Caca ✨

11.9K posts

Caca ✨ banner
Caca ✨

Caca ✨

@jerapahkelabu

Katılım Haziran 2018
941 Takip Edilen1.3K Takipçiler
Caca ✨
Caca ✨@jerapahkelabu·
WKWKWKWKKWKWKWKWKKW
cal@pesalpriadi

@Dani62699314 @itbfess_x 1. mat 2c bukan matkul WI, f/s/j lain dapetnya mat 2a dan 2d, bahkan ada yang ga dapet mat 2 samsek 2. ftmd dapet mat 2c karena emg materinya bakal kepake lagi di matkul² WF ataupun matkul jurusan nanti 3. semangat, siapa suruh masuk ftmd 😌😌😌

Indonesia
0
0
0
204
Caca ✨ retweetledi
Sisters in Danger x Simponi
Sisters in Danger x Simponi@SistersInDanger·
Empat syarat Kartini sebelum (terpaksa) mau dipoligami: 1. Boleh mendirikan sekolah & mengajar untuk putri di Rembang, melanjutkan cita-citanya memajukan pendidikan perempuan. 2. Penolakan adat feodal dalam upacara pernikahan: tidak mau berjalan jongkok di belakang suami, tidak berlutut, tidak menyembah/mencium kaki suami. 3. Kesetaraan bahasa: berbicara dengan suami menggunakan bahasa Jawa Ngoko (bahasa sehari-hari setara), bukan Krama Inggil (bahasa hormat yang menunjukkan hierarki istri lebih rendah). 4. Boleh membawa ahli ukir dari Jepara ke Rembang untuk mengembangkan kerajinan secara komersial sebagai kegiatan ekonomi perempuan. Semua syarat ini (sangat progresif & radikal pada masa itu) dipenuhi oleh calon suaminya, Bupati Rembang Raden Adipati Djojoadiningrat. Kartini melihat poligami sebagai bentuk penindasan terbesar terhadap perempuan. Ia menyaksikan langsung penderitaan ibunya, Ngasirah, yang dimadu oleh ayahnya. Dalam surat-suratnya, ia menulis dengan getir bahwa tak ada perempuan yang bahagia dimadu, & laki-laki yang memadu kehilangan kehormatan. Poligami dianggapnya sebagai "dosa" yang membuat perempuan menjadi saingan dan korban, sementara laki-laki bebas. Ia juga menolak pernikahan paksa dengan orang asing yang belum dikenal, karena cinta sejati harus dimulai dari rasa hormat, bukan paksaan adat. Namun, pada 1903, Kartini di usia 24 tahun (dianggap perawan tua yang memalukan keluarga ningrat pada masa itu) terpaksa menikah dengan Raden Adipati Ario Djojoadiningrat, Bupati Rembang yang jauh lebih tua (~25 tahun) & sudah punya 3 istri (salah satunya baru meninggal) karena tekanan budaya feodal priyayi pada masa itu & karena ayahnya, R.M. Adipati Ario Sosroningrat, sakit serta terus "dibully" teman-temannya karena anak perempuannya belum menikah. “Saya telah berjuang, bergulat, menderita, dan saya tidak dapat menjadikan nasib celaka Ayah, dan dengan demikian membawa bencana bagi semua yang saya cintai." (Surat Kartini kepada Abendanon, 14 Juli 1903) Meski seumur hidup menentang poligami & pernikahan paksa, Kartini terpaksa mengalahkan idealismenya, terpaksa menanggalkan egoismenya, serta harus berkompromi dengan realitas sosial feodal Jawa demi menjaga kehormatan ayah & keluarga yang dicintainya. Tekanan budaya feodal & partriarkis kelas priyayi pada masa itu terlalu kuat & ketat, di mana poligami & pernikahan paksa merupakan norma adat (diperkuat ajaran agama), sehingga meskipun Kartini sempat menolak keras, beliau kalah, beliau akhirnya terpaksa menerima pernikahan poligami itu. Kartini tetap melanjutkan perjuangan emansipasi & pendidikan perempuan dari dalam pernikahan, meski hanya berlangsung singkat karena beliau wafat 4 hari setelah melahirkan anak pertamanya pada pada 17 September 1904 di usia 25 tahun. Penyebab utama kematiannya adalah komplikasi persalinan, diduga akibat preeklampsia (tekanan darah tinggi pada kehamilan yang dapat memicu kejang dan kegagalan organ). Tragedi ini sangat ironis karena Kartini baru saja mulai mewujudkan cita-citanya setelah menikah, yang salah satu visinya tentu saja untuk meningkatkan akses kesehatan yang lebih baik bagi perempuan, khususnya kesehatan reproduksi & maternal (masa kehamilan, persalinan, & pasca melahirkan). Alfatihah untuk Ibu Kartini, damai di surga 🌹🌷🌼💐🌺🌸🪻
Sisters in Danger x Simponi@SistersInDanger

