berharap kepada-Nya, dan tidak pula menyia-nyiakan amal seorang yang beramal.” —Ibn al-Qayyim
نُسَيبة@NosaybaYousef

Indonesia
9
2.2K
6.4K
108.8K
isa retweetledi
sya
sya@arsenatasyas·
Ibaratnya kalo lagi olahraga pertama kali ya. Badan pegel semua, ngerasa lemah padahal you’re getting stronger than before. Di segala hal, when you’re getting better it feels like you’re getting worse. Merasa bodoh krn banyak gak tau. Perasaan bodoh dibutuhin di proses belajar.
Curious Minds@CuriousMindsHub

The importance of stupidity in scientific research:

Indonesia
44
8.1K
23.6K
441.1K
isa retweetledi
Anies Rasyid Baswedan
Anies Rasyid Baswedan@aniesbaswedan·
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran. Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini. Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan. Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja. Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya. Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia. Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”. Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal. Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;) Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan. Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa. Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri. Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok. Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
tempo.co@tempodotco

JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

Indonesia
396
19.1K
47.5K
1.1M
isa
isa@itsakk48·
Pengen nangis ah sial
Indonesia
0
0
0
1
isa retweetledi
Tanyarlfes
Tanyarlfes@tanyarlfes·
💚 pusing bgt di rumah punya kucing hobi nya terbang gini😭😭
Tanyarlfes tweet media
Indonesia
441
2.2K
32K
289.5K
isa retweetledi
A Professional Overthinker
alih-alih mengakhiri hidup, cobalah untuk menjadi orang baik saja (sebab orang baik biasanya meninggal duluan).
Indonesia
398
17.3K
55.8K
733K
isa retweetledi
سروّ❥
سروّ❥@_Batman40·
“I’m exhausted. I don’t know when it all started to go wrong, but I’m exhausted. It feels like I’m stuck but I don’t know how to get out.” — My Liberation Notes.
سروّ❥ tweet media
English
4
1.4K
3.6K
53.4K
isa retweetledi
Tanyarlfes
Tanyarlfes@tanyarlfes·
"Kamu hidupnya kaya gak ada beban, santai bgt..." 💚 Lantai kamarku be like:
Tanyarlfes tweet media
Indonesia
428
6.4K
24.1K
371.8K
isa retweetledi
agni
agni@fahkta·
Otak kalian tuh mikirnya fight fight mulu, klo ga violence. Padahal cewe² yg kerja di male dominated fields ga pengen fight. Ga ada gitu mikir cewe² muak ke bengkel karena di-mansplain, dicatcall. Yg diinginkan tuh cuma rasa aman, bukan cari pembuktian dan fight ini itu.
JEWGONDESE@sugondese6666

gwe setuju banget. banyakin usaha usaha kusus cewe kek gini. biar nantinya kalian bisa buktiin dengan data, lebih capable cewe ato cowo di berbagai bidang. fair fight inimah

Indonesia
42
4K
15K
319.8K