Merayakan Kartini Secara Radikal Kita telah melampaui era memperingati hari Kartini dengan hanya melihat sosok tubuhnya dan memaknainya cukup sebatas busana kebaya, lomba memasak atau menyanyikan lagunya. Peringatan hari Kartini yang demikian menumpulkan pemikiran. Sebab Kartini tidak pantas hanya dinilai dari sosok tubuhnya semata melainkan ide-ide brilian yang lahir dari otaknya yang cemerlang tentang kesetaraan dan kebebasan perempuan, justru inilah yang harus kita rayakan. Jadi hendaknya kebaya Kartini disimbolkan sebagai pembebasan perempuan, bukan ornamen tubuh semata, namun untuk merangsang kegairahan pemikiran melawan dominasi. Segala bentuk dominasi seperti penjajahan, pembodohan, pengekangan agama, dan tradisi serta penindasan perempuan. Sebab Kartini perempuan Jawa yang hidup di abad ke-19 telah memikirkan semua itu dan menuangkannya dalam bentuk tulisan yang dimuat di buku “Habis Gelap, Terbitlah Terang” (HGTT). Kartini mengungkapkan kegeramannya pada tradisi yang mengekang anak perempuan termasuk dirinya yang “dipingit” dari umur 12 hingga 16 tahun.    "Teringat aku, betapa aku, oleh karena putus asa dan sedih hati yang tiada terhingga, lalu mengempaskan badanku berulang-ulang kepada pintu yang senantiasa tertutup itu, dan kepada dinding batu bengis itu." (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:30). Perang melawan kebodohan dipahaminya sebagai cara untuk membawa bangsa Bumiputra maju dan keluar dari penjajahan. "Pemerintah tiada akan sanggup menyediakan nasi di piring bagi segala orang Jawa, akan dimakannya, tetapi Pemerintah dapat memberikan daya upaya, supaya orang Jawa itu dapat mencapai tempat makanan itu ada. Daya upaya itu ialah pengajaran. Memberi anak negeri pengajaran yang baik, sama halnya seolah-olah Pemerintah menyerahkan suluh ke dalam tangannya, supaya dapat ia sendiri mencari jalan yang benar, yang menuju ke tempat nasi itu. Bapak akan berusaha sekuat tenaganya akan mengajukan anak negeri, dan aku pun akan turut membantunya." (12 Januari 1900, HGTT, 2009:34). Sikapnya menentang poligami sangat jelas. Kadang Ia menganggap bahwa perkawinan itu menindas dan bukan membahagiakan. "Mengertikah engkau sekarang apakah sebabnya maka sangat besar benciku akan perkawinan? Kerja serendah-rendahnya maulah aku mengerjakannya dengan berbesar hati dan dengan sungguh-sungguh, asalkan aku tiada kawin, dan aku bebas." (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:29). Pemikiran Kartini tentang agama termasuk permikiran yang moderat dan toleran. "...sebenarnya agamaku agama Islam, hanya karena nenek moyangku beragama Islam... Orang diajar di sini membaca Qur’an tetapi yang dibacanya itu tiada ia mengerti. Pikiranku, pekerjaan gilakah pekerjaan semacam itu. Sekalipun tiada jadi orang saleh, kan boleh juga orang jadi orang baik hati.." (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:31). "Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu?" (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:31). Kartini memang tidak pernah terlibat dalam sebuah pergerakan apalagi mengorganisir sebuah protes di lapangan. Bentuk protes yang ia lakukan hanyalah lewat tulisan-tulisannya yang mencoba memahami apa yang terjadi di lingkungannya. Tulisan-tulisannya tidak dituangkan ke dalam bahasa Melayu atau Jawa melainkan ke dalam bahasa Belanda dan ditujukan kepada teman Belandanya di Belanda.  Apakah karena Kartini menyadari tulisan-tulisannya tidak akan ditanggapi bila ia menggugat masyarakatnya secara langsung?  Atau bahkan dapat membahayakan dirinya bila pemikirannya diketahui oleh masyarakatnya sendiri? Semangat Kartini pada zamannya adalah semangat yang juga dirasakan oleh sebagian perempuan pada zaman itu. Beberapa pemikir perempuan lainnya seperti Dewi Sartika juga memiliki pemikiran yang maju tentang hak-hak perempuan, dengan nyata membuat sekolah di tahun 1904 yang disebut dengan “Sekolah Istri”. Kartini memang bukan sekedar kebaya. Tapi makna kebaya Kartini hendaknya diinterpretasikan secara kritis. Pemikiran Kartini masih terus harus direnda agar “kebaya” itu menjadi sempurna. Merenda pemikiran Kartini di segala ruang dan sudut bangsa, menjadikan bangsa kritis yang menghargai kesetaraan. --- Satu lagi cuplikan dari artikel yang sangat bagus & kuat dari @jurnalperempuan, yang ditulis oleh Gadis Arivia. Selamat Hari Kartini 21 April 1879–17 September 1904 Damai di surga, Perempuan yang mendahului zaman 🙏💜 (Link artikel lengkap di utas berikutnya)

Indonesia
59
6.5K
18K
1.3M
Caca ✨
Caca ✨@jerapahkelabu·
@epikahini pertanyaannya: lahannya mau di mana?
Indonesia
1
0
0
123
Caca ✨
Caca ✨@jerapahkelabu·
Tuhan baik bgttttttt
Indonesia
0
0
0
238
Caca ✨ retweetledi
Alma ☾⋆⁺₊🎮✩°。
Alma ☾⋆⁺₊🎮✩°。@alsjournall·
Cewe beli sushi 100 ribu jadi kalori. Cowo beli rokok 20 ribu jadi kemoterapi senilai 5 juta tiap sesi yang dibayarin pake pajak orang orang yang ga ngerokok lewat BPJS. Ngerokok itu kesengajaan kaya self-inflicted harm, harusnya diperlakukan kaya orang percobaan bunbun yang ngga dicover BPJS.
Indonesia
65
7K
20.1K
408.3K
Caca ✨ retweetledi
Greb Comics 🐸
Greb Comics 🐸@GrebComics·
baby dinos first sleepover 🐸🦕🐥
Greb Comics 🐸 tweet media
English
14
883
10.5K
104.2K
Caca ✨ retweetledi
ᐸᑭᐆ ᑎᒃᑖᓕᒃ
ᐸᑭᐆ ᑎᒃᑖᓕᒃ@gentsemane·
Hah kok begini penarikan kesimpulannya? Kebalik dong, yang dianggap tidak lazim dan pengen dinormalisasi itu "gak masak banyak pas lebaran". Dengan kata lain, "biasa aja kali gak masak banyak pas lebaran, gausah dipandang aneh" Bukan sebaliknya 🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️
Fauzan Al-Rasyid@fauzanalrasyid

Jadi ketika seseorang berkata: “Normalisasi lebaran enggak masak banyak” … maka praanggapan pragmatisnya adalah bahwa lebaran masak-masak itu selama ini adalah hal yang tidak normal/tidak lazim. Faktanya? Masak besar-besaran saat Lebaran adalah tradisi yang sangat umum dan sudah berlangsung lintas generasi di hampir seluruh keluarga muslim di mana-mana (bukan cuma di Indonesia).

Indonesia
16
77
807
36.9K
Caca ✨ retweetledi
Jonathan Salomo
Jonathan Salomo@SalomoJonathan·
Halo warga X! Perkenalkan, saya Jonathan. 25 tahun, lulusan S1 ITB Private Tutor utk Cambridge/IB Curriculum, saat ini handling 13 students. Dari K2 smpai High School (JIC, SIS, SPH, GMIS, dan skolah2 private Jabodetabek lain) ✨
Indonesia
1
3
6
996
Caca ✨ retweetledi
iblameliddd 🔆 || Take a break
🧵A THREAD 🧵 Karya PROBAPLAS Kakak aku dan tim Pustena Salman ITB diklaim oleh salah satu mahasiswa Filkom di Universitas Brawijaya
iblameliddd 🔆 || Take a break tweet media
Indonesia
6
250
547
55.9K
Jim
Jim@jimmwpp·
Lol never imagine I have gone so far dari 2020 masuk kuliah aktif di Twitter and now kerja di FMCG as supervisor dan lupa sama twitter 😂😂
Indonesia
2
0
3
202
Caca ✨ retweetledi
sara (ia)
sara (ia)@burntheimpala·
bisa kok ikut iup kalo pake behel
Indonesia
327
4.8K
36K
703.1K
Caca ✨ retweetledi
Bierrr
Bierrr@Abir924119·
@jerapahkelabu paddy, ini opsi termurah beli casing di mall ahaha
Indonesia
1
0
0
28
Bierrr
Bierrr@Abir924119·
dapet foto bagus = langsung jadi pp semua medsos
Bierrr tweet mediaBierrr tweet mediaBierrr tweet media
Indonesia
1
0
2
71